
Suamiku, Nerakaku!
Bab 3
Selesai makan, aku dipanggil ke ruang kerja Ayah Kennedy.
Paman yang biasanya bersikap tegas, justru bertanya dengan sabar dan ramah, "Lovia, kamu menyukai Kennedy sejak kecil, 'kan? Sekarang kamu masih suka nggak?"
Aku buru-buru menggeleng, bahkan gelenganku sangat kuat. Kepalaku sampai terasa sakit.
Aku menyukai Kennedy selama 7 tahun, merendahkan diri selama 7 tahun, menderita selama 7 tahun. Meskipun begitu, aku malah tidak pernah memetik pelajaran apa pun. Makanya, aku mendapatkan balasan seperti siksaan di neraka.
Itu sebabnya, aku tidak berani menyukai Kennedy lagi.
Setelah mendengarnya, Paman merenung sejenak. Dia berkata dengan kecewa, "Ya sudah, kamu nggak bisa menjadi menantu Keluarga Prakoso, tapi kamu tetap putri kami. Kamu sangat baik dan cantik, Kennedy yang nggak beruntung karena nggak mendapatkanmu."
Paman mengeluarkan kartu bank dari lacinya. "Ini peninggalan orang tuamu. Di dalamnya ada 8 miliar. Mereka menyuruhku menyimpannya dan memberikannya kepadamu sebagai mahar."
Delapan miliar? Nominal ini sama seperti jumlah uang tebusan.
Ketika diculik, aku sempat marah kepada orang tuaku. Kenapa mereka tidak membawaku bersama mereka dan membuatku menderita seperti ini?
Namun, ternyata mereka meninggalkan jaminan hidup untukku. Mereka sangat mencintaiku.
Aku menggigit ibu jariku, berusaha agar tidak menangis. "Terima kasih, Paman."
Setelah keluar dari ruang kerja, waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Aku pergi ke kamarku. Di tengah jalan, aku malah bertemu Kennedy.
Kennedy tahu aku hendak ke kamarku. Dia berucap dengan lembut, tidak seperti biasanya, "Malam ini Sarah tidur di kamarmu. Kamu bisa tidur di kamar tamu di samping kamarku."
Ternyata demi Sarah. Aku mengangguk, lalu berjalan ke arah yang berlawanan. Saat aku baru pindah, Kennedy sangat membenciku sehingga pindah ke kamar yang paling jauh dariku. Satu di ujung timur, satu di ujung barat.
Namun, kamarku di desain oleh desainer profesional. Tentu saja, kamar tamu itu sama sekali tidak bisa dibandingkan. Namun, semua itu milik Keluarga Prakoso. Aku hanya bisa menurut.
Sebelum aku berjalan lebih jauh, Kennedy tiba-tiba memanggilku, "Lovia, kenapa kamu jadi pendiam sekarang?"
Aku menoleh dan melihat ekspresinya yang mencemooh, tetapi juga terlihat khawatir.
"Aku ... maaf ...." Setelah ragu-ragu, aku hanya bisa meminta maaf. Aku tidak tahu harus mengatakan apa kepada Kennedy.
"Ini sudah ketiga kalinya kamu minta maaf padaku hari ini. Kamu aneh sekali." Kennedy mendekat, lalu hendak menyentuh dahiku.
Aku langsung melompat mundur seperti tersengat listrik. Saat aku memegang pagar koridor, kakiku pun lemas hingga hampir tidak bisa berdiri.
Saat melihatku yang seperti orang gila ini, ekspresi Kennedy mulai tidak sabar. Aku menahan suaraku yang bergetar saat berkata, "Aku ... aku akan pindah besok. Aku sudah bilang sama Paman."
Aku mengira Kennedy akan merasa lega mendengarnya dan melepaskanku, tetapi dia malah marah.
"Pindah? Kenapa? Aku cuma suruh Sarah nginap di kamarmu 1 malam. Dia tamu. Masa kamu nggak bisa ngalah sedikit?"
Aku buru-buru menggeleng. "Bukan begitu."
Kennedy mendekat dengan wajah suram. Dia meraih pergelangan tanganku, lalu menarikku ke kamar yang terletak di ujung timur. "Ikut aku, ada yang ingin kubicarakan."
Ketakutan menyelimuti hatiku. Aku mengeluarkan kartu yang diberikan Paman tadi, lalu berucap, "Maaf, aku punya uang. Jangan pukul."
Kennedy menoleh dengan kaget. Sementara itu, aku sudah terduduk lemas di lantai dengan tangan yang masih digenggam oleh Kennedy. "Lovia, kamu bicara apa?"
Saat ini, bibirku sangat merah karena kugigit. Saat melihat wajah Kennedy yang semakin dekat, aku teringat pada hinaan para penculik itu. "Kamu cuma anjing Keluarga Prakoso. Kamu nggak berhak mengganggu majikanmu."
"Kak Kennedy, maksudku Pak Kennedy, aku nggak akan mengganggumu lagi. Aku nggak akan berani lagi."
Kennedy akhirnya menyadari bahwa kondisi mentalku agak terganggu. Sikapnya menjadi lebih lembut. Dia merangkul pinggangku dan menggendongku dari lantai.
Karena kehilangan keseimbangan, aku secara refleks memeluk leher Kennedy. Ekspresinya yang serius pun menjadi melunak. "Lovia, aku bukan mau menyuruhmu berhenti menggangguku. Tapi ...."
Sebelum menyelesaikan ucapannya, pintu kamar di koridor tiba-tiba terbuka. Sarah menjulurkan kepalanya dari dalam, lalu menutup mulutnya dengan kaget. "Pak, Nona."
Kennedy tampak kesal. "Aku sudah memberimu izin nginap di kamar ini. Ada masalah apa lagi?"
Sarah menyahut dengan agak sedih, "Ada rapat daring dari cabang perusahaan di luar negeri. Kamu harus menghadiri rapat ini."
Kennedy melirikku yang berada di pelukannya. Pada akhirnya, dia terpaksa menurunkanku. Tubuhku kaku, aku tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Kamu tunggu aku di kamarku." Usai melontarkan itu, Kennedy masuk ke kamar Sarah. Pintu pun ditutup.
Cahaya terang menghilang di koridor. Aku seketika merasa sangat lega. Bajuku sampai basah karena keringat.
Kennedy tidak akan kembali lagi. Aku tahu seperti apa metode yang digunakan Sarah. Ini sudah terjadi berkali-kali. Di hari ulang tahunku, di upacara kelulusanku, Kennedy selalu dipanggil pergi oleh Sarah. Mungkin Kennedy memang ingin pergi atau tidak ingin kembali lagi.
Aku harus segera pergi dari sini. Aku akan ke tempat yang sangat jauh dari Kennedy. Jika terus berhubungan dengannya, aku takut mentalku akan hancur sampai menjadi gila.
Anda Mungkin Juga Suka





