APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel SUAMIKU SEORANG PENDUSTA.

SUAMIKU SEORANG PENDUSTA.

Demi melindungi aset sang ayah, pewaris tunggal Kinanti Hans terpaksa menikahi Bramasta. Malang, cinta yang ia percayai selama dua belas tahun rupanya palsu. Bram mengkhianatinya dengan menikahi Neni, sahabat sekaligus mantan kekasihnya sendiri. Demi merebut kekayaan Kinanti, mereka tega bersekongkol melenyapkan nyawa anak dan ibu Kinanti secara keji. Kini, Kinanti pun berada di ujung tanduk, menjadi sasaran terakhir dari konspirasi busuk sang suami.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Neni ...!" gumamku dengan bibir dan tangan gemetar.

"Benarkah ini Neni?"

Aku meyakinkan diriku sendiri dengan mengamati fto itu.

Keyakinanku benar, fto yang ada di profil itu Neni.

Tanpa berpikir panjang chat segera aku buka.

MAS JAM BERAPA KITA BERANGKAT. AKU SUDAH PULANG DARI ARISAN.

Degg, jantungku seolah berhenti berdetak, tubuhku gemetar pandanganku berkunang- kunang. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhku. Emosiku meluap bak ruap bir.

Ponsel Mas Bram aku letakkan kembali di atas meja. Aku diam sesaat menenangkan hati dan jiwaku.

Setelah menyatu kembali, emosiku kembali bereaksi.

Dengan cepat aku berdiri, melangkah mendekati pintu kamar mandi. Rasanya ingin mendobrak pintu kamar mandi untuk menghajar Mas Bram dan menanyakan ada hubungan apa dengan Neni.

Aku mengambil nafas panjang. Dan kuhempaskan perlahan.

"Ya Allah, kuatkan aku Ya Allah." Aku menyandarkan tubuhku ke dinding dekat pintu kamar mandi.

Mulutku terus menyebut nama Allah. Hingga aku tersadar dan mengurungkan niatku untuk mendobrak kamar mandi.

Aku tak mungkin melakukan itu. Aku berpikir perbuatanku tak akan menyelesaikan semuanya.

Aku kembali melangkah keluar kamar. Membiarkan ponsel Mas Bram terus berbunyi. Aku malas membuka ponsel itu, yang pasti  membuat hatiku sakit.

Yang penting buatku, aku sudah tau ternyata Mas Bram sudah tak jujur padaku, ia sudah mengkhianati aku.

Dan hari ini juga kepercayaanku sama Mas Bram mulai luntur.

Aku melangkah menuju ruang tamu, kuhempaskan tubuhku di atas sofa panjang dan kusandarkan kepalaku di sandaran sofa.

Pikiranku kembali pada kalimat Neni yang ada di ponsel Mas Bram. Aku baru paham kenapa sampai Neni tidak mengundangku dalam acara pernikahan. Ternyata suamiku sendiri pengantin laki- lakinya.

Rasanya aku ingin menjerit, dan mengusir suamiku. Tapi lagi-lagi suara hatiku mengatakan, "sabar ... Sabar dulu Kinan, kamu harus rebut dulu aset yang sudah kamu berikan pada suamimu Bram, baru kau berbuat apa yang kau mau?"

Aku tersadar lagi dengan bisikan batinku. Namun air mataku yang tak bisa aku bohongi.

"Say ...!" Terdengar suara Mas Bram memanggilku dari ruang keluarga.

Aku dengan cepat mengusap air mataku.

"Ya, aku di sini, ada apa?" jawabku dingin tanpa beranjak dari sofa. Sepertinya aku malas untuk menemui Mas Bram yang hendak pergi sama Neni.

Aku berusaha untuk pura-pura tak tau tentang perselingkuhan itu. Dan aku harus bermain sandiwara di depan Mas Bram.

Mas Bram sudah berdiri di sampingku dengan pakaian rapi. Tercium aroma parfum yang sangat harum pada pakaian Mas Bram.

Aku mendongakkan kepalaku. Menatap Mas Bram yang sudah dua belas tahun menikahiku.

Rasa cemburu berkecamuk dalam hatiku. Rasanya aku ingin menarik pakaian Mas Bram dan mengatakan tentang tulisan yang aku baca barusan dari Neni.

Namun lagi-lagi aku tak bisa berbuat apa- apa. Aku kembali meredam emosiku.

"Mas boleh aku menemanimu ke Singapura. Bukankah selama pernikahan kita kamu tak pernah mengajak aku ke Singapura?" sengaja aku memancing dengan menyebut pernikahan.

Mas Bram seperti kaget mendengar ucapanku. Namun bukan Mas Bram kalau tidak bisa membuat sejuta alasan.

"Sayang, ini bukan liburan! Ini urusan perusahaan. Kalau kamu ingin berlibur ke sana. Bulan depan insya Allah kamu aku ajak jalan-jalan ke sana." ucap Mas Bram lembut, selembut aroma parfum yang dipakainya.

Aku hanya diam tanpa bereaksi. Hingga Mas Bram membungkukkan tubuhnya dan mencium ke dua pipiku.

"Sudah ya, jaga diri baik-baik, dan jangan lupa jaga Jenar."

Aku tak merespon kata- kata Mas Bram. Aku berdiri dan melangkah pergi masuk ke dalam rumah tanpa mengikuti Mas Bram sampai ke mobil. Hingga terdengar deru mobil Mas Bram meninggalkan halaman rumah.

Entah rasa cemburu tak bisa aku kendalikan. Dengan cepat aku meraih kunci mobilku. Dan keluar rumah setelah pamit sama Bibi Nur pembantuku untuk menitipkan Jenar.

Perlahan mobil yang aku kendarai keluar halaman rumahku untuk membuntuti mobil Mas Bram.

Mobil aku pacu dengan kecepatan tinggi agar bisa mengejar mobil Mas Bram.

Tampak mobil Mas Bram di depanku berjalan pelan. Aku sedikit agak lega bisa di belakang mobil Mas Bram.

Dalam hatiku semoga Mas Bram tidak melihat mobilku. Tapi aku yakin Mas Bram tak melihat mobilku.

Rasa sakit sudah dikhianati bertahun-tahun. Terlintas kata-kata Nita yang mengatakan anak Neni itu bukan anak suaminya yang sudah meninggal. Itu anak hasil selingkuh sama suami yang ke dua. Berarti Neni sebelum suaminya meninggal sudah punya hubungan khusus dengan Mas Bram.

Sebelum pernikahan itu, Neni sering ke rumahku, ia sering curhat tentang suaminya yang tidak bisa mencukupi kebutuhan ekonominya semenjak ia di PHK dari perusahaannya.

Aku merasa kasihan dan sedikit banyak Neni sering aku beri uang sekedar untuk membeli susu dan pempers anaknya. Malahan ia aku tawari agar suaminya bekerja di perusahaanku. Namun Neni menolaknya dengan berbagai alasan hingga ajal menjemput suaminya.

Pernah suatu ketika Neni menghubungi aku dan mengatakan kalau dirinya tak punya uang untuk membayar arisan. Aku yang merasa Neni adalah teman juga aku anggap saudara, aku beri uang untuk membayarnya.

Tak tau dibalik semua itu ternyata Neni dan Mas Bram punya hubungan istimewa.

"Bodohnya aku ...!" keluhku.

Otakku mulai terbayang saat Mas Bram sudah berada di rumah Neni, dengan tiba-tiba aku muncul di rumahnya berpura-pura datang sebab waktu Neni nikah aku tak bisa hadir. Aku tersenyum perih saat membayangkan semua itu.

Pandanganku kembali fokus ke mobil Mas Bram. Aku tersentak kala melihat lampu rambu lalu lintas  berwarna merah. Aku menghentikan mobilku. Namun mobil Mas Bram berjalan terus meninggalkan aku.

"Sialan ...! Aku terlambat." Aku gusar dan kupukul stir mobil berkali-kali.

Gara-gara lampu merah yang membuat mobilku tertinggal jauh dengan mobil Mas Bram. Aku kehilangan mobil Mas Bram.

Namun aku tak kehabisan akal. Aku berencana langsung ke rumah Neni, aku tak perduli apa yang bakal terjadi.

Lampu hijau mulai menyala. Mobil aku pacu menuju rumah Neni yang mana sebelumnya aku pernah ke sana waktu acara arisan.

Butuh waktu tiga puluh menit. Mobilku sudah memasuki kawasan perumahan dimana Neni tinggal.

Sengaja mobil kuparkir agak jauh dari rumah Neni, agar Neni dan suamiku tak melihatku

Aku mempercepat langkahku agar tak ketinggalan keberangkatan suamiku dan Neni.

Kuhentikan langkahku tepat didepan rumah Neni.

Daun-daun kering berserakan di halaman rumah.

Aku diam terpaku, menatap  pintu pagar bercat hitam tergembok rapi.

"Sepi ...?!" gumamku dengan mata memandang ke setiap sudut rumah Neni.

"Ibu mencari siapa?"

Aku tersentak, dengan cepat aku menengok ke arah suara itu.

Berdiri seorang wanita paruh baya menatapku.

Aku gugup, mencoba tersenyum ramah pada Ibu yang ada di depanku.

"Saya mencari Bu Neni. Tapi rumahnya kok sepi?"

Wanita itu tersenyum dan menjelaskan kalau Bu Neni sudah tidak tinggal di sini setelah menikah.

Aku kaget, mendengar penjelasan dari wanita yang ternyata tetangga sebelah rumah Neni. Wanita itu memperkenalkan diri.

"Panggil saja saya Bu Darma saya ketua RW di kampung ini." Wanita itu menyodorkan tangannya ke arahku.

"Saya Kinanti Bu, panggil saja saya Kinan." ucapku dengan tersenyum.

Sengaja aku tidak segera pergi, kesempatanku ingin tau tentang Neni dari Bu Darma.

"Apakah ibu tau? Dimana Bu Neni tinggal sekarang?"

Bu Darma hanya menggelengkan kepala. "Yang saya ketahui Bu Neni sudah pindah di rumah barunya."

Degg ... Jantungku seolah berhenti berdetak. Tubuhku menjadi lemas. Aku menghela nafas dalam- dalam untuk menenangkan hati dan pikiranku. Tapi aku mencoba tenang mendengarkan cerita Bu Darma.

"Dua hari yang lalu bu Neni menikah. Setelah menikah ia langsung di boyong sama suaminya di rumah barunya?" lanjut bu Darma. "Apa Jeng Kinan masih saudara Jeng Neni?"

Dengan cepat aku menganggukkan kepala.

Agar Bu Darma tak curiga, aku membohongi dengan mengaku kalau aku kakaknya Neni. Beruntung Bu Darma percaya begitu saja.

"Boleh saya minta informasi tentang Neni, Bu?'

Bu Darma tampak senang, dan mempersilahkan aku untuk singgah sebentar di rumahnya.

Dengan sangat gembira aku menerima tawaran Bu Darma. Bu Darma menceritakan banyak tentang Neni.

"Sebenarnya saya sungkan hendak mengatakan sama Jeng Kinan. Tapi Jeng Kinan harus tau. Sebab Jeng Kinan kan kakak Jeng Neni.

"Ceritakan saja Bu, Nggak apa-apa kok," jawabku penasaran.

Bersambung.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Fanboy Romantis
8.5
Di depan kamera, Fayrin adalah aktris idola yang tampak sempurna. Namun, di balik layar, ia memiliki kepribadian angkuh yang membuat Kiky merasa sangat muak. Hubungan mereka berubah saat Kiky mulai mengenal sisi kelam sang artis lebih dalam. Rasa benci itu perlahan terkikis, berganti menjadi perasaan cinta yang kuat. Kini, Kiky bertekad untuk mendekati Fayrin dan memenangkan hatinya, meski ia harus menghadapi kenyataan sulit tentang perbedaan dunia mereka yang begitu besar.
Sampul Novel Salah Target
8.6
Demi membalas dendam pada Dicky Prasetyo, Andrey memimpin sindikatnya untuk menculik Flamboyan Prasetyo demi tebusan. Sialnya, mereka salah sasaran; Flamboyan hanyalah anak asisten rumah tangga Dicky, sementara target asli, Kirana yang difabel, sedang pergi. Ketika Dicky mendadak lenyap misterius, Bramastyo Hartawan harus berjuang sendirian. Ia mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan kekasih sekaligus calon mertuanya dari ancaman kematian yang kian nyata.
Sampul Novel Selimut Malam CEO
9.1
Kehidupan Raina Paradisa hancur di usia tujuh belas tahun. Demi melunasi utang pamannya senilai satu miliar rupiah, ia terpaksa mengubur mimpinya dan menjadi pemuas bagi Alex Modero. Alex adalah seorang pebisnis sukses berumur tiga puluh lima tahun yang sangat sombong, gemar berganti kekasih, dan membenci pernikahan. Kini, pria kaya tersebut mengklaim Raina sebagai miliknya, menjebak gadis muda itu dalam belenggu hubungan gelap yang tidak bisa ia hindari.
Sampul Novel Skandal Cinta Saudara Angkat
9.1
Kehidupan Wulan Prabu Aditama hancur seketika setelah kehormatannya direnggut paksa oleh Damar. Sosok kakak angkat yang dahulu sangat ia percayai sebagai pelindung kini justru menjadi dalang di balik penderitaannya. Tragedi kelam ini memaksa Wulan menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian. Di tengah luka yang mendalam, mampukah Damar bertanggung jawab atas perbuatannya? Hubungan persaudaraan mereka kini berubah menjadi skandal rumit yang dipenuhi dilema berat.
Sampul Novel Terima Kasih atas Luka yang Kau Berikan, Mas!
8.5
Kehangatan sikap Bram kini sirna tanpa bekas. Hatiku hancur saat menyaksikan suamiku sendiri berselingkuh dengan adik kandungku. Demi buah hati dan keutuhan rumah tangga, aku mencoba memaafkan mereka. Namun, setahun berlalu, pengkhianatan itu kembali terulang. Lewat pesan singkat yang tak senonoh, aku tahu hubungan terlarang mereka masih berjalan. Kini, aku dihadapkan pada pilihan sulit: terus bertahan atau mengakhiri pernikahan yang menyakitkan ini.
Sampul Novel You Are My Heart
8.6
Sebuah proyek kerja mempertemukan kembali Cia Li, seorang ahli botani, dengan sang Presdir sukses bernama Ling Yue. Reuni ini menguak kembali memori masa lalu yang diselimuti kesalahpahaman besar. Cia Li mengira cintanya bertepuk sebelah tangan, sedangkan Ling Yue telanjur percaya bahwa Cia Li membencinya. Di tengah perbedaan profesi yang kontras, kini mereka harus menghadapi gejolak perasaan lama. Akankah luka masa lalu itu bisa disembuhkan demi menyelesaikan kisah cinta mereka yang tertunda?