
Biar Suami dan Anakku Hidup Tanpa Penyesalan
Bab 3
Keesokan paginya, aku menatap waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh, ini waktunya aku berangkat.
Seperti biasanya, Harris menemani Lisa di rumah sakit semalaman.
Pagi-pagi sekali, aku menyeret koperku dan bersiap untuk pergi.
Saat melewati kamar Henry, aku menghentikan langkahku.
Henry lahir prematur, karena itu tubuhnya sangat lemah dan sering sakit.
Untuk memastikan dia bisa mendapat perawatan terbaik, aku sendiri yang mengurus dan mengatur semua kebutuhannya sehari-hari. Aku tidak pernah mempekerjakan pembantu ataupun pengasuh.
Setelah merasa ragu sejenak, aku meletakkan barang bawaanku dan memutuskan untuk melihatnya sekali lagi sebelum aku pergi.
Henry bukan hanya wajahnya saja yang mirip dengan ayahnya, tetapi sikap cueknya juga.
Melihatku berjalan masuk ke kamarnya, Henry yang tadinya membungkuk di meja mendongakkan kepalanya dan memanggilku, kemudian kembali melukis.
Aku menatap wajahnya yang mirip sekali dengan Harris, lalu berkata dengan suara pelan, “Henry, Ibu sudah mau pergi. Jaga dirimu baik-baik.”
Dia yang sedang serius melukis sama sekali tidak menolah dan hanya menjawab, “Ya.”
Aku menoleh ke arah lukisannya, dia sedang melukis pemandangan saat Lisa dan Harris membawanya ke taman bermain.
Seketika itu, hatiku serasa dicabik-cabik.
Lisa pernah mengunggah sebuah video di Instagramnya.
Di dalam video tersebut, dia sedang mengunyah permen marshmallow di pelukan Lisa dan berbicara dengan tidak jelas.
“Aku senang sekali bersama Tante Lisa, aku bisa makan apapun yang aku mau, aku bahkan boleh menonton TV semalaman!”
“Tidak seperti ibuku yang suka mengatur! Dia selalu menyuruhku tidur lebih awal dan juga menyuruhku makan buah dan sayur!”
Lisa tersenyum dan bertanya, “Jadi menurutmu siapa yang lebih baik, ibumu atau Tante Lisa?”
“Tentu saja tante Lisa! Jika saja ibuku bisa selembut Tante, aku pasti akan sangat senang.”
Dibandingkan dengan diriku yang keras, Henry yang baru berusia lima tahun jelas lebih menyukai Lisa yang selalu menuruti keinginannya, memanjakannya dan juga tidak pernah mendisiplinkannya.
Aku kira dengan perawatanku yang cermat, dia tidak akan sering sakit lagi seperti dulu dan ini adalah sebuah hal yang baik.
Namun tidak disangka, hal ini justru membuat jarak kami makin menjauh.
Melihatnya melukis gambar Lisa dengan serius, kelopak mataku jadi memerah.
Saat aku berbalik dan hendak pergi, Henry tiba-tiba memanggilku.
“Bu.”
Aku berbalik dan menatapnya.
Henry menatap mataku, wajahnya tampak sangat serius.
“Ibu pernah bilang, Ibu akan menyukai apapun yang aku sukai. Henry sangat menyukai Tante Lisa, Ibu juga akan menyukainya, ‘kan?”
Aku tertegun sejenak.
Secercah harapan dan penantian terakhir di hatiku lenyap sepenuhnya.
Aku memejamkan mataku dan diam-diam mengusap air mataku, lalu tertawa pelan dan berkata, “Bukankah kamu selalu ingin menemani dan melindungi ibu angkatmu? Mulai sekarang, kamu dan ayah boleh terus menemani dan melindunginya.”
Selesai bicara, aku tidak menggubrisnya lagi.
Aku berbalik dan mengambil koperku, lalu pergi meninggalkan vila tanpa menoleh ke belakang. Aku langsung menuju ke bandara.
Sebelum menaiki pesawat ke negara asing, aku membuang ponselku ke tempat sampah di ruang tunggu keberangkatan. Aku membuang semua kenanganku bersama mereka.
Di saat pesawat lepas landas, aku merasa bebas.
Anda Mungkin Juga Suka





