
Suamiku Pura-pura Mati Demi Menipu Uangku
Bab 3
Yohan terlihat sangat panik. Dia mengadang di depan ranjang pasien Marco dan berseru, “Nggak bisa! Aku nggak setuju!”
Aku berpura-pura menyalahkannya, “Ini urusan orang dewasa. Kamu nggak usah ikut campur.”
Yohan mulai berkeringat dingin, sedangkan aku hanya memandangnya dengan dingin.
“Ibu, bukannya kamu paling cinta sama Ayah? Apa kamu tega melihatnya meninggal tanpa tubuh yang utuh?” tanya Yohan dengan suara yang penuh permohonan.
Aku tetap berpegang teguh pada pendirianku dan menjawab, “Mendonorkan organ adalah hal yang bisa menyelamatkan orang lain. Aku lagi bantu dia pupuk kebaikan. Mungkin saja dia bisa dilahirkan di tempat yang lebih baik di kehidupan selanjutnya.”
Berhubung tidak dapat membuatku berubah pikiran, Yohan berusaha keras untuk menghalangiku sambil memandang ke sekeliling, seolah-olah sedang mencari seseorang. Pada detik berikutnya, matanya langsung berbinar.
“Bibi Susi!”
Aku menoleh dan melihat seorang wanita yang berdandan cantik sedang berjalan mendekat dengan terburu-buru. Wanita itu adalah teman masa kecil Marco. Aku pun mencibir dalam hati. Sepertinya, dugaanku benar. Susi memang sedang menunggu di sekitar untuk menjemput Marco.
Di kehidupan sebelumnya, aku tertipu oleh Yohan dan Susi yang bekerja sama sehingga tidak memeriksa jasad Marco dengan teliti. Pada akhirnya, aku hanya sempat melirik jasadnya sekali sebelum dikremasi. Jadi, mereka memiliki kesempatan untuk mengganti tubuh aslinya.
“Kak Isabel, apa-apaan kamu?” Susi buru-buru mengadang di depanku dengan ekspresi panik.
Kemudian, dia menerjang ke sisi ranjang pasien dan berpura-pura menangis sambil berseru, “Kak Marco, kamu kenapa? Nggak bisa! Aku nggak setuju organnya didonorkan! Isabel, kenapa kamu begitu kejam? Kak Marco sudah begini, kamu masih mau donor organnya. Memangnya kamu nggak bisa biarkan dia pergi dengan tenang?”
Melihat wanita yang menangis dengan sedih di hadapanku itu, aku merasa sangat benci dan marah. Dia adalah teman masa kecil Marco, tetapi akhirnya menikah dengan seorang pebisnis kaya dari kota tetangga dan memutuskan hubungan dengan Marco.
Siapa sangka pebisnis kaya itu kemudian terlibat dalam perjudian dan menghabiskan seluruh harta keluarga mereka, juga melakukan KDRT. Setelah mengalami KDRT beberapa kali, Susi akhirnya tidak tahan dan pulang ke rumah.
Begitu mengetahui apa yang dialaminya, aku sangat mengasihaninya, juga memperlakukannya bagaikan seorang adik kandung. Sesekali, aku akan memberinya uang dan juga mengundangnya untuk makan di rumah kami. Tak disangka, dia dan Marco malah diam-diam berselingkuh.
Berhubung Susi tiba-tiba muncul, staf dari lembaga donasi organ merasa sangat serbasalah dan menatapku sambil bertanya, “Bu Isabel, apa hal ini masih mau dilanjutkan?”
Aku melirik Susi, lalu menjawab dengan acuh tak acuh, “Tentu saja! Kenapa harus dibatalkan? Orang tua Marco sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, sedangkan Yohan masih belum cukup umur. Aku ini istri sah Marco, satu-satunya orang yang punya hak untuk memutuskan hal ini. Bu Susi, apa hubunganmu dengan Marco? Apa hakmu ikut campur dalam urusan keluarga kami?”
Begitu mendengar ucapanku, staf itu langsung tidak segan lagi pada Susi. “Bu, tolong minggir. Jangan ganggu kerja kami.”
Kemudian, mereka mendorong Susi dan segera memindahkan “jasad” Marco ke tandu.
“Tunggu! Kalian mau bawa Marco ke mana?” tanya Susi dengan panik. Namun, dia juga tidak bisa mencegahnya.
“Kami mau letakkan jasadnya ke lemari pembeku dulu, lalu baru memindahkannya ke rumah sakit di bawah kelola lembaga kami.”
Setelah menjawab pertanyaan itu, staf itu pun mendorong pergi tandunya. Susi dan Yohan ditahan oleh orang lainnya sehingga tidak bisa mendekati Marco. Pada akhirnya, “jasad” yang dari tadi berbaring diam itu pun tidak dapat meneruskan sandiwaranya lagi.
“Uhuk, uhuk! Tunggu! Aku belum mati!”
Anda Mungkin Juga Suka





