APKDock Logo
Sampul Novel JALAN PULANG

JALAN PULANG

8.0 / 10.0
Dua puluh tahun merantau hingga sukses, seorang wanita karier memutuskan kembali ke kampung halamannya. Keputusan ini membawanya bernostalgia dengan kenangan pahit masa lalu, mulai dari luka masa kecil hingga cinta pertamanya. Di tanah kelahirannya, ia dipertemukan lagi dengan sang mantan kekasih. Kini, ia harus menghadapi konflik batin dan mengambil keputusan krusial demi masa depannya. Ini adalah kisah perjuangan emosional untuk berdamai dengan sejarah hidupnya sendiri.

JALAN PULANG Bab 1

Karina memandang keluar jendela apartemennya di lantai 20, melihat gemerlap lampu kota yang tak pernah tidur. Malam di Jakarta selalu sibuk, sama seperti hidupnya. Telepon di mejanya berdering, memecah keheningan sesaat yang jarang ia temui. Dengan enggan, ia meraih ponsel yang tergeletak di antara tumpukan dokumen kontrak yang harus ia selesaikan. Nama di layar membuat hatinya berdebar-Ibu.

"Ya, Bu?" suara Karina terdengar kaku. Ia sudah lama tidak berbicara dengan ibunya, percakapan mereka sering terasa formal, nyaris seperti orang asing yang tidak lagi saling mengenal.

"Karina... Ibu sakit," suara di seberang telepon terdengar rapuh, penuh dengan kerinduan dan keletihan. "Dokter bilang... mungkin waktunya tidak banyak lagi."

Seketika, ruang kerja yang penuh sesak dengan dokumen dan laptop terasa sempit. Kata-kata ibunya menggantung di udara seperti beban tak terlihat yang tiba-tiba menekan dadanya. Karina memejamkan mata, mencoba mengendalikan perasaannya. Sudah dua puluh tahun ia meninggalkan kampung halaman, dua puluh tahun sejak ia memutuskan untuk mengejar mimpi di kota besar dan tidak menengok ke belakang.

"Ibu... sakit apa?" tanya Karina setelah jeda yang panjang. Suaranya sedikit bergetar meskipun ia berusaha tetap tenang.

"Kanker. Sudah stadium lanjut," jawab ibunya, kali ini lebih pelan, seolah-olah berbicara tentang penyakit itu membuatnya semakin lemah. "Kamu... kapan pulang?"

Kata-kata itu menusuk Karina. Pulang. Kata yang terasa begitu asing baginya. Sudah dua dekade berlalu sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di rumah lamanya di desa kecil itu. Desa yang penuh dengan kenangan yang ingin ia lupakan-tentang ayahnya yang keras, ibunya yang lemah, dan Arman... cinta pertamanya yang hilang tanpa jejak.

"Aku tidak tahu, Bu," Karina menjawab dengan suara datar. "Aku... banyak pekerjaan."

"Kamu harus pulang, Karina. Ibu ingin melihatmu sebelum...," suara ibunya terputus, hanya terdengar isak tangis yang ditahan. Karina menutup matanya erat, mencoba melawan perasaan bersalah yang mulai merayapi hatinya.

Setelah menutup telepon, Karina melemparkan ponselnya ke meja dengan frustrasi. Kepalanya penuh dengan pikiran yang saling bertabrakan. Bagaimana jika ibunya benar-benar tidak memiliki banyak waktu lagi? Namun, pulang berarti menghadapi semua yang selama ini ia coba lupakan-keluarga, kenangan buruk, dan Arman.

Langkah-langkah Karina terasa berat saat ia berjalan menuju balkon apartemennya. Angin malam yang sejuk menyapu wajahnya, sejenak menenangkan pikirannya. Dari balkon, ia bisa melihat seluruh pemandangan kota Jakarta yang gemerlap di bawah sana. Kota yang telah memberinya segalanya-kesuksesan, karier, kekayaan-tetapi juga merampas satu hal yang paling mendasar: rumah.

Karina memejamkan matanya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak karuan. Selama bertahun-tahun, ia berhasil menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan, dalam rutinitas yang tak pernah berhenti, seolah-olah semua itu bisa menghapus masa lalu. Tetapi, panggilan dari ibunya membangunkan sesuatu yang sudah lama ia coba kubur. Dan kini, ia dihadapkan pada keputusan yang sulit.

Apakah ia siap kembali ke tempat yang telah meninggalkan bekas luka di hatinya? Tempat di mana ia kehilangan banyak hal-dan mungkin, menemukan kembali bagian dari dirinya yang hilang?

Dengan napas panjang, Karina akhirnya membuka matanya. Mungkin, sudah waktunya untuk pulang.

Karina memandangi pemandangan kota yang gemerlap di hadapannya, mencoba meredakan gejolak perasaan di dalam hatinya. Ia tahu bahwa keputusan untuk kembali ke kampung halaman tidaklah mudah.

Jakarta telah menjadi rumahnya selama dua puluh tahun terakhir-kota ini adalah tempat di mana ia membangun karier gemilang sebagai salah satu eksekutif perempuan paling berpengaruh di perusahaannya. Setiap sudut kota ini menyimpan kenangan tentang ambisinya, kerja kerasnya, dan kesuksesannya. Namun, ada sesuatu yang tetap tidak terisi dalam dirinya.

Kenangan tentang masa lalu, terutama tentang Arman, muncul seiring dengan panggilan telepon dari ibunya tadi. Arman adalah cinta pertamanya, seseorang yang selalu berhasil membuat hatinya berdebar hanya dengan satu senyuman. Mereka pernah merencanakan masa depan bersama, namun semua itu runtuh dengan tiba-tiba. Ia masih ingat hari ketika ia memutuskan untuk pergi, meninggalkan Arman dan seluruh kehidupannya di kampung, untuk mengejar impian di kota besar. Ketika itu, Karina bertekad tidak akan menoleh ke belakang, tetapi sekarang ia tidak bisa menghindari kenyataan bahwa masa lalu selalu membayangi dirinya.

Tiba-tiba, ponselnya berbunyi lagi. Kali ini bukan dari ibunya, melainkan dari Andi, asistennya yang setia.

"Karina, aku butuh konfirmasi untuk rapat besok pagi. Ada klien besar yang ingin bertemu," suara Andi terdengar terburu-buru di ujung sana.

Karina menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong. Selama bertahun-tahun, ia selalu mengutamakan pekerjaannya. Setiap jadwal rapat, presentasi, dan proyek besar adalah prioritas yang tidak bisa diganggu gugat. Namun sekarang, untuk pertama kalinya, ia merasa tidak yakin. Haruskah ia tetap tinggal dan menjalankan rutinitas seperti biasa, atau... apakah sudah waktunya untuk memprioritaskan keluarganya yang selama ini ia abaikan?

"Karina? Kamu dengar aku?" tanya Andi, suaranya terdengar sedikit khawatir di ujung sana.

Karina menghela napas panjang sebelum menjawab. "Ya, Andi, aku dengar. Tapi... besok aku tidak bisa datang."

"Maaf?" tanya Andi terkejut. "Apa kamu bilang tidak bisa datang?"

"Ya, aku harus pulang ke kampung halamanku. Ibuku sakit," jawab Karina dengan tegas, meski ada perasaan aneh yang menyelubungi dirinya saat ia mengucapkan kata-kata itu. Pulang-kata yang dulu terasa begitu asing kini mulai memiliki arti lain baginya.

"Apakah ada sesuatu yang bisa aku bantu?" tanya Andi dengan nada khawatir.

"Tidak, Andi. Aku hanya butuh waktu. Tolong urus semuanya di sini sementara aku pergi, ya?"

Setelah menutup telepon, Karina merasa berat di dadanya berkurang sedikit. Keputusan untuk pulang akhirnya diambil, meskipun perasaan campur aduk masih menggelayuti pikirannya. Ia menyadari bahwa kepulangannya bukan hanya tentang ibunya yang sakit, tetapi juga tentang menghadapi luka yang selama ini ia hindari.

Malam semakin larut, dan Karina tahu bahwa perjalanan pulangnya nanti akan jauh lebih dari sekadar fisik. Ini akan menjadi perjalanan batin yang panjang-mungkin bahkan lebih menantang daripada perjalanan kariernya yang selama ini ia jalani di Jakarta. Ia akan menghadapi kembali kampung kecil yang dulu ia tinggalkan, tempat di mana kenangan masa kecil dan trauma lama menunggu untuk dibuka kembali.

Ia tahu, tidak ada jalan mudah untuk menghadapi masa lalu. Tapi satu hal yang pasti: ia harus pulang.

Dengan keputusan itu, Karina mulai membereskan barang-barangnya. Setiap gerakan terasa lambat, seolah-olah ia sedang mempersiapkan dirinya untuk sesuatu yang lebih besar dari sekadar perjalanan kembali ke kampung halaman. Bagasi emosional yang ia bawa jauh lebih berat daripada koper yang nanti akan ia angkut ke bandara.

Ketika malam semakin larut, Karina berdiri di jendela, memandang lagi pemandangan kota yang selama ini menjadi dunianya. Sebuah pertanyaan terlintas di benaknya: apakah ia benar-benar siap untuk menghadapi semua yang telah ia tinggalkan? Apakah ia siap untuk melihat Arman lagi, dan apakah ia mampu memaafkan dirinya sendiri atas keputusan yang pernah ia buat?

Besok pagi, Jakarta akan terbangun seperti biasa, tetapi Karina akan pergi. Dan ia tidak tahu apa yang menantinya di sana-di tempat yang dulu ia sebut rumah.

Bersambung...

Lanjut Membaca

Daftar Isi JALAN PULANG

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Aku Tak Punya Siapapun Lagi
8.3
Vonis gagal hati akut menyisakan waktu tiga hari bagi protagonis. Namun, David, suaminya, malah memberikan kuota uji klinis terakhir kepada Emma, adik angkatnya. Dianggap "lebih pantas hidup", ia pun menghentikan pengobatan dan meminum pereda nyeri dosis tinggi yang fatal. Sebelum ajal menjemput, ia menyerahkan perusahaan perhiasan, menyetujui perceraian agar David menikahi Emma, hingga membiarkan putrinya diasuh Emma. Saat keluarganya menganggap semua pengorbanan itu wajar, ia menanti kehancuran mereka setelah kematiannya tiba.
Sampul Novel Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
8.7
Demi menyelamatkan Adrian dari ledakan, punggungku hancur terbakar. Empat tahun aku merawatnya saat koma, tetapi setelah sadar, ia malah menyatakan cinta pada Stella di depan publik. Mereka menghinaku, bahkan Adrian menuduhku berbohong saat diserang preman. Baginya, aku hanya beban. Puncaknya, ia membuangku di jalan tol saat hari pernikahan demi Stella. Kini, aku memilih pergi meninggalkan segalanya dan menuju bandara.
Sampul Novel I Fall Endlessly
8.1
Kasih sayang mendalam sebagai ibu memaksa Neva Zetrix mengesampingkan harga dirinya demi melindungi sang anak yang tak berdosa. Setiap hari, ia harus tunduk dan bersikap rendah hati di hadapan Brian Anderson yang sangat dominan. Neva terpaksa bertahan hidup di tengah tekanan batin yang begitu menyiksa. Hubungan yang penuh ketimpangan ini menuntut pengorbanan luar biasa dari Neva, yang rela melakukan apa saja demi keselamatan buah hatinya tercinta.
Sampul Novel KhaRisma
9.0
Perpisahan yang telah terjadi meninggalkan penyesalan mendalam dan duka yang tak bisa diubah oleh air mata. Kehadiranmu dahulu telah memberi warna, mengajarkan arti kesetiaan serta pengorbanan yang tulus. Meski hubungan ini membawa rasa sakit dan kesedihan, bersamamu pula kebahagiaan sejati berhasil kutemukan. Kini, jika saja waktu dapat berputar kembali, keinginan terbesarku hanyalah mengulang setiap detik berharga yang pernah kita lalui bersama.
Sampul Novel Kurang dari tiga
9.2
Hubungan cinta Raka dan Cherry kini terancam retak akibat kehadiran Nadia. Raka merasa terus dikesampingkan oleh sang kekasih, yang selalu mendahulukan sahabat berkacamata tebalnya tersebut. Emosi Raka akhirnya memuncak begitu menyadari dirinya cuma menjadi prioritas kedua bagi Cherry. Namun, rasa cemburu yang membakar ini malah mengantarkan Raka pada sebuah titik balik tak terduga dalam hidupnya. Sanggupkah jalinan asmara mereka bertahan di tengah renggangnya prioritas Cherry?
Sampul Novel Misteri Hutan Gondoriyo: Perjalanan Malam yang Mencekam
8.5
Tersesat saat menjelajah, seorang pria terjebak dalam keanehan Hutan Gondoriyo setelah kendaraannya hilang secara misterius. Di sebuah pondok sunyi, sepasang lansia misterius memberinya peringatan keras. Meski sempat kembali dengan selamat, rasa penasaran menuntunnya kembali ke sana, namun hutan itu telah lenyap. Rahasia kelam tentang kecelakaan bus di jurang dan misteri hutan ini mulai terungkap, memaksanya bertaruh nyawa demi membongkar kebenaran yang meneror.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan