APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel THE MAFIA: MARIJUANA

THE MAFIA: MARIJUANA

Daphne Madison bertekad membalas dendam pada Edgar David Ruthen yang telah menghabisi nyawa kembarannya. Demi memuluskan misinya, ia menemui Casillas Rodriguez untuk menawarkan diri sebagai mata-mata ganda. Walau sempat diancam senjata, Casillas akhirnya luluh setelah Daphne menyerahkan segalanya demi mendapat jaminan keselamatan. Kerja sama rahasia pun terjalin, tetapi keduanya justru terperangkap dalam obsesi yang rumit. Casillas menolak melepas Daphne walau hubungan itu terasa salah.
Bab
Bagikan

Bab 3

***

"Kau sudah bangun?" tanya Daphne melirik Stephanie yang mengerjapkan mata, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina.

"Uh, kepalaku pusing," adu Stephanie memegangi keningnya.

"Terasa berputar?" balas Daphne mengkhawatirkannya.

"Tidak. Terasa berat," jawab Stephanie. Dia menoleh pada saudari kembarnya dan tersenyum simpul. "Aku bisa menahannya. Kau menungguiku di sini?"

"Ya. Kau mengkhawatirkan," ujar Daphne menutup novel romansa milik Stephanie yang diambilnya dari rak-rak tinggi di kamar itu.

"Sejak tadi?"

Daphne melirik lirih. Apa Stephanie tak mengingat kejadian sebelumnya atau dia mengingat, tetapi menganggapnya sebagai mimpi?

"Baru saja," jawab Daphne berbohong. "Kau sudah meminum pil kontrasepsi?" tanyanya karena Edgar pasti tak memakai pengaman.

"Haruskah?" Stephanie menghela napas gusar. Dia bangkit dari tidurnya dan menyandarkan tubuh pada headboard ranjang.

"Harus!" jawab Daphne penuh penekanan. Dia segera membuka laci di samping tempat tidur, mengambil satu pil obat kontrasepsi dari sana dan menyerahkannya pada Stephanie bersamaan dengan segelas air putih. "Kau benar-benar harus meminumnya, bahkan jika kau tak ingin. Jangan pernah bertindak bodoh," peringatnya dengan tatapan serius.

"Ya, ya. Kau sangat cerewet kalau sudah berhubungan denganku," gerutu Stephanie mengerucutkan bibir, menerima obat dan air dari Daphne, lalu meminumnya dalam sekali tegak.

"Karena aku menyayangimu, Stephanie. Itu jelas. Rasa sayangku mahal, kau tahu," ujar Daphne mengedikkan bahu, memamerkan diri.

Gadis itu tersenyum simpul. Dia menunduk, memperhatikan tubuhnya yang sudah dalam balutan kemeja dan celana pendek. "Kau yang memakaikannya?"

"Ya. Aku juga membersihkan mu," jawab Daphne bangkit dari kursi. Dia berjalan ke arah rak dan mengembalikan novel romansa yang menurutnya membosankan. "Bagaimana dengan pengiriman senjata ke Georgia?" tanyanya sembari mengintai koleksi buku saudari kembarnya yang didominasi oleh genre romansa, berkebalikan dengan koleksi Daphne yang kebanyakan strategi, fiksi, sains, racun, dan buku-buku ilmiah lainnya.

"Seharusnya berjalan dengan baik," jawab Stephanie dengan santai sembari menatap selimut yang menutupi sampai ke pangkal paha.

"Seharusnya?" ulang Daphne langsung berbalik menghadap Stephanie dengan sebelah alis yang terangkat.

Gadis yang memiliki fitur wajah yang sama dengan Daphne itu mengangguk pelan. "Aku belum mendapatkan kabar dari orang suruhan ku."

"Seharusnya tiba jam berapa?" tanya Daphne menghampiri Stephanie dengan langkah gusar.

"Pukul lima sore," jawab Stephanie santai.

"Sialan, Stephanie!" Urat-urat leher Daphne mengencang. Dia mendelik tajam. "Ini sudah jam tujuh malam! Siapa yang kau suruh? Jack?"

"Huh? Ya!" Stephanie langsung menyingkap selimut, turun dari ranjang dengan sedikit tertatih-tatih karena selangkangannya yang terasa sakit dan perih. "Aku akan pergi ke markas," ujarnya mengambil boots yang berada di pojok ruangan.

"Tetap di sini!" Daphne memerintah. Dia tak tega membiarkan saudari kembarnya yang sedang sakit untuk berjalan sejauh dua kilometer dari tempat tinggal anggota mafia Ruthen ke markas. "Aku yang akan mengurusnya!" serunya berlari ke luar dari kamar Stephanie.

"Daphne, Daphne!" panggil Stephanie sembari menenteng sebelah boots. Namun, gadis bertubuh molek itu meninggalkannya. Dia menghela napas gusar dan membuang boots-nya asal. "Anak itu ... benar-benar," gumamnya yang kemudian mendesis kesakitan. Dia memegangi selangkangannya, kemudian melangkah ke sisi ranjang dan duduk di sana. Stephanie merasa tak berguna sekarang.

***

"Apa yang kau katakan?!" Suara Edgar menggelegar penuh amarah di ruangan utama. "Senjatanya dirampas oleh Rodriguez? Siapa yang bertanggung jawab atas ini?!"

"St--"

"Saya, Tuan!" jawab Daphne menyeru dari pintu masuk. Napasnya tersengal dan langkahnya sedikit tertatih karena telah berlari sejauh dua kilometer. Orang-orang yang ada di sana, termasuk anak buah Stephanie pun mengerutkan kening. Mereka mengecek apakah itu Stephanie atau Daphne? Dan jawabannya adalah Daphne yang memiliki pesona lain, bunga mekar yang tak tersentuh.

"Kau, Daphne?" Edgar melotot pada gadis yang baru masuk ke ruangan itu dengan tangan yang berkacak pinggang, penuh amarah, congkak, dan ganas.

"Ya, Tuan. Saya minta maaf," ujar Daphne melirik anak buah Stephanie yang berlutut di sana.

'Tidak ada Jack. Dia pasti ditahan oleh Rodriguez,' tebak Daphne yang cukup mengenal tangan kanan Stephanie. 'Sudah lewat dua jam daripada seharusnya, mungkin telah dibunuh,' tebaknya lagi berdasarkan hasil analisa sekilas.

"Saya telah lalai." Daphne kembali menatap lurus pada Edgar. "Saya minta maaf, Tuan," ujarnya tanpa harus bersimpuh dan berlutut tanpa daya di depan seseorang. Dia congkak, tetapi dapat diterima karena pesona menggiurkan dan otak cerdas miliknya.

Edgar menggertakkan gigi. "Kau tahu berapa angka kerugiannya?" tanyanya marah.

Daphne diam. Jelas kalau dia tidak tahu karena sebenarnya ini bukan tanggung jawabnya. Namun, otaknya yang pintar itu berputar cepat, mencari jalan ke luar.

"Enam belas juta dolar, Tuan," jawabnya percaya diri walaupun tak tahu benar atau salah.

Edgar mendesis. "Tujuh belas juta dolar, Daphne Madison."

"Mohon maaf, Tuan." Daphne menunduk sekilas dan satu detik berikutnya, dia menatap lurus lagi pada Edgar.

"Kau bisa menggantinya?" tanya Edgar dengan suara geram yang tertahan. Kalau bukan Daphne, tanpa pikir panjang, Edgar langsung menembaknya di tempat. Tapi ini Daphne, kesayangannya, otak rencana Ruthen yang bersahaja.

"Tidak bisa, Tuan." Daphne menjawabnya tanpa merendah maupun meroket. Dia berada di tengah-tengah.

Edgar menghela napas gusar. Dia melangkah maju dan berputar mengelilingi tubuh Daphne yang berdiri tegak dengan percaya diri dengan tatapan penuh intimidasi. Daphne sama sekali tidak terlihat seperti orang yang bersalah, berwajah tebal tanpa rasa malu.

"Fabian."

"Ya, Tuan." Pria itu mengangguk pelan. Bahkan, dengan tubuh besarnya yang berotot, dia jauh lebih jinak daripada Daphne yang terlihat seperti rubah cerdik dan licik kalau dibandingkan dengannya.

"Bawa Daphne ke ruang hukuman! Kurung dia selama tiga hari tanpa makan dan beri minum hanya dua gelas! Cambuk dia di punggung sebanyak dua puluh lima kali!" seru Edgar memberikan perintah yang membuat orang-orang yang mendengarnya menegang bagai tengah meregang nyawa.

Semua orang di sana menampilkan ekspresi yang sama. Sudah menjadi rahasia umum kalau Edgar memiliki ketertarikan pada Daphne. Namun, pria itu tetap beringas tak terkendali.

Daphne menelan saliva. Dia mengepalkan tangan dan napasnya terasa berat. Dia menunduk dan memejamkan mata sejenak. 'Syukurlah, bukan Stephanie yang menerima semua ini,' batinnya.

"Kau tidak menolaknya, Daphne?" tanya Edgar meliriknya.

Daphne mendongak dan menatap Edgar dengan tatapan berkilat. Dagunya terangkat dengan congkak. "Tidak, Tuan," jawabnya yang membuat Edgar mendengus kasar, lalu pergi dari sana dengan langkah gusar.

"Hukum juga anak buahnya! Cambuk sebanyak dua puluh kali!" seru Edgar sebelum membanting pintu yang memekikkan telinga.

Huru-hara terjadi begitu saja. Orang-orang yang berada di ruangan dan tak terlibat dalam pengiriman senjata ke Georgia langsung membawa anak buah Stephanie dengan kasar. Beberapa dari mereka yang akan dihukum pun melolong meminta pertolongan pada Daphne dan berakhir dengan pukulan lebih awal yang membuat mereka pingsan dan diseret keluar.

Daphne menghela napas panjang. Dia meneguhkan hati, kemudian melirik Fabian yang masih diam di tempat, tak menatapnya.

"Bawa aku, Fabian."

———

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 49 Hari Bersama Tawanan Sexy
7.9
Model terkenal Tamara Levinka, tunangan dari CEO pembuat senjata Roger Jenandra, tiba-tiba lenyap secara misterius. Walau pencarian berskala besar dikerahkan, ia tak kunjung ditemukan. Setelah 49 hari berlalu, Tamara mendadak kembali dan membawa kabar mengejutkan. Di balik misteri hilangnya Tamara, ada Jeff yang sangat terobsesi padanya. Di sisi lain, Tamara pun siap mengorbankan apa saja demi Jeff. Hubungan asmara mereka bersemi di tengah pusaran konflik yang penuh bahaya.
Sampul Novel Harga Diri Seorang Wanita
8.1
Jenna Ren hampir mengakhiri hidupnya di atap rumah sakit dengan luka fisik dan batin. Namun, kehadiran sang suami bersama selingkuhannya menyadarkan Jenna. Kematiannya hanya akan menguntungkan mereka. Setelah kehilangan calon bayinya akibat penderitaan itu, ia memilih bangkit untuk membalas dendam. Jenna mengurungkan niatnya lalu bersujud di hadapan Tuan Besar Kim, memohon kekuatan besar untuk menghancurkan semua orang yang telah mengkhianati dirinya.
Sampul Novel Karma sang pelakor
8.2
Murka akibat pengkhianatan suami demi wanita muda, keluarga Christian bersaudara merancang aksi pembunuhan rahasia. Namun, tindakan nekat ini justru memicu kecurigaan mendalam dari Nathan bersaudara. Didorong rasa kehilangan, mereka mulai menyelidiki petunjuk misterius guna membongkar fakta sebenarnya di balik kematian tragis sang adik bungsu. Ketegangan pun meledak menjadi pertikaian sengit antar-keluarga yang penuh aksi dan teka-teki.
Sampul Novel Pembalasan Saudara Kembar
7.9
Terpisah sejak kecil akibat kecelakaan tragis yang menewaskan orang tua mereka, Angel dan Tiara kembali terhubung lewat media sosial. Namun, pertemuan ini berujung duka saat Tiara tewas mengenaskan. Di sisa napas terakhirnya, Tiara memohon agar Angel membalaskan dendamnya pada para pelaku. Kini, Angel harus mempertaruhkan nyawa demi membongkar konspirasi kejam di balik kematian saudara kembarnya dan menuntut keadilan.
Sampul Novel Reinkarnasi Ke-dua di Dunia Lain
8.2
Demi melindungi Ratu dan rakyat Danirmala dari Demon Lord, sang penguasa agung Alfina rela gugur hingga kehilangan memorinya. Kini, ia terlahir kembali untuk kedua kalinya di sebuah dunia asing. Anehnya, Al hanya mampu mengingat masa-masa SMA saja. Tanpa kekuatan hebat dari masa lalunya, mampukah mantan raja ini bertahan? Simak perjuangan epik Al merintis kembali segalanya dari nol di dunia baru.
Sampul Novel Rindu Yang Terlarang
9.1
Bagi Alessandra Vega, berjumpa lagi dengan sang mantan jauh lebih menakutkan daripada melihat hantu. Naasnya, takdir justru menyeretnya kembali ke hadapan Fabian Reva, perwira militer yang dulu pernah bertakhta di hatinya. Urusan pekerjaan kini memaksa mereka untuk terus berinteraksi dengan intens. Alessandra pun terjebak dalam dilema besar antara kenangan indah masa lalu dan kenyataan pahit. Akankah asmara lama mereka kembali tumbuh, ataukah luka lama justru memicu perselisihan baru?