APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel WANITA-WANITA SEKAR LANGIT

WANITA-WANITA SEKAR LANGIT

Sekelompok perempuan pemulasara jenazah di organisasi nirlaba Sekar Langit didera rangkaian peristiwa ganjil nan mencekam. Di tengah pengabdian suci tersebut, berbagai keanehan terus menghantui aktivitas mereka. Perlahan, terungkap bahwa dalang di balik teror mengerikan ini ternyata berasal dari dalam kelompok mereka sendiri. Sebuah rahasia gelap dan misteri besar kini mengancam keselamatan seluruh anggota yang tersisa.
Bab
Bagikan

Bab 1

Salma baru saja duduk ketika teriakan itu mendekat. Jantung Salma berdebar ketika melihat beberapa lelaki masuk ke dalam rumah duka.

"Kenapa tidak bilang kalau Ibuk meninggal, Mas?"

"Aku sudah mencoba menghubungi komandanmu, Gil, tetapi ...."

"Alasan!"

Tiga pria itu masuk ke dalam rumah dengan kasar. Mereka bertiga berteriak bersamaan dengan untaian air mata. Salma yang duduk di lantai dengan ibu-ibu Sekar Langit berpandangan takut dan resah, mereka bingung harus melakukan apa.

"Aku mau melihat wajah Ibuk!" teriak pria yang memakai seragam tentara. Dia berdiri di samping jenazah yang sudah dikafani dengan sempurna.

Salma memandang Bu Tris, anggota Sekar Langit yang paling senior. Bu Tris mengedikkan kepalanya kepalanya kepada Salma agar ikut dengannya.

Aduh! Salma tidak bisa mengelak lagi, dia pun segera mengikuti Bu Tris berdiri dan mendekati tiga pria yang nampak tegang itu.

"Boleh, Mas. Jenazah Ibu boleh dilihat dan dicium, tetapi air matanya jangan sampai kena Ibu, ya?" kata Bu Tris tegas. Perlahan Bu Tris membuka tali pengikat kafan di bagian kepala. Beliau menyibakkan satu persatu kain kafan yang menutupi wajah jenazah, diiringi dengan isak tangi ketiga pria yang sepertinya putra Sang Ibu.

Salma berdiri dengan kaki, tangan dan tubuh gemetaran. Dia berusaha untuk tidak melihat wajah jenazah yang tadi dimandikannya. Salma berusaha bersembunyi di belakang tubuh Bu Tris, tetapi entah kenapa Salma merasa sedikit penasaran. Dia ingin melihat wajah jenazah.

"Sampun, Mas, (Sudah, Mas,)" kata Bu Tris perlahan. Salma menjengit. Dia mengintip dari balik tubuh Bu Tris untuk melihat wajah jenazahnya.

Oh! Salma nyaris berteriak ketakutan ketika melihat melihat wajah jenazah itu. Oh ... tidak ... tadi wajahnya tidak seperti itu. Wajah jenazah itu tadi bersih dan normal, bahkan terlihat cantik, tetapi sekarang wajah itu tampak hitam legam, seperti bekas terbakar dan di beberapa bagian wajah itu kulitnya nampak begitu kering sehingga merekah dan mengeluarkan cairan kemerahan yang berbau anyir.

"Kenapa Ibu saya seperti ini, Bu?"

"Apa yang terjadi? Kenapa Ibu jadi seperti ini?"

Ketiga pria itu mulai menjerit histeris dan menangis lagi. Salma mendongak dan .... Salma menjerit panjang ketika melihat wajah ketiga pria itu sama persis dengan wajah jenazah didepannya. Hitam, kering dan ada beberapa bagian kulit yang merekah dan mengeluarkan cairan yang berbau amis.

"Salma ... Salma ...." Bu Tris memanggil Salma yang terus berteriak.

Salma bergidik merasakan Bu Tris memegang tangannya. Tangan Bu Tris terasa begitu kasar dan sedikit lengket. Salma melihat tangan Bu Tris dan menjerit lagi ... oh, tangan Bu Tris sama persis dengan wajah jenazah di depan Salma. Tangan Bu Tris kehitaman dan begitu kering, sehingga kulitnya pecah-pecah dan ....

Salma nyaris muntah ketika tangan Bu Tris mengeluarkan cairan kemerahan dan mengenai tangan Salma. Ternyata cairan itu panas dan sangat lengket. Salma mencoba melepaskan tangan Bu Tris tetapi tidak bisa.

"Kenapa, Ma?" tanya Bu Tris.

Salma mendongak dan melihat wajah Bu Tris sama persis dengan wajah jenazah ketiga pria di depannya,

kehitaman dan mengeluarkan cairan busuk. Salma menangis histeris.

"Siapa kamu? Lepaskan aku! Lepaskan!" Salma berteriak sambil mencoba melepaskan tangan Bu Tris yang sekarang mencengkeram tangannya. Tetapi cengkeraman tangan Bu Tris begitu kuat, sehingga tangan Salma lengket dan penuh dengan cairan anyir yang keluar dari kulit Bu Tris.

"Ma ... Salma ... Istighfar, Ma!" Salma merasakan bahunya digoncang.

Salma membuka matanya dan berteriak kaget ketika melihat ibunya berdiri di samping tempat tidurnya. Wajah Sang Ibu tampak khawatir.

"Kowe ngopo, Ndhuk? (Kamu kenapa, Ndhuk?)" tanya Sang Ibu. Salma tidak langsung menjawab, dia memandang berkeliling. Salma ingin memastikan bahwa dia berada di dalam kamarnya dan bukan di sebuah rumah duka.

"Salma?" Sang Ibu memanggil Salma lagi. Salma memandang ibunya sambil tersenyum.

"Nggih, Buk. Salma mboten nopo-nopo, kok, Buk. Ming ngimpi, (Ya, Buk. Salma tidak apa-apa, kok, Buk. Hanya mimpi,)" kata Salma.

Warsini, ibu Salma, memandang anaknya dengan ragu dan khawatir.

"Kamu teriak-teriak tadi, Ndhuk," kata Warsini ragu. Salma terkejut, tetapi kemudian tersenyum.

"Nggak papa, Bu, sepertinya Salma memang masih takut menjadi pemulasara jenazah, Bu, jadinya masih sering terbawa mimpi," kata Salma. Dia tersenyum gugup dan malu, karena merasa sangat bersalah pada ibunya.

"Kamu yakin kamu nggak papa?" tanya Warsini lagi. Salma menggeleng.

"Insya Allah nggak papa. Mungkin karena kejadian kemarin di rumah duka yang kami kunjungi, Buk," jawab Salma. Warsini mengerutkan keningnya.

"Ada apa di rumah duka yang kemarin, Ma?"

Salma tersenyum geli melihat wajah ibunya yang penasaran sekaligus takut.

"Sebenarnya nggak ada apa-apa, Buk. Cuman anak dari ibu yang meninggal itu baru datang setelah jenazahnya sudah selesai dikafani. Dia menangis histeris. Sepertinya itu yang membuat Salma mimpi, Buk," jawab Salma. Dia tidak menceritakan tentang wajah menyeramkan jenazah dan orang-orang di sekitarnya dalam mimpinya pada ibunya.

"Oalah, itu to, yang membuat kamu mimpi buruk. Astaghfirullah, pengalaman seperti itu memang cukup berat, Ma, butuh waktu lama untuk beradaptasi," kata Warsini. Dia menelisik wajah Salma lagi.

"Kamu beneran nggak papa, to, Ndhuk?" tanya Warsini lagi. Salma tertawa hambar, dia menggeleng.

"Insya Allah nggak papa, Buk," jawab Salma.

Warsini mengangguk dan meninggalkan kamar Salma dengan pesan yang panjang. Salma hanya tersenyum mendengar nasihat ibunya, dia tahu, ibunya khawatir dengan profesi baru Salma sebagai seorang pemulasara jenazah. Salma mendengus, lagipula profesi itu didapatkan Salma dari ibunya sendiri. Dia diminta ibunya untuk menggantikan Sang Ibu menjadi pemulasara jenazah dalam sebuah organisasi sosial bernama Sekar Langit, sebuah organisasi nirlaba yang bisa dipanggil untuk membantu memulasara jenazah.

Salma baru bergabung selama dua bulan dengan Sekar Langit dan dia sudah ikut membantu memulasara enam jenazah. Salma bergidik mengingat pengalaman-pengalamannya memulasara jenazah. Secara refleks Salma memeluk tubuhnya sendiri.

"Iiihhh!" Salma menjerit lagi. Dia berjingkat kaget ketika tangannya menyentuh sesuatu yang berlendir di lengan dan telapak tangannya.

Salma beristighfar ketika melihat cairan serupa lendir kemerahan hampir di seluruh bagian tangannya. Dia mual melihat cairan yang hampir sama dengan mimpinya tadi. Salma dilanda kepanikan dan ketakutan. Dia segera bangkit dari tempat tidurnya dan bercermin.

"Oh, apa ini?" tanya Salma dengan suara gemetar karena takut. Dia melihat lendir itu di hampir seluruh bagian tangannya.

Oh, bukankah di dalam mimpinya tadi Bu Tris mencengkeram lengan kiri Salma dan Salma berusaha melepaskan cengkeraman itu? Berarti cairan ini adalah ... adalah ... cairan dari dalam kulit Bu Tris yang terbakar? Tetapi bukankah tadi hanya mimpi?

****

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Buta Pembawa Petaka
9.6
Sebuah panggilan misterius dari pengembang properti mengusik ketenangan hidupku. Mereka mengeluhkan kegaduhan malam pernikahan yang dituduhkan terjadi di rumahku, meski aku sebenarnya tidak memiliki pasangan. Demi membuktikan keluhan tetangga, mereka mengirimkan rekaman pengawas. Kejanggalan mengerikan pun terungkap; video itu memperlihatkan prosesi iringan pengantin yang meriah di lorong rumah. Sosok mempelai pria di sana sangat kukenal, ia adalah mantan kekasihku yang sudah berpisah sejak dua setengah tahun lalu.
Sampul Novel Mengambil Alih Identitas Kakakku
9.7
Kematian tragis saudara kembar di hari ulang tahunnya yang ke-18 menyisakan luka mendalam. Setelah dinodai di hotel dan wafat akibat gagal napas, reputasinya dihancurkan oleh Ginny, sahabat yang menyebarkan foto-foto kejadian tersebut. Didorong amarah, sang adik membalas dendam dengan merusak wajah Ginny yang terobsesi menggantikan kakaknya. Di tengah kucuran darah, ia bersumpah bahwa siapa pun yang terlibat dalam penderitaan kakaknya tidak akan pernah dibiarkan lolos hidup-hidup.
Sampul Novel Tabir Misteri di Sekolah
8.4
Setahun pascatragedi memilukan yang merenggut nyawa seorang siswi di SMA Permadani Putih, kasus pemerkosaan serta pembunuhan kejam itu masih mandek tanpa titik terang. Di tengah kemerosotan disiplin sekolah dan sikap masa bodoh pihak berwenang yang sengaja bungkam, Gara tak tinggal diam. Demi menuntut keadilan bagi mendiang adiknya, ia bertekad membongkar misteri kelam ini. Sanggupkah Gara menguak konspirasi besar tersebut dan menyeret pelaku ke pengadilan?
Sampul Novel TEROR KOS BU TEJO
9.3
Keputusan Rengganis menetap di sebuah kos di Pulau Jawa membawa petaka mengerikan bagi semua penghuninya. Setiap malam, ia didera teror gaib yang perlahan mengungkap misteri pembunuhan tragis di masa lalu. Demi bertahan hidup, Rengganis dan para penghuni kos lainnya bersatu untuk menguak rahasia kelam yang tersembunyi di sana. Mampukah mereka membongkar dalang di balik kekejaman ini, atau justru mereka yang akan menjadi korban berikutnya?
Sampul Novel Tumbal Rumah Bersalin
9.6
Di balik sosok ramahnya sebagai bidan Desa Tlogo Ungu, Warni menyimpan misteri kelam. Trauma akibat kemiskinan dan pengucilan masa lalu mendorongnya bersekutu dengan siluman ular putih bernama Nyai Sukma lewat perantara Romlah. Demi kejayaan bisnis dan kekayaan instan, kesepakatan mistis pun terjalin. Namun, ritual pesugihan ini menuntut bayaran mengerikan: ibu melahirkan di malam Jumat Kliwon dan darah daging Warni sendiri sebagai tumbal pertama. Sanggupkah ia menumbalkan bayinya?
Sampul Novel Warisan Pembawa Petaka
8.8
Claire, seorang janda, mengajak kedua putrinya, Bianca dan Lisa, pindah ke sebuah rumah di pelosok Nevada yang didapat dari warisan keluarga Vallage. Berharap bisa memulai lembaran baru, mereka justru dihadapkan pada teror mematikan di dalam kediaman tersebut. Tanpa ada jalan untuk melarikan diri, maut kini mengintai mereka setiap saat. Mampukah ibu dan anak-anaknya selamat dari tempat terkutuk ini? Kisah misteri penuh ketegangan dan adegan keras khusus pembaca dewasa.