APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terlambat untuk Pengampunannya

Terlambat untuk Pengampunannya

Hidup Alya hancur ketika tunangannya membatalkan pernikahan demi menikahi Bella, kembarannya, bahkan menuntut donor ginjal untuk wanita itu. Akibat fitnah masa lalu Bella, keluarga mengusir Alya tanpa tahu bahwa identitas Alya sebagai pendonor sang ayah dahulu telah dicuri Bella. Kini, dengan satu ginjal tersisa dan vonis sisa usia beberapa bulan saja, Alya yang berada di ambang kematian akhirnya terpaksa menyetujui tuntutan fatal tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sudut Pandang Alya Kirana:

"Tidak."

Kata itu terdengar pelan, tapi menggantung di udara di antara kami, berat dan final. Semua orang di keluarga Kirana berharap aku akan mendonorkan ginjalku. Mereka melihatnya sebagai tugasku, penebusan dosaku.

Mereka tidak tahu aku hanya punya satu ginjal tersisa.

Rahasia itu adalah batu yang dingin dan keras di perutku. Sebuah kebenaran yang kubawa sendirian selama lima tahun, sejak aku diam-diam menyelamatkan nyawa ayah kami, hanya untuk membuat Bella mencuri pujian, kemuliaan, dan semua cinta yang menyertainya.

Wajah Bima remuk. Bukan kemarahan, belum. Itu adalah kekecewaan yang mendalam, tatapan seorang pria yang harapan terakhirnya baru saja padam.

Reaksi keluargaku jauh lebih tidak lembut.

"Setelah semua yang kami berikan padamu?" jerit Ibu ketika Bima menyampaikan berita itu. Wajahnya, yang biasanya tenang, berkerut karena amarah. "Bella menyelamatkan nyawa Ayahmu! Dia memberikan sebagian dari dirinya! Dan kamu tidak bisa melakukan hal yang sama untuknya? Dasar anak egois, tidak tahu berterima kasih!"

Aku mencoba berbicara, untuk memberitahu mereka kebenarannya, tetapi mereka tidak mau mendengarkan. Ayah berdiri di sampingnya, ekspresinya muram. Ginjal yang berdetak di dalam tubuhnya, yang telah kuberikan padanya, adalah kesaksian bisu atas pengorbanan yang mereka tolak untuk lihat.

"Keluar," kata Ayah, suaranya datar dan tanpa kehangatan sedikit pun. "Jika kamu tidak mau menjadi bagian dari keluarga ini, maka kamu tidak pantas berada di rumah ini."

Aku diusir. Lagi.

Malam itu, Bima menemukanku di tangga gedung apartemenku yang kosong. Dinginnya malam telah meresap ke tulang-tulangku, tapi aku hampir tidak merasakannya. Aku sudah mati rasa.

"Pilih, Alya," katanya, suaranya parau karena kelelahan. Tidak ada lagi janji, tidak ada lagi deklarasi cinta. Hanya ultimatum yang mentah dan buruk. "Dia, atau kamu."

Rasa tenang yang aneh menyelimutiku. Aku sedang sekarat. Penyakit degeneratif langka yang diam-diam menggerogoti tubuhku semakin cepat. Dokter memberiku waktu berbulan-bulan, mungkin setahun. Apa lagi yang penting sekarang?

"Baik," kataku, suaraku sehampa masa depanku. "Akan kulakukan."

Kepala Bima terangkat. Kaget, lalu gelombang kelegaan yang luar biasa membanjiri wajahnya. "Kamu mau? Al, kamu serius?"

Dia merobek surat pembatalan pertunangan menjadi berkeping-keping, membiarkan confetti dari janji-janji kami yang hancur bertebaran ke tanah. "Ayo," katanya, menarikku berdiri, cengkeramannya mendesak. "Kita ke rumah sakit. Sekarang."

Orang tuaku sudah ada di sana, mengerumuni tempat tidur Bella seperti penjaga. Ketika mereka melihatku, wajah mereka adalah campuran kecurigaan dan harapan putus asa.

"Tanda tangani formulir persetujuan," tuntut Ayah, menyodorkan papan klip ke tanganku. Jari-jarinya gemetar. Dia tidak mempercayaiku. Dia pikir aku akan mundur.

Aku menandatangani namaku tanpa membaca sepatah kata pun. Baru setelah itu ketegangan di bahu mereka mulai mereda.

"Kamu akhirnya dewasa, Alya," kata Ayah, menepuk bahuku dengan kasih sayang yang canggung dan tidak biasa. "Melakukan hal yang benar. Jangan khawatir, Ibu dan Ayah sudah bicara dengan pengacara. Bella akan mendapatkan sebagian besar warisan, tentu saja, atas pengorbanannya. Tapi kami akan memastikan kamu juga diurus."

"Aku tidak butuh," kataku pelan. "Berikan semuanya padanya."

Ibu mendengus. "Jangan konyol. Omong kosong apa yang kamu bicarakan?"

Aku tidak menjawab. Gelombang pusing menyapuku, dan tepi koridor rumah sakit yang terang benderang menjadi kabur. Pikiranku melayang kembali ke lima tahun lalu, ke rumah sakit lain, operasi lain. Hari ketika Bella memasukkan obat tidur ke kopi pagiku, menyebabkan aku ketiduran dan melewatkan jadwal transplantasi untuk ayah kami. Dia pergi menggantikanku, kata mereka. Dia muncul sebagai pahlawan, membawa bekas luka buatan yang dangkal di perutnya sebagai bukti pengorbanannya.

Ketika aku bangun beberapa jam kemudian, pusing dan bingung di kamar losmen murah yang telah dia pesan untukku, narasi itu sudah terukir di batu. Aku adalah putri egois yang telah meninggalkan ayahnya yang sekarat di saat dia paling membutuhkan.

Dia telah meracuni pikiran mereka terhadapku, setetes demi setetes, selama bertahun-tahun. Setiap tindakan kebaikan kecil yang kutawarkan diputarbalikkan menjadi taktik untuk mencari perhatian. Setiap pencapaian diremehkan. Aku menjadi hantu di keluargaku sendiri, pengingat yang terus-menerus mengecewakan akan pengkhianatan yang tidak pernah terjadi.

Dan sekarang, mereka semua berkumpul di sekelilingnya. Ibuku, membelai rambutnya. Ayahku, memegang tangannya. Bima, Bima-ku, menatapnya dengan kelembutan yang dulu hanya untukku.

Aku berdiri sendirian di sudut ruangan, orang luar, sarana untuk mencapai tujuan. Mereka tidak melihatku. Mereka hanya melihat organ yang kubawa, kunci untuk menyelamatkan putri yang benar-benar mereka cintai.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CINTA GILA KENAN
9.7
Kenan, pebisnis dingin tanpa ampun, terusik saat Yezi kembali ke hidupnya. Merasa diabaikan oleh wanita blasteran Jepang-Indonesia itu, Kenan menuntut ganti rugi tak masuk akal pada ayah Yezi. Tak gentar, Yezi membalas ancaman tersebut menggunakan rekaman rahasia dari tiga tahun lalu. Di balik arogansi dan persaingan bisnis yang sengit, ada rahasia besar masa lalu yang mengikat mereka berdua.
Sampul Novel Diperbudak Nafsu
9.5
Mengusung genre romansa modern dewasa, kisah ini menyoroti perjalanan hidup penuh gairah dari seorang tokoh utama bernama Fahrizal. Cerita dimulai sejak ia berumur tiga belas tahun, saat bakat dan keahlian luar biasanya dalam hal intim mulai terlihat. Diwarnai deretan adegan eksplisit yang sensual, pembaca akan diajak menyaksikan bagaimana hasrat mendalam Fahrizal terus berkembang seiring berjalannya waktu melalui alur narasi yang berani.
Sampul Novel JALAN PULANG
8.0
Dua puluh tahun merantau hingga sukses, seorang wanita karier memutuskan kembali ke kampung halamannya. Keputusan ini membawanya bernostalgia dengan kenangan pahit masa lalu, mulai dari luka masa kecil hingga cinta pertamanya. Di tanah kelahirannya, ia dipertemukan lagi dengan sang mantan kekasih. Kini, ia harus menghadapi konflik batin dan mengambil keputusan krusial demi masa depannya. Ini adalah kisah perjuangan emosional untuk berdamai dengan sejarah hidupnya sendiri.
Sampul Novel JANGAN NGAKU CANTIK
8.9
Kehidupan Flower Violetta, ibu tunggal menawan dari si kembar Alana dan Alena, mendadak rumit. Ia terjebak dalam hubungan gelap bersama dua pria, Andra dan Martin. Cinta segitiga ini memicu konflik besar, bahkan Flower harus menghadapi kemarahan para istri pelanggannya, termasuk Puspitasari. Di tengah kemelut perselingkuhan yang membara ini, Flower kini harus memilih siapa di antara Andra atau Martin yang paling layak menjadi sosok ayah bagi kedua putrinya.
Sampul Novel Kembalinya Sang Penguasa
9.0
Insiden ledakan rumah yang menewaskan sepasang suami istri membuat polisi dan militer gempar. Kehilangan putri mereka menjadi pertanda bangkitnya Red Everlasting Dragon, sang penguasa legendaris yang ditakuti dunia. Ia memutuskan turun gunung untuk menuntut balas atas kematian orang tuanya sekaligus menyelamatkan adiknya yang diculik. Dengan kemurkaan yang membara, ia bersumpah melibas semua pelaku dan siap mengguncang tatanan dunia dari timur hingga barat.
Sampul Novel MALAM TERAKHIR DI KOTA
8.7
Menjelang hari pernikahan, seorang pria merayakan malam terakhirnya sebagai lajang bersama sahabat terdekat. Namun, pesta tersebut berubah tegang ketika rahasia kelam masa lalu yang lama terpendam mendadak terbongkar. Kebenaran tersembunyi ini kini mengancam masa depan yang telah ia rancang. Di tengah gemerlap kota, ikatan persahabatan mereka diuji secara ekstrem, sementara rencana pernikahannya terancam batal akibat badai konflik yang tak terduga.