APKDock Logo
Sampul Novel 49 Hari Bersama Tawanan Sexy

49 Hari Bersama Tawanan Sexy

7.9 / 10.0
Model terkenal Tamara Levinka, tunangan dari CEO pembuat senjata Roger Jenandra, tiba-tiba lenyap secara misterius. Walau pencarian berskala besar dikerahkan, ia tak kunjung ditemukan. Setelah 49 hari berlalu, Tamara mendadak kembali dan membawa kabar mengejutkan. Di balik misteri hilangnya Tamara, ada Jeff yang sangat terobsesi padanya. Di sisi lain, Tamara pun siap mengorbankan apa saja demi Jeff. Hubungan asmara mereka bersemi di tengah pusaran konflik yang penuh bahaya.

49 Hari Bersama Tawanan Sexy Bab 1

Kaki jenjang beralas heels hitam itu melangkah teratur. Rambut terurainya tertata rapi dan bahkan tak tergoyahkan oleh tiupan angin. Saat hidung mancung yang terpatri indah itu menghirup asap pekat nikotin, tangan lentiknya terangkat guna mengkibas udara.

"Tamara!" panggil sebuah suara.

Perempuan bertubuh semampai itu, Tamara, mengangkat alis singkat, menatap temannya yang sudah kehilangan kesadaran. Dia membawa langkahnya mendekat ke meja bar sambil berusaha menghindar dari tubuh para pria yang berusaha mendekat. Jaket yang hanya tersampir di kedua bahu dia naikkan, menutupi kulit bahu dan leher yang terekspos.

"Baby! Sini-sini, ada racikan baru hahaha," tawa perempuan berambut pirang itu menguar, membuat Tamara menutup hidungnya yang tak sengaja menghirup bau menyengat alkohol.

"Kacau," komentar Tamara.

"Ra! Shakira!" Tamara berteriak di depan wajah Shakira, tapi perempuan itu malah memicingkan mata sambil menggerak-gerakkan kepala.

"Hehehe Mar. Ada Justin Bieber, tuh," ucap Shakira.

Walau yakin ucapan Shakira tak mungkin benar, Tamara tetap menoleh ke mana telunjuk temannya itu mengarah. Saat yang tertangkap matanya adalah seorang pria botak dengan kumis sekering sapu lantai, Tamara langsung berdecak keras.

"Ben, habis berapa nih anak?" tanya Tamara pada bartender pria muda dengan tato memenuhi lengan kiri.

Ben, bartender tampan itu melirik pada tiga botol kaca yang telah tandas isinya. Tamara meringis melihatnya. Dia kembali menatap Shakira yang kini menjatuhkan kepala ke atas meja bar. Kelopak berhias eyeshadow biru itu tertutup rapat, mulutnya yang terbuka mengeluarkan suara dengkur.

"Gila nih anak. Heh babon, gimana gue bisa ngangkat loh?" seru Tamara kesal.

Karena riuhnya suasana dalam club malam itu membuat teriakan Tamara tenggelem begitu saja. Tak ada yang menyadari raut kesal perempuan itu, kecuali sepasang mata yang mengawasi sejak kedatangannya. Pria dengan topi yang menutupi separuh wajahnya itu mengangkat gelas kristal, menegak isinya dalam sekali tegukan.

"Tamara," bisiknya, menatap lurus perempuan berparas cantik itu.

…

Tamara bergumam panjang menyauti ucapan pria yang sedang berbicara dalam ponsel. Sebuah earphone menempel di telinga kirinya, membuatnya bisa menangkap dengan jelas tawa renyah Roger, tunangannya. Walau asik menelpon, mata Tamara tak beralih sedikitpun dari jalan raya di hadapannya.

"Emang sialan Shakira," ucap Tamara, mengundang tawa Roger lagi. Dia melirik temannya yang sudah terlelap di kursi samping pengemudi.

"Kamu nggak minum kan, by?" tanya Roger dari sebrang sana.

"Enggaklah. Kalau aku minum, bisa-bisa mobil kita melayang nyium sopir truk di depan," gurau Tamara.

"Jangan ngomong gitu, by. Kenapa tadi nggak telpon aku aja? Biar aku jemput."

Tamara melirik spion, saat dirasa tak ada kendaraan dalam jarak dekat di belakangnya, dia segera memutar setir membuat mobil berisi dua kursi itu berubah arah. Jalanan yang dia ambil kini jauh lebih sepi dari sebelumnya, membuatnya bisa leluasa menginjak gas dalam.

"Kamu emangnya udah pulang dari London?"

Dapat Tamara dengar embusan napas berat Roger. "Belum."

Mendengar itu sontak Tamara tertawa. "Kamu mau teleportasi dari London ke sini gitu, kalau aku minta jemput? Ada-ada aja."

"Apa yang nggak buat kamu, sayang?" Di akhir kata Roger sengaja berbisik lambat, menggoda Tamara.

"Halah bullshit! Udah, lanjut kerja sana."

"I swear, by. Semua aku lakuin buat kamu."

Tamara hanya bergumam untuk menanggapi. Namun tak urung bibirnya tertarik tinggi, membentuk segaris senyum indah. Rasanya seperti ada kunang-kunang yang berterbangan di dalam perutnya, mengantarkan perasaan geli juga hangat karena cahaya yang mereka uarkan.

"Gombal mulu bisanya. Mentang-mentang enam bulan nggak ketemu."

"Loh!"

Tamara berdecak, menunggu apalagi ucapan manis yang akan Roger katakan.

"Kok enam bulan? Bukannya kita udah nggak ketemu selama tiga tahun?"

"Nggak sekalian tiga abad?"

Kini giliran Roger yang tertawa. Pria itu bergumam-gumam tak jelas. Tamara juga bisa mendengar suara ketukan meja, kebiasaan Roger saat memikirkan sesuatu.

"Kenapa?" Tamara tak sabar menunggu tunangannya yang sepertinya malah melamun. Dia yakin, pasti ada yang ingin Roger katakan.

"Enggak—"

"Kenapa!" tanya Tamara lagi, lebih tegas. "Jangan kayak cewek, ih."

Roger tergelak, membuat Tamara mengerucutkan bibir. Untung tak ada Roger di sana, atau dia akan diberi 'hadiah' karena dianggap sengaja bertingkah imut. Sebuah kecupan lembut, atau bahkan hadiah yang lebih besar dari itu.

"By, kayaknya aku masih belum bisa pulang bulan ini. Sorry—"

Dengan mata memicing Tamara menginjak rem mendadak. Shakira di sampingnya hingga terdorong ke depan, beruntung Tamara sudah memasangkan sabuk pengaman.

"Maksud kamu?"

Roger menghela napas berat. "Ada problem di perusahaan, lebih besar dari yang kemarin. Mungkin aku baru bisa balik dua bulan lagi."

"Roger, kamu jangan bercanda. Nggak lucu tau nggak?" Tak tagi ada panggilan sayang, Tamara sengaja menekankan nama sang tunangan.

"Mar, sorry. Ini diluar kendali—"

"No! Nggak ada alasan apapun!" Tamara mematikan mesin mobil, tak ingin ada suara lain yang mengganggu keduanya.

"Tamara, serangan ke perusahaan kali ini lebih besar. Pihak dalam pun kayaknya ada yang terlibat. Kebocoran data, pembatalan projek—"

"Aku nggak tanya keadaan perusahaan kamu, Roger. Aku ngga peduli! Yang aku mau cuma kamu pulang tepat waktu!"

Perempuan cantik itu menatap tajam jalanan gelap di depannya, seakan-akan sosok laki-laki berwajah blasteran itu ada di sana.

"Tamara, aku nggak sedang minta izin dari kamu. Aku cuma ngasih tahu kalau aku nggak bisa pulang dan—"

"Pertunangan kita batal?" potong Tamara sekali lagi.

Saat Roger tak menyahut, perempuan itu tertawa sarkas.

"Shit! Terserah kamu!"

Earphone di telinganya Tamara lepas. Dia melemparnya ke depan keras sebagai pelampiasan. Shakira yang terlelap di sampingnya membuat Tamara tak bisa berteriak dengan leluasa. Perempuan itu hanya bisa berdecak, memejamkan mata erat.

Di tengah jalanan gelap itu, mobil Tamara berhenti asal di tengah jalan. Saat ada sebuah mobil hitam dengan kecepatan rendah berhenti di belakang mobilnya, Tamara sama sekali tak menyadari. Pria di balik kemudi tak menekan klakson dan langsung keluar dari mobil.

Dengan satu tangan berada di dalam kantung hoodie, pria bertopi hitam itu mendekati mobil Tamara. Dia mengetuk kaca mobil Tamara, membuat perempuan yang sedang memejam itu membuka mata kaget.

Alis Tamara menyatu menatap wajah yang setengahnya tersembunyi di balik topi. Dia melirik dari kaca spion, mendapati sebuah mobil dengan mesin menyala berada beberapa senti di belakang mobilnya.

"Buka," ucap suara serak pria itu.

