APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjerat Cinta Duda Dingin

Terjerat Cinta Duda Dingin

Sejak remaja hingga berumur hampir kepala tiga, Kinara Larissa Putri hanya mencintai satu pria. Impiannya terwujud saat ia dinikahi Arka, duda menawan dambaannya. Sayangnya, pernikahan itu hambar. Arka yang kaku dan egois ternyata menikahinya cuma demi sang anak, tanpa rasa cinta. Di tengah dinginnya sikap sang suami, sesosok pria lain hadir menawarkan kasih sayang yang tulus. Kinara kini bimbang, sanggupkah ia bertahan dalam pernikahan tanpa cinta saat godaan baru mulai datang?
Bab
Bagikan

Bab 3

SEBENING CINTA KINARA

"Aku nggak pernah mencintaimu, Kinar. Jadi kamu nggak perlu besar kepala karena sudah sah menjadi istriku sekarang. Ingat! Aku menikahimu bukan karena cinta, tapi karena Aluna butuh sosok Mama. Tak peduli jika kamu memang mencintaiku, yang pasti tak secuil pun aku menaruh hati padamu!" Laki-laki itu memberi ultimatum, beberapa menit setelah akad nikah sah digelar.

Banyak orang yang mendengar dan menyaksikan ucapannya. Beberapa diantara mereka iba padaku, tapi beberapa orang seolah memaklumi. Menganggap ucapan Mas Arka biasa saja, sama sekali tak mengandung luka.

"Nggak perlu drama, Kinar. Hutang 75 juta ibumu sudah lunas sekarang. Ibumu akan tenang di alam sana tanpa terbelenggu dengan hutangnya. Sekarang tugasmu hanya melayani Aluna, merawatnya sepenuh hati seperti yang kamu janjikan. Jangan pernah usik hidupku, karena aku bukan bagian dari kewajibanmu!" sentak laki-laki itu lagi tanpa perasaan.

Hutang itu ... sudah mau kubayar, tapi Tante Dina menolak. Dia sudah ikhlas, katanya. Namun mengapa kini kembali diungkit Mas Arka hanya untuk menyudutkanku. Seolah aku menyetujui pernikahan ini sekadar untuk pelunasan hutang almarhum ibu.

Lagi dan lagi air mataku menetes. Sakit sekali rasanya mendengar kalimat panjang itu dari bibirnya. Bibir laki-laki yang memang kucintai sejak dulu. Saat aku dan dia masih sama-sama duduk di bangku sekolah dasar, saat aku masih berkucir dua.

Ya ... dialah laki-laki satu-satunya yang berhasil mencuri hatiku. Tak ada yang lain. Hanya dia saja. Aku mencintainya sejak belia, bukan tanpa alasan. Ada banyak sebab rasa sayang itu tumbuh dan mengakar di sana. Hingga kini, saat usiaku tak lagi muda. Bahkan hampir menyentuh kepala tiga.

Banyak laki-laki datang, mendekat bahkan melamar, tapi entah mengapa semua terasa hambar. Tak ada cinta di sana dan aku tak ingin memaksa. Meski dulu berulang kali ibu bilang bahwa cinta bisa datang karena terbiasa. Namun rasanya tak nyaman, tak enak dan tak ada warnanya, hingga membuatku menyerah untuk mencoba.

"Lagian jadi perempuan mu*ah banget! Nggak laku kali, ya? Sampai mau-maunya mengorbankan hati dan harga diri hanya demi menikah dengan laki-laki yang dicintainya. Ingat, Kinar! Mas Arka hanya mencintai almarhum kakak kembarku, Nabila. Jadi jangan mimpi kamu bisa menggantikan posisi dia di hati iparku. Jangankan kamu, aku saja tak mampu menggeser cinta Mas Arka pada Nabila itu!" bisik Nadila lirih. Namun penuh penekanan di telingaku.

Oh, Tuhan. Belum satu jam aku berganti status, lajang menjadi menikah, tapi cobaan itu sudah mulai berdatangan. Aku baru tahu jika Nadila ternyata juga menyimpan cinta pada mantan iparnya sendiri. Ipar yang pernah menjadi suami kakak kembarnya dan kini sah berstatus suamiku.

Pantas saja dia begitu membenciku. Bahkan menjadi orang pertama yang tak pernah setuju jika akulah yang ditunjuk Mama mertua untuk menjadi ibu sambung Aluna. Gadis cantik yang kini berusia enam tahun dan duduk di bangku TK itu.

"Aku menikah denganmu juga atas perintah Tante Dina, Mas. Jika beliau tak memohon, mungkin aku masih berpikir ribuan kali untuk melangsungkan pernikahan ini," ujarku lirih. Aku masih menunduk seraya menyeka bulir-bulir bening yang menetes di kedua pipi.

"Alasan! Kamu bisa menolak baik-baik. Nggak bisa menerima perjodohan ini karena tak saling menyukai. Pernikahan itu sesuatu yang sakral, harusnya tak dilakukan dengan asal. Atau kamu bisa pakai alasan lain yang masuk akal. Nyatanya kamu menikmati, kapan lagi bisa menikah dengan orang yang kamu sukai, sementara usiamu tak muda lagi. Bisa disebut perawan tua, iya, kan?" Nadila kembali menyahut. Mamanya yang sedari tadi duduk di sampingnya pun menatapku sinis.

Entah ujian apalagi yang harus kujalani detik ini. Mungkin aku memang bahagia, akhirnya bisa bersama dengan satu-satunya lelaki yang kucinta selama ini. Namun, beginilah qadarku. Cinta tulus yang kupersembahkan hanya dianggap angin lalu dan tak ada arti apa-apa baginya.

"Nikahlah dengan Arka, Kinar. Tante tahu, hanya kamu perempuan yang paling tepat untuk menemani hari-harinya. Kamu yang sabar, tulus, setia dan tak banyak menuntut. Tante yakin kamu bisa sabar menghadapi Arka dan bisa membantunya melupakan Nabila. Perempuan itu ... ah sudahlah. Tak baik mengumbar aib orang yang sudah meninggal."

Tak hanya sekali dua kali tante Dina menasehatiku. Memberikan ceramah panjang agar aku mau mengikuti perintahnya. Harusnya aku bahagia, karena mungkin tak akan ada cerita mertua jahat dalam hidupku. Tante Dina adalah sahabat terbaik almarhum ibuku, meski kami hidup dengan kasta yang terlalu jauh berbeda.

Namun begitulah hidup. Memiliki ujiannya masing-masing. Mungkin aku memang tak diuji oleh mertua jahat, tapi nyatanya diuji dengan suami yang dingin dan kaku, bahkan seolah tak pernah menganggapku ada.

"Kenapa nggak turun ranjang saja, Tante? Bukannya suami Mas Arka punya saudara kembar juga? Mungkin dia juga suka dengan Papanya Aluna," protesku waktu itu. Hanya menebak soal kembaran Nabila, tapi dugaanku ternyata benar adanya. Nadila memang menyukai mantan iparnya.

"Nggak. Dila dan Bila tak jauh beda. Cukup sekali Arka salah memilih istri. Kali ini Tante nggak akan membiarkannya sembarangan memilih calon istri," lanjutnya dengan tatapan penuh emosi.

Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan almarhum menantunya itu, adakah kesalahan besar yang dia lakukan sebelumnya? Hingga membuat Tante Dina sedemikian murka. Aku tak berani bertanya, karena tak ingin dianggap terlalu masuk ke dalam masalah keluarga mereka.

Jam terus bergulir, kini aku diboyong ke rumah ini. Rumah berlantai dua yang cukup luas jika hanya dihuni oleh satu keluarga kecil saja. Aku sudah meninggalkan kampung halaman di Jogjakarta dan menetap di kota ini. Kota Jakarta dengan segala hiruk pikuknya.

Kumasuki rumah cukup mewah ini. Mendadak kedua mataku fokus pada dinding rumah bercat putih bersih itu. Dinding yang masih dipenuhi foto-foto almarhum Nabila. Beraneka gaya terpajang di sana-sini dalam sebuah figura. Entah mengapa, membuat hatiku terasa sedikit nyeri.

Mungkin, jika Tante Dina yang kini jadi mertuaku tahu soal pigura-pigura itu, dia akan meminta Mas Arka untuk menurunkannya. Sayangnya, dia tak ikut ke rumah ini. Langsung menuju rumah sakit setelah sampai di Jakarta.

Mama memang masih harus kontrol rutin agar sakit jantungnya tak kambuh kembali. Dia ke rumah sakit diantar oleh Melani-- adik iparku yang cantik. Melani yang kini masih duduk di bangku kelas dua sekolah menangah atas.

"Ngapain bengong di situ? Buruan masuk kamarmu!" bentak Mas Arka lagi. Aku hanya mengangguk, menyembunyikan air mata yang akan menetes di pipi.

"Oh soal foto-foto Nabila? Aku tak akan menurunkannya. Biar foto-foto itu tetap berada di sana. Lagipula, sampai detik ini aku belum bisa melupakannya. Kamu tahu itu, kan?"

Mas Arka memandang foto-foto itu dengan tatapan penuh kerinduan dan cinta. Bibirnya tersenyum, tapi jelas dalam tatap matanya penuh luka. Ah, sebesar itukah cinta Mas Arka pada mendiang istrinya? Apakah selamanya aku tak pernah bisa masuk ke dalam hatinya, meski hanya sedikit bahkan setitik noda?

Ada perih yang terasa mengiris hati tiap kali melihat cinta sebesar itu pada mendiang istrinya. Namun aku tak boleh menyerah. Bukankah aku sendiri yang memilih jalan ini? Aku yang membuat keputusan untuk menjadikannya sebagai suami.

Tak pantas rasanya aku mengeluh seperti ini. Biarlah dia nikmati caranya mencintai Nabila, aku pun akan menikmati caraku mencintai Mas Arka.

"Ini kamarmu dan itu kamarku. Jangan pernah masuk ke kamar itu tanpa seizinku, pun saat aku tak ada di rumah. Kamu bebas keluar masuk kamar mana saja, asal bukan kamar itu. Paham?!"

💕💕💕

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ada Cinta di Meja Hijau
8.7
Anita Putri, pengacara andal bertubuh gempal, dikhianati oleh Adrian Hartono. Putra pemilik firma hukum tempatnya bekerja itu hanya memanfaatkan kecerdasan Anita demi memenangkan berbagai kasus, meski Anita tulus mencintainya. Kecewa dengan perlakuan Adrian, Anita memutuskan bangkit dan mengubah penampilannya secara drastis. Ini menjadi awal perjuangannya membalas dendam sekaligus menemukan kembali harga diri yang sempat hilang di dunia hukum.
Sampul Novel Aku Bukan Boneka
8.5
Menghadapi rumor perselingkuhan suaminya yang kaya, protagonis novel romantis misteri Aku Bukan Boneka berniat menyelidiki kebenaran demi melindungi haknya. Namun, ibu kandungnya justru mengacaukan pameran seni yang ia persiapkan selama tiga tahun. Sang ibu menghancurkan lukisan berharga miliaran rupiah sambil melontarkan hinaan keji di depan umum, berdalih demi kebaikannya. Di balik tuntutan agar ia mandiri dan bercerai, terungkap rencana licik sang ibu yang ingin menjodohkannya dengan duda paruh baya miskin.
Sampul Novel Berikan Aku Cinta
9.6
Pernikahan tak biasa menyatukan dua sosok berkarakter kuat. Seorang wanita tangguh memilih bertahan hidup bersama pria yang sangat keras kepala. Saat ego serta prinsip hidup mereka saling berbenturan di bawah atap yang sama, dinamika hubungan pun menjadi penuh tantangan. Kisah ini menyoroti perjuangan cinta dan komitmen yang diuji oleh watak keras keduanya, di mana tidak ada satu pun yang mau mengalah dalam mempertahankan pendirian masing-masing.
Sampul Novel Di Balik Topeng Cinta Pertama
8.5
Kehilangan putri tercinta akibat serangan jantung menyisakan duka mendalam bagi sang ibu. Kehancuran itu memuncak saat tahu sang suami menyuap dokter demi memindahkan jantung anak mereka ke putri teman masa kecilnya. Di saat suami merayakan keberhasilan itu, sang istri justru divonis menderita leukemia stadium lanjut. Sambil mendekap guci abu anaknya, ia pulang dan mendapati suaminya bersiap keliling dunia bersama teman masa kecilnya itu.
Sampul Novel DIONESA
8.9
Kepindahan ke sekolah baru membawa perubahan besar bagi Sasa, terutama saat ia dipasangkan sebangku dengan Dion, cowok dingin yang tertutup. Di tengah masa adaptasinya, Sasa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa sang ayah telah memiliki kekasih baru. Kesedihan Sasa rupanya mampu menyentuh hati Dion yang semula apatis. Ia pun mulai membuka diri demi menghibur Sasa. Kebersamaan ini menyingkap rahasia masa lalu Dion, sekaligus menumbuhkan benih cinta yang manis di antara mereka.
Sampul Novel Hukuman atas Impulsif Mahasiswi Tercantik
9.2
Seorang mahasiswi yang terbiasa menikmati kehidupan bebas dengan banyak pria mengira takdirnya akan terus seperti itu. Namun, pandangannya berubah total setelah ia bertemu dengan pacarnya saat ini, sosok yang ia yakini sebagai cinta sejati. Sayangnya, hubungan romantis mereka terbentur sebuah rahasia intim yang sulit diungkapkan, karena sang kekasih ternyata memiliki keterbatasan fisik di ranjang. Kisah romantis remaja modern ini menyoroti perjuangan batin dan komitmen di tengah ujian yang tak terduga.