APKDock Logo
Sampul Novel SEKEPING PERNIKAHAN

SEKEPING PERNIKAHAN

8.6 / 10.0
Rumah tangga Tiara terasa dingin tanpa kehangatan dari sang suami. Ketika ia memutuskan menyerah dan melangkah pergi, sang mantan suami justru didera penyesalan mendalam. Namun, perpisahan ini mengungkap tabir misteri yang menyelimuti orang-orang terdekat mereka. Tiara pun mulai mencurigai ketamakan ibu mertuanya dan meragukan identitas asli pria yang pernah dinikahinya dalam pusaran rahasia yang rumit.

SEKEPING PERNIKAHAN Bab 1

"Ini uang 500 ribu harus cukup satu bulan!" Itulah kata Ibu Mertuaku. Aku hanya bisa terdiam, bukannya aku tak bisa bertindak, tapi aku sudah lelah dan membiarkan Ibu Mertuaku yang mengatur segalanya.

Namaku Tiara usiaku 30 tahun. Aku menikah dengan Mas Bayu sudah 9 tahun lamanya dan sudah dikaruniai 2 orang anak laki-laki. Yang sulung berusia 6 tahun dan yang bungsu baru 3 tahun. Dari dulu keadaan rumah tanggaku sudah di rundung derita, tapi entahlah aku masih bertahan di sampingnya dengan alasan anak-anakku. Aku tak mau anakku dibesarkan dengan keadaan orang tua yang terpecah. Aku pikir Mas Bayu akan berubah, tapi sampai saat ini sifatnya masih belum berubah. Mas Bayu anak paling besar dengan dengan satu adik laki lakinya. Mas Bayu menjadi tulang punggung keluarganya. Ayah mertuaku sudah meninggal, dan tinggallah Ibu mertuaku sendirian di rumahnya. Adiknya yang bungsu pun sudah menikah dan mempunyai anak juga.

Saat ini suamiku bekerja di luar negeri dengan penghasilan lumayan cukup besar karena dia bekerja di kapal barang Spanyol. Tapi entahlah walaupun gajinya cukup besar, tapi aku dan anak-anak tidak menikmati kehidupan yang layak. Entah apa yang ada di pikiran Mas Bayu semua gajinya di transfer ke rekening Ibunya dengan dalih ingin menabung di Ibunya agar kami bisa membeli rumah. Mungkin dengan alasan itu aku bisa menerima semua perkataan Mas Bayu. Aku di jatah Mas Bayu hanya 1 juta dengan gajinya yang 10 juta. Berarti sisanya 9 juta di pegang atau di tabung Ibunya, entahlah.. aku tidak tahu?

Bulan ini aku menanti kedatangan Ibu mertuaku, karena aku sama sekali sudah tidak mempunyai uang lagi, mana mungkin cukup satu juta untuk sebulan.

Pagi ini derung motor terdengar di halaman rumahku tepatnya bukan rumahku, tapi rumah milik Ibuku. Ternyata benar dugaanku, Ibu mertuaku dan Adik iparku yang datang. Tanpa basa basi Ibu mertuaku menyerahkan uang 500 ribu ke tanganku. Aku hanya bengong dan diam menerima uang jatahku berkurang.

Ibu mertuaku bilang" bulan ini, Ibu kasih untuk kamu dan anak-anak hanya 500 ribu saja, karena kasihan Adik kamu perlu bayar cicilan motor, dagangannya tidak laku, Ibu mau membantunya 1 juta." Nafasku tak beraturan mendengar penjelasan Ibu mertuaku, mana mungkin dia lebih mementingkan cicilan motor Adik Mas Bayu dari pada aku dan anak-anak yang lebih memprihatinkan hanya di beri uang 500 ribu untuk sebulan. Secara aku dan anak- anak lebih berhak atas gajinya Mas Bayu. Sudahlah aku tak mau berdebat lagi, aku capek seperti ini dari dulu. Berbicara pun hanya akan ada adu mulut yang berkepanjangan. Ya, aku seperti wanita bodoh yang hanya bisa diam di perlakukan seperti ini.

Ku lirik Adik iparku yang celingak-celinguk tanpa tahu malu sedikit pun.

"Tiara, Ibu juga banyak pengeluaran harus memberi makan anak Istri Adik Mas Bayumu itu, tolong kamu mengerti, ya, Tiara!" Penuh harap Ibu Mertuaku memohon agar aku bisa mengerti.

Dengan rasa jengkel di hati, aku hanya bisa cukup menjawab "iya Bu, semoga cukup untuk satu bulan, biarlah anak-anak tak bisa jajan, mungkin makan juga cukup dengan ikan asin saja," sindirku kepada Ibu Mertuaku dan Adik Iparku. Tanpa ada rasa malu dan bersalah mereka hanya ketawa- ketiwi, mungkin bagi mereka lucu, aku berbicara seperti itu.

"Ya, kamu pandai-pandai mengatur uanglah dan dihemat juga agar cukup satu bulan." Waras atau tidak ini orang? batinku berbicara.

Mereka berdua pun pergi berlalu .

***

Setelah kepergian Ibu Mertuaku dan Adik Iparku, pikiranku terus berputar bagaimana caranya aku bisa membagi uang 500 ribu untuk memenuhi kebutuhan hidupan sehari-hari? Apalagi si sulung sekarang sudah memasuki sekolah dasar dan banyak keperluan yang akan dibeli untuk keperluan masuk sekolah. Tega sekali Mas Bayu mempercayakan gajinya kepada Ibunya dan menjatah kami sedikit. Tak terasa sesak di dada, sungguh ini sakit sekali kasihan anak- anakku. Tak kuasa butiran air mataku membasahi pipiku. Aku genggam uang 500 ribu di tanganku, kan ku jadikan ingatan yang paling tajam saat nanti kelak waktunya tiba. Mataku sembab, tubuhku terguncang pelan karena isak tangisanku yang tak bisa ditahan.

"Bu, Ibu kenapa?" Guncangan tangan anak sulungku membuat aku terbangun dari tangisanku.

"Ibu tidak apa2 nak." Aku mencoba menutupi kesedihanku.

"Ibu jangan bohong, kakak tahu kok, tadi Nenek sama Om datang ke sini, mereka ngapain ibu aja? ibu sampai nangis kayak gini." Rupanya si sulung tahu bahwa Ibunya lagi menangis. Walaupun usianya baru 6 tahun, tapi pemikiran anakku sudah seperti orang dewasa. Mungkin asam manis kehidupan dan pemandangan pilu sudah dia saksikan semenjak dari dulu. Anak sulungku memang penurut, mandiri dan tidak menuntut meminta apapun dari ku, layaknya anak-anak seusianya.

"Sini nak, Ibu mau bicara." Aku mendekap anakku erat-erat.

"Iya, ada apa, Bu?"

"Kakak sayang kan sama Ibu?" tanyaku lirih.

"Iya, Kakak sayang Ibu. Ibu jangan nangis, ada apa, Bu?" tanyanya lirih pula.

"Kakak, tolong sabar ya! Mungkin Ibu, tak bisa memberikan apa yang kakak mau untuk saat ini, bahkan kita makan pun jauh dari kata enak."

"Kok, Ayah gitu ya Bu sama kita. Ayah kan kerja di luar Negeri pasti gajinya besar?" Dengan polosnya si sulung menanyakan Ayahnya.

"nggak tahu, Kak, Ibu juga nggak ngerti, mungkin ada kendala." Aku mencoba menutupi kejelekan Ayahnya.

"Nggak apa apa, Bu, yang penting kakak sama adek selalu dekat sama Ibu." Anakku memeluk tubuhku dengan erat. Dan aku pun tahu dia pun menangis.

****

Menjelang sore anak bungsuku merengek ingin di belikan mainan yang cukup mahal, si bungsu melihat anak tetangga yang memamerkan mainannya.

"Ibu, ade ingin beli mainan seperti mainan punya Ardi," rengeknya kepadaku.

Aku hanya berdiri terpaku mendengar rengekan anak bungsuku. Mana mungkin dengan uang yang hanya 500 ribu, aku bisa membelikan mainan untuk anakku yang cukup mahal. Bagaimana nanti kalau di belikan mainan? Uang untuk makan tidak akan cukup. Ah, pusing sekali aku memikirkannya.

"Ade sayang maaf ya, mainan itu cukup mahal, nanti saja ya belinya." Aku mencoba memberikan pengertian sama si bungsu.

Ya, memang dasarnya anak usia 3 tahun susah untuk di berikan pengertian, yang tidak seperti kakaknya yang sudah mengerti kesulitan Ibunya. Si bungsu bukannya mengerti malah dia menangis sejadi-jadinya. Hingga aku pun bingung untuk menenangkannya.

Terdengar teriakan Ibunya Ardi, anak tetanggaku. Dengan gayanya yang khas orang kaya, berjalan sambil membusungkan dadanya,mendekat menghampiriku.

"Eh, Bu Tiara kenapa tuh si Bilar nangis-nangis begitu?" Itulah si bungsu namanya Bilar.

"nggak ada apa-apa, Bu, cuman ini Bilar mau mainan seperti punya Ardi," jawabku sendu.

"Eh, Bu Tiara beliin dong, cuman mainan doang, anak harus sampe nangis segala, ayahnya kan kerja ke luar negeri pasti banyak duitnya?" sahutnya sekenanya saja.

"Ah, Bilar kan sudah banyak mainannya, Bu." Aku mencoba mencari-cari alasan untuk menyembunyikan kesulitan hidupku.

"Alah, paling juga nggak punya duit kan? itu kan duit nya di pegang mertua, ya? kasihan banget Bu Tiara nasibnya," ejek Bu Ardi, membuat hatiku meringis sedih.

"Oh, iya maaf ya, Bu, saya mau menidurkan Bilar dulu." Aku berpura-pura pergi untuk menghindar dari ejekan Bu Ardi.

"Hah, paling juga malu ya punya nasib kok buruk banget?" gumamnya sambil menyunggingkan bibirnya ke kanan-ke kiri. Dan aku pun mendengarnya, meskipun nada suaranya pelan sekali. Aku mengelus dadaku berkali-kali, mengucap istighfar.

Aku segera beranjak meninggalkan Bu Ardi sendirian. Tanpa memperdulikan tatapan sinisnya padaku.

Aku langsung menina bobokan si bungsu agar tertidur dan lupa akan keinginannya itu.

Tring..

ponselku bergetar dan menyala, ternyata ada status terbaru dari Istri adik iparku.

["Asyik ... sebentar lagi aku punya rumah, uh.. senangnya."] Itulah status terbarunya.

Aku berpikir dari mana si Reno, Adik Mas Bayu itu punya uang untuk membeli rumah. Karena setahuku, tadi ibu mertuaku bilang usaha dagangnya lagi tidak laku dan anak Istrinya juga diberi makan sama ibu mertuaku. Atau kah? jangan-jangan?

Lanjut Membaca

Daftar Isi SEKEPING PERNIKAHAN

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Akulah Cintamu
9.3
Pasca panggilan video terakhir, suami Kayra lenyap tanpa jejak, meruntuhkan dunianya dan memaksanya membesarkan dua anak sendirian. Di tengah perjuangan berat ini, ia dipertemukan kembali dengan Damar, adik ipar yang menaruh dendam padanya akibat skandal masa lalu yang melibatkan saudari kembar Kayra. Sempat menolak mengakui sang keponakan, kemiripan fisik bayi tersebut akhirnya meluluhkan kerasnya hati Damar. Mampukah takdir baru ini mengembalikan kebahagiaan Kayra yang sempat sirna?
Sampul Novel Antara Aku, Kau dan Ibu Tiriku
9.6
Ibu tiriku menikah dengan ayah 8 tahun lalu, dia dari keluarga yang sangat kaya, entah mengapa dia bisa menikah dengan Ayah yang pekerjaannya hanya bermain wanita dan menikahi yang dia sukai, tetapi Ayahku memang terlihat tampan, dengan badan yang kekar dan aura wajah yang sangar, mungkin itu menjadi daya pikatnya terhadap wanita-wanita, entahlah, aku tidak begitu jelas, dan Ayah pun jarang pulang. dia tidak berada di rumah selama berhari-hari dan tidak tahu cara mengurus keluarga. Aku hanya tinggal berdua dengan Ibu tiriku, aku di anggap anaknya sendiri, tetapi kebiasaan Ibu berpakaian Sexy sangat menggangguku. AKu menyukai seorang gadis, dia teman SMA ku dulu, Nama nya Rania. AKu sangat menyukainya, tetapi Ibu tiriku?...
Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Cinta tulusku pada Bima Wijoyo berakhir tragis saat ia membiarkanku terpanggang di studio seni yang terbakar demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Aku terbangun di masa lalu, tepat sebelum rapat dewan keluarga berlangsung. Dengan memori kelam tentang kobaran api dan pengkhianatan mereka, kini aku berdiri kokoh untuk membatalkan pertunangan kami. Aku bersumpah tidak akan membiarkan diriku hancur untuk kedua kalinya.
Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya terjebak dalam neraka pernikahan penuh kekerasan bersama Adnan, sosok suami yang tega menyiksanya demi membalas dendam kepada mertua. Di tengah penderitaan fisik dan batin yang tiada henti, orang dari masa lalu Saschya mendadak hadir kembali. Apakah kedatangan sosok tersebut akan menjadi penyelamat yang membebaskannya dari jeratan kejam Adnan, atau justru memicu prahara baru dalam kehidupannya yang telah hancur?
Sampul Novel Istri Untuk Tuan Alex
7.9
Demi melindungi kehormatan ibu angkatnya, Gadis rela menjadi pengantin pengganti. Namun, kesalahpahaman fatal membuat Alex sangat membenci dan memperlakukannya dengan buruk. Tidak tinggal diam, Gadis berani melawan kekejaman tersebut sambil terus menyembunyikan rahasia besar tentang identitas aslinya. Akankah Alex mampu membongkar misteri yang tersimpan rapat ini? Temukan kelanjutan kisah penuh ketegangan dan luapan emosi mereka selengkapnya di Bakisah.
Sampul Novel Mafia In The Night
8.0
Demi ambisi besarnya, William, putra seorang bos mafia kejam, siap melakukan apa saja. Namun, sebuah pengkhianatan merenggut nyawa sang ayah, Ferdinand. Rosemary yang merupakan istri Ferdinand akhirnya mulai menyadari sisi gelap suaminya yang selama ini tersembunyi. Di tengah duka, William bertekad membalas dendam sekaligus membersihkan nama ayahnya dari fitnah. Meski jalannya dihalangi oleh seorang polisi wanita, William takkan mundur hingga peluru terakhir menyelesaikan segalanya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan