APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suara Dari Kamar Mama

Suara Dari Kamar Mama

Liontin, gadis berusia 22 tahun, mencurigai gelagat aneh ibunya, Bu Santy. Kepada sang kekasih, Sandrian, ia mengadukan suara desahan misterius yang selalu terdengar dari kamar ibunya tiap malam. Namun, upaya Liontin mengungkap misteri ini kerap dihalangi Wulan, kakaknya yang pemarah. Di rumah yang kian mencekam sejak wafatnya sang ayah, hanya Bi Siti dan adiknya, Anggun, yang mendukung Liontin. Rahasia kelam apa sebenarnya yang disembunyikan oleh keluarga ini?
Bab
Bagikan

Bab 2

Terlalu memikirkan tentang suara -suara aneh dalam kamar ibunya, membuat Liontin merasa sedikit pusing dan memutuskan untuk tidur saja dulu sebelum makan siang.

Sempat menghubungi nomor pacarnya, tapi sang pacar tidak mengangkat panggilan teleponnya.

Berpikir kalau pemuda tampan kesayangannya yang adalah seorang anak band, yang berada di posisi sebagai vokalis merangkap sebagai gitarisnya itu pasti sedang sibuk, Liontin pun tidak mengulangi panggilan teleponnya.

Tapi…

Baru saja dia meletakkan kepalanya ke bantal, ponselnya berbunyi dengan suara nyaring.

Panggilan dari kekasihnya, Sandrian.

“Halo San.”

(Iya my sweetheart. Ada apa ya? Tadi kamu menelepon ya? Maaf, tadi aku sedang sibuk latihan bersama anak -anak. Seminggu lagi kami akan tampil di peresmian mall baru di jalan X. I am so sorry Bebz.)

“Iya, nggak apa -apa. Seharusnya aku yang minta maaf. Aku sudah menganggu waktu latihan kamu.”

(Oh nggak apa -apa Sweetheart. Kamu nggak mengganggu. Sama sekali nggak. Oya, ada apa? Apa ada yang mau kamu bicarakan sama aku?)

“Iya. Tapi aku takut waktu latihan kamu terganggu lagi.”

(Tidak sayang. Aku sudah selesai latihan ko. Cerita saja. Hmmm apa tentang ibumu? Soal suara aneh itu lagi?)

“Iya. Tapi apa benar tidak mengganggu kamu?”

(Tidak Sweetheart. Ok. Kamu siap -siap ya? Setengah jam lagi aku jemput kamu. Kita ke danau Rafflesia. Nanti kamu cerita di sana saja. Ok?)

“Iya Sayang. Aku tunggu.”

(Iya Sweetheart. I love you.)

“Love you too, my Man.”

Setelah memutuskan panggilan teleponnya, Liontin melangkah keluar menuju dapur.

Bi Siti tersenyum melihat kedatangan nona mudanya.

“Eh Non Liontin. Mau makan sekarang?”

Anggun yang sedang makan pun terkejut melihat kedatangan sang kakak yang sudah berpakaian rumahan.

“Kak Liontin? Sudah dari tadi datang ya? Kok Anggun nggak lihat kakak?”

“Tidak kok. Kakak sudah dari tadi. Hanya saja kakak sedikit pusing jadi kakak tidur sebentar.”

“Oh begitu ya Kak.”

Bi Siti meletakkan makan siang untuk Liontin lalu katanya.

“Oya Non. Tadi Nyonya Santy dan Non Wulan ada keluar. Katanya mau ke lokasi syuting. Mungkin malam baru pulang.”

“Hah? Ke lokasi syuting? Emang kak Wulan mau syuting apa?” tanya Anggun sambil menatap wajah Bi Siti berganti -gantian.

“Kak Wulan sedang syuting film Seksi Girl. Dia dapat peran utama. Sama Bobby Lesmana.”

“Hah? Bobby Lesmana yang dulu main di film Cintaku Bodyguardku itu kak. Yang jadi Boy itu kan?”

“Iya Nggun. Yang itu. Sekarang dia akan dipasang kan dengan Kak Wulan.”

“Wow! Non Wulan memang hebat. Tapi ngomong -ngomong tayangnya di mana Non? Bi Siti juga mau ikutan nonton.”

“Paling juga di bioskop. Iya kan kak Lion?”

“Iya Nggun. Filmnya tayang di bioskop.”

“Ya… berarti bibi nggak bisa nonton deh kalau begitu.”

“Tenang saja Bi. Nanti Anggun akan download filmnya biar bibi bisa nonton.”

“Iya bibi. Anggun janji.”

Bi Siti lalu menyiapkan makanan untuk Liontin.

“Non Anggun masih mau nambah?”

“Oh nggak kok Bi. Ini saja sudah dua kali. Nanti bisa meledak deh perut Anggun. Oya,kalau…”

“Permisi Non Liontin. Non Anggun.”

Terdengar suara pak Karto di depan pintu dapur.

“Iya Pak Karto. Ada apa?” tanya Liontin menghentikan suapan nasi ke mulutnya.

“Ada Den Sandrian di depan Non.”

“Oh iya ya. Bilang tunggu sebentar ya. Aku cuci tangan dulu.”

“Baik Non.”

Liontin buru -buru menghabiskan makanannya.

Sebenarnya dia ingin segera menemui kekasihnya,tapi makannya masih tersisa beberapa sendok.

Tapi sejak kecil dia sudah terbiasa untuk tidak membuang -buang makanan.

“Pelan -pelan  Non. Bisa keselak nanti.”

“Iya Bi.”

“Kak Liontin mau ke mana?”

“Kakak mau keluar sebentar sama kak Sandrian. Apa kamu mau kakak bawakan kamu apa nanti sebentar?”

“Martabak aja kak kalau boleh.”

“Siap Tuan Putri.”

Liontin mencubit gemas hidung Anggun dan keduanya tertawa bersama -sama.

“Ya sudah. Anggun temani kakak sampai di depan. Sekalian Anggun mau say helo sebentar sama kak Sandrian.”

“Ok.”

Setelah mencuci tangan, keduanya lalu bergegas menemui Sandrian.

“Halo calon kakak ipar? Apa kabar hari ini?”

Anggun menyapa Sandrian dengan ramah dan Sandrian pun membalasnya dengan tak kalah ramahnya.

“Hai Anggun. Kabar kakak baik. Bagaimana dengan dirimu?”

“Hmmm aku baik -baik juga. Oya, kakak berdua mau ke mana?”

“Kak Sandrian hanya mau mengajak kak Liontin keluar sebentar. Hmmm ada latihan band, dan kak Sandrian ingin ditemani oleh Kak Liontin.”

“Oh…  begitu ya? Kalau begitu sebelum aku izinkan kak Sandrian membawa kak Liontin keluar aku ada dua permintaan.”

“Hmmm apa itu?”

“Yang pertama pulang nanti bawakan aku martabak.”

“Oh itu soal gampang. Lalu yang keduanya apa?”

“Yang keduanya ini sebenarnya yang paling penting kak.”

“Apa itu?”

“Pulangkan kakakku tepat pada waktunya dan tanpa kekurangan sedikitpun.”

“Wow seorang adik yang luar biasa.”

Liontin hanya tertawa mendengar percakapan Anggun dan Sandrian.

“Iya dong kak. Ini yang namanya saudara Kak. Sanggup.”

“Iya sanggup. Asal…”

“Asal apa Kak.”

“Nggak khilaf. Hahaha…”

“Tidak. Tidak ada yang namanya khilaf -khilaf.”

“Iya. Iya. Kakak cuma bercanda kok adik manis.”

Liontin dan Sandrian lalu berpamitan pada Anggun, Bi Siti dan Pak Karto dan segera meninggalkan rumah berlantai dua itu.

Walaupun Bi Siti dan Pak Karto hanya ART dan tukang kebun tapi Liontin dan Anggun sangat menghargai mereka. Tidak seperti Wulan dan Bu Santy.

*** *** ***

Sesampainya di tempat tujuan, Sandrian lalu  menyewa sebuah perahu karet berbentuk angsa dan langsung mengajak Liontin naik ke atas perahu.

Tak lupa pula mereka membeli beberapa cemilan.

“Sekarang kamu cerita padaku, apa kamu mendengar lagi suara aneh itu? Kapan?”

“Iya San. Aku mendengarnya sepulang kuliah tadi.”

“What? Sepulang kuliah tadi? Berarti siang hari dong.”

“Iya San. Ini sudah keterlaluan. Biasanya aku mendengarnya saat malam, dan itupun tengah malam. Tapi kali ini siang hari San.”

“Oh my God. Iya. Ini benar-benar sudah keterlaluan. Tapi apa kamu pernah melihat ada laki -laki datang bertamu untuk ibumu?”

“Tidak pernah San. Hanya siang tadi ada sih tapi sepertinya itu tamunya Kak Wulan. Karena mereka memang sedang dalam satu projek film.”

“Siapa orangnya?”

“Bobby. Bobby artis.”

“Hah? Bobby Lesmana maksudmu?”

“Iya San.”

Liontin melihat ada perubahan pada wajah kekasihnya itu.

Tapi sebelum dia bertanya kenapa, hujan turun dengan derasnya membuat mereka harus segera turun dari perahu karet berbentuk angsa itu.

Terpaksa Liontin harus memendam rasa penasaran dalam hatinya tentang perubahan raut wajah Sandrian itu.

Setelah hujan berhenti, mereka langsung pulang.

Sebelumnya mereka membeli martabak dan beberapa cemilan untuk Anggun.

Liontin tahu kalau adiknya itu suka menonton di ponsel sambil makan cemilan.

Makanya dia membeli beberapa cemilan kesukaan adiknya itu.

Dia yakin Anggun pasti sangat senang.

Bersambung…

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Foto Pelakor di Profil Ponsel Suamiku
8.3
Muak dikhianati Agung serta ditindas oleh keluarga mertuanya, Serani Gunawan mantap mengambil keputusan untuk bercerai. Penyesalan mendalam segera menghampiri sang mantan suami ketika menyadari bahwa CEO baru di kantornya adalah Serani, yang selama ini menyembunyikan status miliardernya. Demi menguasai kekayaan Serani, Agung dan selingkuhannya menyusun berbagai rencana jahat. Beruntung, Serani tidak sendirian; dua pria kaya dan tampan siap mendampinginya menghadapi setiap ancaman demi menemukan cinta sejati.
Sampul Novel Jeritan yang Tak Terdengar
8.4
Sebuah petaka menimpa Yolanda di hari ulang tahunnya sendiri. Sang ayah yang murka menuduhnya telah mendorong sepupunya yang belajar balet hingga mengalami cedera kaki. Tanpa ampun, sang ayah memukuli kaki Yolanda dengan tongkat hingga ia tak berdaya dan tidak sanggup berteriak. Demi memberi pelajaran, tubuh Yolanda yang sekarat dilempar ke dalam ruang bawah tanah yang gelap. Namun, saat pintu itu akhirnya dibuka kembali, sang ayah hanya mendapati jasad putrinya telah hancur dan membusuk.
Sampul Novel Misteri Bangku Kosong
8.1
Memasuki SMA swasta elite sebagai murid pindahan baru, aku langsung dihadapkan pada kejanggalan di ruang kelas. Di barisan belakang, terdapat sebuah meja dan kursi merah tua yang dibiarkan kosong. Anehnya, seluruh teman sekelas memperlakukan bangku mati itu seolah-olah berpenghuni, bahkan menyapa dan mengajaknya berbicara setiap hari. Di sekolah baru ini, semua orang tampaknya bisa melihat sosok tak kasat mata yang menduduki tempat tersebut, menyisakan aku sebagai satu-satunya orang yang tidak menyadari kehadiran misterius itu.
Sampul Novel OBSESI CINTA UNTUK NADEEVA
8.6
Rheno jatuh cinta pada Nadeeva, ibu tiri sahabatnya yang dilingkupi masa lalu kelam. Nadeeva kini bimbang memilih masa depan baru bersama Rheno atau bertahan dengan Aiman, suami yang menikahinya demi melindungi nyawa dan hartanya. Meski sepuluh tahun berumah tangga, pernikahan mereka tanpa kemesraan karena sebuah kesepakatan. Di bawah ancaman pembunuh misterius, sanggupkah Rheno membujuk Aiman agar bersedia melepaskan Nadeeva?
Sampul Novel Para Pria yang Diculik ke Desa Wanita
9.2
Kisah dalam novel modern ini berpusat pada hubungan gelap yang penuh tipu daya. Sang protagonis menyadari bahwa pria yang dicintainya adalah penculik kejam yang memanfaatkan status pacaran demi menjual gadis-gadis ke sebuah desa terpencil. Namun, wanita ini pun menyimpan rahasia kelam yang tidak kalah mengerikan. Ternyata, dia juga bukan orang baik; dia menggunakan modus asmara yang sama untuk menjebak dan menggiring para pria masuk ke dalam perangkap di desanya sendiri.
Sampul Novel SEKEPING PERNIKAHAN
8.6
Rumah tangga Tiara terasa dingin tanpa kehangatan dari sang suami. Ketika ia memutuskan menyerah dan melangkah pergi, sang mantan suami justru didera penyesalan mendalam. Namun, perpisahan ini mengungkap tabir misteri yang menyelimuti orang-orang terdekat mereka. Tiara pun mulai mencurigai ketamakan ibu mertuanya dan meragukan identitas asli pria yang pernah dinikahinya dalam pusaran rahasia yang rumit.