APKDock Logo
Sampul Novel Pengabdian dan Cinta

Pengabdian dan Cinta

9.7 / 10.0
Dua polisi tangguh, Ardi dan Bara, berjuang keras merubuhkan sindikat mafia yang kebal hukum. Namun, misi mereka gagal total setelah Bara tertembak dalam aksi pengintaian. Di tengah situasi kacau itu, Ardi menemukan kenyataan pahit bahwa gembong kriminal yang mereka incar, Arkana, adalah ayah kandungnya. Kini, ia terjebak di antara ikatan darah dan kewajibannya sebagai aparat. Demi hukum dan pengabdian, Ardi akhirnya terpaksa melepaskan tembakan fatal.

Pengabdian dan Cinta Bab 1

Penggerebekan berbuah luka

Selamat Membaca

"Enyahlah kalian dari dunia!"

Suara tembakan terdengar beberapa kali, membuat pasangan tersebut meninggal secara mengenaskan. Mata dari seorang pria itu tertembak juga dengan istrinya, bahkan mereka sudah tersiksa dari pria misterius tersebut. Air mata terakhir kali menetes membasahi pandangan, karena mereka harus berpisah dengan putranya, mereka selama-lama mungkin.

"Angkat tubuh mereka dan bakar!"

Seorang anak lelaki memandang tindakannya pria misterius bersama dengan rekannya dan mereka semua mulai meninggalkan tempat itu. Tidak pernah terduga, bahwa itu adalah malam terakhir gadis tersebut bertemu dengan orang tuanya. Anak lelaki itu keluar dan mengikuti mereka sampai dia menembus sebuah hutan dan disanalah orang tua kandung sang gadis terbakar.

"Ayah, Ibu!"

Suara itu bergema sampai ke telinganya seorang pria misterius, membuat pria itu memutarkan pandangan mencari suara itu. Pria itu berjalan menelusuri hutan itu dan semua percuma, dia tidak mendapat siapapun di sana. Anak lelaki berusia delapan tahun menangis memandang api merah bercampur biru dan orange itu. Akhirnya, debu didapatkan sang anak lelaki sesudah ia melihat mereka meninggalkan hutan itu.

"Ayah, Ibu!"

Dia pun menghapus air mata, kemudian menggali tanah untuk membuat kuburan dan menanam debu orang tuanya. Anak lelaki itu memberi tanda dengan dua batu dan dia mulai meninggalkan hutan tersebut, kemudian mencari cara untuk membuat laporan tindakan kriminal terhadap ayah dan juga sang ibu.

Berbagai cara dilakukan oleh anak lelaki kecil tersebut untuk mengungkap pelaku, tapi semua polisi menertawakan cerita sang anak lelaki itu sampai membuat dia menangis. Ia meninggalkan tempat tersebut, namun satu dari polisi Australia mendatanginya untuk memberitahukan sesuatu.

"Kamu mau menjadi seorang polisi untuk ungkapkan kematian orang tua kandungmu?"

***

Lima belas tahun kemudian..

Hari ini, aku dan tim meluncur ke daerah pinggiran untuk melakukan penggerebekan di sebuah rumah. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari informan yang aku tempatkan di lokasi, akan terjadi transaksi jual beli shabu dalam jumlah yang besar. Aku meyakini bahwa kelompok ini masih ada hubungannya dengan pelaku yang sedang ditahan di polres.

Memakai kaos lengan panjang berwarna navy, celana jeans dengan sedikit robekan di paha dan sepatu kets putih menjadi pilihanku saat ini. Setelah briefing dengan anggota tim yang berjumlah enam orang, kami bergegas memasuki mobil untuk menuju lokasi penggerebekan.

Di dalam mobil, kami kembali memeriksa perlengkapan yang akan dibutuhkan saat penggerebekan nanti. Aku memasang rompi anti peluru dan menyelipkan senjata revolver di pinggang serta tidak lupa memakai masker penutup wajah.

