APKDock Logo
Sampul Novel Warisan Rahasia Ayahku

Warisan Rahasia Ayahku

7.8 / 10.0
Dunia Ravina Aleysha Pratama, dokter muda putri mantan Menteri Kesehatan, runtuh akibat kasus korupsi sang ayah. Di masa sulit ini, ia berhadapan dengan Darian Mahendra Arsatama, direktur rumah sakitnya yang kaku dan menuntut kesempurnaan. Interaksi penuh konflik di antara mereka berubah selamanya setelah sebuah malam impulsif terjadi. Kini, rahasia kelam keluarga mereka mulai terkuak, mengubah rasa benci menjadi jalinan asmara yang rumit.

Warisan Rahasia Ayahku Bab 1

Hujan turun deras malam itu, membasahi kaca jendela apartemen Ravina Aleysha Pratama. Langit kelabu menggantung muram, seolah ikut menertawakan hidupnya yang tiba-tiba porak-poranda.

Berita di televisi masih menayangkan hal yang sama - wajah ayahnya, dr. Rendra Pratama, mantan Menteri Kesehatan, ditangkap oleh Komisi Antikorupsi. Potongan gambar ketika sang ayah digiring keluar dari rumah keluarga mereka, tangan diborgol dan wajah tertunduk, terus berulang tanpa henti.

"Kasus korupsi alat medis senilai triliunan rupiah yang melibatkan mantan Menteri Kesehatan, Rendra Pratama-"

Klik.

Ravina mematikan televisi dengan keras.

Suara itu terlalu menyakitkan.

Setiap kata dari berita itu seperti pisau yang menusuk dadanya, berulang-ulang.

Ayahnya. Orang yang selama ini ia banggakan. Orang yang selalu mengajarinya untuk hidup jujur, bekerja keras, dan tak mengotori profesi dokter dengan uang haram.

Kini semua prinsip itu lenyap, bersama nama baik keluarga Pratama yang runtuh hanya dalam semalam.

Air matanya jatuh tanpa ia sadari. Tangannya bergetar ketika ia menatap surat pemecatan yang belum lama ini datang dari asosiasi dokter.

Mereka tidak memecatnya, tapi menangguhkan izin praktiknya sementara "sampai kasus ayahnya selesai diselidiki."

Alasannya diplomatis, tapi Ravina tahu, dunia kedokteran bukan tempat yang mudah bagi seseorang dengan nama belakang seburuk miliknya sekarang.

Ponselnya bergetar di meja.

Ratusan pesan masuk. Sebagian besar dari nomor tak dikenal.

Pesan-pesan kebencian.

Ucapan seperti "Dokter koruptor!", "Layak dipenjara satu keluarga!", dan "Jadi dokter cuma numpang nama bapak ya?" membanjiri notifikasi ponselnya.

Ravina memejamkan mata, dadanya sesak. Ia tidak kuat membacanya lagi.

Lalu muncul satu pesan dari orang yang paling ia hormati di rumah sakit tempatnya bekerja - dr. Meira, kepala bagian bedah.

"Vina, kamu masih diizinkan masuk kerja. Tapi Direktur baru ingin bertemu kamu besok pagi. Jangan terlambat."

Ravina menggigit bibir bawahnya. Direktur baru?

Ia belum pernah bertemu orang itu. Kabarnya, pria itu datang dari rumah sakit swasta ternama di Jakarta. Orangnya disiplin, keras, dan tak segan memecat staf yang dianggap "tidak profesional."

Dalam hati kecilnya, Ravina tahu - pertemuan itu tidak akan berjalan baik.

Pagi berikutnya, rumah sakit tempat Ravina bekerja terasa berbeda.

Bukan karena ia datang terlambat, tapi karena semua mata kini tertuju padanya.

Bisik-bisik menyambut langkahnya sejak ia melangkah masuk ke lobi utama.

Seragam putih yang dulu membuatnya bangga kini terasa seperti beban berat yang menempel di tubuhnya.

"Eh, itu anaknya Menteri Rendra, kan?"

"Iya, yang bapaknya korupsi itu. Tapi dia masih berani kerja di sini ya?"

"Gak malu, ya?"

Bisik-bisik itu terdengar cukup jelas di telinganya.

Ravina menunduk, menggenggam tas erat-erat, berusaha berjalan lurus menuju ruang direktur.

Sesampainya di depan ruangan berlabel Darian Mahendra Arsatama, M.D., Ravina menarik napas panjang. Ia mengetuk pelan pintu kayu berwarna gelap itu.

"Masuk," suara berat dari dalam menjawab.

Ruangannya tampak elegan, tapi sederhana. Dinding putih bersih dengan satu rak buku besar di sisi kanan. Di balik meja, seorang pria berdiri membelakanginya, menatap keluar jendela yang menghadap taman rumah sakit.

Ravina menegakkan punggungnya. "Selamat pagi, Pak. Saya Ravina Aleysha Pratama, dokter residen di-"

"Duduk."

Nada suaranya tegas, datar, tanpa intonasi.

Ravina menurut, duduk di kursi berhadapan dengan meja kayu besar itu. Baru ketika pria itu berbalik, Ravina benar-benar melihat wajahnya untuk pertama kali.

Tinggi, berwibawa, dengan rahang tegas dan tatapan dingin yang seolah bisa menembus siapa pun yang berani berbohong di depannya.

Senyum bukan bagian dari ekspresinya. Dan ketika mata mereka bertemu, Ravina merasa seluruh udara di ruangan itu membeku.

"Jadi, kamu Ravina," katanya pelan. "Anak dari Menteri Rendra Pratama."

Nada itu tidak bertanya.

Lebih seperti menegaskan sebuah fakta yang tidak menyenangkan.

"Ya, Pak. Tapi saya harap-"

"Ayahmu ditangkap semalam. Seluruh media menayangkan namanya. Dan kamu masih datang ke sini seolah tidak terjadi apa-apa."

Nada suaranya tajam, mengiris.

"Saya masih dokter di rumah sakit ini, Pak. Saya tidak terlibat dalam apa pun yang dilakukan ayah saya."

Darian menghela napas pendek, menatapnya lama. "Kamu sadar, kan? Reputasi rumah sakit ini sedang dipertaruhkan. Banyak pasien menolak ditangani oleh dokter yang punya hubungan darah dengan tersangka korupsi nasional."

Kata-katanya seperti tamparan.

Ravina berusaha tetap tenang. "Saya mengerti, Pak. Tapi saya di sini untuk bekerja, bukan membawa nama keluarga saya."

Darian berjalan memutar meja, kini berdiri di hadapannya.

Tatapannya turun, menelusuri wajah Ravina dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Kau pikir publik peduli dengan perbedaan itu?"

Ravina terdiam.

Ia tahu, pria itu benar. Tapi cara Darian berbicara-dingin, merendahkan, membuat darahnya mendidih.

"Aku hanya ingin melakukan tugasku, Pak," ujarnya akhirnya, menahan nada suaranya agar tidak bergetar.

"Dan aku ingin memastikan semua staf di sini tidak membawa masalah pribadi ke dalam pekerjaan," balas Darian cepat.

"Kalau kau tidak tahan tekanan publik, pintu keluar ada di belakangmu."

Ucapan itu menusuk lebih dalam daripada ejekan mana pun.

Ravina menatapnya dengan rahang mengeras. "Saya tidak akan lari, Pak Direktur."

Senyum sinis tipis terlukis di bibir pria itu. "Kita lihat saja nanti."

Hari-hari berikutnya berjalan berat.

Ravina bekerja dua kali lebih keras dari biasanya, seolah ingin membuktikan pada seluruh dunia bahwa ia tidak seperti yang mereka kira.

Tapi tetap saja, cibiran datang dari segala arah.

"Dokter Ravina, pasien di ruang 305 batal konsultasi. Katanya dia gak mau ditangani sama kamu," ujar perawat Lila dengan wajah serba salah.

Ravina menatap selembar catatan di tangannya. "Bilang saja tidak apa-apa. Pindahkan ke dokter lain."

"Tapi, Dok, itu sudah pasien keempat hari ini..."

Ravina hanya tersenyum getir. "Tidak masalah, Lila. Aku masih bisa bantu di ruang bedah."

Namun bahkan di ruang bedah pun, ketenangannya tidak ada.

Darian sering muncul tiba-tiba di ruang operasi, mengawasi setiap gerakannya dengan tatapan seperti elang yang menilai mangsanya.

Sekali saja Ravina sedikit lambat dalam pengambilan keputusan, suaranya akan terdengar-dingin dan memotong udara.

"Jangan ragu di meja operasi, dr. Ravina. Keraguan bisa membunuh pasien."

Ravina menahan napas.

Ia ingin menjawab, tapi ia tahu melawan hanya akan memperburuk keadaan.

Setelah operasi selesai, Ravina meninggalkan ruangan dengan wajah pucat.

Perawat-perawat berbisik pelan di belakangnya.

Sementara di koridor, Darian berjalan santai dengan ekspresi datar, seolah tidak sadar bahwa setiap kata tajamnya sudah menggores harga diri seseorang.

Malam itu, Ravina duduk di balkon apartemennya, memandangi lampu-lampu kota. Tangannya memegang secangkir teh yang sudah dingin.

Ponselnya berbunyi lagi - kali ini dari media, meminta wawancara eksklusif tentang kasus ayahnya.

Ia mematikan ponsel itu, menunduk, dan membiarkan air matanya jatuh.

Semua ini bukan salahnya.

Tapi kenapa dunia seolah bersatu untuk menghukumnya?

Tiba-tiba terdengar suara ketukan keras di pintu apartemennya.

Ia terkejut, buru-buru menghapus air mata dan membuka pintu.

Sosok yang berdiri di sana membuat jantungnya nyaris berhenti.

Darian Mahendra Arsatama.

Masih mengenakan jas dokter, rambutnya sedikit basah oleh hujan.

"Pak Direktur?" suaranya hampir bergetar. "Ada apa malam-malam begini?"

"Aku butuh bicara," jawab Darian singkat.

Ravina menatapnya curiga. "Tentang apa?"

"Kasus pasien siang tadi. Aku ingin memastikan laporanmu."

Ravina terdiam. Ia tahu itu alasan formal. Tapi entah kenapa, sorot mata pria itu malam ini berbeda. Tidak setajam biasanya. Ada sesuatu yang... lelah di sana.

"Silakan masuk," katanya akhirnya.

Darian masuk, melepaskan jasnya, menatap sekeliling apartemen kecil itu.

"Tidak seperti yang kubayangkan dari seorang anak menteri," katanya datar.

Ravina menegakkan bahu. "Ayahku sudah bukan menteri. Dan aku tidak butuh kemewahan untuk hidup."

"Begitu ya?" Darian menatapnya lama. "Tapi dunia tidak akan berhenti mengingat siapa kamu, Ravina."

Nada suaranya kali ini bukan sinis, tapi pelan... nyaris seperti peringatan.

"Aku tahu," balas Ravina lirih. "Tapi aku tidak bisa terus menanggung dosa orang lain."

Darian terdiam lama, lalu menatap keluar jendela.

"Aku tahu rasanya," ucapnya tiba-tiba.

Ravina menoleh, bingung. "Apa maksud Anda?"

Darian tidak menjawab. Hanya tatapan kosong ke arah hujan di luar sana, seolah ada masa lalu yang berat tersembunyi di balik kata-kata itu.

Untuk pertama kalinya, Ravina melihat sisi lain dari pria itu - bukan direktur dingin yang selalu menekannya, tapi seseorang yang mungkin juga terluka.

Suasana hening cukup lama sebelum Darian akhirnya berbalik.

"Lupakan yang kukatakan. Aku akan pergi."

"Pak Darian-"

Langkahnya terhenti di depan pintu. "Istirahatlah, dr. Ravina. Kau akan butuh tenaga lebih besar untuk bertahan di tempat ini."

Pintu tertutup perlahan, meninggalkan Ravina berdiri di tengah ruangan, hatinya berdebar dengan perasaan aneh yang tidak bisa ia pahami.

Antara benci, takut, dan sesuatu yang lain... sesuatu yang tak seharusnya tumbuh di antara mereka.

Namun, malam itu tak berakhir begitu saja.

Telepon berdering lagi. Kali ini dari nomor tak dikenal.

"Ravina Aleysha Pratama?"

Suara di seberang terdengar berat dan berbahaya.

"Ayahmu tidak bersalah. Tapi orang yang menjebaknya... adalah orang yang sekarang paling dekat denganmu."

Suaranya membeku.

"Siapa maksud Anda?"

"Cari tahu sendiri, sebelum semuanya terlambat."

Telepon terputus.

Ravina menatap layar ponselnya lama, napasnya tercekat.

Satu nama terlintas di kepalanya - nama yang baru saja meninggalkan apartemennya beberapa menit lalu.

Darian Mahendra Arsatama.

Dan sejak malam itu, semuanya berubah.

Ketenangan yang tersisa dalam hidup Ravina lenyap.

