APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel WANITA-WANITA SEKAR LANGIT

WANITA-WANITA SEKAR LANGIT

Sekelompok perempuan pemulasara jenazah di organisasi nirlaba Sekar Langit didera rangkaian peristiwa ganjil nan mencekam. Di tengah pengabdian suci tersebut, berbagai keanehan terus menghantui aktivitas mereka. Perlahan, terungkap bahwa dalang di balik teror mengerikan ini ternyata berasal dari dalam kelompok mereka sendiri. Sebuah rahasia gelap dan misteri besar kini mengancam keselamatan seluruh anggota yang tersisa.
Bab
Bagikan

Bab 2

Salma segera menuju ke kamar mandi untuk mandi dan keramas. Dia menggosok badannya kuat-kuat agar cairan lengket berbau anyir itu bisa hilang. Salma menangis ketakutan. Dia takut kenapa mimpi buruknya tadi menjadi kenyataan.

Setelah mandi Salma bercermin dan mencari cairan kemerahan tadi di lengan dan badannya. Dia takut masih ada cairan menjijikkan itu di badannya. Setelah merasa yakin bahwa cairan itu tidak ada lagi di badannya, Salma pun segera mengambil air wudu dan bersiap salat Subuh.

"Hari ini ada acara, Ndhuk? Kalau nggak ada acara kita ke makam, ya?" ajak Warsini pada Salma. Salma mengangguk.

"Njih, Buk. Insya Allah Salma nggak ada acara," jawab Salma, "Ibuk nggak papa? Kok, kelihatannya sedih sekali," lanjut Salma sambil memandang ibunya yang terlihat lemas. Warsini tersenyum.

"Aku kangen bapakmu, Ndhuk," jawab Warsini pelan. Air mata membayang di pelupuk matanya. Ah, Salma juga ikut sedih kalau sudah mengingat bapaknya yang sudah meninggal. Salma diam saja, dia tidak ingin membebani ibunya dengan ikut sedih dan menangis.

"Nanti jangan lupa beli bunga di pasar, ya, Ndhuk?" kata Warsini lagi. Salma mengangguk sambil tersenyum.

Hati Salma teriris ketika melihat kesedihan di mata ibunya. Salma ingat dengan jelas ketika bapaknya meninggal, mungkin sekitar sepuluh atau sebelas tahun yang lalu. Waktu itu Salma baru pulang sekolah. Bapaknya menyambut Salma di teras.

"Gek ndang maem, Ndhuk. Ibukmu masak sop karo tempe goreng. Ojo lali salin sik, ya? (Makanlah, Ndhuk. Ibukmu masak sop dan tempe goreng. Jangan lupa ganti baju dulu, ya?)" kata Sang Bapak dengan wajah ceria. Salma mengangguk dan segera berganti baju.

Seingat Salma dia hanya berganti baju selama lima sampai sepuluh menit, tetapi ketika Salma keluar dari kamar, sudah ada keributan di teras rumahnya. Salma segera berlari keluar dan mendapati bapaknya kejang dan mengeluarkan busa dari mulutnya. Setelah itu ingatan Salma seakan kabur. Dia tidak terlalu ingat apa yang terjadi.

Salma ingat dia diminta memanggil ibunya yang berjualan di pasar, kemudian disuruh naik ambulans dengan ibunya, lalu ibunya menangis histeris karena bapaknya sudah meninggal. Salma ingat dia harus pulang dari rumah sakit bersama tetangganya dan menjemput kakaknya dari terminal bus Karang Nangka.

Ah, saat itu adalah saat terberat bagi Salma, karena dia harus mengerti dan memahami bagaimana seharusnya kedukaan itu. Salma masih kelas satu SMP, dia masih terlalu naif untuk mengerti kenapa kakaknya bertengkar dengan ibunya pada malam hari setelah bapak meninggal.

Sarifah, kakak Salma, bahkan sampai menangis histeris dan keesokan harinya dia pulang ke kota. Meninggalkan Warsini yang sangat berduka. Berduka karena kehilangan suami dan juga kehilangan anak perempuan sulungnya. Waktu itu Salma tidak tahu kenapa Sarifah marah kepada ibunya dan pergi begitu saja. Yang diketahui Salma adalah ibunya sakit-sakitan setelah kejadian itu dan kehidupan mereka menurun drastis.

"Kamu mondok saja, ya, Ma?" Warsini memandang Salma dengan penuh harap.

Salma masih ingat dengan jelas bagaimana dia menahan air mata yang nyaris membanjiri wajahnya ketika mendengar permintaan ibunya itu. Salma sakit hati ketika diminta untuk mondok, padahal hanya dia yang dimiliki ibunya, tetapi Warsini malah menyuruh Salma untuk masuk pesantren. Salma hanya bisa mengangguk.

"Mondok di mana, Buk?" tanya Salma dengan suara penuh getar karena menahan tangis.

"Sepertinya ada pesantren baru di Karang Nangka. Kamu kuantar ke sana, ya?" Tangis Salma tak terbendung lagi. Dia mengangguk sambil menangis terisak. Hatinya sedih dan marah karena ibunya menyuruhnya pergi, tetapi dia juga sedih karena akan meninggalkan ibunya.

Kontoversi rasa hatinya itu masih membekas jelas sampai sekarang. Saat rasa di hati Salma bingung, sedih dan marah pada waktu yang bersamaan. Tetapi memang itulah cara Allah mendewasakan Salma dan Warsini. Pesantren Ruqyah Karang Nangka menjadi jalan mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Warsini menjadi rajin mengaji dan kemudian menjadi anggota organisasi pemulasara jenazah bernama Sekar Langit, sementara Salma pun mulai menikmati kehidupan di pesantren. Mereka berdua menemukan jalan masing-masing untuk mendekatkan diri kepada Allah. Warsini menjadi semakin sehat lahir dan batin dan Salma pun menjadi seorang wanita muda yang memahami ilmu agama.

****

Salma agak menggigil ketika dia memasuki kompleks makam tempat bapak Salma dimakamkan. Warsini bergegas mendahului Salma. Dia berjalan dengan cepat di antara gundukan makam yang tertata tak beraturan. Salma setengah berlari mengejar Warsini yang berjalan sangat cepat. Salma tak habis pikir, kenapa ibunya berjalan sangat cepat.

"Eh, apa itu Ma?" tanya Warsini. Dia berdiri di samping makam suaminya sambil menunjuk ke arah makam. Salma berdebar tak menentu, dia bergegas berlari ke arah Warsini.

"Apa, Buk?" tanya Salma penasaran. Warsini diam saja, tetapi dia tetap menunjuk ke arah makam. Salma mengikuti arah telunjuk ibunya dan melihat beberapa lembar foto yang ada di atas makam bapaknya. Dari tempat Salma berdiri, dia tidak bisa melihat foto itu dengan jelas, sehingga Salma pun berjongkok untuk melihat foto apa yang diletakkan di atas makam bapaknya.

Jantung Salma berdebar tak menentu setelah melihat foto yang ada di atas makam. Keringat dingin bermunculan di dahinya. Tangannya gemetaran ketika memegang foto itu.

"Astaghfirullah, siapa yang tega meletakkan foto itu di situ?" teriak Warsini histeris. Salma menoleh ke arah ibunya dengan penuh tanda tanya.

"Ini foto bapak, Bu?" tanya Salma. Warsini mengangguk sambil menangis.

"Iya, Ma. Itu foto bapakmu. Sebelum dimandikan tiba-tiba kulit bapakmu menjadi hitam seperti terbakar dan juga mengeluarkan bau yang sangat busuk. Ya Allah, siapa yang tega meletakkan foto itu di situ?" Warsini menangis lagi.

Salma nyaris tak percaya ketika mendengar jawaban ibunya. Dia merinding dan gemetaran. Sekali Salma melihat foto itu. Oh ... kulit wajah bapaknya yang kehitaman sama persis dengan kulit kehitaman yang dilihat Salma dalam mimpinya.

****

Gerimis mulai turun perlahan. Orang itu tersenyum puas melihat ibu dan anak itu menangis histeris di samping sebuah makam. Dia mencibir.

"Tunggu pembalasanku ...."

****

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CANDIKALA
9.2
Hidup Halimah berubah mencekam saat ia tiba-tiba mampu melihat dimensi gaib mengerikan dan para calon tumbal yang terancam mati. Kemampuan misterius ini membawanya pada dilema batin yang gelap: apakah ia harus ikut memburu tumbal demi bertahan hidup? Di tengah teror yang terus mengintai, Halimah harus berjuang keras mengungkap rahasia kutukan kuno tersebut sekaligus menemukan jalan keluar untuk menyelamatkan jiwanya dari ancaman maut.
Sampul Novel Dersik: Begu Ganjang Telah Kembali
9.1
Dersik kembali ke Desa Mangpusu demi menuntaskan dendam masa lalu. Meski puluhan tahun berlalu, parasnya tetap awet muda dan memikat. Sunarni, sang mantan majikan yang didera rasa bersalah, kini tak berdaya saat keluarganya dihabisi satu demi satu. Di tengah teror Begu Ganjang yang mencekam, seorang dukun sakti bernama Surya curiga bahwa Dersik adalah mantan kekasihnya. Rumitnya, putra Sunarni malah jatuh hati pada sosok misterius yang berniat menghancurkan mereka.
Sampul Novel Ghost At School
9.0
Yui bersama sahabatnya berupaya menyelamatkan arwah-arwah yang terperangkap di area sekolah. Namun, sebuah petunjuk dari mimpi mengungkap kebenaran kelam bahwa korban perdana teror ini adalah teman dekat Yui. Investigasi mereka justru menyingkap rahasia keluarga, di mana salah satu anggota keluarga terbukti menjadi dalang demi membalas dendam masa lalu. Di bawah bayang-bayang ketakutan, sanggupkah mereka menghentikan kutukan tersebut?
Sampul Novel Keponakanku yang Belum Lahir dan Telah Meninggal
9.5
Kakak iparku bersikeras melahirkan di desa meski kandungannya berisiko tinggi. Saat aku mencoba membawanya ke rumah sakit demi keselamatan, ia malah menuduhku memicu kelahiran prematur bayinya yang lemah. Kebencian itu membuatnya tega meracuniku hingga tewas. Namun, takdir membawaku kembali ke masa lalu, tepat di momen ia meminta saran. Kali ini, aku memilih bungkam dan membiarkannya menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tanganku.
Sampul Novel Pembalasan Atas Kekejaman Suamiku
8.7
Perubahan drastis sikap suami sejak masa kehamilan memasuki usia tujuh bulan menyisakan tanda tanya besar. Saat malam tiba, ia mendadak menjadi sosok yang sangat bergairah dan menuntut keintiman dalam kegelapan total. Meski membingungkan, perubahan tekniknya yang luar biasa justru membangkitkan hasrat sang istri hingga desahan mereka menggema di seluruh penjuru rumah setiap larut malam. Keanehan memuncak di siang hari, ketika sang suami kembali menjadi pria yang sangat sopan dan bahkan tidak berani menyentuhnya sama sekali.
Sampul Novel The Devil
8.8
Trauma mendalam akibat kekejaman sang paman mendorong Alina mengambil keputusan ekstrem. Ia nekat menyerahkan seluruh hidupnya kepada Alardo, sesosok iblis mengerikan, demi mendapatkan perlindungan dan membalaskan dendamnya. Namun, kesepakatan gelap ini justru menjebak Alina dalam perasaan cinta terlarang pada sang iblis. Terseret kian jauh ke dalam kegelapan, akankah Alina mampu menemukan jalan keluar, atau justru hancur selamanya dalam jerat asmara yang mematikan?