APKDock Logo
Sampul Novel The Jerk Billioanire

The Jerk Billioanire

9.6 / 10.0
Kehidupan kampus Naara mendadak gempar saat Aderaldo, seorang miliarder angkuh, menciumnya secara paksa. Tindakan lancang tersebut memicu kemarahan Xion yang langsung melayangkan pukulan ke perut Aderaldo untuk melindungi Naara. Bukannya gentar, pria kaya itu justru membalas dengan ancaman kehancuran bagi Xion. Aderaldo kemudian pergi begitu saja tanpa penyesalan, meninggalkan Naara yang syok, sementara ia sendiri malah menikmati sisa rasa manis dari kecupan sepihak tadi.

The Jerk Billioanire Bab 1

"Bagaimana dengan kuliahmu? Jika kau memerlukan sesuatu katakan saja dengan paman dan bibi, kami akan berusaha untuk memenuhinya," ucap Audrey pada Naara.

"Semuanya berjalan dengan baik, Bi. Aku tidak memerlukan apa pun untuk saat ini. Jangan khawatir, jika aku membutuhkan sesuatu, aku pasti akan mengatakannya padamu," kata Naara sambil mengelus pipi Audrey lembut.

Wanita paruh baya itu tersenyum mendengar ucapan sang keponakan yang sudah ia anggap anak kandungnya sendiri.

"Baiklah kalau begitu." Audrey tersenyum hangat pada gadis cantik di hadapannya.

Naara berdiri dari tempat duduknya, mengambil tas serta segera memakai flat shoes murahan kesayangannya yang ia beli lima bulan lalu dari hasil kerja paruh waktu di sebuah toko kue.

"Aku harus pergi sekarang. Aku ada janji bertemu dosenku. Aku mencintaimu, Bi." Naara mengecup kedua pipi Audrey dan bergegas pergi ke kampusnya.

Naara Kiva, gadis muda berusia dua puluh satu tahun yang saat ini sedang berkuliah di salah satu Universitas terbaik di kota Bonn, di utara Rhine-Westphaliaang, Jerman mengambil jurusan Art and Humanities, tahun ketiga. Gadis itu berdarah Australia dan Inggris yang kini sedang menetap di Jerman. Ia pindah ke Jerman dikarenakan kedua orang tuanya meninggal dunia kecelakaan pesawat dan akhirnya ia dirawat oleh bibi dan pamannya, Audrey dan Kenneth saat masih duduk di bangku Junior High School.

Beruntungnya Naara diterima di salah satu Universitas Negeri yang menggratiskan beberapa biaya kuliah untuk penduduk lokal di sana. Ia hanya perlu membayar biaya administrasi yang kecil, jumlah total untuk belajar di sebuah universitas. Naara juga merupakan salah satu mahasiswa berprestasi di kampusnya. Ia selalu bisa mempertahankan nilainya dengan baik. Meskipun begitu, ia termasuk mahasiswa yang sering berinteraksi dengan mahasiswa lainnya. Bukan kutu buku yang hanya fokus belajar tanpa menghiraukan lingkungan sekitarnya.

Biaya hidup yang cukup tinggi membuat Naara memanfaatkan waktu luangnya untuk bekerja paruh waktu di toko kue dan menjadi model freelance temannya.

"Naara ...," teriak seseorang dari arah belakang Naara.

Naara mendengar panggilan itu, tapi ia memilih untuk mengabaikannya. Sesekali menjahili orang lain sepertinya tidak masalah. Gadis itu terus melangkahkan kakinya.

Tepukan di pundaknya membuat langkah kaki Naara terhenti. Sebuah telapak tangan lebar menempel di pundaknya dan gadis itu menahan senyumnya.

"Oh, sial. Kau mengerjaiku ya? Teriakanku cukup keras, tidak mungkin kau tidak mendengarnya," gerutu pria berwajah oriental di samping Naara.

"Aku tidak mendengar apa pun," jawab Naara berakting dengan wajah tanpa ekspresi.

Pria itu menyugar rambut dan mengatur napasnya yang terengah-engah akibat berjalan tergesa untuk menyamai langkah kaki Naara.

Naara tersenyum tertahan melihat raut wajah kesal sahabat sekaligus pria yang ia sukai diam-diam. Gadis cantik itu menyodorkan beberapa lembar tisu pada Xion dari tasnya.

"Maaf, sudah membuatmu berkeringat pagi-pagi," ucap Naara dengar cengiran jahilnya.

"Sudah kuduga, kau menjahiliku," keluh Xion tersenyum sambil mengelap dahinya.

Tibra Xion, pria tampan berwajah perpaduan Chinese - Perancis, sahabat Naara sejak dari Senior High School. Xion adalah orang pertama yang berteman dengan Naara ketika pindah ke Jerman dan akhirnya mereka semakin akrab menjadi sahabat.

"Jadi, kau marah padaku?" tanya Naara pada Xion.

Pria itu menoleh lalu menggeleng pelan, "tidak. Aku hanya sedang malas berbicara denganmu karena kau usil sekali.”

"Ck! Pria tukang merajuk," ejek Naara dan gadis cantik berambut cokelat terang itu melangkah lebih cepat meninggalkan Xion sendirian.

Sepanjang perjalanan menuju kelas, Naara menangkap suara gadis-gadis kampusnya yang menyapa Xion dengan genit dari arah belakangnya. Tidak bisa dipungkiri, Xion merupakan salah satu pria yang diminati para wanita di kampusnya. Pria itu cukup ramah dan juga terkenal suka membantu sesama.

Rasa kesal dan cemburu menghinggapi relung hati Naara, tapi ia tidak bisa melakukan apa pun selain diam. Ia tidak ingin merusak hubungan persahabatan yang sudah terjalin bertahun-tahun.

Xion merangkul Naara dari belakang secara tiba-tiba membuat wanita itu terperanjat. Semburat merah muncul di pipi Naara. Gadis itu sesegera mungkin melepas rangkulan Xion dan memasang raut wajah datar, menutupi ekspresi yang sebenarnya.

Xion menunjukkan sekotak cokelat dalam genggamannya pada Naara.

"Cokelat dari fans?" tanya Naara dan Xion mengangguk.

"Aku tidak tega untuk menolaknya," kata Xion dan Naara hanya ber-oh ria menanggapinya.

"Kau sudah berbicara dengan bibimu mengenai study banding kita, yang ditawarkan oeh Mr. Kellan?" tanya Xion.

Naara duduk di salah satu kursi yang ada di koridor kampusnya sambil menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Xion.

"Aku belum mengatakan apa pun," kata Naara sambil memilin jarinya.

Pria bermata sipit itu dengan cepat mengambil tempat duduk di samping Naara. "Kenapa? Bukankah itu gratis? Kita tidak mengeluarkan sepeser pun uang untuk belajar di sana," kata Xion.

Naara memandang lekat Xion dengan ekspresi bingung dan penuh pertimbangan.

"Aku tidak ingin membebani paman dan bibiku untuk membiayai hidupku selama tiga bulan di Berlin. upah pemotretanku baru akan dibayar setelah dua bulan ke depan, minggu lalu aku sudah membelanjakan upah kerja paruh waktuku untuk membeli beberapa buku,” ungkap Naara.

Xion menggenggam telapak tangan Naara dan perlakuan itu membuat jantung Naara kebat kebit.

"Aku akan membantumu selama di Berlin. Tidak perlu risau, Naara sayang," ucap Xion lembut.

"Aku tidak ingin belajar sendirian di sana. Aku akan rindu berat jika berjauhan darimu. Aku akan membantumu berbicara dengan paman dan bibimu jika mereka tidak mengizinkanmu,"

"Di sana kita akan mendapatkan teman-teman baru serta pengalaman baru. Oh, ayolah bersemangat. Bukankah kau sangat bermimpi bisa mencicipi kuliah di kampus terbaik di Negara itu, apalagi ini secara gratis," bujuk Xion.

Naara berdecih. "Kau pintar sekali merayu dan menghasut orang. Bukankah kau ingin tebar pesona di sana?" sindir Naara.

Xion menarik hidung Naara membuat gadis itu mendelik kesal. "Kau cemburu? Kau takut tersaingi? Oh, come on, kau selalu berada di tempat paling istimewa di hatiku, Naara sayang,"

"Ucapanmu menjijikkan sekali.” Naara pura-pura bergidik geli padahal di dalam hatinya senang bukan kepalang mendengar ucapan Xion.

"Jadi, kau mau ‘kan, terima tawaran itu?" rengek Xion.

Naara tertawa geli melihat tingkah konyol Xion yang kekanakan padanya.

"Kita lihat saja nanti," ucap Naara akhirnya.

Setelah berbicara dan berdiskusi panjang dengan paman dan juga bibinya. Naara memutuskan untuk menerima tawaran yang diberikan Mr. Kellan.