Tamara meringis. Dia menarik napas panjang untuk menenangkan emosi dalam dirinya sebelum membuka pintu di sampingnya. Setelah melepas sabuk pengaman yang melilit tubuhnya, Tamara melangkah turun dari mobil.

"Maaf, Pak. Say—"

Tamara tak bisa menyelesaikan ucapannya. Tiba-tiba, pria itu menghantam tengkuknya keras, membuat Tamara terhuyung dan jatuh ke aspal basah bekas hujan. Kerutan muncul di kening saat pandangannya mulai berbayang.

Pria bertopi itu berjongkok di depan Tamara. Hal terakhir yang bisa Tamara lihat adalah senyum miring di bibir yang ujungnya terluka, sebelum kegelapan merenggut kesadarannya.

Lanjut Membaca

Daftar Isi 49 Hari Bersama Tawanan Sexy

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Hamil Anak Genderuwo
8.5
Kehidupan Esmeralda berubah drastis setelah suaminya kehilangan pekerjaan, memaksa mereka pindah ke desa asal sang suami. Di tempat baru ini, ia terus diteror oleh penampakan mengerikan sesosok Genderuwo. Di tengah ketakutan itu, penantian mereka akan keturunan akhirnya terwujud saat Esmeralda dinyatakan hamil. Namun, kegembiraan tersebut seketika sirna ketika ia mulai merasakan keanehan yang sangat janggal dan misterius pada bayi yang sedang dikandungnya.
Sampul Novel Istri Rahasia Sang Miliarder
9.4
Harapan Arabella Balqis untuk hidup penuh kasih sirna seketika sejak Leonard Abraham hadir demi membalas dendam. Pria itu menyusup ke kediamannya dan memanipulasi situasi, memicu fitnah yang membuat warga memaksa mereka menikah siri. Kini, Arabella yang sebatang kara terperangkap dalam ikatan pernikahan tanpa cinta yang menyiksa. Mampukah perempuan yatim piatu ini bertahan melewati segala kekejaman sang suami demi meraih kebahagiaan impiannya?
Sampul Novel Pengasuh Untuk Tiga Generasi
8.4
Dalam novel modern Pengasuh Untuk Tiga Generasi, seorang wanita terpaksa bekerja sebagai pengasuh di kediaman mewah Tuan Linclon demi menyokong keuangan keluarganya yang sulit. Namun, pekerjaan ini ternyata jauh lebih rumit dari dugaannya. Ia tidak hanya harus merawat sang majikan dan anaknya, tetapi juga ayah dari Tuan Linclon. Ketika ia berniat untuk pulang setelah menyelesaikan tugasnya, ayah dan anak itu justru menahannya dengan posesif, menolak membiarkannya pergi dari sisi mereka.
Sampul Novel Poligraf
8.4
Dalam dunia fiksi ilmiah remaja ini, sentuhan fisik menjadi pendeteksi kebohongan yang mematikan, membuat rahasia tidak lagi aman. Ketika batas antara kebenaran dan tipu daya mulai kabur akibat kekuatan misterius tersebut, sang tokoh utama harus menghadapi konsekuensi yang mengancam hidupnya. Apakah kejujuran mutlak ini akan membawa kedamaian yang dicari, atau justru menjadi pemicu kehancuran total bagi mereka?
Sampul Novel PRESDIR LUMPUH & GADIS MISKIN
9.2
Alex, seorang rektor sekaligus miliarder yang lumpuh akibat polio, memiliki sifat dingin karena enggan dikasihani. Hidupnya yang kaku berubah setelah mengenal Claire, mahasiswi miskin berlatar belakang kelam. Kehadiran Claire membawa kehangatan baru hingga Alex rela memberikan segalanya demi gadis itu. Namun, saat benih cinta tumbuh, Claire justru pergi demi mengejar impiannya dan membiarkan Alex menunggu dalam ketidakpastian. Akankah takdir menyatukan mereka kembali?
Sampul Novel Pria Bajingan Itu Ayah Anakku
9.0
Demi amanat Yani, mendiang sahabatnya, Ninda rela mengubah jalan hidupnya untuk merawat Leon yang masih berumur empat tahun. Selebgram ini berjuang keras demi masa depan anak tersebut. Namun, kedamaian mereka terancam ketika Fino Vasikal Gantara, pria berkuasa sekaligus ayah biologis Leon, datang merebut hak asuh. Walau mendapat ancaman dari Fino, Ninda tetap bertahan demi memenuhi janjinya. Ia siap melawan kekuatan sang miliarder demi melindungi Leon.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan