
Insiden Setelah Adikku Lulus dari Program Pelatihan Sosialita
Bab 4
“Mustahil! Kenapa perbaikan mobil ini mahal banget?”
Olivia memperbesar gambar formulir perbaikan itu dan menghitung jumlah nolnya.
Fenny juga tidak percaya dan bahkan curiga bahwa yang mengirim pesan ini bukan Hayden, melainkan seorang penipu yang ingin memeras uang mereka.
Mobil sport Hayden itu adalah merek Koenigsegg yang merupakan buatan Swedia. Selain itu, bodi mobil itu juga murni buatan tangan dan hanya ada 1 dalam negeri. Berhubung terlalu langka, orang biasa tidak mungkin mengenali merek mobil itu.
Amarin pernah bekerja sama dengan perusahaan Koenigsegg. Jadi, aku mengetahui dengan jelas harga mobil itu, yaitu 100 miliar. Biasanya biaya perbaikan mobil sport berkualitas setinggi itu mencapai 16 miliar. Terlebih lagi, biaya pengirimannya ke Swedia juga tidaklah murah.
Pada saat Olivia, Fenny, dan Ricky masih mencurigai apakah formulir perbaikan itu asli atau palsu, Hayden mengirimkan sebuah pesan lagi.
[ Bayar secepatnya. ]
Kali ini, Hayden sama sekali tidak memberikan kesempatan untuk bernegosiasi. Olivia langsung merasa panik dan ketakutan.
“Dia seharusnya mengajakku makan. Kenapa malah mengungkit soal biaya perbaikan mobil? Dari mana aku bisa dapatkan uang sebanyak itu?”
Olivia menoleh ke arah Ricky untuk meminta bantuan. Sementara itu, Ricky baru teringat aku. Dia menghibur Olivia dengan mengatakan bahwa aku membeli asuransi mobil dan perusahaan asuransi pasti akan ganti rugi.
“Menurut peraturan asuransi komersial, kompensasi maksimum atas kerusakan properti pihak ketiga cuma mencapai 6 miliar. Itu tetap nggak cukup.” Aku menyeret koperku ke arah kamar sambil berkata, “Tapi, aku masih belum sempat beli asuransi komersial. Aku cuma punya asuransi kompensasi pihak ketiga yang nilainya 400 juta.”
Setelah berjalan beberapa langkah, aku memukul jidatku dan menambahkan, “Oh iya, Olivia nggak punya SIM. Dalam situasi begini, perusahaan asuransi nggak akan ganti rugi.”
Kamarku pada dasarnya memang kecil. selain beberapa boneka yang kubuatkan untuk ibuku, tidak ada barang lain yang perlu kukemas.
Baru saja aku mau keluar dari kamar, Fenny tiba-tiba mengadang di depan pintu dan memelototiku sambil berseru, “Jangan kira kamu bisa pergi! Itu mobilmu! Meski lapor polisi, kamu juga yang harus ganti rugi.”
Aku sudah bisa menebak dia akan berkata begitu. Aku mengeluarkan STNK dari tas. Di sana, tertera bahwa pemilik mobil adalah Olivia. Ini juga berkat Ricky. Pada hari aku mau mendaftarkan kendaraanku, dia malah berinisiatif menemaniku.
Pada saat aku pergi ke kamar mandi, dia menukar semua dokumenku dengan dokumen Olivia. Oleh karena itu, Olivia pun menjadi pemilik mobil itu.
Sejak kecil, orang pertama yang boleh menggunakan barang rumah di rumah ini adalah Olivia. Ricky mana mungkin rela membiarkanku memiliki mobil, sedangkan Olivia tidak.
Fenny langsung kehilangan kendali dan memukul Ricky sambil mengumpat, “Dasar pecundang! Kamu sudah celakai Olivia! Orang itu Hayden Stewart! Kita mana mungkin melarikan diri dari utang ini!”
Ricky langsung meringkuk di sudut tanpa berani melawan. Dia hanya berkata dengan terbata-bata bahwa dia tidak menduga masalahnya bisa menjadi seperti ini.
Pada saat ini, Olivia tiba-tiba berseru sambil menutupi kepalanya, “Jangan ribut lagi! Aku mau telepon Kak Mona untuk minta bantuannya.”
Mona adalah pemimpin program pelatihan sosialita ini. Aku pernah melihatnya membawa sekelompok gadis yang memiliki gaya beragam memasuki klub mewah. Menurut rumor, Mona memiliki koneksi yang sangat luas. Dengan bantuannya, sudah ada banyak muridnya yang menikah dengan artis populer atau bos kaya.
Olivia menunggu orang di ujung telepon memberi jawaban dengan gelisah. Setelah sesaat, terdengar suara tegas seorang wanita berkata, “Olivia, bukannya aku nggak mau bantu kamu. Biaya pelatihanmu saja belum lunas. Kamu transferkan dulu 600 juta itu. Aku akan langsung kasih tahu kamu langkah selanjutnya. Aku jamin Pak Hayden pasti akan tunduk padamu.”
Olivia pun buru-buru menyetujuinya. Saat dia sedang mendengar ucapan Mona dengan serius, aku mendorong Fenny dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Mereka sudah tidak tertolong.
Setengah bulan kemudian, aku bertemu lagi dengan Hayden di ruang penerimaan tamu perusahaan. Di bawah sorotan lampu yang terang, bekas lukanya nyaris tidak terlihat.
Hal yang paling mengejutkan adalah, Olivia datang bersama Hayden. Dia mengenakan setelan jas Chanel dan sepatu hak tinggi berwarna krem. Dia terlihat layaknya seorang wanita karier. Aku bisa memastikan bahwa ini adalah jalan keluar yang dipikirkan Mona untuknya.
Hanya saja, aku tidak tahu dari mana Olivia mengumpulkan 600 juta itu.
Anda Mungkin Juga Suka





