APKDock Logo
Sampul Novel Ada Cinta di Meja Hijau

Ada Cinta di Meja Hijau

8.7 / 10.0
Anita Putri, pengacara andal bertubuh gempal, dikhianati oleh Adrian Hartono. Putra pemilik firma hukum tempatnya bekerja itu hanya memanfaatkan kecerdasan Anita demi memenangkan berbagai kasus, meski Anita tulus mencintainya. Kecewa dengan perlakuan Adrian, Anita memutuskan bangkit dan mengubah penampilannya secara drastis. Ini menjadi awal perjuangannya membalas dendam sekaligus menemukan kembali harga diri yang sempat hilang di dunia hukum.

Ada Cinta di Meja Hijau Bab 1

Anita menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Dia berdiri di lobby Hartono Firm, firma hukum ternama yang menjadi impiannya sejak lama. Tangannya yang berkeringat menggenggam erat map berisi lamaran pekerjaan sebagai pengacara junior.

"Kau bisa melakukannya, Anita," bisiknya pada diri sendiri, berusaha mengabaikan tatapan heran orang-orang di sekitarnya.

Memang, penampilannya tidak seperti pengacara pada umumnya. Tubuhnya yang gempal dibalut blazer kusut, rambut keritingnya mencuat ke segala arah, dan kacamata tebalnya hampir menutupi separuh wajahnya. Tapi Anita tahu, yang terpenting adalah otaknya yang brilian.

Dia melangkah mantap menuju meja resepsionis, namun tiba-tiba...

BRUK!

"Astaga!" seru sebuah suara maskulin.

Anita terhuyung ke belakang, map di tangannya jatuh berhamburan. Matanya yang membelalak menatap ngeri pada noda coklat besar yang kini menghiasi jas putih pria di hadapannya.

"Ya Tuhan, maafkan saya! Saya tidak sengaja, sungguh!" Anita buru-buru memunguti berkasnya yang berserakan.

Pria itu, dengan rambut hitam yang ditata rapi dan mata setajam elang, menatapnya dengan murka. "Kau... Apa kau tahu apa yang baru saja kau lakukan?!"

Anita menelan ludah. "Sa-saya minta maaf, Tuan. Saya akan mengganti jas Anda, saya janji!"

Pria itu mendengus. "Mengganti? Dengan apa? Uang hasil mengemis?"

Kata-kata itu menohok Anita. Dia mendongak, menatap pria itu dengan campuran rasa terkejut dan terluka.

"Dengar, Nona..." pria itu melanjutkan, suaranya penuh ejekan, "Jas ini harganya mungkin lebih mahal dari seluruh isi lemarimu. Jadi sebaiknya kau..."

"Cukup." Anita berdiri, suaranya bergetar namun tegas. "Saya memang bukan orang kaya, tuan tapi saya punya harga diri. Dan saya tidak akan membiarkan siapapun untuk menginjak-injaknya, semahal apapun jas yang dia kenakan."

Pria itu terkesiap, jelas tidak menyangka akan mendapat perlawanan. Karena selama ini tidak ada seorang pun di kantor ini berani membatah apalagi berani melawannya. Dia baru akan membalas ketika sebuah suara menginterupsi.

"Adrian! Kita harus segera berangkat. Klien kita sudah menunggu."

Adrian – rupanya itu nama si pria arogan – menoleh ke arah rekannya dengan kesal. Dia kembali menatap Anita, matanya menyipit berbahaya.

"Ini belum selesai," desisnya. "Kau akan menyesal telah berurusan denganku."

Setelah mengatakan itu, Adrian berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Anita yang masih berdiri kaku di tempatnya. Anita baru ingat kalau yang dia hadapi ini adalah putra mahkota dari pemilik Hartono Firm setelah orang itu memanggil nama pria itu dengan sebutan Adrian karena kemarin dia sempat membuka website perusahaan ini muncull wajah pria itu yang sama persis dengan Adrian sang pewaris tahta Hartono Firm.

Anita menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. Hari pertamanya di Hartono Firm belum dimulai, tapi dia sudah membuat musuh. Dan bukan sembarang musuh – melainkan Adrian, yang ternyata adalah putra pemilik firma ini.

"Bodoh, bodoh, bodoh!" rutuknya dalam hati. "Bagaimana bisa aku tidak mengenali wajahnya? Padahal sudah berjam-jam menelusuri internet tentang firma ini."

Bayangan wajah Adrian yang tersenyum formal di website perusahaan berkelebat di benaknya. Anita menggelengkan kepala, berusaha mengusir perasaan bersalah yang mulai menggerogoti.

"Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur," gumamnya, menegakkan bahu. "Aku harus fokus pada tujuan awalku."

Dengan tekad yang diperbaharui, Anita melangkah menuju meja resepsionis. Di balik meja itu, duduk seorang wanita dengan dandanan mencolok – lipstik merah menyala dan rambut pirang yang disanggul tinggi.

"Selamat pagi," sapa Anita, berusaha terdengar profesional.

Resepsionis itu mendongak, matanya menyipit saat melihat penampilan Anita dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Ya? Ada yang bisa saya bantu?"

"Saya ingin bertemu dengan Pak Yanto," ujar Anita, berusaha mengabaikan tatapan menilai si resepsionis. "Untuk melamar sebagai pengacara."

Si resepsionis menaikkan alis, jelas-jelas terkejut. "Apakah Anda sudah membuat janji sebelumnya?"

Anita menggeleng. "Belum, tapi—"

"Maaf," potong si resepsionis dengan nada jengkel, "tapi Pak Yanto adalah manajer HRD yang sangat sibuk. Tanpa janji, Anda tidak bisa menemuinya."

"Bisakah Anda menghubunginya dulu? Katakan saja Anita ingin bertemu," Anita bersikeras.

Si resepsionis berdecak. "Memangnya Anda ini siapanya Pak Yanto?"

"Saya bukan siapa-siapanya," jawab Anita jujur.

"Kalau begitu, Anda harus membuat janji dulu," ujar si resepsionis dengan nada final. "Lagipula, firma kami sedang tidak membuka lowongan pengacara saat ini."

Anita mulai merasa frustasi. "Tapi saya—"

"Dan kalaupun ada," lanjut si resepsionis, matanya menyapu penampilan Anita sekali lagi, "kami tidak akan mempekerjakan pengacara dengan... penampilan seperti Anda."

Kata-kata itu menohok Anita tepat di ulu hati. Amarah yang tadinya sudah mereda kini kembali bergejolak.

"Dengar," kata Anita, suaranya rendah dan tegas. "Saya tahu penampilan saya mungkin tidak sesuai standar firma ini. Tapi saya di sini bukan karena kebetulan atau iseng."

Si resepsionis terlihat terkejut dengan perubahan sikap Anita.

"Saya datang ke sini," lanjut Anita, "atas permintaan langsung dari Bapak Hartono."

Mata si resepsionis melebar. "A-apa?"

"Ya, Anda tidak salah dengar," Anita menegaskan. "Bapak Hartono sendiri yang meminta saya untuk menemui Pak Yanto dan melamar sebagai pengacara junior di firma ini."

Suasana di lobby mendadak hening. Beberapa orang yang lewat bahkan berhenti untuk mendengarkan.

Si resepsionis tampak kebingungan. Dia menatap Anita dengan campuran ketidakpercayaan dan kecurigaan. "Tapi... bagaimana mungkin? Maksud saya, Anda..."

"Saya apa?" tantang Anita. "Terlalu gendut? Terlalu culun? Atau terlalu berani untuk datang ke sini dan mengklaim hal seperti itu?"

Si resepsionis tergagap, tidak mampu menjawab.

Anita menghela napas, berusaha menenangkan diri. "Saya mengerti ketidakpercayaan Anda. Tapi saya bersumpah, saya tidak berbohong. Silakan hubungi Pak Hartono jika Anda ragu."

Keraguan terlihat jelas di wajah si resepsionis. Dia melirik telepon di mejanya, lalu kembali menatap Anita.

"Baiklah," akhirnya si resepsionis berkata. "Saya akan menghubungi Pak Yanto. Tapi jika ternyata Anda berbohong..."

"Saya siap menerima konsekuensinya," potong Anita tegas.

Dengan tangan sedikit gemetar, si resepsionis meraih gagang telepon dan mulai menekan nomor. Anita menunggu dengan jantung berdebar, menyadari bahwa inilah momen yang akan menentukan masa depannya.

Sementara si resepsionis berbicara pelan di telepon, Anita merasakan tatapan orang-orang di sekitarnya. Beberapa berbisik-bisik, yang lain menatap penuh rasa ingin tahu. Tapi Anita tetap berdiri tegak, menolak untuk terintimidasi.

Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, si resepsionis meletakkan gagang telepon. Wajahnya pucat pasi.

"Pak Yanto akan menemui Anda sekarang," ujarnya dengan suara bergetar. "Silakan tunggu di sana. Beliau akan turun sebentar lagi."

Anita mengangguk, berusaha menyembunyikan kelegaan yang membanjiri dirinya. Dia berbalik, bermaksud untuk duduk di area tunggu, ketika matanya menangkap sosok yang membuat darahnya membeku.

Di ujung lobby, berdiri Adrian dengan wajah terkejut... dan murka.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Ada Cinta di Meja Hijau

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Allena
8.0
Kedamaian hidup Allena lenyap seketika sewaktu tanda kutukan Xavier terukir di lengannya. Sang Putra Mahkota Xendria hadir untuk menuntut janji ayah Allena dua puluh tahun lalu yang menjadikannya calon istri. Allena menolak keras dinikahi penyihir berumur dua abad itu. Siksaan kutukan tersebut sangat nyata hingga ia tak lagi bisa menyentuh siapa pun. Kini, ia terjepit di antara hasrat mempertahankan kebebasan atau menyerah pada takdir sang pangeran.
Sampul Novel Diam-Diam Kuserahkan Surat Cerai
7.9
Selama lima tahun, seorang mahasiswi menjalani pernikahan rahasia dengan miliarder Tritan Wirajaya. Namun, kembalinya cinta pertama Tritan menyadarkannya bahwa hubungan mereka hampa. Ia pun menjebak Tritan untuk menandatangani surat cerai berkedok berkas kuliah. Setelah resmi berpisah dalam keadaan hamil, ia pergi sejauh mungkin demi membangun karier dan kemandiriannya sendiri. Saat Tritan akhirnya menyadari kehilangan besar ini dan memohonnya kembali, ia telah bertransformasi menjadi wanita dewasa yang tangguh.
Sampul Novel Gara-Gara Taruhan
7.9
Tekanan besar melanda delapan pria lajang rupawan saat orang tua mereka menuntut pernikahan segera. Tanpa kekasih dan dikejar tenggat waktu kawin paksa yang sepihak, mereka harus bergerak cepat. Sebagian mulai berjuang memburu cinta sejati dalam waktu singkat, sementara yang lain menyusun taktik cerdik demi lolos dari perjodohan. Saksikan keseruan perjuangan unik kedelapan pria ini dalam menghadapi kemelut drama kehidupan mereka.
Sampul Novel Mendadak Presdir
9.7
Melly Sabira harus bertahan di tengah siksaan finansial dari Alan, suaminya, serta perlakuan buruk dari sang ipar, Lian. Di balik penderitaan itu, Melly diam-diam merintis bisnis kecantikan hingga sukses besar di tingkat nasional. Ketegangan memuncak saat Lian berniat menjodohkan Alan dengan Siska, yang sebenarnya merupakan bawahan Melly. Merasa direndahkan, Siska nekat melakukan tindakan keji yang menewaskan orang-orang terdekat Melly. Kini, ia harus menghadapi duka mendalam.
Sampul Novel SUAMIKU TIDAK TAHU AKU PEMILIK RESTO
8.8
Demi mewujudkan pernikahan impian dengan Aksa, Aira memilih menyembunyikan status aslinya sebagai pemilik restoran kaya raya lewat bantuan sahabatnya. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan pahit saat suaminya berselingkuh dengan Selena. Enggan terus ditindas, Aira yang semula terlihat lemah kini bangkit untuk membalas dendam. Aksa akan segera menyadari bahwa mencampakkan sang istri adalah kesalahan terbesar yang akan menghancurkan hidupnya hingga jatuh miskin.
Sampul Novel Tak Lagi Menua Bersama
8.1
Saat menjalani pemeriksaan bayi tabung keempatnya, Jennie justru memergoki suaminya, Erwin Sentosa, sedang mendampingi wanita hamil di rumah sakit. Padahal, Erwin mengaku sedang berada di luar kota. Demi mendapatkan pewaris keluarga, Erwin meminta Jennie memaklumi situasi tersebut dan berjanji hubungan mereka akan kembali normal setelah bayi itu lahir. Alih-alih marah, Jennie berpura-pura setuju sambil menyembunyikan hasil tesnya sendiri. Begitu hari persalinan wanita itu tiba, Jennie langsung meninggalkan surat cerai dan pergi selamanya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan