
Suamiku Membunuh Empat Anakku demi Wanita Dambaannya
Bab 3
Pada malam hari, aku mengira bahwa Cedric akan pergi bermain dengan Nella dan Cindy hingga larut malam.
Tak kusangka, dia malah datang mencariku di kamar.
Dia memelukku dan ingin menciumku.
"Sayang, sudah lewat sebulan, bisakah aku ...."
Aku langsung menyela, "Nggak. Kata dokter, aku setidaknya harus istirahat selama tiga bulan."
Aku pun mendorongnya.
"Selain itu, aku nggak ingin melakukannya. Sekarang, aku teringat akan empat anak itu, jadi aku merasa sedih."
Sambil mengucapkan kata-kata ini, aku menunjuk ke foto di belakangnya.
Tatapannya seketika menegang. Dengan wajah pucat, dia pun turun dari ranjang.
Kemudian, dia berseru, "Kenapa kamu mengungkit tentang mereka pada saat seperti ini?!"
"Mereka sudah meninggal, jangan diungkit lagi!"
Kemudian, dia langsung membanting pintu dan pergi begitu saja.
Ini pertama kalinya dia marah padaku.
Aku tahu dia hanya menunjukkan reaksi seperti ini karena dia merasa takut.
Inilah insting manusia. Setelah membunuh empat anak, bagaimana mungkin dia tidak merasa takut?
Aku berbaring di atas ranjang sambil merencanakan sesuatu.
Sedangkan Cedric tidak lagi datang mencariku. Katanya, malam ini, dia akan tidur di kamar tamu.
Sesaat kemudian, aku mendengarnya membuka pintu.
Aku diam-diam membuka pintu dan melihatnya memasuki kamarnya Nella.
Seperti dugaanku, Nella tidak mengkhianati ekspektasiku.
Dalam waktu sesingkat ini, dia sudah ingin mendapatkan Cedric.
Aku berjalan keluar secara perlahan dan berjalan ke depan pintu kamarnya Nella.
Aku pun mendengar suara yang ambigu dari dalam kamar.
"Cedric, akhirnya aku bisa melihatmu setiap hari. Aku sangat merindukanmu," kata Nella.
"Nella, aku juga sangat merindukanmu. Cepat lepaskan pakaianmu," kata Cedric.
Cedric terdengar sangat buru-buru.
Sedangkan aku menjulurkan ponselku melalui celah pintu dan merekam segala perbuatan mereka.
Keesokan paginya, Nella mengirimkan beberapa fotonya yang terlihat intim dengan Cedric.
Kemudian, dia berkata dengan bangga, "Sudah lihat, belum? Hanya ada aku di hatinya Cedric."
"Selamat, ya. Kamu akan segera mendapatkan Cedric," kataku.
Sebenarnya, aku tahu bahwa Cedric tidak akan bercerai denganku dengan mudah.
Bagaimanapun, keluargaku masih mendanai semua proyek yang dia pegang.
Dia tidak akan berani bercerai denganku.
Pada saat ini, Cedric tiba-tiba menghampiri kami.
Nella pun langsung membungkam.
Sedangkan aku menarik tangannya Cedric.
"Sayang, besok hari Minggu, bisakah kamu menemaniku pergi main permainan kamar gelap?"
Dia berpikir sejenak, lalu menjawab, "Bisa."
Dalam hatiku, aku tersenyum dengan sinis.
Dia sedang berjalan memasuki perangkap yang kupasang selangkah demi selangkah.
Nella yang berada di satu sisi tampak marah, tetapi dia juga tidak bisa berkomentar.
Keesokan harinya, Cedric secara khusus mengemudi untuk menemaniku bermain permainan kamar gelap.
Sebelumnya, Cedric juga sering menemaniku melakukan permainan ini.
Namun, dia sangat penakut, jadi setiap kalinya, dia tetap harus membentuk kelompok dengan orang lain.
Akan tetapi, tema kali ini adalah "Mencari Kembali Anak Kita".
Temanya bercerita tentang pasangan suami istri yang mencari anak mereka yang sudah meninggal.
Oleh karena itu, jumlah pemainnya hanya dua orang.
Saat Cedric mendengar tema ini, wajahnya memucat.
"Gianna, bagaimana kalau kita ganti tema lain?" tanya Cedric.
Aku langsung menjawab dengan manis, "Nggak usah, deh. Aku ingin main yang ini. Aku bisa melindungimu, kok."
Dia merasa tidak berdaya, jadi dia hanya bisa menemaniku ke dalam.
Begitu kami masuk, kami langsung mendengar suara bayi menangis.
Cedric merasa ketakutan hingga dia langsung jatuh berlutut di lantai.
Aku pun memapahnya.
"Sayang, ini baru langkah pertamanya. Karakternya saja belum muncul, kamu malah sudah ketakutan?"
"Aku ... aku baik-baik saja," katanya.
Dia bergegas berdiri.
Setelah ini, akan ada sesuatu yang lebih menakjubkan yang sedang menanti dirinya.
Aku sudah terlebih dahulu berpesan pada staf di permainan ini, agar permainannya dibuat lebih menakutkan.
Oleh karena itu, pada langkah kedua, kami harus mulai menyelesaikan misi pribadi.
Aku membiarkan Cedric untuk pergi. Tidak lama kemudian, aku pun mendengar suara teriakannya.
Ada banyak sekali anak kecil yang terus memanggil ayah mereka dan meminta agar nyawa mereka dikembalikan.
Cedric langsung berkata dengan ketakutan, "Jangan mendekat. Aku nggak mencelakai kalian."
Kemudian, dia langsung jatuh pingsan.
Aku pun membawanya ke rumah sakit. Saat dia siuman, dia berkata bahwa ke depannya, dia tidak ingin pergi main lagi.
Aku mengiakan ucapannya.
Tidak apa-apa, dia boleh tidak bermain permainan kamar gelap denganku.
Kalau begitu, aku akan berpura-pura menjadi hantu dan menakutinya di rumah.
Aku akan membuatnya ketakutan malam-malam, agar dia teringat akan anak kami yang sudah meninggal itu semalaman.
Pada malam hari, setelah aku berias dengan baik, aku menggendong sebuah boneka bayi dan pergi ke kamarnya.
Aku sudah terlebih dahulu mematikan arus listrik di rumah. Hari ini, Nella juga harus keluar karena dia memiliki urusan di luar.
Saat Cedric melihatku, dia langsung berteriak ketakutan.
Aku berseru, "Aku utusan neraka. Beri tahu aku bagaimana kamu membunuh anakmu! Kalau nggak, aku akan mengirimkanmu ke neraka!"
Dia memegang kepalanya sambil bergetar ketakutan.
"Aku ... aku melempar mereka," jawabnya.
"Bagaimana aku bisa tahu kamu jujur atau nggak?"
"Aku ... aku punya bukti ... di laptopku."
Seusai berbicara, dia langsung jatuh pingsan.
Dia benar-benar ketakutan.
Aku pun keluar dari kamarnya dan pergi ke ruang bacanya. Namun, laptopnya terkunci dengan kata sandi.
Dengar-dengar, ada banyak sekali dokumen pekerjaan di dalam laptop ini. Selain Cedric dan kakaknya, Cellia Clark, tidak ada yang mengetahui kata sandinya.
Keesokan harinya, Cedric pagi-pagi sekali sudah pergi ke perusahaan, sedangkan aku pergi ke tempat tinggalnya Cellia.
Cellia masih mengadakan pesta di rumahnya. Dia hanya melirikku sekilas tanpa menghiraukanku sama sekali.
Biasanya, hubungannya dengan Cedric juga kurang baik, jadi dia juga tidak menyukaiku.
Jika bukan karena kakek mereka menyuruh mereka untuk mengelola perusahaan bersama, dia juga tidak akan mengetahui kata sandi laptop itu.
Aku diam-diam bertanya, "Kamu mau menjadi pewaris perusahaan, nggak?"
Dia baru menghentikan tariannya, lalu membiarkan pengurus rumah untuk mengusir semua orang dari rumahnya.
"Apa maksud ucapanmu barusan?"
Cellia duduk di sofa sambil menatapku.
Calon pewaris di Keluarga Clark hanya dia dan Cedric.
Kakek mereka memperlakukan mereka dengan sangat baik.
Hanya saja, hanya satu orang yang bisa menjadi pewaris keluarga ini.
Sekarang, Cedric sangat kuat, jadi Cellia tidak bisa menandinginya.
Aku berkata, "Tanggal satu bulan depan, Kakek akan mengumumkan pewaris perusahaan. Aku akan membantumu mendapatkan posisi itu. Jadi, beri tahu aku kata sandi laptopnya Cedric."
"Atas dasar apa aku harus percaya padamu? Apa rencanamu?" tanya Cellia.
Dia memelototiku dengan ragu.
"Empat anakku dibunuh oleh Cedric, jadi aku mau mengumumkan hal ini di hari pewaris perusahaan diumumkan, untuk balas dendam padanya."
Begitu aku mengucapkan kata-kata ini, tatapan Cellia menegang.
Kemudian, aku menceritakan segalanya padanya, sehingga dia akhirnya memercayaiku sepenuhnya.
Kemudian, dia tidak bisa menahan diri dari berkata, "Cedric benar-benar nggak berhati."
Benar, aku juga merasakan hal yang sama.
Dia sudah membunuh empat anakku, aku tidak akan membiarkannya hidup dengan baik.
Setelah mencapai kesepakatan dengan Cellia, aku meninggalkan rumahnya.
Sepulangnya ke rumah, aku langsung pergi ke ruang baca dan menyalakan laptop itu, lalu mencolok USB.
Di dalam laptop tersebut, benar-benar ada bukti bahwa Cedric membunuh anakku.
Dia bahkan merekam kejadiannya. Aku benar-benar tidak tahu untuk apa dia menyimpan rekaman seperti ini.
Namun, sekarang, akhirnya aku mendapatkan barang bukti ini.
Saat aku sedang menunggu rekaman ini disalin, aku merasa sangat gugup karena aku takut ketahuan.
Pada saat ini, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka.
Anda Mungkin Juga Suka





