APKDock Logo
Sampul Novel Warisan Pembawa Petaka

Warisan Pembawa Petaka

8.8 / 10.0
Claire, seorang janda, mengajak kedua putrinya, Bianca dan Lisa, pindah ke sebuah rumah di pelosok Nevada yang didapat dari warisan keluarga Vallage. Berharap bisa memulai lembaran baru, mereka justru dihadapkan pada teror mematikan di dalam kediaman tersebut. Tanpa ada jalan untuk melarikan diri, maut kini mengintai mereka setiap saat. Mampukah ibu dan anak-anaknya selamat dari tempat terkutuk ini? Kisah misteri penuh ketegangan dan adegan keras khusus pembaca dewasa.

Warisan Pembawa Petaka Bab 1

HAPPY READING

"Tidak! Ja-jangan dekati aku! Pergi!" teriak Bianca ketakutan. Tubuh itu meringkuk di pojokan, menyembunyikan kepalanya. Suara erangan kian terdengar jelas memekakkan telinga. Bianca menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya. Matanya terpejam erat, seolah dia tidak ingin melihat apapun.

Bianca kembali berteriak lantang dan keras ketika sosok pria misterius dengan perawakan tubuh tinggi besar dan wajah yang sangat menakutkan mendekatinya. Tangan kekar itu memegang kakinya dengan cengkeraman yang sangat kuat.

"Lepas! Tolong lepaskan aku," ronta Bianca ketakutan. Gadis itu makin takut ketika pria itu menarik kuat kakinya. Pria itu menarik dengan kasar hingga beberapa kali tubuhnya terbentur.

"Aaaahh!" teriaknya kencang membuatnya terbangun dari tidurnya. Bianca meraup-kan kedua tangannya ke muka. Keringat membasahi tubuhnya. "Ternyata aku hanya bermimpi, tapi kenapa seperti nyata." Bianca mengelap keringat yang mengalir melewati pipinya.

"Aku haus sekali ...." Bianca memegang lehernya. Lalu menyibakkan selimut dan menurunkan kedua kakinya.

Bianca melangkah menuruni anak tangga dan menuju ke dapur. Membuka lemari es dan mengambil sebotol air mineral. Bianca duduk dan membuka tutup botol, lalu meneguknya. Bianca diam dan menatap kosong ke depan. Pikirannya jauh kembali menerawang tentang mimpinya yang terjadi beberapa menit yang lalu.

"Ah, mikir apa aku ini," gumamnya lalu beranjak dari kursi kembali ke lantai atas.

Di tempat lain, kamar yang bersebelahan dengan kamar Bianca. Lisa Vallage meremas selimutnya, tubuhnya tampak bergetar hebat, keringat mulai membasahi tubuhnya. Kedua tangannya tampak sibuk menghalau sesuatu.

"Ti-tidak ... ja-jangan-jangan sentuh aku!" teriaknya.

Bianca yang tengah berjalan menuju kamarnya, sayup-sayup mendengarkan sesuatu. Bianca memasang kupingnya dengan tajam, dia berusaha menangkap suara tersebut.

"Seperti suara Lisa. Ada apa dengannya? Apa dia mengalami hal yang sama sepertiku?" pikir Bianca. Dia pun bergegas berlari menuju kamar Lisa.

Untung pintu kamar Lisa tidak terkunci, Bianca langsung masuk ke dalam kamar dan melihat Lisa seperti sedang menahan sesuatu. Ya, Lisa sepertinya sedang dalam pengaruh mimpinya. Bianca bergerak cepat menghampiri sisi kanan tempat tidur Lisa. Dia langsung menyadarkan Lisa dari mimpinya.

"Lisa ... Lisa, bangun!" Bianca menggoyangkan tubuh Lisa berlanjut menepuk pipi Lisa.

Lisa langsung terbangun dengan napas tak beraturan, keringat mengucur setetes demi setetes melewati pipinya hingga berakhir pada dagunya. Bahunya bergejolak naik turun serta degup jantung dua kali lebih cepat. Lisa memegangi dadanya dan matanya terpejam. Gadis itu berusaha menenangkan diri.

"Minumlah ini." Bianca memberi botol air mineral yang dia bawa tadi. Lisa segera meminum air dalam botol itu. "Kau kenapa? Apa kau baru saja mengalami mimpi buruk?" tanya Bianca menepuk-nepuk bahu Lisa.

"A-aku baru saja mengalami mimpi buruk." Lisa menganggukkan kepalanya, menatap Kakaknya yang duduk di sampingnya. "Apa Kak Bianca juga-"

"Iya, beberapa waktu yang lalu aku juga bermimpi buruk," balas Bianca.

"Kenapa bisa kebetulan seperti ini," sambung Lisa.

"Apa mimpi kita sama dan ada kaitannya?" Bianca mengerutkan alisnya.

"Aku tidak tahu dan kenapa aku jadi merasa merinding mengingatnya." Lisa memegang tengkuknya.

"Apa kau mau-"

"Tidak, Kak. Aku tidak mau mendengarkannya sekarang." Lisa menyela ucapan Bianca. Lalu dia membaringkan tubuhnya lagi ke ranjang. Merasa ada yang bergerak, Lisa bangun dan mencegahnya agar tidak pergi.

"Kak Bianca mau ke mana?" cegah Lisa memegang tangan kiri Bianca.

"Aku mau kembali ke kamar," imbuh Bianca.

"Tidak. Aku mau Kak Bianca tidur di sini bersamaku!" pinta Lisa.

Bianca menarik napas dan memutar bola matanya. "Baiklah." Gadis itu tidak bisa menolaknya permintaan adiknya. Dia pun kembali naik ke atas ranjang dan tidur di samping Lisa. Bianca menepuk-nepuk paha Lisa agar dia tidur kembali.

°°°

Pagi itu Lisa hanya terdiam menatap piring di depannya yang berisi dua rangkap roti oles selai strawberry. Claire yang memperhatikan putri keduanya tampak heran.

"Kenapa rotimu tidak di makan? Kau mau berapa menit lagi menatap roti itu?" tegur Claire. Dari atas terdengar derap kaki yang berlari. Bianca menuruni anak tangga sambil menenteng totebag-nya.

"Pagi semua ...," sapa Bianca langsung duduk dan meraih segelas susu hangat. Dia meminum susu itu sambil melirik Lisa. "Roti itu tidak akan berubah bentuk walau kau terus-menerus melototi-nya." Bianca mencomot roti milik Lisa dan spontan Lisa protes.

"Hei ... ini rotiku!" pekik Lisa merebut kembali rotinya. "Kau sudah punya jatah roti sendiri, kenapa masih mencomot roti milikku!"

Bianca kembali duduk di kursinya, dia tertawa terkekeh-kekeh melihat tingkah pola adiknya. Lalu meraih roti yang ada di depannya.

"Kenapa kau memakan rotimu seperti itu." Claire heran melihat Bianca.

"Maaf Bu, jam sudah mepet. Aku harus segera berangkat biar tidak ketinggalan bus." Bianca meneguk susu hangatnya sampai habis dan dia segera pamit dengan memakan sisa rotinya.

"Kaak, kau mau meninggalkanku?" teriak Lisa dengan mulut penuh dengan roti.

"Kau mau ikut denganku atau di antar Mommy?" kata Bianca dari balik tembok.

"Sudahlah, biar Mommy yang antar kau ke sekolah. Mommy ada urusan juga di luar." Claire membereskan meja makannya dan segera bersiap-siap.

"Baiklah," balas Lisa sambil mengunyah roti potongan terakhir.

"Pelan-pelan makannya, nanti kau bisa tersedak."

Claire memanaskan mesin mobilnya. Dia memperhatikan make up-nya pada kaca tengah. Sedangkan Lisa sibuk memasang seat-bell, lalu dia melirik Ibunya.

"Mommy hari ini akan pergi ke mana?" tanya Lisa penasaran.

"Hmm ... hari ini Mommy akan ke rumah Kakek mu, lalu-"

"Menemuinya?" sela Lisa menyandarkan kepalanya dan menatap ke depan menembus kaca saat mobil yang dinaikinya mulai berjalan menyusuri kota.

"Ah-soal itu-Mommy-"

"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, Mom." Lisa kembali menyela perkataan Claire dan itu membuat wanita itu hanya diam tidak melanjutkan perkataannya.

Dalam perjalanan kurang lebih lima belas menit, mereka berdua hanya diam seribu bahasa. Sesekali Claire melirik ke arah Lisa. Sesampainya di sekolah Lisa, gadis itu langsung turun tanpa basa-basi terhadap Ibunya. Claire hanya menarik napas melihatnya.

"Maafkan Mommy, Lis. Mommy memang bersalah dalam hal ini. Mommy janji akan segera menyelesaikan masalah ini."

Hari beranjak siang, matahari bersinar sangat terik. Lisa terduduk di taman sekolah dengan pandangan kosong. Bianca yang baru keluar dari perpustakaan heran melihat adiknya yang sedang melamun di taman sekolah.

"Dia kenapa? Sedang banyak masalah kah? Kenapa melamun di taman siang-siang begini," gumamnya.

Bianca melangkah mendekati Lisa. Saat sudah dekat dengan Lisa yang hanya beberapa jengkal. Timbullah rasa ingin menjahili Lisa.

Hmm ... aku kerjain saja ini orang, batin Bianca tersenyum layaknya iblis yang ingin meracuni otak orang-orang. Bianca berjalan mengendap-endap pelan di belakang Lisa. Saat hendak memberi kejutan pada Lisa. Gadis itu sudah menoleh terlebih dulu ke belakang.

"Tidak lucu tahu, Kak. Seperti anak kecil saja main seperti itu," kesal Lisa.

Bianca menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Lalu dia duduk di samping Lisa.

"Lagi pula kenapa kau melamun? Tidak baik siang-siang melamun di taman, nanti kesambet setan lewat," ledek Bianca. Lisa langsung melirik Bianca.

"Tidak lucu!" dengkus Lisa.

"Ha ha ha ...." Justru Bianca malah tertawa, dia seperti meledek adiknya. "Kau ini sedang banyak pikiran?" tanya Bianca.

"Tidak!" Lisa menggelengkan kepalanya.

"Atau karena mimpi buruk itu?" Bianca menatap Lisa dengan penuh tanda tanya.

"Tidak!" elak Lisa.

Mimpi buruk yang akhir-akhir ini dialami oleh Bianca dan juga Lisa sangat membuat mereka resah. Mimpi itu juga membuat keduanya tidak fokus. Rasa takut dan was-was menyerang mereka.

Mimpi buruk yang tidak hanya semalam terjadi, akan tetapi mimpi itu selalu menghantui mereka tiap malam. Sosok misterius dengan tubuh tinggi besar selalu datang ke dalam mimpi mereka.

Sebenarnya apa yang sedang mengganggu pikiran Lisa?

°°°

Lisa duduk di bawah pohon rindang yang ada di belakang rumahnya. Di tangan kirinya memegang sebuah buku gambar dan tangan kanannya memegang sebuah pensil.

Lisa duduk sambil menatap cakrawala senja. Langit yang berwarna oranye kemerahan bercampur dengan sisa semburat warna putih dan biru. Sungguh sangat indah dipandang mata.

Putri kedua Claire ini memang menyukai menggambar. Dia sangat berbeda dengan Bianca yang suka bersolek dan menyanyi.

Bianca melintasi pintu belakang, langkah kakinya terhenti dan Bianca melangkah mundur beberapa langkah. Dia melirik keluar dan melihat Lisa duduk dengan kedua kaki selonjor.

"Sedang apa di situ?"

Lisa menoleh dan hanya melihat Bianca sekilas, lalu kembali memperhatikan langit senja. Lisa mengangkat pensilnya ke atas, meletakan fokus target yang ingin dia lukis saat itu.

Bianca yang merasa dicueki hanya menggelengkan kepalanya dan kembali melangkahkan kakinya ke dapur.

Selang beberapa menit Bianca kembali melintasi pintu belakang dengan membawa gelas. Bianca lalu duduk di ambang pintu dan memperhatikan adik perempuannya sedang sibuk mencorat-coret buku gambarnya.

Bianca berdecak, lalu mengangkat gelasnya dan meneguk susu hangatnya.

"Kau seperti tidak ada kerjaan lainnya. Kenapa selalu menguntitku?"

"Hah? Siapa yang menguntitmu? Jangan GR!" Bianca mengusap bekas susu yang ada di ujung bibirnya. "Aku menguntit apa? Aku dari tadi duduk di sini dan tidak melakukan apapun. Kenapa jadi kau yang sewot."

"Kau selalu penasaran dengan apa yang aku lakukan."

"Tidak!" elak Bianca. Sejujurnya memang Bianca penasaran, akan tetapi dia gengsi.

Lisa tidak merespon Bianca, dia kembali menggerakkan pensilnya di atas kertas putih. Entah apa yang sedang di gambar oleh Lisa.

Ah, dasar penggemar rahasiaku. Kenapa tidak bilang jujur saja kalau kau nge-fans sama adikmu ini. Lisa membatin sambil fokus menggambar.

Lisa semakin fokus dan cuek. Hal itu membuat Bianca makin penasaran.

"Memangnya dia sedang menggambar apa dan kenapa dia begitu seserius itu," lirihnya pelan.

Bianca berjalan mengendap-endap. Dia berjalan agak menjauh dari tempat Lisa agar mengecohnya, lalu dia memutar kembali. Berdiri sebentar dengan berakting menatap langit. Lisa hanya meliriknya sekilas. Namun, dia tidak sadar jika Bianca berjalan pelan di belakangnya dan mengintip hasil gambaran Lisa.

Betapa terkejutnya Bianca saat melihat hasil gambar tangan milik Lisa. Matanya membulat sempurna dan mulutnya menganga.

TO BE CONTINUE

Lanjut Membaca

Daftar Isi Warisan Pembawa Petaka

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Anakku Jadi Saksi Perselingkuhan Suamiku sama Sahabatku
8.8
Perayaan ulang tahun pernikahan kelima Ivana dan Lionel berubah menjadi mimpi buruk yang terekam kamera. Lionel tega berselingkuh dengan Regina, sahabat Ivana, tepat di ranjang mereka. Pengkhianatan ini terasa kian menyakitkan karena putra kandung Ivana justru bersekongkol menjaga pintu agar ibunya tidak memergoki mereka. Di tengah kemesraan itu, Lionel mengungkapkan keengganannya menambah keturunan dengan Ivana, mengaku muak melihat bekas luka operasi di perut istrinya demi melahirkan anak mereka.
Sampul Novel Gairah Ranjang CEO Kejam
9.2
Alice Morrigan terpaksa menggantikan sang kakak kembar, Berenice, yang kabur di hari pernikahannya dengan Nicholas Chevalier. Menjadi istri pengganti, Alice justru diperlakukan kejam layaknya budak. Ia kerap menerima siksaan fisik dan cambukan menyakitkan dari sang suami saat di ranjang. Kebebasan serta raga Alice dikungkung habis-habisan oleh Nicholas yang posesif. Di tengah penderitaan tiada akhir ini, sanggupkah Alice bertahan, atau ia akan berhasil meloloskan diri?
Sampul Novel Kanjeng Ratu Minta Mantu
9.5
Melanjutkan kisah dari Tante, Mau kan jadi Mamaku?, sekuel ini menghadirkan dilema horor yang unik. Bagi seorang lulusan baru, kejaran makhluk halus rupanya tidak ada apa-apanya dibanding desakan sang ibu yang sangat berambisi mencarikannya pasangan hidup. Teror perjodohan setiap hari ini terasa jauh lebih mengerikan bagi sang protagonis. Ikuti perjuangan jenakanya menghadapi tuntutan keluarga di tengah gangguan mistis yang penuh misteri.
Sampul Novel Melepas Masa Lalu
9.2
Hubungan lima tahun Lisa Garta mendadak berubah setelah ia menagih utang kepada Kelly, keponakan tunangannya sendiri. Keesokan harinya, sang tunangan justru menyodorkan buku catatan pengeluaran yang merinci setiap biaya selama mereka berpacaran, mulai dari es krim murah hingga barang mewah dan akomodasi hotel. Setelah dikurangi pinjaman Kelly sebesar 200 juta, Lisa dituntut untuk melunasi sisa utang sebesar 4,16 miliar rupiah dalam waktu satu bulan saja.
Sampul Novel Roh Jiwa Putri yang Teraniaya
9.5
Dua bulan pasca kematiannya, sebuah keluarga baru menyadari bahwa mereka meninggalkan putri mereka di tengah hutan saat wisata. Mengira sang putri hanya merajuk karena dihukum berjalan kaki, sang adik justru mengirimkan pesan ejekan agar dia mati demi menguasai warisan nenek mereka. Ibu yang bersikap dingin bahkan mengancamnya agar hadir di pesta ulang tahun keluarga. Mereka tidak pernah menduga bahwa korban tidak pernah bisa keluar dari sana. Pencarian intensif di pegunungan akhirnya mengungkap kenyataan mengerikan saat sisa-sisa tulang belulangnya ditemukan terkubur.
Sampul Novel TERTAWAN CINTA PERTAMA
8.8
Demi menutupi rasa sukanya, Gian kerap menjahili Briani semasa sekolah. Namun, kesalahpahaman fatal membuat Gian mengira Briani wanita panggilan hingga tega menodainya saat mabuk. Mereka pun berpisah tanpa Gian sadari Briani tengah hamil. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi di kantor rekan kerja Gian. Akankah Gian mampu mendapatkan kembali cinta pertamanya, ataukah kepedihan masa lalu justru membuat Briani kian membencinya?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan