
Wanita Kesepian di Lokasi Proyek
Bab 3
Belum waktunya mulai kerja, tetapi aku sudah keluar dari asrama lebih awal.
Namun, entah kenapa aku malah berjalan ke dekat asrama Kak Siana.
Ketika aku hendak berbalik, aku justru bertemu dengan Wibi yang baru saja keluar dari dalam. Dia tidak mengenakan baju, dan di lehernya ada beberapa bekas merah.
Aku bertatapan dengannya sesaat, lalu segera mengalihkan pandangan.
Lingkaran hitam di bawah mata Wibi terlihat jelas, dan dia berjalan dengan punggung agak bungkuk.
Jangan-jangan mereka benar-benar tidak tidur semalaman?
Setelah Wibi berjalan menjauh, Kak Siana pun keluar dari kamarnya. Dia berjalan dengan langkah terpincang-pincang, jelas terlihat lemas.
Ketika melihatku, dia melambaikan tangan memanggilku untuk mendekat.
Aku merasa canggung, tetapi tetap berjalan pelan-pelan ke arahnya.
"Tadi malam kamu cari aku ada urusan apa?"
"Bum!" Otakku langsung terasa kosong, aku tidak bisa berkata apa-apa. Suasana jadi tegang dan canggung.
"Apa kamu juga mau coba?"
Aku mengerutkan bibirku, tersipu dan menggelengkan kepala.
Namun, Kak Siana mencondongkan tubuhnya lebih dekat dan berkata, "Benar kamu nggak mau coba? Percaya deh, kamu cuma perlu coba sekali saja, kamu akan jatuh cinta dengan perasaan ini ...."
Suara Kak Siana sangat lembut, tetapi membuatku merasa tidak nyaman.
Bohong kalau aku bilang aku tidak memikirkannya sama sekali.
"Bagaimana? Apa mainan itu menyenangkan untuk dipakai?"
Aku mengangguk malu-malu, tetapi Kak Siana menyentuh bokongku lagi dan mencubitnya dengan keras.
"Biar aku kasih tahu ya, perasaan yang dibawa oleh seorang pria itu sepuluh ribu kali lebih baik daripada mainan!"
Kak Siana jadi makin bersemangat saat berbicara, dan dia mulai berbicara kepadaku tentang pria. Dia begitu bersemangat sampai dia menjelaskan beberapa detail kepadaku secara terperinci.
Sebelum aku menyadarinya, sudah waktunya berangkat kerja. Aku bahkan tidak sempat sarapan dan langsung pergi ke lokasi konstruksi.
Namun, aku tetap tidak bisa berkonsentrasi. Aku melihat para pria yang bekerja di sekitarku. Mereka semua bertubuh kekar, dengan garis-garis otot seperti pisau di bawah kulit gelap mereka, yang sangat menarik.
Terutama saat mereka berkeringat dan bau hormon yang kuat membuatku sulit bernapas.
Sepanjang hari, pikiranku kadang melayang, menatap para pria yang tengah bekerja.
Setelah makan malam, Kak Siana menarikku ke tempat sepi dan berkata kepadaku dengan suara pelan, "Wibi akan datang malam ini, dan aku nggak bisa mengatasi dia sendiri. Kamu bisa datang menemuiku. Kami berdua bisa membuatmu bahagia."
Kembali ke kamarku di asrama, aku duduk di tempat tidur dengan gelisah.
"Wanita harus menikmati hidup mereka sepenuhnya. Lagi pula, kamu sudah berusia tiga puluhan! Berapa tahun lagi kamu bisa menikmatinya?"
"Wanita harus menjaga martabatnya dan jangan sampai moralnya jatuh merosot ...."
Dua suara saling bertarung hebat di dalam benakku, bergema tanpa henti, membuatku sama sekali tidak bisa tenang.
Namun, manusia pada akhirnya adalah mainan bagi hasratnya sendiri, naluri itu sulit untuk dikendalikan.
Ketika malam telah sunyi dan sepi, aku diam-diam datang ke depan pintu asrama Kak Siana.
Terdengar suara terengah-engah tertahan yang keras dari dalam rumah.
Apa mereka sudah mulai?
Jantungku berdebar kencang, dan aku perlahan membungkuk untuk melihat ke dalam.
Kak Siana berbaring di tempat tidur, mereka berdua berpelukan dan saling berciuman dengan penuh gairah. Setelah beberapa saat, Wibi bertanya, "Apa yang kamu bicarakan dengan Wenny tadi pagi?"
Kak Siana berbicara dengan suara terputus-putus, "Kenapa, kamu mau mencicipi dia?"
Tanpa sadar aku menahan napas.
"Dia punya bentuk tubuh yang sangat indah sehingga pria mana pun di lokasi konstruksi akan bingung saat melihatnya. Selain itu, dia tampak sangat terkendali di permukaan, jadi aku rasa dia sangat liar saat sendirian ...."
Aku langsung tersipu karena apa yang dikatakan Wibi sepenuhnya benar.
Namun, saat itu, sepasang tangan memelukku dari belakang dan mendorongku masuk ke dalam rumah. Aku berbalik dan mendapati bahwa itu adalah Pak Tirta.
Dia mendorongku dan menggosokkan tubuh bagian bawahnya yang hangat ke tubuhku, membuat seluruh tubuhku mati rasa ....
Anda Mungkin Juga Suka