Operasi kali ini harus berhasil agar bisa memutus mata rantai kelompok ini dalam mengedarkan obat-obat terlarang. Aku prihatin melihat generasi muda yang rusak karena barang haram tersebut. Padahal, masa depan mereka masih panjang.

Akhirnya, kami sampai di tempat yang dituju setelah menempuh perjalanan hampir satu jam. Bara memarkirkan mobil di tempat yang agak tersembunyi agar kedatangan kami tidak diketahui oleh mereka.

Setelah memastikan keadaan aman, kami segera melangkah menuju rumah yang menjadi target penggerebekan. Aku membagi tim menjadi 2 kelompok. Kapten Bara, aku dan Arshaka tim yang membantu Aiptu Arshaka dan mereka akan masuk dari pintu belakang, sedangkan aku, Bara dan Arshaka mencoba menerobos dari pintu depan.

Aku pun memberikan aba-aba untuk melakukan pergerakan, Aiptu Arshaka langsung bergerak ke bagian belakang bersama Bara, aku dan Aditya . Tim yang dipimpin langsung mengambil posisi menuju pintu depan.

Sebelum mendobrak pintu, aku memberikan kode kepada Aiptu Arshaka melalui handy talky agar masuk secara bersamaan. Jadi, kesempatan mereka untuk melarikan diri sangat kecil.

Brak!

“Angkat tangan! Kalian sudah kami kepung,” teriakku sambil menodongkan senjata ke arah mereka.

Tampak kelompok yang terdiri dari tujuh orang itu terkejut melihat kedatanganku dan tim. Sempat kulihat, salah satu dari mereka berusaha menyembunyikan shabu yang akan diperjualbelikan.

“Jangan bergerak! Sekarang jongkok dan tangan tetap di atas!” perintahku sambil mendekati mereka.

Aku yang terlalu fokus mendekati pelaku, tidak menyadari ada pergerakan dari belakang.

“Awas, pak!” teriak Bara sambil berlari ke arahku. Aku yang terkejut, refleks mengikuti arah lari dan melihat seorang pria yang sudah bersiap menyerang.

Perkelahian pun tidak terhindar lagi, mereka yang tadi dalam posisi jongkok juga sudah bersiap untuk membantu temannya.

Bugh! Bugh! Bugh!

Suara pukulan menggema di seluruh ruangan, perlawanan yang mereka berikan cukup membuatku dan tim kewalahan. Beruntungnya aku dan anggotaku menguasai ilmu beladiri yang mumpuni.

Aku, Bara dan Arshaka , menguasai taekwondo serta muaythai. Sementara yang lain walaupun hanya menguasai satu ilmu beladiri, tetapi itu sudah lebih dari cukup untuk melindungi diri mereka sendiri.

Namun, terjadi sesuatu yang tidak terduga saat aku melihat Bara kewalahan menghadapi lawannya. Tampak banyak memar di sekitar wajahnya, sepertinya yang dia hadapi mempunyai ilmu beladiri yang lebih dari dia. Bara tersentak, ketika merasakan sebuah benda tajam menusuk perut sebelah kanan dan secara spontan Bara pun berteriak kesakitan.

Argh!

Sebelum tubuh Bara roboh ke lantai, pelaku itu mengeluarkan senjata dan menambahkannya ke arah Bara yang bersiap untuk bangun dari tempatnya terjatuh. Sasarannya tepat mengenai paha bagian samping sebelah kanan dan Bara pun langsung tersungkur.

Anggota timku langsung berjalan ke arah Bara,setelah mereka berhasil melumpuhkan para komplotan penjahat itu. Hampir tiga tahun aku bergabung di unit reserse, baru kali ini mengalami luka yang parah.

“Bertahan, Bara. Jangan tutup mata, kami akan segera membawa kamu ke rumah sakit,” ujar Aiptu Arshaka sambil membuka rompi anti peluru dan menekan tempat yang terkena tusukan.

“Hmm, tenang aja. Saya nggak apa-apa, ini cuma luka kecil,” ujar Bara.

Aiptu Arshaka segera membawaku menuju mobil setelah memberikan perintah kepada Aditya dan yang lainnya untuk mengamankan lokasi penggerebekan.

Bau obat-obatan tercium ketika kesadaran sudah Bara dapatkan. Mencoba menggerakkan badan, tetapi perutku terasa sakit. Tampak infus sudah terpasang di tangan kiri Bara. Memindai seluruh ruangan, tidak ditemukan seorang pun yang menemani Bara.

Bara kembali memikirkan kejadian penusukan itu, bagaimana aku bisa lengah dalam melaksanakan tugas?

Aku bersyukur Bara diberikan kesempatan hidup sekali lagi karena masih banyak kasus yang belum terselesaikan termasuk kecelakaan kakaknya Bara. Misteri yang sampai sekarang belum terpecahkan.

Mamanya keluarga Bara sampai sekarang tidak tahu keberadaannya di mana. Seminggu setelah kedatanganku hari itu, aku kembali mengunjunginya. Akan tetapi, rumah sudah dalam keadaan kosong. Ketika dihubungi, nomornya pun tidak aktif. Sebenarnya apa yang disembunyikan oleh Mama soal kecelakaannya kakaknya Bara?.

Clek!

Bunyi kenop pintu yang dibuka mengembalikan kesadaran Bara akan lamunan tentang Mamanya Bara. Saat melihat ke arah samping, tampak kepala aku yang mengintip dari balik pintu.

“Bang, kenapa berdiri di situ aja? Kayak orang mau nagih utang tau, nggak,” gerutu Bara padaku.

“Nggak, Cuma mau pastikan masih hidup atau sudah lewat,” jawabku sambil berjalan mendekati brankar.

“Ih, jahat. Mendoakan adiknya mati, aku baik-baik aja, Bang. Ini mah belum seberapa,” ucapnya, yang langsung dihadiahi sentilan di kening Bara.

“Jangan takabur. Sekarang, kamu masih diberikan kesempatan hidup. Kita nggak tau apa yang akan terjadi besok. Janji sama Abang kalau kamu akan lebih waspada lagi dalam menjalani tugas.” Bara mengangguk sambil menggenggam tangannya yang berada di kepalaku.

“Begitu dapat kabar dari Arshaka , kami semua langsung shock. Mama sampai histeris, memikirkan nasib anak lelakinya itu semata wayangnya ini. Jangan mengulanginya lagi, ya!” tegasnya.

“Sekarang Mama di mana, kok nggak ke sini?” tanya Bara.

“Mama pulang istirahat sebentar, sudah dua hari Mama menjamu di sini. Takut kalau tiba-tiba kamu sadar.”

“Hah! Beneran Bara nggak sadarkan diri selama dua hari?”

“Iya, kamu nggak tau itu pingsan atau tidur? Nyenyak benar kayaknya.”

Bara tidak percaya kalau tidak sadarkan diri selama dua hari. Aku menceritakan kalau Bara banyak kehilangan darah dan luka tusukan pun terlalu dalam, sehingga merobek usus. Untungnya segera cepat ditangani karena itu bisa membahayakan nyawa Bara.

“Abang masih penasaran, sebenarnya apa yang kamu pikirkan sehingga bisa lengah seperti itu?”

“Aku melihat Aditya yang kewalahan menghadapi lawannya, Bang. Eh, malah nggak ingat kalau Aku juga lagi menghadapi pelaku yang lain.”

“Yakin cuma karena itu? Abang tau kamu lagi menyembunyikan suatu masalah karena beberapa minggu ini kamu sering melamun di kamar ataupun di gazebo belakang.”

Bara terkejut mendengar ucapanku barusan , ternyata dia memperhatikan segala tingkah laku Bara saat sedang berada di rumah.

“Belum saatnya Bara menceritakan masalah itu, Bang, sebelum bukti kuat ditemukan. Bara nggak mau gegabah dalam bertindak,” ujar Bara.

“Abang percaya sama kamu. Kalau memang butuh bantuan, nggak usah segan menghubungi Abang atau Mama dan Papa. Sudah cukup, kamu membuat mereka khawatir.”

