APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel CINTA SANG JANDA

CINTA SANG JANDA

Demi menghidupi anak tercinta setelah bercerai, Rahma rela melakoni pekerjaan apa saja yang halal. Suatu hari, sebuah insiden kecelakaan mempertemukan dirinya dengan Rian, sosok pria tampan yang kemudian selalu melindungi dan mendampinginya. Hubungan mereka kian dekat, namun perbedaan status sosial serta keyakinan membuat keluarga enggan memberi restu. Perjuangan cinta mereka pun kini diuji oleh rintangan berat dari nenek Rian. Mampukah keduanya bertahan?
Bab
Bagikan

Bab 2

****

Aku terbangun, tubuh ini tergeletak di atas kasur berlapis alas putih yang bersih. Mata memandang ke segala arah. Jendela yang tidak sepenuhnya tertutup gorden menampakkan rona langit kebiruan. Mataku mengerjap mencari jam yang tergantung di dinding. 

"Astaghfirullah," ucapku lirih. 

Sudah subuh, aku belum melaksanakan salat. Niat hati ingin beranjak, beringsut dari kasur. Namun rasa perih dan ngilu di persendian lutut membuatku menyerah. 

"Maaf, apakah ada orang?" 

"Siapa saja, bisakah bantu saya?"

Tak ada sahutan yang membuatku lega. Ingatanku kembali pada kejadian kemarin malam. Sepeda motor seseorang yang melaju ke arahku, lalu menabrak, padahal aku sudah berjalan di pinggir. 

"Mbak sudah bangun? Syukurlah."

Laki-laki memakai baju kemeja panjang masuk tersenyum padaku. 

"Kamu ... kamu siapa?" 

"Aku, Rian, Mbak. Kema ....”

"Kamu kah yang menabrakku? Kenapa? Kenapa kamu menabrakku?" 

Dadaku terasa sesak menahan sakit dan juga menanggung cobaan ini. 

"Tenanglah, Mbak. Saya ... saya tak sengaja, Mbak."

"Apa?! Enak sekali kamu mengatakan tak sengaja. Kamu sudah membuat kakiku seperti ini, kamu tidak tau saya punya anak di kontrakan sana. Sekarang entah gimana nasib anak saya."

Tanpa diminta bibir ini menuturkan segala keluh kesah. Tak tau lagi gimana nasib anakku. Kaki ibunya sudah tak bisa berjalan lagi.

"Mbak, maaf. Tolong, Mbak tenang dulu. Sa ... saya yang salah, tapi itu bukan saya sengaja. Saya janji akan tanggung jawab, Mbak."

Aku tak ingin berkata lagi, mencoba untuk menerima ujian hidup ini dengan lapang dada. Mungkin laki-laki itu memang tak salah, ujian ini datangnya dari Robb. 

"Gini saja, Mbak. Bisa saya minta nomor telepon suami, Mbak?"

Kutatap laki-laki yang ada di depan tersebut. Pertanyaannya membuat sakitku semakin parah. Bukan sakit di lutut, melainkan di hati yang paling dalam. 

"Suami saya sudah tidak ada," ucapku berusaha menahan diri. 

"Maaf, Mbak. Kalau begitu bisa saya minta nomor orang di rumah?"

"Nggak ada."

"Duh, gimana ya. Saya juga kepikiran dengan keadaan anak, Mbak. Gini saja, boleh saya minta alamat tempat Mbak ngontrak? Saya akan melihat keadaan anak Mbak."

"Tidak usah!"

Siapa dia? Tak akan segampang itu aku percaya pada lelaki yang tak dikenal. 

"Lalu bagaimana, Mbak?"

Laki-laki berhidung mancung itu kelihatan mulai panik dan bingung. 

"Saya ingin pulang, saja."

"Jangan, Mbak. Kaki Mbak belum pulih," ucapnya penuh kecemasan.

Aku capek bicara dengan laki-laki ini. Aku juga belum salat. Kucoba sekali lagi, menggerakkan kaki kiri ku. Sangat sulit rasanya, perih yang menjalar ke ulu hati membuatku menyerah. 

"Mbak mau kemana? Biar saja bantu," ucap laki-laki bernama Rian itu berdiri dan mendekat ke bibir tempat tidur. 

"Jangan sentuh, saya."

"Maaf, Mbak. Sebentar saya panggilkan perawat dulu," ucapnya berlalu dari kamar aku dirawat. 

Entah berapa biaya pengobatan di rumah sakit ini. Sangat parahkah kakiku yang dibalut ini? Pikiranku jadi bercabang kemana-mana.

 Bagaimana kalau aku sakit lama? Sulit beraktifitas? Bagaimana aku bekerja untuk kebutuhan sehari-hari? Uang, tiba-tiba aku teringat uang tiga puluh ribu yang kemarin aku dapatkan. Dimana uang itu?

Uang itu pasti sudah hilang. Jika tak malu, tentu aku sudah menangis sekarang ini. Uang yang susah payah aku dapatkan kini juga hilang. Laila, anakku di rumah entah gimana nasibnya. Mungkin dia sudah menangis tidak menemukan ibunya di rumah. 

"Ibu, mau ke kamar mandi?" tanya perawat yang datang bersama laki-laki tadi.

"Iya, Bu. Saya mau salat," ucapku pelan. 

"Baiklah, sebentar saya ambilkan kursi roda dulu."

Ya Robb, bahkan aku sekarang harus dibantu kursi roda untuk bergerak. Tak bisa aku bayangkan, gimana jadinya nanti. 

"Sekali lagi maafkan saya, Mbak."

****

Sudah setahun aku berjuang sendiri. Mas Judid menceraikan aku ketika Laila berumur lima tahun. Alasan yang sangat tak di duga, hanya karena sudah membuat dia mengeluarkan banyak uang untuk biaya operasi caesar.

Tak ada BPJS, karena memang kala itu Mas Judid dan mertuaku melarang membuat kartu itu.

 Mereka yakin aku bisa melahirkan secara normal. Namun takdir membawaku ke meja operasi, ruang dingin yang sangat menyeramkan. 

"Jangan operasi, Dok. Saya mohon, saya ingin melahirkan normal," lulungku kala itu. Aku tak segan lagi menangis di hadapan dokter perawat dan staff lainnya.

"Kehamilan Ibu sudah komplikasi, ketuban pecah dini,Bu. Pembukaan masih mentok di satu."

Mas Judid menanda tangani surat pernyataan setuju dengan amarah yang ia tahan. Penderitaanku berlanjut setelah pulang dari rumah sakit.

Mertua, atau pun iparku tak ada yang mau membantu. Mereka hanya menonton saja ketika aku bersusah payah memandikan bayi mungilku di tengah-tengah rumah. 

Belum lagi omongan yang membuatku drop dan sering bersedih. Lima tahun lamanya aku menjadi bulan-bulanan mereka. Pada akhirnya Mas Judid menjatuhkan talak karena setiap hari dirong-rong ibunya. 

Hari itu juga aku angkat kaki dari rumah mertuaku. Uang yang sering aku tabung ternyata sangat berguna.

Aku putuskan mengontrak di tempat yang sederhana, yang penting aman dan nyaman untuk aku dan Laila tempati. Memulai hidup baru tanpa bayangan hantu-hantu yang berwujud manusia tersebut.

 Alhamdulillah, Mas Judid tak pernah memberikan nafkah. Walaupun aku mengontrak masih dalam satu kecamatan yang sama dengan tempat tinggal mertuaku.

"Mbak," panggil Rian pelan.

Lamunanku seketika itu langsung buyar. Menoleh ke arahnya, menatap wajahnya sekilas.

Sepertinya dia laki-laki yang baik. Buktinya dia masih betah menungguiku di rumah sakit ini. Bahkan baju yang ia kenakan masih yang tadi pagi. 

"Mbak, saya cemas dengan keadaan anak, Mbak. Bagaimana kalau saya lihat ke sana. Saya jadi tidak tenang loh, Mbak. Berikan saja alamatnya."

Aku diam membisu. Masih menimbang-nimbang. Berikan atau tidak? Anakku masih sangat kecil.

Berita yang sering aku dengar membuat was-was. Ada penculikan anak, ada pelecehan seksual pada anak, ada lagi penganiayaan pada anak. 

Wajah Rian mengisyaratkan bahwa aku harus percaya padanya. Namun, hatiku masih berat untuk percaya pada orang yang belum dikenal sama sekali.

Apakah aku harus memberikan alamat kontrakanku? Aku jadi dilema. 

Bersambung....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Hati Yang Tersakiti
8.1
Linda selalu diabaikan oleh ayah dan abangnya yang lebih menyayangi kakaknya, Sanny. Ketika pemimpin mafia Fendi Sucipto hadir menyelamatkan dan menikahinya dalam pesta megah, Linda mengira ia akhirnya dicintai. Namun, saat hamil tujuh bulan, sebuah kebakaran di pesta sang ayah mengungkap kenyataan pahit. Linda mendengar Fendi mengakui bahwa pernikahan mereka hanyalah rencana demi mendapatkan sumsum tulang belakang bayinya untuk menyembuhkan leukemia Sanny. Sadar dirinya hanya dimanfaatkan, Linda memilih pergi.
Sampul Novel Istri Sang CEO (After Married)
8.7
Niat awal Sella untuk mencari pekerjaan berubah drastis saat ia justru terjebak dalam pernikahan kontrak. Dirinya terpaksa menjadi istri pengganti bagi Rishan, seorang CEO yang menikah hanya demi menepati janji pada ibunya. Tanpa ada rasa cinta, hubungan mereka diwarnai ego dan aturan sepihak dari Rishan yang dominan. Di tengah tuntutan aneh sang suami, Sella harus kuat bertahan dan berjuang mengendalikan perasaannya yang kian goyah dalam ikatan pernikahan paksaan ini.
Sampul Novel Istriku Bukan Selingkuhanku
8.1
Satu dekade membina rumah tangga, bara cinta antara aku dan Mas Bram tak pernah padam. Sebagai bos sibuk yang kerap mengurus cabang di luar kota, ia selalu punya cara cerdik untuk menemuiku secara sembunyi-sembunyi dari ibunya. Pagi ini, kehangatan itu kembali terasa lewat pelukan manja dan kecupan mesra di leher saat aku sibuk di dapur. Sikap romantisnya selalu berhasil memanjakan diriku, membuatku tak berdaya dan hanyut dalam pesona gairah suami tercinta.
Sampul Novel Kebangkitan Wanita Cacat Yang Dikhianati
8.0
Silvia Rahman, seorang wanita difabel, menyadari ketulusan Dion Kurniawan hanyalah dusta. Begitu pendengarannya pulih, ia mengetahui fakta keji bahwa Dion sengaja menghalangi kesembuhannya demi berselingkuh dengan Arini. Setelah dihina Dion di sebuah pesta dan nyaris tewas akibat tabrak lari oleh Arini, Silvia bertekad membalas dendam. Pada hari pernikahan mereka, ia menyiapkan rencana mematikan untuk membongkar kebusukan Dion sebelum menghilang dengan identitas baru.
Sampul Novel PELUKAN UNTUK LANIA
8.4
Demi keluarga, Amara rela berkorban, tetapi takdir malah menorehkan kepedihan mendalam. Luka lamanya terkoyak kembali saat sang ayah kandung yang dahulu menelantarkannya tiba-tiba muncul. Di saat terpuruk, Angkasa datang menawarkan kehangatan hingga Amara terpikat. Namun, ketulusan itu runtuh ketika Amara menyadari dirinya hanya dijadikan selingkuhan. Kini, terjebak dalam status perusak hubungan, ia mulai kehilangan harapan akan masa depannya.
Sampul Novel Saat Kupergi, Bunga Bermekaran
8.0
Kehamilan dari program bayi tabung keenam seharusnya menjadi kado terindah di tahun kedelapan pernikahan dengan Renaldo Santoso. Namun, bukti perselingkuhan Renaldo dengan teman masa kecilnya yang juga hamil menghancurkan segalanya. Sadar dikhianati oleh seluruh keluarga suaminya, sang istri memutuskan pergi tepat di hari jadi mereka, meninggalkan janji kebun mawar yang diingkari. Kini, saat Renaldo menyesal, mencari ke seluruh dunia, dan memohonnya kembali, semuanya telah terlambat.