Di luar dugaan, keluarganya itu begitu antusias dan semangat mendengar jika Naara mendapatkan kesempatan langka itu. Mereka segera pergi ke Berlin dengan mengendarai mobil Kenneth, paman Naara dan mencari tempat tinggal untuk Naara selama di Berlin nanti. Meskipun bukan sebuah apartemen mewah yang disewakan, melainkan hanya sebuah flat kecil sederhana, tapi cukup membuat Naara bahagia serta begitu berterima kasih.

Frei Universitat Berlin, menjadi universitas terpilih yang akan menjadi tempat belajar Naara dan Xion selama tiga bulan ke depan. Sungguh bagi Naara ini adalah kesempatan emas yang tidak bisa dirinya sia-siakan. Untuk bisa masuk ke universitas ini dengan jalur beasiswa tentu harus melewati perjalanan yang sulit. Sedangkan kali ini, dirinya diberikan kesempatan gratis oleh Universitasnya untuk merasakan pendidikan di sana. Bagaikan mimpi yang jadi kenyataan.

"Wow ... rasanya seperti mimpi bisa menginjakkan kakiku kemari. Amazing place!" seru Naara antusias saat memasuki gedung kampus yang cukup besar dan megah.

"Kenapa harus tiga bulan kita di sini. Seharusnya kita berada di sini sampai lulus saja. Aku akan terlihat begitu keren pastinya," ucapan Xion membuat Naara memukul lengan Xion cukup keras.

"Dengar, ini semua lebih dari cukup untuk kita berdua. Jadi, simpan saja keluhanmu itu, pria tukang tebar pesona," kata Naara memperingati Xion.

"Baiklah, Naara sayang," ucap Xion yang lagi-lagi membuat jantung Naara berdebar tak karuan.

Mereka berdua berjalan mengikuti arahan sebuah peta kampus yang dipegang oleh Naara. Akhirnya mereka sampai di perpustakan sesuai arahan dari kampus asalnya.

Keduanya ternyata di sambut baik oleh salah seorang mahasiswi yang sudah menunggu kedatangan keduanya. Seorang gadis cantik berambut kuning kecokelatan dan memiliki lesung pipi melemparkan senyum ramah lalu menghampiri Naara dan juga Xion.

"Hai ... kenalkan, aku Stephanie, kalian bisa panggil aku Hanie. Kalian berdua Naara Kiva dan Tibra Xion, bukan?" Mahasiswi cantik itu memperkenalkan dirinya.

Naara segera menjabat tangan Hanie sambil tersenyum.

"Halo, aku Naara Kiva. Kau bisa memanggilku Naara. Senang berkenalan denganmu, Hanie," ucap Naara.

"Aku Tibra Xion, panggil aku Xion. Senang berkenalan denganmu.” Xion ikut memperkenalkan diri.

"Aku mahasiswa yang dipilih oleh pihak kampus untuk mengajak kalian berdua berkeliling, memperkenalkan kampus ini," jelas Hanie.

Mereka bertiga memulai mini tour di kampus itu. Hanie menjelaskan dengan detail setiap sudut kampus dengan semua informasi yang ia ketahui. Ia berharap Naara maupun Xion tidak tersesat nantinya jika mereka berjalan sendiri untuk mencari ruangan belajar.

Kampus itu begitu luas dan sedikit membingungkan untuk orang baru seperti Naara dan Xion, tapi sebisa mungkin mereka mengingat-ingat semua tempat di sana.

Setelah hampir empat puluh menit mereka berkeliling, akhirnya Naara menginterupsi ucapan Hanie.

"Hanie, apa ada toilet di sekitar sini?" tanya Naara membuat Hanie dan juga Xion berhenti sejenak.

"Oh, tentu saja. Letaknya tidak jauh dari sini. Kau bisa berjalan melewati dua ruangan itu dan belok kiri. Apa kau ingin aku temani saja?" jawab Hanie pada Naara.

"Lebih baik kau temani saja Naara. Dia sering tersesat bahkan di kampus Bonn saja, dia sering tersesat. Dia itu suka lupa ingatan," canda Xion yang dihadiahi pukulan kecil dari Naara pada pundak pria itu.

"Baiklah, kalau begitu kami ke toilet dulu." Hanie mengapit lengan Naara seakan mereka sudah berteman lama tanpa canggung.

"Jangan ke mana-mana, duduk manis di sini saja. Aku dan Hanie hanya ke toilet sebentar dan ingat berhentilah tebar pesona.” Naara memberi peringatan pada Xion yang membuat Hanie tertawa.