“Siap, Pak,” ujar Bara sambil memberikan gerakan hormat. Aku hanya tersenyum melihat tingkah konyol Bara.

Bersambung

Lanjut Membaca

Daftar Isi Pengabdian dan Cinta

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Bukan Perawan Kesayangan Tuan-tuan Gigolo
9.6
Jagat raya dikejutkan oleh aksi para gigolo kaya nan rupawan yang memperebutkan kasih sayang seorang gadis desa yang serba kekurangan. Di balik kepolosan wajahnya, perempuan tersebut rupanya seorang pembunuh kejam yang telah melukai mereka. Anehnya, para pria ini malah merasa bangga jika harus tewas di tangan sang gadis. Mengapa mereka justru memuja sosok yang mengancam nyawa tersebut? Inilah kisah cinta penuh laga tentang obsesi luar biasa yang sulit dinalar publik.
Sampul Novel Cinta Dibalik Dusta
7.8
Nia sangat terpukul saat menyadari pernikahan yang ia jalani selama delapan tahun dengan Arvan dipenuhi kebohongan. Statusnya ternyata hanyalah istri kedua. Di tengah niatnya untuk menuntut cerai, sebuah rahasia besar terungkap. Ayu, istri pertama Arvan, rupanya telah mengkhianati pernikahan mereka terlebih dahulu dan melahirkan anak dari lelaki lain. Kenyataan ini membuat Nia bimbang. Ia kini dihadapkan pada pilihan sulit antara tetap pergi atau bertahan demi Arvan.
Sampul Novel Cinta Terlarang
9.6
Sebuah tanda lahir mengungkap rahasia kelam masa lalu Tara. Gadis malang ini terkejut saat mengetahui bahwa wanita kejam yang dahulu pernah melabrak dan menghinanya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri. Situasi kian pelik karena Tara telanjur mencintai suami dari ibu kandungnya tersebut. Terjebak dalam romansa tabu bersama ayah sambungnya, kini Tara dihadapkan pada pilihan sulit antara memaafkan masa lalu sang ibu atau melepaskan pria yang sangat ia cintai.
Sampul Novel Perangkap Dendam Tuan Miliarder
7.9
Skandal besar menghancurkan karir Angela Jones hingga ia terpaksa melarikan diri ke Santa Barbara. Tak disangka, di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Carter, pria yang dulu pernah difitnahnya. Aaron kini telah menjelma menjadi miliarder dingin yang berambisi menuntut balas. Terjerat dalam permainan kekuasaan Aaron untuk menebus dosa masa lalu, Angela pun dihadapkan pada dilema rumit: terus melawan kekejaman dunia atau pasrah pada pria yang ingin menyelamatkannya.
Sampul Novel Teacher on Escape
8.2
Rencana pernikahan Vina hancur berantakan akibat dendam masa lalu ayahnya. Guru Matematika berumur 30 tahun yang patah hati ini memilih melarikan diri ke Batam demi menenangkan diri. Di sana, ia bersua dengan Luki, teman lamanya yang juga tengah terluka karena dikhianati sang kekasih. Pertemuan di Jembatan Barelang dalam kondisi mabuk melahirkan ucapan nekat dari Vina yang mengubah jalan hidup mereka. Akankah pelarian ini berujung penyesalan atau justru menjadi awal takdir baru bagi keduanya?
Sampul Novel The Cruel Prince
8.4
Nathasya terjebak dalam penderitaan akibat cinta pertama yang kini berubah menjadi obsesi kelam. Kehidupannya kini dikuasai oleh seorang pria kejam yang gila kendali dan pemenuhan hasrat seksual. Demi memilikinya seutuhnya, sosok maniak itu tidak ragu menggunakan kekerasan fisik maupun batin. Di tengah siksaan keji yang terus menderanya, seluruh impian masa depan Nathasya perlahan hancur dan lenyap. Akankah ia sanggup bertahan melewati segala penderitaan tanpa akhir ini?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan