APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel THE MAFIA: MARIJUANA

THE MAFIA: MARIJUANA

Daphne Madison bertekad membalas dendam pada Edgar David Ruthen yang telah menghabisi nyawa kembarannya. Demi memuluskan misinya, ia menemui Casillas Rodriguez untuk menawarkan diri sebagai mata-mata ganda. Walau sempat diancam senjata, Casillas akhirnya luluh setelah Daphne menyerahkan segalanya demi mendapat jaminan keselamatan. Kerja sama rahasia pun terjalin, tetapi keduanya justru terperangkap dalam obsesi yang rumit. Casillas menolak melepas Daphne walau hubungan itu terasa salah.
Bab
Bagikan

Bab 2

***

Flashback on

Stephanie Madison hanya memakai selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya. Rambut yang panjang terlihat acak-acakan, tetapi senyum sumringah penuh kemenangan dan kepuasan terpatri di wajahnya.

“Kau tidur dengannya?” tanya Daphne dengan ekspresi serius sembari bersandar pada lemari pakaian di kamar saudarinya.

“Seperti yang kau lihat,” jawab Stephanie masih dengan senyumannya. “Apa kau bertemu dengan tuan?”

“Ya.” Daphne mengangguk singkat “Makanya aku datang ke sini.” Dia menghela napas gusar. Senyum Stephanie begitu indah dan itu terasa seperti melihat dirinya yang lain.

“Aku mencintainya,” ujar Stephanie tiba-tiba.

Daphne langsung mengepalkan tangan. Tubuhnya gemetar kecil mendengar pengakuan yang tak pernah ingin didengarnya itu. Dia menggeleng dengan penuh peringatan. “Jangan pernah memberikan hatimu padanya, Stephanie. Ku peringatkan padamu, jangan sekali-kali!”

“Kenapa?” Stephanie memainkan kuku-kuku panjangnya, bergantian menatap Daphne. “Kau cemburu kalau Edgar tidur denganku? Bukan denganmu?”

The fuck! Bahkan tak pernah terlintas sekali pun di pikiran Daphne untuk menaruh hati pada tuannya.

“Kebodohan lainnya,” jawab Daphne datar, menyembunyikan kekesalannya. “Dia tuanku. Penyelamatku.”

‘Tapi, kalau dia sampai mencelakakan mu, dia bukan tuanku lagi, Stephanie,’ batin Daphne melanjutkan.

“Hah!” Stephanie mendengus kasar. “Itu juga terdengar bodoh di telingaku, Daphne.” Dia menatap tajam.

“Tidak. Aku realistis,” balas Daphne teguh pendirian dan dengan suara yang amat meyakinkan.

Tak!

Daphne langsung menghindar dengan baik dari lemparan patung kuda di atas laci yang dilayangkan oleh Stephanie.

“Ke luar! Aku tak ingin melihatmu!” seru Stephanie menunjuk ke arah pintu yang tertutup rapat.

Daphne menatap lurus pada saudari kembarnya, hampir tanpa emosi walaupun hati dan kepalanya terasa berkecamuk.

Napas Stephanie memburu. Kelopak matanya bergetar menatap Daphne. “Ku bilang, ke luar, Daphne!”

“Baiklah,” putus Daphne langsung berdiri tegak. Dia melayangkan peringatan sekali lagi pada Stephanie. “Jangan berikan hatimu pada Edgar. Ku harap kamu mengerti kenapa aku mengatakan ini.”

“Persetan dengan itu! Ke luar kau!” seru Stephanie melempar pajangan lainnya ke arah Daphne.

Naas, Daphne terlambat menghindar sepersekian detik, sehingga ujung pigura yang dilempar Stephanie pun mengenai keningnya. Daphne sedikit terkejut. Dia langsung memegang keningnya yang ternyata berdarah.

“Daphne,” panggil Stephanie khawatir. Dia hendak turun dari kasur. “A-aku...”

“Tidak apa-apa,” sahut Daphne menyeka darah di kening sembari menggeleng kecil. “Beristirahatlah,” ujarnya langsung berbalik, berjalan ke luar dari kamar Stephanie, dan menutup pintunya dengan rapat. Dia Meninggalkan Stephanie yang merasa bersalah karena telah melukai saudari kembarnya sendiri.

***

Tok, tok, tok

Daphne melirik ke arah pintu yang sengaja dibiarkannya sedikit terbuka agar sirkulasi udara di ruangannya bagus. Dia menemukan Edgar berdiri di ambang pintu dengan kemeja yang tak terkancing. Gadis itu langsung berdiri, meletakkan buku yang tengah dibacanya.

“Tuan,” ujar Daphne pelan.

Edgar tersenyum tipis, kemudian melenggang masuk tanpa meminta izin. Dia menatap Daphne dengan nafsu yang terpancar, tetapi sebisa mungkin tetap menahan untuk tak menerkam gadis itu sekarang juga.

“Kau sedang membaca buku?” Suara Edgar lembut dan halus ketika bicara dengan Daphne, tak seperti dengan orang lain. Dan jelas kalau Daphne menunjukkan ketidaknyamanannya dalam hal tersebut.

Daphne melirik sekilas pada bukunya yang tertutup tanpa penanda. “Ya, Tuan.”

Edgar berhenti di depan meja. Dia mengambil buku yang dibaca Daphne beberapa saat lalu, membuka halaman demi halaman. “Science fiction?” Dia menatap Daphne dengan senyuman tak percaya. “Kau berniat menjadi ilmuwan di masa depan? Aku bisa memberikan modal untukmu.”

“Tidak, Tuan.” Daphne menggeleng kecil. “Hanya sebagai hiburan, tidak lebih,” sambungnya tak bertele-tele.

Edgar tersenyum simpul sembari mengangguk-angguk kecil. “Kau punya selera yang membosankan, Daphne.”

Gadis yang rambutnya diikat asal ke atas itupun langsung mendengus kecil. “Selera saya bukan urusan anda, Tuan.”

Edgar menggeram tertahan. Gairahnya tiba-tiba naik hanya dengan mendengar suara Daphne yang menjawabnya dengan berani, tegas, dan sedikit keras kepala.

“Gadis pemberani,” puji Edgar dengan seringai tipis, sesaat sebelum dia sadar kalau ujung kening Daphne tertutup dengan plester.

“Ada apa dengan kening mu, Daphne?” tanya Edgar khawatir dan marah karena gadis itu terluka. “Siapa yang membuatnya?”

“Ah ...” Daphne menyentuh luka yang tertutup itu tanpa sengaja, “saya tidak sengaja menabrak lemari, Tuan.”

“Astaga ... kau harus lebih berhati-hati, Daphne. Jangan sampai terluka lagi. Hatiku jadi sedih dan marah kalau melihatmu terluka,” ujar Edgar hendak menggapai kening Daphne, tetapi gadis itu menghindar lebih dahulu.

Sebagai alibi, Daphne berdeham kecil untuk menghindari situasi yang tak nyaman itu. “Anda habis darimana?” Dia melirik kemeja Edgar yang tak dikancingkan. “Terlihat seperti habis olahraga,” sambungnya.

Sontak Edgar tertawa puas. Dia menumpu tangan di meja baca sembari mendekatkan tubuh pada Daphne, walaupun terpisah oleh lebarnya meja. “Olahraga, ya ... aku suka itu.” Dia mengangguk-angguk kecil, kemudian menyeringai lebar. “Aku habis meniduri saudari kembarmu. Dia tidak semolek dirimu, tapi memiliki wajah dan suara yang sama persis denganmu.”

Di sisi lain, Daphne mengepalkan tangan di bawah meja. Urat-urat lehernya menegang saat Edgar menatapnya seperti singa yang menemukan daging segar.

“Aku penasaran, Daphne, apa kau akan berteriak seperti itu juga setiap kali aku bergerak dan menyentak di milikmu?” tanya Edgar menyentuh punggung tangan Daphne yang berada di atas meja.

Daphne menatap tangan Edgar yang bertengger di sana, kemudian menggeser tangannya secara tiba-tiba.

Edgar berdecak kecil terhadap penolakan itu dan Daphne menarik tangannya yang masih ada di atas meja, sepenuhnya ke bawah meja.

“Itu tidak akan pernah terjadi, Tuan,” balas Daphne dengan tegas.

“Oh, ayolah ...” Edgar mendengus gusar. Dia berjalan mengelilingi kamar tidur Daphne yang didominasi oleh perabotan kayu dengan penerangan yang samar. Tidak ada jendela maupun ventilasi di sana. Jelas sekali kalau kamar Daphne didesain khusus demi keamanan orang kepercayaan Ruthen. “Aku tidak ingin menjadi tuan mu saja. Aku ingin lebih, Daphne. Sesuatu yang panas dan menggelora.”

“Dan itu hal yang mustahil, Edgar,” ucap Daphne gigih dan sedikit lancang, membuat pria itu menatapnya tanpa berkedip. “Sampai matipun, kau akan tetap menjadi tuanku, penyelamatku.” Dia menggeleng kecil. “Tidak lebih. Dan seperti yang kau tahu, aku tak memiliki ketertarikan untuk percintaan,” tambahnya dengan tegas.

Edgar terkekeh masam. Sekalipun Daphne berbuat lancang, dia takkan menegurnya karena dia menyukainya. “Tidak perlu cinta di antara kita, Daphne. Kau dan aku,” dia menunjuk dirinya dan Daphne, kemudian menyatukan jari telunjuk dan tengah, “hanya perlu menghangatkan tubuh satu sama lain.”

“Dan aku lebih tak tertarik dengan itu,” balas Daphne dengan tajam. “Stephanie ada di kamarnya?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

Edgar terdiam sejenak. Dia melirik ke pintu. “Ya, kelelahan di kamarnya.”

“Saya permisi, Tuan. Semoga hari anda selalu menyenangkan,” pamit Daphne segera ke luar dari kamarnya tanpa menutup pintu. Meninggalkan Edgar yang menghela napas gusar karena terjebak dalam pesona Daphne yang mematikan.

***

Daphne mengetuk pintu yang tertutup rapat itu sebanyak tiga kali. Tidak ada jawaban dari sana, sehingga membuatnya khawatir.

“Stephanie kau ada di dalam?” tanya Daphne sedikit berteriak.

“Ya,” jawab Stephanie dengan serak. “Masuklah!"

Daphne terdiam sejenak. Tangannya meraih kenop pintu dan menariknya. Dia langsung disambut dengan kamar yang gelap gulita tanpa penerangan. Namun, pendengarannya menangkap isak tangis dan rintihan.

“Stephanie?” panggil Daphne merasa khawatir dan berjalan cepat ke arah ranjang. Dia duduk di pinggirnya.

“Daphne,” panggil Stephanie yang mampu memilukan hati. Dia mencengkram erat lengan Daphne hingga gadis itu mendesis saat merasakan kuku-kuku tajam Stephanie tertancap di kulitnya. “Tidak bisakah kau memberikan satu hal saja padaku?” tanyanya melanjutkan.

Daphne tercekat. Dia mencengkram seprai yang kusut dengan erat. “Apa maksudmu?” tanyanya serius.

“Edgar. Aku ingin Edgar. Dia tertarik padamu. Tak bisakah kau memberikannya padaku?” pinta Stephanie yang mampu menusuk relung hati Daphne.

‘Sampai mati pun, kau tak boleh menginginkan Edgar. Dia iblis. Kau tak boleh bersama dengannya. Menaruh harapan pun jangan,’ batin Daphne menjawab dengan gusar.

“Dia memanggil namamu saat kami mencapai klimaks. Itu menyakitkan, tapi aku menyukai semua darinya. Dia sempurna,” tambah Stephanie dengan isak tangisnya yang menyayat hati.

“Stephanie ...” Alis Daphne mengerut. Napasnya memburu ketakutan. Hanya saudarinya yang dia miliki di dunia ini. Bayang-bayang kemungkinan masa depan tergambar di otaknya jika Stephanie masih mengharapkan cinta Edgar. Daphne bergetar hebat di sisi ranjang. Hanya pada Stephanie, dia berani menunjukkan sisi lemahnya begini. Sementara napas Stephanie mulai terdengar teratur. Gadis yang memiliki paras sama dengan Daphne itu terlelap dalam tidurnya, menyisakan Daphne yang menggenggam erat tangan Stephanie yang dingin dengan penuh kekhawatiran.

“Jangan dia, Stephanie, jangan ... Kau bebas jatuh cinta dengan siapapun, tapi jangan dengan Edgar, jangan pula dengan Casillas. Mereka orang-orang paling berbahaya di dunia ini. Jangan, Stephanie...” Daphne terisak di sisi ranjang. Menumpu keningnya pada punggung tangan Stephanie. Dia menggeleng berkali-kali. “Kau tak boleh ... aku tak ingin kehilangan keluargaku lagi.”

———

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 49 Hari Bersama Tawanan Sexy
7.9
Model terkenal Tamara Levinka, tunangan dari CEO pembuat senjata Roger Jenandra, tiba-tiba lenyap secara misterius. Walau pencarian berskala besar dikerahkan, ia tak kunjung ditemukan. Setelah 49 hari berlalu, Tamara mendadak kembali dan membawa kabar mengejutkan. Di balik misteri hilangnya Tamara, ada Jeff yang sangat terobsesi padanya. Di sisi lain, Tamara pun siap mengorbankan apa saja demi Jeff. Hubungan asmara mereka bersemi di tengah pusaran konflik yang penuh bahaya.
Sampul Novel Harga Diri Seorang Wanita
8.1
Jenna Ren hampir mengakhiri hidupnya di atap rumah sakit dengan luka fisik dan batin. Namun, kehadiran sang suami bersama selingkuhannya menyadarkan Jenna. Kematiannya hanya akan menguntungkan mereka. Setelah kehilangan calon bayinya akibat penderitaan itu, ia memilih bangkit untuk membalas dendam. Jenna mengurungkan niatnya lalu bersujud di hadapan Tuan Besar Kim, memohon kekuatan besar untuk menghancurkan semua orang yang telah mengkhianati dirinya.
Sampul Novel Karma sang pelakor
8.2
Murka akibat pengkhianatan suami demi wanita muda, keluarga Christian bersaudara merancang aksi pembunuhan rahasia. Namun, tindakan nekat ini justru memicu kecurigaan mendalam dari Nathan bersaudara. Didorong rasa kehilangan, mereka mulai menyelidiki petunjuk misterius guna membongkar fakta sebenarnya di balik kematian tragis sang adik bungsu. Ketegangan pun meledak menjadi pertikaian sengit antar-keluarga yang penuh aksi dan teka-teki.
Sampul Novel Pembalasan Saudara Kembar
7.9
Terpisah sejak kecil akibat kecelakaan tragis yang menewaskan orang tua mereka, Angel dan Tiara kembali terhubung lewat media sosial. Namun, pertemuan ini berujung duka saat Tiara tewas mengenaskan. Di sisa napas terakhirnya, Tiara memohon agar Angel membalaskan dendamnya pada para pelaku. Kini, Angel harus mempertaruhkan nyawa demi membongkar konspirasi kejam di balik kematian saudara kembarnya dan menuntut keadilan.
Sampul Novel Reinkarnasi Ke-dua di Dunia Lain
8.2
Demi melindungi Ratu dan rakyat Danirmala dari Demon Lord, sang penguasa agung Alfina rela gugur hingga kehilangan memorinya. Kini, ia terlahir kembali untuk kedua kalinya di sebuah dunia asing. Anehnya, Al hanya mampu mengingat masa-masa SMA saja. Tanpa kekuatan hebat dari masa lalunya, mampukah mantan raja ini bertahan? Simak perjuangan epik Al merintis kembali segalanya dari nol di dunia baru.
Sampul Novel Rindu Yang Terlarang
9.1
Bagi Alessandra Vega, berjumpa lagi dengan sang mantan jauh lebih menakutkan daripada melihat hantu. Naasnya, takdir justru menyeretnya kembali ke hadapan Fabian Reva, perwira militer yang dulu pernah bertakhta di hatinya. Urusan pekerjaan kini memaksa mereka untuk terus berinteraksi dengan intens. Alessandra pun terjebak dalam dilema besar antara kenangan indah masa lalu dan kenyataan pahit. Akankah asmara lama mereka kembali tumbuh, ataukah luka lama justru memicu perselisihan baru?