Toilet mahasiswa di sana cukup luas, besar, dan sangat bersih membuat Naara berdecak kagum saat kakinya melangkah masuk ke dalam. Jarak antara wastafel dan juga bilik ruang toilet cukup lebar.

"Toilet terbaik yang pernah aku lihat," gumam Naara dan Hanie hanya tersenyum mendengarnya.

"Aku akan menunggumu di sini," kata Hanie sambil mencuci tangan di wastafel dan Naara berjalan menuju pintu toilet.

Namun, belum sampai kakinya melangkah masuk ke dalam bilik salah satu toilet, alangkah terkejutnya ia menemukan pemandangan tidak senonoh yang membuat matanya ternodai.

Seorang wanita sedang berjongkok di depan tubuh jangkung seorang pria. Tidak sengaja mata pria itu dan Naara bersitatap. Pria itu hanya berdiri menyandar di dinding dengan menampilkan raut wajah bosan. Naara menggeleng dan mundur perlahan sambil menormalkan kinerja jantungnya yang berdetak kuat bahkan jika bisa melompat, jantungnya sudah keluar dari tempatnya.

Pria itu menyingkirkan kepala wanita yang sedang berjongkok di depannya dan mengambil tisu serta menutup cepat resleting celana jeans-nya saat Naara berjalan tergesa ingin meninggalkan tempat itu.

"Pria sinting!" umpat Naara dan Hanie terkejut saat Naara menariknya paksa ke luar toilet.

"Hei ... keep calm, Naara. Ada apa sebenarnya?" Hanie berganti menarik paksa lengan Naara agar mereka berhenti sejenak. Wajah Naara memerah menahan kekesalannya.

"Di dalam sana ada seorang pria. Oh yang benar saja. Dan dia sedang bertindak mesum dengan wanitanya. Ya Tuhan, mataku ternodai. Sialan sekali," jelas Naara dengan sedikit gemetar.

Hanie menoleh ke belakang dan mendapati seorang pria yang begitu populer di Berlin sedang menatapnya, bukan! Menatap Naara sepertinya yang sudah mengganggu aktivitasnya.

"Aderaldo ..." gumam Hanie.

"Kau melihat pria itu?" bisik Hanie dan Naara menoleh ke belakang mendapati seorang pria yang ia lihat di dalam toilet tadi dan sesegera mungkin Naara membuang wajahnya menoleh arah lain.

"Iya. Pria mesum, sialan!" umpat Naara lagi.

"Jangan sampai kau berurusan dengannya. Sebisa mungkin lebih baik kau abaikan saja, apa yang kau lihat saat dia melakukan aktivitas apa pun itu," nasihat Hanie pada Naara.

"Memangnya siapa dia?" tanya Naara polos.

"Kau tidak tahu siapa dia? Kau yakin? Aku pikir dia orang yang terkenal bahkan lebih terkenal dirinya dibanding aktor top negara ini.” Naara menggeleng tidak paham.

"Dia Aderaldo Cetta Early. Mahasiswa yang baru saja lulus Magister International Business Management yang sepertinya akan melanjutkan ke study S3 dan sekaligus seorang pengusaha muda yang populer. Kekayaannya berlimpah ruah, ditambah fisik yang mendekati kata sempurna. Banyak sekali wanita yang dekat dengannya, hanya saja tidak ada yang bertahan lebih dari tiga hari. Ia tidak suka dibantah dan juga kasar. Untuk itu, lebih baik menghindarinya dibanding mencari perkara dengannya," jelas Hanie detail.

Naara menggeleng tidak percaya. "Seperti tidak ada pilihan pria lain saja,"

"Banyak, tapi tidak ada yang lebih tampan, pintar dan kaya seperti Aderaldo," jawab Hanie.

"Apa kau juga salah satunya?" tanya Naara.

"Dulu ya, sekarang tidak lagi. Karena aku yakin, aku bukan tipe wanita pilihannya," kata Hanie santai.

"Kau harus berhati-hati agar tidak ikut jatuh cinta padanya." Hanie memperingatkan Naara.

"Hah? Aku? Tidak akan. Aku tidak akan jatuh cinta padanya. Ada pria lain yang jauh lebih menarik dibanding dia. Pria mesum itu sama sekali jauh dari tipeku," jawab Naara.

"Hmm ... benarkah? Apa karena kau sudah memiliki Xion, jadi kau berbicara seperti ini," tebak Hanie.

Naara salah tingkah dan sedikit gugup, sedangkan Hanie menyadari perubahan ekspresi Naara.

