APKDock Logo
Sampul Novel Hayu

Hayu

9.2 / 10.0
Hayu mengira asal-usul keluarga tak lagi penting di zaman modern. Namun, anggapan itu runtuh saat ia berhadapan dengan Nyonya Adibrata. Statusnya yang hanya sekretaris biasa membuat hubungannya dengan Bisma, sang pewaris tunggal Adibrata Group, terancam kandas. Demi memperjuangkan cinta mereka, Hayu kini harus menghadapi interogasi ketat dari ibu kekasihnya itu. Sanggupkah hubungan mereka bertahan di tengah jurang perbedaan status sosial yang begitu nyata?

Hayu Bab 1

"Jadi, apa pekerjaan kamu?"

"Saya sekretaris di Hardana Grup, Bu."

"Jangan panggil saya, Bu. Panggil saya, Nyonya Adibrata."

"Mi!" seru Bisma anak semata wayangnya.

"Jangan ikut campur, Bisma!"

Malam ini, Bisma memperkenalkan Hayu dengan keluarganya, keluarga Adibrata. Hayu, yang dulu tidak tahu bahwa Bisma termasuk keluarga ningrat, sekarang mulai mengerti. Kenapa selama mereka menjalin hubungan, Bisma tidak pernah membawa Hayu menemui keluarganya. Jarak antara mereka terlalu jauh. Status sosial mereka sungguh berbeda.

Hayu mulai sadar ke mana arah pembicaraan orang tua Bisma. Dia berusaha menguatkan hatinya demi lelaki yang dicintainya itu. Dia harus memasang wajah semanis mungkin, meskipun dia tahu, hatinya akan semakin sakit mendengar kalimat demi kalimat yang akan dilontarkan Nyonya Adibrata.

Bisma terdiam menerima teguran dari maminya. Nyonya Ayu Adibrata memandangi Hayu dari atas sampai ke bawah.

"Orang tua kamu bekerja di mana?"

"Saya hanya punya Ibu saja, Ayah saya sudah meninggal semenjak saya SMA."

"Lalu ibumu, dia bekerja sebagai apa?" cecar nyonya Adibrata, tentu saja dengan sikapnya yang angkuh dan dingin. Tatapan matanya bahkan mampu menggetarkan bumi seisinya.

"Ibu saya hanya penjual kue-kue rumahan." Hayu semakin tidak enak dengan pertanyaan kali ini. Apalagi sudah membawa-bawa orang tuanya, Hayu ingin pergi dari rumah Bisma secepat mungkin. Tapi dia masih menjunjung tinggi sopan santunnya, dia tidak mau mempermalukan orang tuanya, karena sikapnya itu.

"Hanya itu? Kalian tinggal di mana?" tanya Nyonya Adibrata lagi, sembari mendorong punggungnya bersandar di sofa, tak lupa menyilangkan kakinya. Menampakkan kesan meremehkan terhadap Hayu.

"Kami tinggal di Perumahan Melati."

Bisma yang kasihan dengan Hayu, berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka. Untungnya papa Bisma, Jaya Adibrata tidak ada di rumah. Seandainya ada, hati Hayu bisa saja ambyar, seperti nasi kucing yang hilang staplesnya.

"Mi, bukankah kita akan makan malam, Bisma sudah lapar, Mi. Sampai kapan Mami mewawancarai Hayu? Ini bukan lamaran pekerjaan, Mi. Ini tentang makan malam keluarga. Mami mau, melihat Bisma kelaparan dan akhirnya pingsan di sini?"

Nyonya Adibrata mendengus sebal, namun tak urung, dia bangkit dari duduknya dan berjalan terlebih dahulu menuju meja makan. Bisma membimbing Hayu mengekori maminya di belakang, mereka duduk dan mulai menikmati makan malam.

Hayu sudah tidak merasakan rasa lapar sejak kedatangannya kemari, nafsu makannya menghilang. Nyonya Ayu Adibrata yang melihatnya seketika berdeham.

"Ehem, apa makanan yang kami sajikan kurang enak? Tidak menggugah seleramu? Sehingga kamu enggan memakan makanan yang mahal ini? Atau jangan-jangan, orang tuamu tidak pernah memasak menu-menu ini di rumah?"

"Mami! Cukup! Mami jangan keterlaluan dengan Hayu!" Bisma mulai berani menjawab maminya, dia merasa sakit hati mendengar perkataan maminya. Bisma tak bisa membayangkan, bagaimana perasaan Hayu saat ini, pasti lebih sakit dari yang Bisma rasakan.

"Jadi karena kekasihmu ini, kamu berani membentak Mami?"

Hayu yang merasa tidak enak, melihat mereka bertengkar karena dirinya, mulai membuka suara.

"Saya memang tidak terbiasa makan makanan seperti ini, Nyonya. Karena ibu saya hanya menyediakan makanan yang sederhana, sehat dan murah, namun mengandung banyak gizi tinggi. Jadi saya mohon maaf, kalau saya terlihat tidak tertarik untuk memakan hidangan ini, saya merasa tidak terbiasa."

Sebagai seorang sekretaris, sejujurnya dia tahu segala makanan enak, apalagi ketika menemani bosnya makan siang dengan klien, atau sekedar membelikan bosnya makan siang. Namun mendengar perkataan nyonya Ayu, membuat Hayu berpura-pura tidak tahu menahu soal makanan yang tersaji di hadapannya.

Susah payah Hayu menguatkan hatinya agar tidak sedih dan meneteskan air mata. Dia terima kalau dia di remehkan, tapi dia tak terima, jika sudah menyangkut orang tuanya. Orang tuanya yang tidak tahu menahu tentang kesalahannya.

"Bagus, kalau begitu, sekarang makanlah, ini kesempatan yang tidak akan datang dua kali, nikmati semua makanan yang tersaji di sini, dan kamu Bisma, cepatlah makan. Bukankah kamu bilang, kamu lapar. Kamu juga tahu aturan kita ketika sedang makan, bukan? Tidak ada percakapan apa pun di meja makan!"

Bisma terdiam, selama ini dia tidak pernah melanggar aturan yang sudah ditetapkan di rumah. Peraturan makan dengan mode silent, begitu Bisma menyebutnya. Seperti makan dengan robot, tidak ada interaksi dan suasana yang hangat seperti di keluarga Hayu. Di mana mereka makan dengan saling melempar candaan atau sekedar membahas hal yang tidak penting.

Bisma dibesarkan dengan segala aturan-aturan yang kadang membuat Bisma muak, jika dia protes dengan maminya, maka, dia akan di ingatkan bahwa dia termasuk keluarga ningrat yang wajib menaati aturan-aturan yang sudah ditetapkan oleh mereka. Tidak boleh satu pun yang boleh dilanggarnya.

Mereka makan dengan diam. Selesai makan, nyonya Ayu Adibrata melangkah menuju ruang keluarga, mengabaikan anak dan juga kekasihnya yang tak dianggap olehnya.

"Aku mau pulang, biar aku pulang sendiri, tak perlu kamu mengantarku."

"Tidak, aku akan mengantarmu, aku yang menjemput dan mengajak kamu ke sini, aku harus bertanggung jawab. Lagi pula aku yang meminta ijin pada Ibu," ucap Bisma menolak permintaan Hayu.

Hayu melangkah mendekati Nyonya Ayu, "Maaf, Nyonya, sudah malam, saya harus pulang, terima kasih atas makan malamnya," pamit Hayu mengulurkan tangannya pada nyonya Ayu, sayangnya dia malah bersikap, seolah-olah tak melihat tangan Hayu yang terjulur padanya.

Hati Hayu sakit, seperti di tusuk ribuan jarum. Bisma ingin memeluknya, tapi dia takut, maminya akan semakin murka dengan kelakuannya. Bisma sungguh bingung dengan apa yang harus dilakukannya.

Hayu menarik tangannya yang terulur dan mengepalkannya di sisi tubuhnya.

"Saya permisi, Nyonya." Nyonya Ayu menanggapi dengan anggukan, melihat putranya yang mengekori Hayu, segera dia menghardiknya.

"Mau ke mana kamu!"

"Mi, Bisma mau mengantarkan Hayu pulang, tadi Bisma yang menjemputnya, Mi. Bukankah Mami yang selalu bilang dan mengajarkan Bisma untuk bertanggung jawab?"

"Antarkan dia sampai di gerbang, kamu bisa mencarikan taksi untuknya!"

"Tapi, Mi."

"Sudahlah, aku bisa pulang sendiri, tidak usah mengantarku, aku akan mencari taksi sendiri." Hayu mencegah Bisma mengantarkannya, dia tidak mau semakin ada pertengkaran antara ibu dan anak.

"Tapi, Hayu. Aku tidak mungkin membiarkan kamu pulang sendiri, apa kata Ibu nanti."

"Aku akan menjelaskan pada Ibu, bahwa kamu sedang tidak bisa mengantarku, aku yakin Ibu akan mengerti, ku mohon. Biarkan aku pulang sendiri. Iam fine, Bisma."

Bisma mengalah, dia menatap punggung kekasihnya sampai menghilang di balik gerbang rumahnya.

Hayu berjalan keluar dari rumah yang pantas di sebut neraka itu. Air mata yang dia tahan sejak tadi, akhirnya menetes juga. Semakin lama semakin deras, ingin rasanya dia berteriak untuk melegakan semua beban yang ada di hatinya, namun itu tidak mungkin dilakukannya. Dia sedang berada di jalan raya yang ramai, bisa-bisa nanti dia viral gara-gara teriakan-teriakannya, atau malah orang-orang menyangka dia sudah gila. Gila karena mami Bisma.

"Apa salahku, apa salah, aku dilahirkan dari keluarga yang biasa saja? Apa aku salah, karena menjadi anak yatim? Apa salah, kalau ibuku hanya penjual kue?" gumamnya terisak.

"Kenapa takdir begitu kejam padaku?"

"Kenapa menyalahkan takdir? Bukankah takdir itu, tetangga kamu yang bekerja sebagai sopir saya?"

"Bapak?"

-bersambung-

Lanjut Membaca

Daftar Isi Hayu

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Bisikan dari hutan: Pendeta wanita terakhir
8.4
Mira hanya ingin hidup tenang sebagai penyembuh, tetapi penculikan ibu angkatnya memaksanya kembali ke dunia sihir. Di sana, ia bertemu Eluin, Dewa bebas terakhir yang mengungkap bahwa Mira adalah pendeta wanita pamungkas. Kini, nasib hutan suci ada di tangannya. Mira harus menghadapi Temenis, sang Dewa Kematian yang mengancam dunia. Mampukah ia mengatasi keraguan demi menyelamatkan ibunya sekaligus mencegah kehancuran total?
Sampul Novel Hadiah Madu Untuk Suamiku
9.6
Demi mengejar mimpi kuliah di luar negeri, Indana Zulfa Hewatun memilih poligami sebagai jalan keluar. Ia bahkan berencana menjodohkan suaminya, Jidan, dengan santriwati pilihan dari pesantren sang ayah. Namun, niat ini terancam berantakan ketika Jidan mencurigai adanya hubungan antara Inda dan mantan kekasihnya. Di tengah krisis kepercayaan yang melanda, akankah rencana perjodohan ini tetap berjalan? Kisah perjuangan menggapai cita-cita tanpa mengorbankan rumah tangga.
Sampul Novel Keinginan Sang Elf: Petualangan Erotis di Dunia Peri
8.7
Lyra, seorang elf muda, memutuskan menjelajah dunia luar demi menjawab rasa penasaran dan hasrat terpendamnya. Petualangan ini mempertemukannya dengan peri tampan bernama Orion, yang membimbingnya menyelami sisi erotis yang asing baginya. Di tengah keindahan dunia peri, bahaya gelap mulai mengancam. Sembari mengungkap rahasia besar yang menguji cinta mereka, hubungan keduanya pun bertumbuh menjadi sebuah ikatan intim yang sangat mendalam.
Sampul Novel Kembaran Tunanganku, Muslihat Kejam
8.0
Setahun penuh Farah dikhianati oleh kembaran tunangannya sendiri. Brama, pria yang ia cintai, diam-diam telah menikahi Kirana dan berniat merebut kornea mata Farah lewat kecelakaan rekayasa. Penderitaan Farah kian tragis saat dituduh membunuh kakek Brama hingga disekap di RSJ. Namun, mereka tidak menyadari identitas asli Farah sebagai Aurora Suryakancana, pewaris dinasti bisnis raksasa. Usai memalsukan kematiannya, ia kini bangkit untuk menuntut balas atas segala kezaliman mereka.
Sampul Novel MISSION COMPLETED
7.9
Trauma pernikahan membuat Alona Eriska, wanita 25 tahun, nekat ingin menjadi ibu tunggal tanpa suami. Demi mendapat keturunan berkualitas, ia mendatangi kelab malam dan menjebak Wickley Watson, duda kaya asal Las Vegas yang diisukan membunuh istrinya. Sadar sedang dijebak, Wickley justru tersenyum licik ketika Alona kabur setelah malam itu berlalu. Akankah rencana Alona untuk hamil mandiri berjalan mulus?
Sampul Novel Sekar
8.0
Sekar menjalani hidup yang sepenuhnya disetir oleh ramalan. Bagi pengusaha di ibu kota ini, prediksi masa depan adalah segalanya, hingga ia mengabaikan takdir Tuhan dan menganggap ibadah hanya kedok tanpa makna. Namun, obsesi tersebut justru membawanya pada pusaran keputusasaan. Di tengah ambisi bisnis dan pencarian tanpa ujung, Sekar kini kehilangan arah. Mampukah ia mengubah garis hidup yang telah digariskan oleh Sang Pencipta, atau justru selamanya terjebak dalam kesia-siaan?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan