
Aku Pemenang Dalam Hidupku
Bab 3
Tatapan Jason yang menusuk ke arahku terasa dingin, seperti melihat orang asing.
“Cepat bawa Siska ke rumah sakit dulu.”
Tanpa ragu, tanpa bertanya apapun, dia bahkan tak menunjukkan sedikit pun keanehan terhadap ‘tuduhan’ mereka.
Stefano buru-buru memakaikan jaket pada Siska dan memapahnya berjalan keuar.
Langkah mereka tergesa-gesa, tapi tak satu pun mata mereka menoleh ke arahku.
Begitu pintu tertutup, seluruh rumah mendadak menjadi hening.
Baru saat itulah aku sadar, mereka benar-benar sudah pergi dan menyisakan diriku seorang.
Aku menyeret tubuhku yang kaku kembali ke kamar.
Kamar itu sangat sunyi, bahkan suara napasku pun terasa menusuk telinga.
Aku membuka lemari, melipat beberapa pakaian yang sering kupakai dan memasukkannya ke koper.
Paspor, dokumen, kartu bank, semuanya kuperiksa satu per satu.
Saat merapikan laci, sebuah buku tebal terjatuh ke lantai. Itu buku harian yang kutulis sejak umur delapan tahun.
Aku menatapnya lama, jari-jariku bergetar, lalu akhirnya membukanya.
Lembar demi lembar, kertas yang mulai menguning itu penuh dengan kisah tumbuh kembang dan kesendirianku.
Saat kecil, keluarga kami kekurangan. Ayah dan Ibu bilang harus menyisakan sumber daya terbaik untuk Kakak dan Adik.
Stefano berprestasi dan masuk sekolah swasta unggulan, sedangkan Siska sering sakit, butuh perawatan tanpa henti dari Ayah dan Ibu.
Sementara aku, dikirim ke sekolah asrama.
Sekali pergi langsung sepuluh tahun penuh.
Setiap kali liburan, asrama kosong. Teman-teman dijemput orang tua mereka untuk berkumpul di rumah.
Sedangkan aku hanya bisa tinggal di koridor yang sepi, melihat barang bawaan orang lain dibawa pergi satu per satu.
Surat yang sesekali dikirim padaku hanya berisi ‘harus menjadi anak yang penurut’, ‘jangan menyusahkan keluarga’.
Baru setelah kuliah, aku ‘berhak’ untuk kembali ke rumah.
Namun, yang menyambutku bukanah pelukan dan kerinduan, melainkan kamar kecil yang suram di sudut lantai dasar.
Saat ini, aku benar-benar mengerti bahwa di rumah ini, diriku hanyalah beban yang masih diberi tempat untuk tinggal.
Awalnya, aku juga menangis dan juga meredam isakan dengan bantal di malam hari.
Namun kemudian, aku memaksa diri untuk belajar diam.
Berusaha keras mengerjakan pekerjaan rumah, berusaha bersikap baik dan membuat diriku menjadi ‘bermanfaat’.
Aku pikir jika aku berusaha cukup keras, suatu hari nanti mereka akan menoleh melihatku.
Namun kenyataan berkali-kali membuktikan, ada hal yang tak bisa didapatkan hanya dengan usaha.
Sama seperti kasih sayang mereka yang tidak pernah menjadi milikku.
Tanganku berhenti di satu halaman, ujung jariku menekan kertas hingga sedikit mengerut.
Aku pun menarik napas dalam-dalam, menutup kembali buku harian itu dan memasukkannya ke dalam koper.
Pandanganku jatuh ke meja samping ranjang, alat tes kehamilan itu tergeletak tenang di sana.
Dua garis yang begitu jelas dan menusuk pandangan.
Pagi ini, aku sempat membayangkan untuk memberitahu Jason di pesta pernikahan.
Membayangkan ekspresi terkejut pertamanya dan diriku yang dipeluk olehnya.
Namun sekarang, aku tahu bahwa rahasia ini tidak perlu lagi diungkapkan.
Anda Mungkin Juga Suka