Yang tersisa hanyalah teka-teki besar, kebencian yang samar-samar bercampur dengan rasa ingin tahu, dan sebuah malam yang kelak akan menjadi awal dari kesalahan paling fatal dalam hidupnya.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Warisan Rahasia Ayahku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel An Affair
9.2
Demi membalas dendam atas kematian orang tuanya, Winter Samantha menyamar untuk menghancurkan keluarga Smith. Ia sengaja menjerat Edward Smith dan sang putra, David, dalam pusaran skandal perselingkuhan yang rumit. Namun, rencana ini terganggu oleh kehadiran Sean William, sahabat kecil yang tulus mencintainya. Kini, Winter dihadapkan pada pilihan sulit: menuntaskan dendamnya pada musuh atau menerima lamaran Sean untuk hidup bahagia bersama.
Sampul Novel Cewek kutu buku itu tunanganku
8.8
Di hari ulang tahunnya, Sevilla harus kehilangan sang ayah. Malapetaka tak berhenti di situ—perusahaan keluarga bangkrut gara-gara pamannya, sang ibu mengalami gangguan jiwa, dan seluruh aset mereka lenyap. Di usia 14 tahun, Sevilla banting tulang di sebuah rumah kontrakan sempit untuk bertahan hidup. Hidupnya berubah saat ia menabrak Verrel, siswa populer yang jenius dan tampan. Awalnya mereka bersaing sebagai musuh, namun benih perasaan mulai tumbuh. Mengetahui nasib Sevilla, keluarga Verrel yang ternyata sahabat almarhum ayahnya mengajak mereka tinggal bersama—dan mengungkap perjanjian perjodohan yang tak pernah Sevilla duga. Cinta mereka terhalang Alona dan Yusha yang menculik Sevilla untuk diperjualbelikan. Selamat, namun Verrel kehilangan jejaknya. Kabar mengejutkan datang: Sevilla di Amsterdam, dan di balik itu semua, terkuak rahasia bahwa mereka bersaudara tiri.
Sampul Novel GADIS AMNESIA MILIK SANG PEWARIS
8.2
Safira kehilangan ingatannya akibat kecelakaan tragis dan selalu didera migrain parah setiap kali mencoba mengingat masa lalunya. Demi membiayai sang ibu, ia nekat merantau ke kota, tetapi nasib buruk menimpanya saat seluruh uangnya dicopet. Di saat terdesak, Dexter Jackson hadir menolongnya dengan sangat tulus. Walau Dexter mengaku hanya teman lama, Safira merasakan ikatan yang jauh lebih kuat. Rahasia besar apa yang sebenarnya dipendam oleh pria yang ia panggil Mas itu?
Sampul Novel Garis Cinta
8.2
Protes langsung terlontar dari bibir Diza begitu merasakan tindakan kasar sang kekasih. Menyadari kesalahannya, Rayden pun segera meminta maaf dengan kelembutan yang menenangkan. Ia berjanji akan bersikap lebih pelan dan hati-hati demi menjaga kenyamanan bersama. Sambil mencairkan ketegangan romantis yang menyelimuti mereka, Rayden melonggarkan dasi yang menjerat lehernya sejak tadi, bersiap melanjutkan momen intim tersebut dengan lebih santai.
Sampul Novel Investigar Contigo : Bos Besar Mafia Russia yang Terbunuh
9.6
Detektif Olivia Lyora Kim sibuk mengungkap kasus kriminal di area industri Seoul. Ia tidak sendiri, melainkan ditemani rekan kerjanya, Aiden Junior Lee. Namun, setelah setahun berpartner, Olivia merasakan keanehan. Sikap Aiden mendadak berubah menjadi sangat manis padanya. Perubahan perilaku yang tidak biasa ini membuat Olivia bertanya-tanya, apakah sang mitra kerja mulai jatuh cinta kepadanya di tengah-tengah proses penyelidikan mereka?
Sampul Novel Suami Wasiat Dari Suamiku
9.5
Kebahagiaan Lina atas kehamilannya hancur saat sang suami, Arief, tewas akibat kecelakaan yang disebabkan oleh Andi yang mengemudi dalam kondisi mabuk. Sebelum mengembuskan napas terakhir, Arief meninggalkan wasiat tak terduga: ia meminta Lina untuk menikah dengan Andi demi menjamin masa depannya. Kini Lina didera dilema batin karena harus hidup bersama pembunuh suaminya. Apakah pernikahan paksa ini akan berujung pada penebusan dosa Andi atau justru penderitaan baru?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan