
Tanpamu, Hidupku Makin Bersinar
Bab 5
Ketika tersadar lagi, Rebecca sudah berada di rumah sakit. Dia sempat linglung untuk sesaat. Dia menyentuh perutnya yang rata dan hatinya terasa sangat sakit. Anaknya telah tiada.
"Pasien ranjang 23, di mana anggota keluargamu? Biaya pengobatanmu harus dibayar. Kamu mengalami keracunan logam berat dan harus bekerja sama dengan penyelidikan polisi. Anakmu nggak terselamatkan," jelas perawat itu secara mendetail setelah melihat Rebecca sadar.
Jari-jari Rebecca gemetar. Dia mengambil ponselnya dan menelepon Darren, tetapi ponselnya dimatikan. Dia pun memaksakan senyum kecut. Setelah pergi semalam, Darren tidak menjawab teleponnya dan bahkan tidak menghubunginya kembali.
Darren pernah berkata bahwa dirinya akan selalu ada saat Rebecca membutuhkannya. Sekarang, dia malah tidak menjawab teleponnya demi menemani Cecilia.
"Aku nggak punya anggota keluarga. Aku akan bayar biayanya sendiri," jawab Rebecca dengan lemah.
"Kamu masih nggak boleh turun dari tempat tidur. Biar aku saja yang bantu kamu mengurusnya. Kamu harus istirahat," ujar perawat itu sambil menghentikan Rebecca dengan ramah.
Setelah menyelesaikan catatannya dan meninggalkan kamar rawat inap, perawat itu menghela napas dengan penuh arti. "Sama-sama perempuan, tapi perbedaan nasibnya begitu besar. Yang satu cuma ada tanda-tanda keguguran, tapi suaminya begitu cemas sampai langsung pesan kamar VIP dan suruh tim medis terbaik dari seluruh dunia untuk pertahankan janinnya."
Perawat itu melirik Rebecca lagi dan menambahkan, "Perempuan kasihan ini keguguran karena keracunan, tapi bahkan nggak punya anggota keluarga."
Setelah mendengar ucapan perawat itu, Rebecca tahu bahwa dia sedang membicarakan Darren dan Cecilia. Namun, hatinya sudah sama sekali tidak bergejolak.
Rebecca memindahkan dirinya sendiri ke kamar VIP. Selama dirawat di rumah sakit, dia meminta orang memeriksa pecahan kaca dan mencari tahu siapa yang telah meracuninya. Darren tidak menghubunginya sampai dia dipulangkan.
Rebecca langsung kembali ke vila Keluarga Winata, lalu mengambil cincin peninggalan ibunya dan menyimpan barang-barang peninggalan yang pantas dikenang di brankas permanen. Dia berencana untuk menjual vila itu dan tidak pernah kembali lagi.
Kemudian, Rebecca pergi ke kantor catatan sipil untuk mengganti namanya agar Darren tidak pernah bisa menemukannya.
Saat tiba di rumah, Rebecca mendapati Cecilia sedang meringkuk di sofa dengan diselimuti dengan baik. Dia memegang camilan sambil menonton serial TV. Dia pun mengerutkan kening. Akan tetapi, sebelum dia sempat berkata apa-apa, Cecilia sudah berdiri dari sofa.
"Kak, kamu sudah pulang. Sudah makan? Kak Darren lagi pergi beli kue. Mau kuambilkan sebatang cokelat?" tanya Cecilia sambil tersenyum. Matanya berbinar dengan penuh kebanggaan.
"Siapa suruh kamu sentuh barang-barangku?" ucap Rebecca dengan ekspresi dingin. Melihat meja kopi yang berantakan, dia merasa kesal. Dia tidak pernah suka orang lain menyentuh barang-barangnya, apalagi mengacau di rumahnya.
Darren tahu kebiasaannya dan jarang membawa siapa pun pulang. Meskipun membawa orang pulang, dia akan langsung membersihkan dan melakukan disinfeksi semuanya. Sekarang, dia bahkan membiarkan Cecilia berbaring di tempatnya, menggunakan selimutnya, dan memakan camilannya ....
"Kak, kamu marah? Kalau begitu, aku akan kembalikan padamu." Cecilia menumpahkan keripik kentang ke tubuhnya, lalu mengangkat sebelah alisnya dan berujar, "Pungutlah."
Rebecca tertegun. Tepat saat dia hendak bicara, Cecilia sudah berlutut dan membersihkan kekacauan itu.
"Maaf, Kak. Aku hampir pingsan karena kelaparan, makanya aku baru makan camilan Kakak. Jangan marah, ya. Aku akan membersihkannya sekarang juga," ujar Cecilia dengan berlinang air mata dan hampir menangis.
"Sayang, kalian lagi apa?"
Perubahan sikap Cecilia yang mendadak membuat Rebecca tak sempat bereaksi. Setelah mendengar suara Darren di belakangnya, dia baru mengerti segalanya.
Rebecca berbalik dan kebetulan melihat Darren sedang menatap Cecilia yang ada di atas lantai. Dia dengan jelas menangkap kilatan rasa sakit hati di mata Darren.
"Aku nggak seharusnya menyentuh barang-barang Kak Rebecca tanpa seizinnya," ujar Cecilia sambil menunduk dan terisak.
"Emm, istriku nggak suka orang lain menyentuh barang-barangnya. Kenapa kamu membuat kekacauan seperti ini di ruang tamu?" Darren mengerutkan kening. "Ambil kuemu dan pulanglah. Jangan datang ke rumahku lagi."
Cecilia terkejut, lalu perlahan-lahan berdiri dan menerima kue yang diberikan Darren. Namun, setelah berdiri, Cecilia berlagak seperti kehilangan keseimbangan dan menabrak Rebecca. Rebecca pun kehilangan keseimbangan dan jatuh telentang bersama Cecilia.
Dalam sekejap, Darren berlari mendekat dan mendekap Cecilia. Sementara itu, Rebecca jatuh dengan kuat dan bagian belakang kepalanya membentur lemari sepatu. Darah langsung mengalir dan dia merasa pusing. Hal terakhir yang dilihatnya adalah Darren memeluk Cecilia erat-erat ....
Anda Mungkin Juga Suka





