
Wanita Pengganti Pemuas Obsesi CEO
Bab 2
Dia menekan nomor itu di depanku dengan penuh percaya diri. Telepon segera tersambung dan terdengar suara dingin seorang pria dari seberang, "Lagi rapat, nanti baru bicara."
Telepon diputus hanya dalam dua detik. Suaranya dingin dan tegas, aku bahkan tidak sempat meminta bantuan. Namun, itu jelas suara Derrick.
Ivy menarik rambutku lebih keras sambil menggunakan ponsel untuk memukul wajahku. "Dengar, 'kan? Ini baru nomor pacarku. Kamu kurang persiapan ya!"
Merasa kesakitan karena rambutku ditarik, aku mendorong Ivy dengan keras. "Apa anehnya punya dua nomor? Kamu tinggal telepon nomor lainnya untuk pastikan saja, bukan?"
Melihat aku berani melawan, ketiga pengikut Ivy langsung memukul dan menendangku, berlomba-lomba untuk menunjukkan kesetiaan mereka.
"Sudah jadi pelakor, berani kasar lagi sama Kak Ivy. Dia itu calon Nyonya Santo. Kamu memang pantas dipukul!"
"Ngambil nomor sembarangan saja berani ngaku-ngaku itu nomor Pak Derrick. Kamu nggak pakai otak waktu bohong?"
"Orang sepertimu mau jadi pelakor? Tunggu sampai Pak Derrick bongkar kebohonganmu, kamu bakal makin babak belur!"
Ivy menatapku dari atas dengan penuh rasa percaya diri. "Oke, ayo kita telepon dan lihat ada berapa nomor pacarku."
Nomor yang tersimpan di ponselku adalah nomor pribadi yang dibuat Derrick khusus untukku. Dia sangat takut melewatkan telepon dariku, sampai-sampai dia tidak pernah mematikan suara ponsel bahkan saat rapat.
Nama kontak "Suami" juga ditambahkannya secara paksa. Jika aku mengubahnya, dia akan langsung menghentikan pengobatan nenekku. Itu sebabnya aku yakin Derrick akan menjawab teleponnya.
Melihat ekspresiku yang tidak menunjukkan keraguan sedikit pun, wajah Ivy berubah masam. Namun, dia tetap menekan nomor itu dengan segera. Aku piker, begitu telepon terhubung, hubungan kami akan terbukti dan mereka akan pergi.
Namun, saat suara telepon diperbesar, yang muncul hanyalah pemberitahuan bahwa nomor itu tidak dapat dihubungi. Aku tertegun karena tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini.
Ivy menghela napas lega dan semakin yakin bahwa aku adalah pembohong. Dengan seluruh tenaganya, dia menamparku lagi. Kuku panjangnya meninggalkan beberapa luka berdarah di wajahku, menyisakan rasa panas dan perih yang menyakitkan.
"Dasar tukang ngayal! Kamu pasti terobsesi jadi Nyonya Santo sampai kehilangan akal ya? Siapa tahu ini nomor telepon gadunmu yang lain?"
"Dia nggak mau angkat teleponmu, pantas saja kamu buru-buru mau nyari gadun lainnya. Sayangnya, kamu berhadapan sama aku hari ini!"
Begitu mendengar bahwa aku ini adalah pelakor yang ingin menggoda Derrick, beberapa pengikut Ivy lainnya mengepung dan bersiap-siap menghajarku.
"Kak Ivy, ayo kasih pelajaran sama wanita nggak tahu malu ini supaya dia kapok!"
"Iya, sekalian tunjukkin sama semua pelakor di luar sana, beginilah nasibnya kalau berani menggoda Pak Derrick!"
Sambil berkata demikian, mereka mengeluarkan ponsel dan mulai merekam video. Aku memalingkan wajah untuk menghindari kamera tersebut, tetapi mereka menarik rambutku agar menghadap langsung ke kamera. Mereka memukul wajahku dan menghina tanpa henti.
"Wanita murahan ini operasi plastik jadi mirip aku dan menyelinap ke vila pacarku untuk merayunya. Untungnya ketangkap basah sama aku. Pelakor memang harus dikasih pelajaran!"
"Dia bahkan ngelakuin banyak usaha dengan membuat vila ini jadi berantakan dan ngelukis banyak bunga. Kamu berharap pacarku muji kamu pintar melukis ya? Biaya pembersihan saja mungkin kamu nggak bakal sanggup bayar!"
"Kamu nggak tahu pacarku paling benci sama bunga matahari, 'kan? Sebelumnya waktu aku pakai jepitan rambut bunga matahari saja dia marah-marah. Kamu malah buat halamannya semua penuh sama bunga matahari!"
Mendengar hal itu, ketiga pengikut Ivy langsung mulai merusak bunga matahari di taman. Aku berteriak untuk menghentikan mereka, "Jangan! Jangan sentuh bungaku!"
Ivy menendangku ke lantai, lalu menginjak perutku dengan keras. Saking kesakitan, aku bahkan tidak sanggup untuk berdiri.
Dia hanya tertawa sinis, "Bunga-bunga rusak ini berapa sih harganya? Rusak ya rusak saja! Ini vila pacarku, siapa yang ngizinin kamu melakukan hal rendahan begini?"
Bunga-bunga itu tidak bernilai dari segi harga. Mereka adalah bunga yang ditanam sendiri oleh Derrick. Sebelumnya, ketika pengurus rumah tangga tidak sengaja mematahkan salah satu bunga matahari saat menyiramnya, Derrick langsung mematahkan tangannya tanpa ragu.
Bukan karena aku peduli pada orang-orang yang menghancurkan bunga ini, tetapi karena bunga matahari itu adalah benda yang menyembuhkan depresiku. Setelah menyaksikan sendiri orang tuaku dibunuh, Derrick menanam bunga matahari selama 10 tahun. Dia melakukan segalanya untuk membantuku keluar dari kegelapan itu.
Sekarang, melihat bunga matahari ini dihancurkan di depan mataku, sama saja seperti aku didorong kembali ke dalam jurang.
Bukan hanya itu, mereka bahkan menyiramkan cat ke dinding vila, menghancurkan semua lukisan bunga matahari yang selama ini aku buat dengan penuh kasih. Aku ditekan ke lantai dan berjuang mati-matian untuk bernapas di tengah keputusasaan.
Pandanganku yang dipenuhi rasa sakit sangat kontras dengan wajah Ivy yang penuh kebengisan. Aku hanya bisa berdoa agar Bi Maya segera kembali.
Setiap hari, dia selalu pergi ke bawah bukit untuk membeli bahan makanan segar, biasanya hanya membutuhkan waktu satu jam untuk pulang pergi. Jika dihitung waktunya, seharusnya dia sudah hampir tiba sekarang.
Anda Mungkin Juga Suka