"Mari kita lupakan pembicaraan ini. Xion pasti sudah bosan menunggu kita." Naara mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.

Hanie memakluminya dan mengangguk. Keduanya kembali berjalan menuju tempat mereka meninggalkan Xion sendirian.

Pria bertatapan mata tajam yang aktivitasnya terganggu tadi, berdiri menyandar di dinding menatap punggung wanita yang menurutnya cocok untuk menjadi target mainan barunya.

"Wajah yang tidak pernah kulihat sebelumnya dan sepertinya bisa kujadikan mainan baruku. Mari bersenang-senang nanti," gumam Aderaldo dengan senyum miring di wajah tampannya.

Lanjut Membaca

Daftar Isi The Jerk Billioanire

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel I Love My Mother's Ex Lover
8.0
Song Dasom tak pernah menyangka cintanya selama tujuh belas tahun pada aktor Yoo Junsu akan berbalas. Namun, di balik hubungan manis mereka, Junsu menyimpan motif terselubung. Ia mendekati Dasom hanya karena wajahnya sangat mirip dengan sang mantan kekasih, yang rupanya adalah ibu kandung Dasom. Begitu rahasia kelam ini terbongkar, Junsu harus bersujud memohon maaf atas kesalahannya. Kini, di tengah rasa sakit hati, keduanya mencoba bertahan dan menyembuhkan luka bersama.
Sampul Novel Istri Kesayangan Tuan Mafia
9.5
Kepergian mendadak Reynand saat istrinya hamil berujung kepedihan. Setahun kemudian, sang bos mafia kembali dan mendapati kabar bahwa Keisha telah dipersunting oleh mantan kekasihnya. Didorong rasa murka, Reynand bersumpah membalas dendam pada Reza serta Bram, mertuanya sendiri. Di tengah terbongkarnya berbagai konspirasi masa lalu, ia bertekad melindungi sang istri dari ancaman siapa pun, termasuk dari pihak keluarganya sendiri.
Sampul Novel Malam Panjang di Bus Terakhir
9.2
Malam mencekam di dalam bus menjadi awal mimpi buruk bagi seorang wanita. Empat pria yang merupakan rekan kerja suaminya menyudutkan dan menyerangnya secara brutal di atas kursi kendaraan yang melaju. Di bawah ancaman kekerasan fisik yang keji, korban tidak berdaya menghadapi tindakan paksa dari para pelaku. Peristiwa traumatis ini memicu misteri kelam dan aksi bertahan hidup yang menegangkan, mengungkap sisi gelap dari orang-orang terdekat yang seharusnya bisa dipercaya.
Sampul Novel Mengejar Berondong
8.1
Di usianya yang hampir berkepala tiga, Xavera Grizelle masih saja melajang karena standarnya yang terlalu tinggi dalam mencari pria tampan, kaya, dan sempurna. Namun, prinsip kaku itu goyah setelah ia bertemu Tezza, seorang mahasiswa baru yang baru lulus sekolah menengah atas. Yakin bahwa pemuda tersebut adalah jodoh sejatinya, Xavera pun bertekad melakukan apa saja demi mendapatkan cinta Tezza. Akankah perjuangan mengejar sang berondong berakhir bahagia?
Sampul Novel Tergoda Sahabat Mama
7.9
Brian, pemuda berusia dua puluh tahun, jatuh hati pada Aurora, sahabat karib ibunya yang terpaut usia delapan belas tahun lebih tua. Walau sempat ditolak, kegigihan Brian berhasil meluluhkan hati Aurora hingga keduanya nekat menjalin hubungan asmara secara rahasia. Sialnya, hubungan tersembunyi ini akhirnya terbongkar dan memicu kemarahan besar sang ibu. Cinta beda generasi mereka kini berada di ujung tanduk karena mustahil mendapatkan restu dari keluarga.
Sampul Novel Terjerat Gairah Sang Lady Boss
9.6
Jesslyn Margaretha Amber, pengusaha sukses asal New York berjuluk Lady Boss, mengalami kehancuran hati akibat dikhianati kekasihnya. Di ambang keputusasaan, ia memacu mobilnya dengan liar hingga dikejar oleh polisi lalu lintas bernama Louis Damian. Kejadian tak terduga itu justru memicu aksi nekat Jesslyn. Ia mendadak mencium Louis dan langsung mengajukan lamaran pernikahan. Akankah Louis bersedia menerima ajakan gila dari wanita asing yang baru saja ia temui di jalanan tersebut?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan