APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel SUAMIKU SEORANG PENDUSTA.

SUAMIKU SEORANG PENDUSTA.

Demi melindungi aset sang ayah, pewaris tunggal Kinanti Hans terpaksa menikahi Bramasta. Malang, cinta yang ia percayai selama dua belas tahun rupanya palsu. Bram mengkhianatinya dengan menikahi Neni, sahabat sekaligus mantan kekasihnya sendiri. Demi merebut kekayaan Kinanti, mereka tega bersekongkol melenyapkan nyawa anak dan ibu Kinanti secara keji. Kini, Kinanti pun berada di ujung tanduk, menjadi sasaran terakhir dari konspirasi busuk sang suami.
Bab
Bagikan

Bab 3

Namun, tiba- tiba Bu Darma berheti bicara. Ia tampak ragu, lama ia menjawab. Namun aku  mendesak terus, agar Bu Darma menceritakannya.

Bu Darma bercerita menurut pengakuan Neni sendiri sebelum suaminya yang dahulu meninggal mempunyai hutang pada Tuan Smith.

Aku kaget saat Bu Darma menyebut nama Tuan Smith. Dengan cepat aku memotong ucapan Bu Darma.

"Tuan Smith?" tanyaku agak bingung. "Siapa Tuan Smith?"

Bu Darma memandangku tajam. Dan ia langsung menjelaskan kalau Tuan Smith suami Neni. Ia seorang pengusaha muda yang kaya raya. Duda tanpa anak, ia menginginkan anak dari Neni. Dari Tuan Smith lah hutang suami Neni terlunasi.

Aku lebih kaget saat Bu Darma bicara soal hutang.

"Hutang ...?!" aku terperanjat kaget. Apalagi Bu Darma menyebut nama Smith.

Nama Smith itu nama Papaku yang sudah meninggal. Nama panjangnya Hans Smith. Berkebangsaan Swiss. Mamaku bernama Citra Lestari orang Jogjakarta. Orang kebanyakan memanggil Mamaku dengan sebutan Bu Citra.

Mamaku pengusaha batik yang sukses. Dan Papaku pengusaha properti serta mempunyai pabrik tekstil yang terkenal di negeri ini dengan berbagai cabang di luar negri.

Semenjak Papaku meninggal, aku anak satu-satunya yang harus menggantikan mengelola usaha Papaku. Untuk usaha Mamaku tetap dikelola Mamaku sendiri.

Aku yang merasa sendirian begitu kalang kabut mengelolanya. Mas Bramasta sebagai tangan kanan papaku waktu itu berusaha membantuku dengan mendorong agar usaha Papaku jangan sampai gulung tikar sebab ditinggal Papaku.

Dengan seringnya kami bertemu, aku jatuh cinta sama Mas Bram, begitu juga Mas Bram.

Akhirnya aku menikah dengan Mas Bram yang mana sebenarnya Mama tak begitu merestui.

Lama- lama Mama menyerah dengan tekatku, serta merestui pernikahanku hingga dikaruniai anak laki-laki satu yaitu Jenar Putra Bramasta.

"Lho, apa keluarga Jeng Kinan waktu pernikahan  Jeng Neni tidak datang. Pernikahannya baru dua hari ini lho Jeng!"

Aku menjawab dengan menggelengkan kepala.

"Sudah lama adik saya ada masalah sama keluarga Bu," aku membela diri dengan kebohongan.

Dalam hatiku sangat yakin laki-laki yang bernama Smith itu Mas Bram, ia menyamar memakai nama Papaku.

Ia menikahi Neni sebab hutang.

Dan yang lebih membuat hatiku hancur berkeping-keping. Mas Bram mengaku kalau dirinya Duda tanpa anak pada warga perumahan ini.

Aku berdiri dan mohon pamit dengan mengucap banyak terima kasih dengan informasinya. Dan aku meminta Bu Darma kalau ada informasi tentang Neni aku menyuruh agar Bu Darma berkenan memberitau aku.

Aku menyodorkan nomor ponselku. Bu Darma mengangguk pelan. Dengan mencatat nomor ponselku.

Aku keluar dari rumah Bu Darma menuju mobilku. Pikiranku semakin tak karu-karuan. Sejuta pertanyaan terus bergelayut dalam otakku.

"Jadi suami Neni sebelum meninggal punya hutang Mas Bram? Kenapa Mas Bram tidak memberi tahu aku?"

Aku tak bisa berpikir lagi. Kupacu mobilku menuju rumah Mamaku untuk berbagi kesedihan.

Rasanya aku ingin menangis  meminta maaf pada Mamaku ternyata benar apa yang dikatakan Mama pilihanku salah.

Kebetulan Mamaku masih berada di Jakarta. Belum berangkat ke Jogjakarta untuk mengontrol perusahaannya.

Namun apa yang terjadi dengan Mamaku. Mamaku malah menyalahkan aku.

"Kamu nggak usah menyalahkan suamimu, Kinan? Bram sudah menjadi pilihan terbaik kamu. Salahkan dirimu sendiri, sebab kamu sudah terlalu percaya sama Bram dibanding Mama."

Sungguh aku kecewa dengan perkataan Mamaku. Memang aku merasa bersalah. Tapi tak seharusnya Mamaku berkata seperti itu.

"Ma, tolong beri aku solusi. bagaimana jalan keluarnya." Pintaku memohon dengan duduk seperti pesakitan di depan hakim sesekali kutatap wajah Mamaku.

"Kamu seharusnya tak memanjakan suamimu? Kenapa semua aset kau limpahkan pada suamimu? Bukankah kamu mempunyai Jenar?"

Degg ... Jantungku seolah berhenti berdetak. "Siapa yang melimpahkan pada Mas Bram? Aku tak sebodoh itu Ma?"

Tampak Mamaku memandangku tajam.

"Bram yang bilang. Malah dia bawa pengacara ke rumah Mama."

Aku tersentak. "Mama percaya dengan semua itu?"

Mamaku tampak diam. Ia terus menatapku tanpa berkata sepatah kata. Hingga aku mengulangi perkataanku untuk yang ke dua kalinya.

Mamaku menggelengkan kepalanya.

"Aku tak memberi izin tanda tangan itu. Sebab semua aset itu namaku juga tercantum, Kinan."

Aku merasa lega. Aku mendekati wanita yang tiga puluh empat tahun melahirkan aku. Aku memeluk pipi keriputnya yang sudah termakan usia. Aku cium berkali-kali dengan mengucap terima kasih.

Dan ia berpesan agar aku hati-hati terhadap Mas Bram. Sepertinya Mama menaruh curiga dengan Mas Bram tentang aset perusahaanku. Ia juga terus menanyakan tentang kepemilikan perusahaanku apakah sudah di atas namakan Mas Bram.

Aku menggelengkan kepala.

"Baru mengelolanya Ma, tapi untuk kepemilikan belum aku atas namakan Mas Bram."

Sepertinya Mama merasa lega mendengar ucapanku.

"Syukurlah," suara mama lirih.

Aku berdiri meraih tas kecilku yang tergeletak di meja depanku.

"Aku pulang dulu Ma, Jenar  pasti mencariku, hampir sehari aku belum menemui Jenar."

Mama mengangguk, mengantarku sampai di depan pintu rumah.

"Kapan-kapan bawa Jenar ke sini. Aku kangen ingin mengajaknya jalan- jalan."

Kembali aku mengangguk dan melambaikan tangan ke arah Mamaku.

***

Sampai di rumah sudah jam empat sore. Berati hampir satu hari aku disibukkan dengan urusan suamiku.

Aku melangkah ke kamar Jenar. Baru saja aku membuka pintu kamar, aku kaget melihat Jenar tidur dengan kening di kompres oleh Bibi Nur.

"Jenar ...!" panggilku dengan panik.

Aku melangkah menghampiri Jenar yang berbaring lemah dengan memanggil namaku.

"Mama ...!"

Aku tempelkan tanganku ke kening Jenar. Aku merasakan panas pada suhu tubuh Jenar.

"Tubuh Tuan kecil panas Nyonya, tadi sudah saya cek suhunya tiga puluh delapan derajat."

Aku segera menoleh ke arah Nur yang masih berdiri dengan menunduk.

"Kenapa kamu tak menghubungi aku Bik?" Nadaku kesal.

"Maaf Nyonya, sudah berkali-kali saya menghubungi Nyonya tapi tak ada jawaban dari Nyonya."

Aku tersentak, dan baru ingat kalau ponselku baterainya habis lupa untuk mengisi. Padahal sejak pulang dari arisan aku berniat untuk mengisi batrai, tapi aku tak ingat. Pikiranku sudah disibukkan dengan Mas Bram.

"Kamu sudah menghubungi Tuan Bram?"

"Sudah Nyonya, tapi juga tak diangkat, Tuan kecil juga sudah saya kasih obat turun panas,"

Aku segera membuka tasku dan mengambil ponselku dengan mengulurkan ponsel ke arah Bibi Nur agar mengisi baterai nya.

"Apa yang kamu rasakan, Sayang?" ucapku mengelus kepala Jenar.

Jenar hanya diam dengan mengerjap- ngerjapkan matanya.

Aku semakin  panik, segera menyuruh bibi Nur menyuruh Arman sopirku untuk siap-siap mengantarku ke rumah sakit. Aku takut terjadi apa-apa dengan Jenar.

Sengaja aku tak menghubungi  dokter pribadiku terlebih dahulu.

Sesampai di rumah sakit segera aku hubungi Mas Bram.

"Mas ...! Jenar sakit. Sekarang berada di rumah sakit." ucapku  dalam ponsel singkat. Setelah dokter menyatakan Jenar harus rawat inap.

"Oh ya, aku akan secepatnya pulang, Tapi ...!"

Aku langsung menutup pembicaraan Mas Bram dalam ponsel. Hingga Mas Bram berkali-kali menghubungiku lagi. Namun aku enggan mengangkatnya.

Rasa sakit masih terasakan jika mengingat kata-kata Bu Darma. Dan apalagi bayangan demi bayangan terlintas di pelupuk mataku bagaimana Mas Bram bersenang-senang bergumul di atas ranjang dengan Neni.

"Mama menangis?" tanya Jenar yang tiba-tiba mengagetkan aku. "Aku nggak apa-apa Mama, besok Jenar pasti sudah sembuh." suara parau anakku yang berusia sepuluh tahun.

Aku mencoba tersenyum. Dengan mengusap air mataku yang terlanjur menetes di pipiku.

"Ya Sayang, kamu harus cepat sembuh," lirih ku dengan menelan salivaku sendiri.

"Papa kemana, Ma?"

"Ohh, Papa ada urusan perusahaan ke Singapura, Sayang. Tunggu besok pasti datang," ucapku menghibur Jenar.

Tiba-tiba pintu terbuka dan seorang perawat berdiri di belakangku.

"Nyonya, ada panggilan dari dokter Frans."

Aku mengangguk.

"Sebentar Sayang, Jenar sama Bibi Nur dulu ya?"

Aku berdiri mencium kedua pipi Jenar. Dan mengikuti langkah suster keluar kamar inap Jenar untuk menemui dokter Frans.

Dokter Frans dokter pribadi keluargaku yang sudah bertahun tahun merupakan kepercayaan Papa dan mamaku.

"Kenapa Nyonya tidak menghubungi saya sebelumnya kalau putra Nyonya sakit?"

"Maaf Dok, mungkin saya panik."

Dokter Frans mengangguk dengan menatapku tak seperti biasanya. Seperti ada sesuatu yang berat untuk disampaikan.

Tubuhku lemas, seperti seorang tahanan berhadapan dengan hakim yang akan menjatuhkan hukuman berat untukku.

"Sakit apa yang diderita anak saya, Dokter?" Saya bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.

Dokter Frans menarik napas panjang. Dia mengambil sebuah kertas dan menyodorkannya ke arahku.

Dengan hati berdebar-debar saya mengambil kertas itu dan membacanya.

Darahku tersirap, tubuhku gemetar saat membaca tulisan yang tertera dalam kertas itu.

Bersambung.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Lima Anak Kembar
9.4
Isabella Ardhani terusir setelah malam tragis bersama bos mafia, Rafael Damar, membuatnya mengandung lima bayi kembar jenius. Demi membesarkan anak-anaknya, ia melarikan diri ke luar negeri. Tahun-tahun berlalu, Isabella kembali sebagai sosok wanita yang sangat berkuasa. Takdir pun mempertemukannya lagi dengan Rafael. Namun, kali ini kelima anak kembarnya yang cerdas telah mempersiapkan sebuah rencana balas dendam besar untuk ayah kandung mereka sendiri.
Sampul Novel Budak ranjang tuan muda
8.2
Renata, seorang mahasiswi pertanian, dikhianati oleh kekasihnya sendiri, Rian, yang tega menjualnya kepada pemuda kaya raya bernama Albert demi kepentingan bisnis. Setiap hari, Renata terpaksa menuruti nafsu Albert, bahkan di saat pria itu sedang diselimuti kemarahan. Namun, seiring berjalannya waktu, kebencian di antara mereka perlahan berubah menjadi cinta. Albert pun bertekad menjadikan Renata sebagai istri, meski harus menentang restu orang tua dan membatalkan pertunangannya.
Sampul Novel Cinta Bisa Tumbuh Lagi
8.8
Tepat sebelum hari pernikahan, penglihatan wanita ini mendadak pulih setelah sebelumnya buta demi menyelamatkan Doni. Namun, kebahagiaan itu sirna saat ia menyaksikan calon suaminya justru bermesraan dengan adik sepupunya sendiri di ruang tamu. Menyadari perselingkuhan yang telah berlangsung lama di belakangnya, ia memutuskan untuk merahasiakan kesembuhannya. Dengan tekad bulat, ia menghubungi ibunya untuk membatalkan pernikahan dengan Doni, lalu memilih untuk menikahi pria vegetatif dari Keluarga Barata.
Sampul Novel Gadis Kesayangan Tuan Muda
9.2
Demi melunasi utang sang ayah, Syaqila Ayu Purnama terpaksa menjadi tunangan Aditya Garrett. Gadis remaja ini kini hidup bergelimang kemewahan dan bersekolah di tempat elit, meski ia membenci takdirnya. Di balik itu semua, Aditya yang berusia 23 tahun sengaja memanfaatkan situasi ini karena sudah lama memendam rasa pada Syaqila. Ia terus memanjakannya, namun usahanya diuji oleh kehadiran para pria muda lain yang lebih tampan. Akankah Aditya berhasil memikat hati Syaqila?
Sampul Novel Hasrat Yang Tertunda
8.2
Hidup penulis naskah terkenal, Megan White, berubah drastis setelah kecelakaan tragis yang menimpanya. Ia terbangun di kediaman mewah milik seorang miliarder dingin bernama Riley Charles. Secara mengejutkan, Riley langsung mengklaim Megan sebagai istrinya. Kini, ketenangan hidup Megan sirna sepenuhnya karena ia terjebak dalam status baru sebagai nyonya di istana megah Riley yang penuh dengan misteri.
Sampul Novel HOLD ME
9.6
Alice, gadis berprestasi usia 18 tahun, harus mengubur mimpinya jadi desainer setelah orang tuanya meninggal. Hidupnya kian hancur saat Martin, sang kakak, tega menjual dirinya kepada miliarder muda berkuasa di Jakarta, Devan Adipati Gumilang. Terjebak sebagai pemuas nafsu pria tampan yang berhati kejam itu, Alice kini diperlakukan layaknya mainan belaka. Sanggupkah ia melepaskan diri dari jeratan Devan yang begitu dominan dan menyelamatkan masa depannya?