APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Biar Suami dan Anakku Hidup Tanpa Penyesalan

Biar Suami dan Anakku Hidup Tanpa Penyesalan

Dian harus menelan pil pahit saat suaminya, Harris, memberikan kalung miliknya kepada Lisa, sahabat masa kecilnya yang sekarat. Bahkan, putra kandung Dian lebih memilih membela ayahnya dan mengagumi kelembutan Lisa hingga diangkat menjadi anak angkat wanita itu. Menyadari bahwa kehadiran dan pengorbanannya tidak pernah dihargai oleh suami dan anak yang dilahirkannya dengan susah payah, Dian akhirnya memilih untuk mundur perlahan dan pergi meninggalkan mereka secara diam-diam.
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah Henry pergi, seluruh ruangan jadi terasa sangat hening.

Harris memecah keheningan dan berbicara terlebih dahulu.

“Dian, jangan marah. Aku tidak melupakan hari ulang tahunmu. Aku juga sudah menyiapkan hadiah ulang tahunmu jauh-jauh hari.”

“Aku sudah menemukan kalung yang paling berharga bagimu.”

Kalung yang dimaksud adalah kalung peninggalan ibuku, kalung yang diberikan padaku sebelum ibu meninggal dunia.

Aku sangat menghargainya.

Kalung itu dicuri di hari aku melahirkan Henry.

Saat itu, Harris menggenggam tanganku yang pucat dan lemah, lalu mencium rambutku yang basah oleh keringat dengan lembut dan berjanji kalau dia pasti akan menemukan kalung itu.

Kalung itu memang sudah ditemukan, tetapi kalung itu telah dikenakan di leher Lisa dan muncul di foto Instagramnya kemarin.

Aku tidak menjawab apa-apa dan hanya menggigit bibirku dengan pelan.

Melihat ekspresiku, Harris bisa menebak kalau aku sudah tahu bahwa dia telah memberikan kalung itu pada Lisa.

Namun dia tidak merasa canggung sedikit pun, matanya yang dalam jadi meredup.

Dia mengerutkan keningnya dan berkata dengan kesal, “Kalung itu hanya dipinjamkan kepada Lisa, setelah memakainya beberapa saat, dia akan mengembalikannya padamu.”

Aku hanya diam saja dan mengangguk.

Lagipula, aku juga sudah mau meninggalkan tempat ini besok.

Dia mengembalikannya atau tidak, itu sudah tidak penting lagi.

Melihatku tidak banyak bertanya lagi seperti dulu, Harris merasa sangat lega.

Dengan wajah lega, dia menggenggam tanganku dan menjelaskan padaku dengan santai.

“Waktu Lisa hanya tersisa setengah tahun. Aku tahu, kamu pasti akan memahamiku, ‘kan?”

Aku sudah terbiasa dengan akhir seperti ini.

Saat Lisa mengatakan kalau dia ingin merasakan kehangatan keluarga, Harris langsung meninggalkan pekerjaan dan membawa anak kami pergi menemani Lisa.

Saat Lisa mengatakan kalau dia ingin pergi bermain, Harris langsung membatalkan perjalanan keluarga yang telah kurencanakan selama enam bulan dan pergi bersama Lisa.

Saat Lisa mengatakan kalau dia ingin merayakan hari kepulangannya dari rumah sakit, Harris langsung mengesampingkan ulang tahunku dan pergi menjemputnya dari rumah sakit dengan membawa hadiah.

Sekarang, Lisa mengatakan kalau dia menginginkan kalungku. Jadi aku anggap kalung itu sudah dicuri selamanya dan Harris tidak pernah menemukan kalung itu.

“Ya, biar dia saja yang memakai kalung itu.”

Aku pura-pura terbatuk dan dengan wajah tanpa ekspresi menarik kembali tanganku. Meski merasa putus asa dan kecewa, mataku tetap terlihat sangat tenang.

Jawabanku yang terlalu patuh membuat Harris tertegun sejenak.

Ada rasa bersalah yang tersirat di wajahnya. Dia lalu berkata dengan nada melunak.

“Kamu tenang saja. Aku janji, Lisa pasti akan mengembalikan kalung itu padamu.”

“Beberapa hari ini, pergilah ke toko perhiasan dan pilihlah kalung yang harganya lebih mahal, sebagai hadiah untukmu.”

Aku sama sekali tidak menanggapi perkataannya. Lalu mengambil dokumen yang ada di bawah kue ulang tahun dan menyodorkan padanya.

“Semua itu tidak penting lagi. Harris, bisakah kamu menandatangani ini?”

Dia mengambil dokumen tersebut. Sebelum dibuka, dia bertanya dengan bingung.

“Dokumen apa ini?”

“Ini adalah su ….”

Sebelum aku menyelesaikan ucapanku, telepon Harris tiba-tiba berdering.

Ternyata itu adalah telepon dari dokter di rumah sakit.

“Halo, apakah ini keluarga pasien Lisa? Dia tiba-tiba pingsan di jalan dan dilarikan ke rumah sakit oleh pejalan kaki yang kebetulan lewat.”

Harris mengerutkan keningnya.

Dia buru-buru berkata, “Aku akan ke sana sekarang.”

Melihatku yang dari tadi terus menatap dokumen di tangannya, Harris pun menutup teleponnya sambil mengeluarkan pena, lalu menandatangani dokumen itu dan menyodorkannya kepadaku. Setelah itu, dia pun bangkit berdiri dan bersiap untuk pergi.

Saat dia berbalik, aku memanggilnya.

Aku bertanya, “Harris, apa kamu tidak mau melihat dokumennya dulu?”

“Kita bicarakan lagi setelah aku kembali nanti. Lisa pasti akan sangat ketakutan kalau menyadari dia sendirian di rumah sakit, aku mau ke sana dulu.”

Dia melambaikan tangannya dan memberiku instruksi seperti biasanya.

“Aku tidak tahu berapa lama aku akan pergi. Malam ini, cepatlah beristirahat. Jangan menungguku pulang.”

Selesai bicara, dia langsung pergi tanpa menoleh sama sekali. Dia bahkan sama sekali tidak menatapku.

Aku menatap punggung Harris, mengingat kembali panggilan darurat larut malam yang tak terhitung jumlahnya dari Lisa.

Mengingat kembali bagaimana aku duduk di sofa dan menunggu Harris pulang dengan mata terbuka lebar hingga fajar menyingsing.

Aku tertawa getir.

Ya, Harris.

Aku memang tidak akan menunggumu pulang lagi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Another Choice Mr. Wijaya
8.5
Jauh sebelum mengenal Tania, Wijaya muda harus menjalani pernikahan tanpa rasa cinta akibat perjodohan. Hubungan tersebut ia jalani murni atas dasar komitmen sebagai sahabat hidup. Namun, berbagai peristiwa tak terduga datang menguji persatuan mereka, membawa perubahan besar pada masa depan yang tak pernah diantisipasi. Ini adalah kisah perjalanan panjang Wijaya dalam memahami arti sebuah hubungan hingga akhirnya ia berhasil menemukan belahan jiwa sejatinya.
Sampul Novel Antara Cinta dan Keluarga
8.2
Dalam novel modern Antara Cinta dan Keluarga, kedatangan kakak sepupu pacar yang baru bercerai mengacaukan segalanya. Sambil membawa anak berusia lima tahun dalam kondisi hamil besar, wanita itu menumpang tinggal dan memperlakukan kekasih protagonis seolah miliknya sendiri. Ketegangan memuncak di sebuah acara keluarga ketika anak tersebut menyiramkan minuman dan berteriak menuduh protagonis telah merebut ayahnya.
Sampul Novel Dikejar Mantan Posesif
9.6
Tujuh tahun lalu, Farel Zay Amanta menghilang tiba-tiba dari kehidupan Refa Aletta Zafana tanpa penjelasan, meninggalkan kepedihan yang mendalam. Kini, Farel mendadak muncul kembali dengan sikap protektif yang sangat posesif. Mengabaikan misteri masa lalu mereka yang belum terselesaikan, sejak pertemuan pertama setelah sekian lama berpisah, Farel langsung menuntut dengan tegas agar Refa bersedia menikahinya saat itu juga.
Sampul Novel Hasrat Nikmat Bidadari Kampus
9.7
Penjelasan Adrian terbukti benar; perempuan itu sungguh memikat. Ia tidak hanya memiliki keindahan fisik yang terjaga dan wangi tubuh yang menawan dari jauh, tetapi juga menyandang gelar mahasiswi tercerdas dengan indeks prestasi tertinggi di kampusnya. Kombinasi sempurna antara kecantikan menawan, latar belakang kaya, serta kemampuan akademis yang luar biasa menjadikannya layaknya permata paling berkilau yang sangat dikagumi di seluruh area universitas.
Sampul Novel Pernikahan Sebatas Status
8.0
Demi mempertahankan rumah peninggalan orang tuanya, Jingga menyetujui sebuah kesepakatan rumit. Ia bersedia menjadi istri kontrak bagi Ganendra, seorang miliarder yang butuh perlindungan dari kejaran wanita pemburu harta. Pernikahan formalitas ini awalnya dilakukan demi keuntungan pribadi masing-masing. Namun, seiring berjalannya waktu, sandiwara tersebut justru menumbuhkan perasaan tulus. Hubungan tanpa rasa kini bersemi menjadi cinta yang nyata dan mendalam di antara keduanya.
Sampul Novel Perpisahan Terakhir, Jejak Abadi
9.2
Setengah tahun aku menderita penyakit misterius demi menyokong Baskara, suamiku yang bekerja sebagai arsitek. Malang, ketulusanku dikhianati demi asistennya yang mengandung. Lebih perih lagi, ibu kandungku justru berpihak padanya dan menutup mata atas penderitaanku. Kini, vonis kanker otak stadium akhir memastikan ajalku kian dekat. Tanpa keluarga yang peduli, aku menolak terus tertindas. Sisa waktuku akan kuhabiskan untuk diri sendiri, membiarkan Baskara tenggelam dalam penyesalan selamanya.