APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Yang Kucintai adalah Duri

Yang Kucintai adalah Duri

Rumah tangga dalam novel Yang Kucintai adalah Duri menyimpan rahasia kelam. Sang istri, yang diam-diam telah sembuh dari kebutaan, berpura-pura tidak tahu saat menemukan kamera pengawas di rumahnya. Suatu hari, ia bersembunyi di lemari dan menyaksikan suaminya membawa selingkuhan. Meski suaminya membela dirinya dari hinaan wanita itu, sang istri yang telanjur kecewa memutuskan keluar dari persembunyian, menghubungi kakaknya, dan setuju untuk pergi ke luar negeri.
Bab
Bagikan

Bab 1

Sebuah kebetulan membuat aku mengetahui rahasia suamiku. Ternyata setiap sudut rumah penuh dengan CCTV tersembunyi. Aku tidak mengungkapkan hal itu, hanya pura-pura tidak tahu. Suatu hari, aku bersembunyi di lemari, dia kira aku kabur dari rumah, tak disangka tindakan ini membuatku tahu kalau dia sedang melakukan hal mesra dengan kekasihnya, lalu terdengar suamiku berkata, "Lebih cepat, pengobatannya akan segera selesai."

Wanita itu malah berkata, "Tak usah takut, dia hanya orang buta."

Suamiku memarahinya, "Kamu nggak ada hak mengatainya, dia adalah istriku, kalau kamu berani kurang ajar lagi, keluar saja dari sini."

Suamiku tidak tahu kalau aku sudah sembuh, bahkan sudah seperti orang normal. Setelah aku keluar dari lemari, aku menelepon kakakku dengan sedih, "Kak, aku setuju keluar negeri."

Dari awal hingga akhir, semuanya berlangsung tepat dua puluh menit, tidak lebih, tidak kurang.

Sepertinya ini sudah terjadi ratusan kali, hingga waktu pun bisa dikendalikan dengan begitu tepat.

Saat Alina sedang mengenakan pakaiannya, Gavin mengulurkan tangannya yang panjang, menarik wanita itu ke dalam pelukannya.

Dengan wajah malu-malu, Alina melingkarkan tangannya di leher pria itu sambil berujar, "Pak Gavin, apa kamu merindukanku lagi?"

Gavin mengambil pakaian dalam berenda di sampingnya dengan ekspresi acuh tak acuh, lalu melemparkannya ke wajah Alina.

"Kamu lupa barangmu," ujar Gavin.

"Cepatlah, Melisa akan segera kembali," lanjut Gavin.

Senyum di wajah Alina seketika membeku, lalu dia mendengus dengan enggan.

"Ya, ya, mana mungkin aku bisa dibandingkan dengan Nona Melisa?" kata Alina.

"Hanya saja, kasihan sekali anak di dalam perutku ini. Belum lahir pun dia sudah ditakdirkan untuk lebih rendah dari orang lain .…"

Begitu kata "anak" terucap dari mulut Alina, senyum simpul muncul di wajah Gavin.

"Anak? Apa kamu hamil?" tanya pria itu.

Gavin mencium wajah Alina berulang kali, memeluknya erat, lalu berputar-putar dengan penuh kegembiraan.

Namun, kemudian dia seakan teringat sesuatu, buru-buru membantu Alina duduk, lalu dengan hati-hati menyentuh perutnya.

Alina yang melihat betapa gugupnya pria itu, tampak tersenyum sambil bersandar di dadanya.

"Sudah dua tahun. Bahkan pohon besi yang berusia seribu tahun pun seharusnya sudah berbunga," ujar Alina.

Dua tahun, ya ….

Kecelakaan mobil yang membuat penglihatanku terganggu juga terjadi dua tahun yang lalu.

Setelah kejadian itu, saat aku membuka mata lagi, semuanya sudah menjadi kabur.

Aku hanya bisa melihat bayangan samar-samar.

Gavin memeluk Alina dengan senyuman di matanya. Pandangannya tak pernah lepas dari perut Alina.

Gavin berkata, "Bagaimanapun juga, Melisa adalah istriku. Meski dia buta, aku nggak bisa bersikap keterlaluan."

"Tapi kamu .… Kamu juga adalah kekasihku. Bagaimana mungkin kamu lebih rendah dari orang lain?"

Ketika mendengar hal itu, Alina merajuk, meninju dada Gavin dengan lembut.

"Kamu hanya pandai membujukku dengan kata-kata manis. Kekasih atau bukan, aku nggak peduli," balas Alina.

"Katamu aku nggak lebih rendah dari orang lain, tapi anakku tetap saja hanya seorang anak haram yang nggak bisa terlihat di depan umum!"

Gavin terdiam sejenak karena ucapannya. Setelah beberapa saat, dia akhirnya membuka mulut dengan ragu-ragu.

"Nggak akan. Anakku sudah pasti akan menjadi orang yang terhormat."

"Saat dia lahir nanti, aku akan meminta Melisa untuk mengadopsinya."

"Dengan begitu, kita sekeluarga bisa hidup bahagia bersama. Dia juga bisa mewarisi bisnis keluarga sebagai anakku yang sah."

Setelah mendengar janji itu, akhirnya ada senyuman di wajah Alina.

Ketika mendengar semuanya, aku hanya merasakan hawa dingin yang menjalar hingga ke tulang, membuat kedua kakiku gemetaran tak terkendali.

Pria yang paling aku percaya, ternyata diam-diam merencanakan semuanya agar aku harus hidup dengan aib sebesar ini.

"Bagus sekali, Gavin. Kamu memang luar biasa," batinku.

Begitu suara pintu tertutup terdengar, aku akhirnya menggigit bibir, berjalan keluar dari dalam lemari.

Saat Gavin mengantar Alina pergi dan kembali ke ruang tamu, dia langsung melihatku duduk di sana.

Ekspresi panik melintas di wajahnya. Dia berujar dengan suara tergagap, "Melisa, sejak … sejak kapan kamu kembali?"

"Aku nggak pergi ke mana-mana hari ini," balasku.

Ketika mendengar itu, hati Gavin langsung berdetak kencang.

"Kalau begitu … apa kamu mendengar sesuatu?"

Sambil bertanya, Gavin bahkan melambaikan tangannya di depan mataku.

Aku berpura-pura tidak tahu, tetap tenang, lalu menggelengkan kepala.

"Nggak. Ada apa memangnya?" tanyaku.

Melihat mataku yang tidak berbeda dari sebelumnya, ketegangan di wajah Gavin akhirnya mengendur.

Pria itu duduk di sampingku, menggenggam tanganku, lalu berkata dengan penuh kasih sayang.

"Nggak apa-apa. Barusan ada pekerja yang datang memperbaiki sesuatu. Aku takut mengganggumu."

"Melisa, aku benar-benar mencintaimu."

Setelah itu, Gavin bertindak seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Dia merebuskan obat untukku, menyuapiku makan, serta memastikan setiap suapan sudah tidak panas sebelum dimasukkan ke mulutku.

Ketika melihat betapa perhatiannya pria ini, sesaat aku merasa ragu.

Mungkin semua yang terjadi hari ini hanyalah mimpi. Mungkin ini tidak nyata.

Namun, pada detik berikutnya, kata-kata Gavin menarikku kembali ke kenyataan.

"Melisa, bagaimana kalau kita mengadopsi seorang anak?"

Wajahku perlahan memucat, membuat Gavin buru-buru mengganti topik.

"Kalau kamu nggak suka, kita lupakan saja untuk sekarang."

"Maaf, aku sudah terlalu gegabah. Jangan marah, ya .…"

Maksud melupakan topik ini hanyalah penundaan sementara. Namun, anak di perut Alina tidak bisa menunggu.

Masalah adopsi ini sudah dipastikan akan terjadi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel akan ku tuju sampai ke ujung
9.6
Siera sangat menikmati masa lajangnya sebagai wanita mandiri. Di sisinya, ada Roma, sahabat masa kecil yang selalu loyal mendukungnya. Namun, ketenangan hidup Siera terusik sejak kehadiran Xavier, bos besar di kantornya. Meski sang atasan berkarakter angkuh dan dingin, perlahan ketulusan Siera mampu melunakkan hatinya. Kini, Siera terjebak di antara loyalitas sahabatnya dan daya pikat sang bos yang mengubah takdirnya.
Sampul Novel Catatan Rahasia Sekretaris Suamiku
7.8
Bukti perselingkuhan Fathan terbongkar setelah istrinya, Davina, menemukan sebuah buku harian rahasia milik Lulu. Ketegangan memuncak ketika Lulu, yang bekerja sebagai sekretaris sekaligus sahabat Davina, mendadak tewas terbunuh secara misterius. Siapa pelaku di balik pembunuhan keji ini? Mampukah rumah tangga Davina dan Fathan bertahan melewati rintangan pengkhianatan serta misteri kematian yang belum terpecahkan? Temukan jawabannya dalam kisah penuh teka-teki ini.
Sampul Novel Gadis Yang Terjamah
8.7
Demi ambisi pendidikan, Marlina kehilangan kehormatan hingga terbuang ke dunia gelap narkoba sebagai pengedar. Saat berniat tobat dan berhijrah, jebakan rival justru menjebloskannya ke penjara. Di balik jeruji besi, ia memperdalam ilmu agama. Namun setelah bebas, penolakan keras masyarakat kembali menghadangnya. Kini, Marlina dihadapkan pada pilihan sulit: kembali ke jalan haram yang menjanjikan atau tetap teguh pada proses hijrahnya.
Sampul Novel HASRAT PENUH LUKA
9.7
Di bawah guyuran hujan lebat, Dominic mengejar wanita yang sangat mirip dengan Stella. Sambil berlutut, ia bersujud memohon maaf atas kesalahan fatalnya di masa lalu. Namun, kepedihan yang dirasakan Stella sejak tiga tahun lalu telah mengubah hatinya menjadi beku dan kelam. Dengan penuh ketegasan dan sikap dingin, Stella menyatakan penyesalan Dominic sia-sia. Baginya, hanya kematian pria itulah satu-satunya penebus penderitaan panjang yang ia rasakan.
Sampul Novel HATRED
8.7
Akibat fitnah keji merekayasa video, seorang pemuda diusir dari rumah karena dituduh mencelakai dua saudaranya. Rasa kecewa mendalam ia rasakan lantaran keluarganya sendiri lebih memilih memercayai bukti palsu tersebut dibanding kata-katanya. Di tengah luka batin akibat dikhianati orang terdekat, ia terpaksa memulai lembaran baru di dunia luar. Mampukah ia bertahan dalam pengasingan ini? Akankah penyesalan kelak menghampiri keluarga yang mendepaknya? Ikuti kisah perjuangan sarat dendam ini.
Sampul Novel Kelakuan Suami dan Ibu Mertuaku di Balik Pintu
8.3
Mengetahui bahwa anak yang disayanginya selama ini merupakan hasil hubungan sedarah, sementara darah dagingnya sendiri telah meninggal secara mengenaskan, tidak membuat wanita ini menyerah pada keterpurukan. Alih-alih hancur, ia memilih bangkit dengan tekad membara untuk menuntut keadilan. Langkah pembalasan dendam pun dimulai dengan menyeret sang ibu mertua ke balik jeruji besi dan menelanjangi semua kebusukan suaminya di hadapan publik, sebelum ia melangkah pergi memulai lembaran hidup yang baru.