
Wanita Pengganti Pemuas Obsesi CEO
Bab 3
Saat itu, Ivy menerima panggilan telepon. Nada bicaranya terdengar sangat kasar. "Memangnya kenapa kalau mobilnya diparkir di tengah jalan? Nggak bisa lewat ya masalahmu sendiri! Lagian, nenek tua sepertimu nggak ada kerjaan sampai harus nyetir sendiri?"
Setelah itu, dia langsung menutup telepon. Namun, aku bisa mengenali suara panik di seberang telepon ... itu suara Bibi Maya.
Mobil Ivy dan teman-temannya parkir di jalan depan sehingga menghalangi akses masuk. Bibi Maya tidak bisa kembali! Dia pasti sedang terburu-buru untuk memasak. Kalaupun dia memutuskan untuk berjalan kaki sambil membawa bahan makanan, itu akan memakan waktu. Selesai sudah semuanya ....
Ivy yang tampaknya sedang kesal, berjongkok di depanku dan menatapku dengan sorot mata penuh kebencian. "Lihat, apa yang kamu lakukan di vila pacarku? Aku harus gimana mewakilinya untuk menghukummu?"
Salah satu teman Ivy mengangkat ember penuh cat warna-warni dan menuangkannya tepat ke atas kepalaku. "Dia suka melukis, 'kan? Buat dia jadi lebih menarik saja! Berani-beraninya niru Kak Ivy. Dasar nggak tahu malu!"
Teman-temannya yang lain mulai ikut menambahkan ide jahat mereka. "Dia butuh belaian pria ya? Kenapa kita nggak panggil beberapa pria untuk buat dia senang saja? Biar dia nggak ngincar pacar orang lagi!"
"Dia yang untung, dong? Hahaha! Gimana kalau kita buat dia bayar semua kerusakan ini? Kalau perlu, kenalkan dia sama beberapa 'klien'. Dengan keahliannya menggoda pria, pasti dia bisa bayar lunas!"
Ivy terus menatap wajahku. Semakin lama dia menatap, emosinya semakin memuncak. Tiba-tiba, dia berdiri dan menendangku dengan keras. "Berani-beraninya operasi plastik niru wajahku. Kalau begitu, nggak keterlaluan kalau aku ambil kembali wajah ini, 'kan?"
Aku mendengar suara tulang hidungku patah. Rasa sakit yang luar biasa membuat pikiranku seketika kabur. Telingaku dipenuhi dengan suara tawa mereka.
"Ternyata memang palsu! Hidung asli mana mungkin patah semudah itu? Lucu sekali!"
"Rambutnya juga niru Ivy. Potong saja!"
"Betul! Dia bahkan berani pakai gaun putih seperti Ivy. Buka saja pakaiannya!"
Aku mencoba melawan, tetapi mereka memukuliku dari segala arah hingga aku pusing dan kehilangan kekuatan untuk melawan. Akhirnya, mereka mengarahkan ponsel ke wajahku yang penuh luka dan merekam keadaanku yang menyedihkan sambil tertawa terbahak-bahak.
Namun, Ivy belum puas. Dia mengambil cutter dan berjalan mendekat dengan senyum sinis. "Nggak akan kubiarkan kamu pakai wajah ini untuk ngincar pacarku. Kalau mau salahkan, salahkan saja dirimu yang nggak tahu diri!"
Ivy tahu wajah ini adalah alasan mengapa Derrick jatuh cinta pada pandangan pertama, jadi dia tidak akan membiarkan ancaman seperti ini terus ada. Ketiga temannya mulai terlihat tidak nyaman. Jika hanya sekadar memukul, mereka merasa tidak masalah, tetapi ini sudah terlalu berlebihan. Mereka takut menghadapi konsekuensinya.
"Ivy, sudahlah, jangan terlalu berlebihan. Ini vila Derrick. Kalau terlalu parah, bisa saja ini berdampak buruk padanya."
Ivy langsung menunjukkan kekesalannya. "Kalau ada masalah, pacarku yang akan mengurusnya. Apa yang perlu ditakutkan? Ini cuma ngerusak wajah, aku bukan mengambil nyawanya!"
"Kalau pacarku pulang nanti dan melihat vilanya jadi berantakan begini, mungkin konsekuensinya makin parah lagi!"
Mendengar kata-kata itu, keberanian teman-temannya kembali muncul. Mereka membantu Ivy menahanku dan memaksaku tetap di tempat. Aku merasa kesakitan ketika cutter itu menyayat kulitku. Jeritanku bergema di udara, tetapi suara tawa mereka justru semakin menyeramkan.
Setelah siksaan itu selesai, suaraku sudah serak. Aku terbaring di lantai, tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
Ivy menatapku dengan penuh kebencian. "Harus diberi pelajaran yang pantas. Kalau nggak, nanti semua orang bakalan niru dia, lalu gimana aku mau jadi Nyonya Santo?"
"Kalau kamu suka sekali niru aku, akan kubuat kamu sampai nggak bisa lagi niruin aku!" Dia meraih tanganku dan mulai mematahkan jari-jariku satu per satu dengan kejam.
"Salahkan dirimu sendiri yang terlalu serakah. Kalau nanti kamu nggak bisa melukis lagi, itu bukan salahku, ya!"
Setelah sepuluh jariku dipatahkan, aku bahkan tidak lagi mampu mengeluarkan suara. Tubuhku penuh rasa sakit dan aku hampir kehilangan kesadaran. Namun di saat aku hampir pingsan, seseorang akhirnya datang ... itu Derrick.
Melihat kekacauan yang terjadi di halaman vila, wajahnya memucat, dan matanya dipenuhi amarah. "Apa yang kalian lakukan? Siapa yang ngizinin kalian masuk ke sini?"
Anda Mungkin Juga Suka





