APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Skandal Mertua

Skandal Mertua

Pasca kecelakaan maut yang merenggut Erlangga, Ratna berjuang sendirian membesarkan putrinya selama lima tahun. Tragedi pilu tersebut juga merenggut salah satu anak kembarnya, yang direbut paksa oleh sang mertua karena Ratna dituduh sebagai pemicu kematian suaminya. Di tengah kepedihan, Erlang tiba-tiba muncul kembali. Sayangnya, kepulangan ini menyisakan tanda tanya besar karena pria itu sama sekali tidak mengenali Ratna, menyembunyikan misteri yang belum terungkap.
Bab
Bagikan

Bab 3

Setelah selesai berbicara pada orang di seberang teleponnya, pria itu melajukan mobilnya.

Sementara itu, Sabrina masih bercanda dengan Tari. "Iiihhh! Anak Mama sekarang sudah berani nyuekin Mama," ujarnya sembari menggelitik Tari.

"Ampun, Ma! Ampun!" gelak Tari berusaha melepaskan diri.

Cukup lama mereka bergurau dengan canda tawa. Kebahagiaan itu menular pada karyawan, sehinggga mereka ikut tersenyum.

Seorang wanita yang mengenakan seragam putih berbalut cardigan juga tas kecil menaut pada lengan kirinya menghampiri mereka. Dia adalah Susi, seseorang yang membantu Sabrina selama ini.

"Seru banget, ada apa sih?" tanya Susi dengan senyuman dan wajah tanda tanya.

Sabrina dan Tari diam sejenak beralih menatap Susi. Kesempatan Tari untuk melepas diri dari pelukan ibunya yang diselingi gelitik.

"Tante, tolong aku!" ujar Tari yang berlari menuju pelukan Susi sembari tertawa.

Sabrina mengejar Tari. Akhirnya Susi pasrah karena Sabrina dan Tari mengelilinginya.

"Mbak, ada hal penting yang ingin aku bicarakan!" ujar Susi yang membuat Sabrina berhenti seketika.

"Sayang, sana ganti baju dulu! Kamu sudah bisa 'kan?" titah Sabrina pada Tari.

"Siap, Ma!" jawab Tari seraya memperagakan hormat bendera. Kemudian gadis kecil itu berlari masuk rumah.

"Ada apa?" Sabrina bertanya seraya berjalan ke kursi teras. Namun masih ikut area toko.

Kedua wanita yang selisih usianya hanya beberapa tahun itu duduk.

"Mbak Sabrina kenal mobil ini? Tadi itu aku nggak sengaja lihat orang yang mengendarai mobil ini mengambil foto Mbak Sabrina dan Tari. Aku nggak bisa lihat mukanya dengan jelas karena dia pakai kerudung hodienya," jelas Susi sembari menyodorkan ponselnya.

"Tidak. Aku tidak mengenalnya," lirih Sabrina mengamati seraya berpikir keras. Tapi ingatannya nihil karena memang dia tidak pernah melihatnya.

"Aku jadi khawatir sama Tari deh, Mbak. Bagaimana kalau orang itu mau menculik Tari?" tebak Susi yang spontan mendapat toyoran dari Sabrina.

"Kalau ngomong mbok ya jangan asal jeplak! Bikin takut aja." Omongan Sabrina dengan logat jawa keluar saat dia sedang khawatir.

"Kan aku hanya nebak, Mbak. Ya kali, main toyor aja."

"Maaf! Tumben kamu pulang awal?" Sabrina mengalihkan topik pembicaraan. Meski begitu pikirannya tetap tertuju pada orang yang dibicarakan Susi. Siapa dan apa tujuan orang itu memotret dirinya dengan Tari?

"Aku izin, Mbak! Perutku sakit banget," lirih Susi dengan wajah melas yang dibuat–buat.

"Haisssht, lebay banget!"

Obrolan mereka terhenti saat Tari memanggil Mamanya. Lalu Tari keluar dengan baju yang belum diganti.

"Kok belum ganti baju?"

Sabrina berkacak pinggang menyipitkan matanya.

"Aku nggak bisa nurunin ininya, Mama." Gadis kecil itu cemberut karena mendapat tatapan mengerikan dari Mamanya.

Sabrina meniup poninya sendiri hingga terangkat ke atas. "Kenapa nggak bilang dari tadi Sayangku?"

Kemudian, Sabrina menggiring Tari kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Susi pun melipir ke rumahnya sendiri di sebelah.

"Ma, Papanya Bulan itu orang baik loh. Tadi, sebelum pulang Tari diajak makan es krim di Toko Es Krim Enak," celoteh Tari.

Toko yang disebutkan Tari memang toko es krim terbaik di kota ini. Sabrina pernah mengajak Tari ke sana sekali. Yaitu pada ulang tahun Tari yang keempat.

"Tari tadi milih es krim coklat, enakk banget. Itu yang dulu Mama nggak bolehin Tari memilihnya."

"Apa?" Sabrina kaget karena es krim yang dimaksud Tari sangat mahal. "Itukan mahal, Tari. Lain kali, jangan minta apapun pada orang yang bari saja kenal. Mengerti?!"

"Om Elang nggak masalah kok, Ma. Bulan tadi juga milih itu, makanya Tari juga dapat es krim itu." Gadis kecil itu memanggil Erlangga dengan sebutan 'Om Elang' karena mengikuti Bulan yang memanggil dengan sebutan 'Papa Elang'.

Wajah mungil itu langsung ditekuk saat nada bicara Sabrina naik satu oktaf. Bahkan mata Tari memerah.

"Maaf, Sayang." Sabrina menyesal karena membentak Tari. "Lain kali, Tari nggak boleh gitu ya?! Kalian kan baru kenal, nggak sopan dong kalau Tari langsung minta itu. Benar nggak?" bujuk Sabrina.

"Mama jahat!" bentak Tari lalu pergi. Tepat bersamaan dengan Sabrina selesai mengganti bajunya.

"Tariii!" Panggilan Sabrina sama sekali tidak dihiraukan oleh gadis kecil itu.

Sabrina menyusul anaknya yang lari keluar rumah. Tiba-tiba jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat ada sebuah mobil yang melaju kencang dan Tari berada di jalan itu.

"Tariii…!"

Brakkkk!

Tari terpental jauh dan mobil yang menabraknya tidak berhenti.

Sabrina sudah berlari secepat mungkin saat mobil belum menabrak Tari. Akan tetapi, langkahnya kalah cepat dengan mobil itu, seakan dia berlari seperti siput. Dia juga merutuki dirinya sendiri, kenapa tadi membentak putrinya.

"Tariii!" pekik Sabrina berulang kali. Dia langsung menggendong putrinya dan membawanya ke halaman toko.

Sementara mobil tadi melaju kencang setelah menabrak Tari. Sabrina tidak peduli dan memperdulikan apapun selain kondisi anaknya.

"Ilham!" teriak Sabrina pada pegawainya sembari berlari.

"Iya, Bu Sabrina. Ada ap—! Astagfirullah! Neng Tari kenapa, Bu?" Pegawai pria itu pun terkejut saat Tari digendong Sabrina dengan berlumuran banyak darah.

"Ayo cepat ke rumah sakit!"

Ilham bergegas ke parkiran motornya. Dia langsung men–started motornya. Kunci motor selalu berada di tas kecil yang dilingarkan di perut. Sehingga tidak perlu memakan waktu mencarinya.

Air mata Sabrina terus saja mengalir deras seperti air bah. Tak henti-hentinya, wanita itu meminta Ilham untuk menaikkan kecepatan motornya. Bahkan Ilham sampai menerobos lampu merah saking paniknya.

Alhasil mereka dibututi polisi sampai rumah sakit. Namun, Sabrina sama sekali tidak menghiraukan para polisi dan mempercayakan urusan itu pada Ilham.

"Suster, tolong!" teriak Sabrina saat memasuki rumah sakit.

Lalu ada petugas kesehatan yang membawa brankar. Sabrina membaringkan Tari, lalu petugas membawanya ke IGD.

Suster mencegah Sabrina masuk saat sampai di pintu IGD.

"Maaf, Bu! Biarkan dokter yang menangani berkosentrasi. Sebaiknya, Ibu segera mengurus administrasi!" ujar suster berseragam merah muda itu.

Sabrina tak menjawab sepatah katapun. Setelah pintu tertutup, lutut Sabrina serasa seperti jeli. Dia memilih untuk duduk sebentar di kursi sebelum mengurus administrasi.

"Ya Tuhan, sembuhkanlah putriku seperti sedia kala!"

Sabrina menyandarkan kepalanya ke dinding sembari berdoa dan menghela napas dalam–dalam berulang kali. Lalu dia pergi ke tempat administrasi setelah dirasa tubuhnya tak lemas.

Bruuukkkk!

Sabrina tak sengaja menyenggol seorang wanita paruh baya di depan meja administrasi.

"Mama!" gumannya saat melihat orang yang ditabraknya.

"Kamu rupanya," cebik wanita paruh baya itu yang ternyata adalah Ratna. Mantan mertuanya. "Saya peringatkan, jangan panggil saya dengan sebutan itu karena kita tidak ada ikatan apapun."

"Maaf … Nyonya!"

Sabrina malas meladeni dan hendak pergi dari hadapannya. Urusan administrasi Tari juga selesai. Namun, Ratna mencekal tangannya karena melihat Erlang di belakang Sabrina sedang menerima panggilan.

"Saya tahu kamu sudah bertemu Erlang tadi pagi. Pasti kamu bertanya–tanya kenapa Erlangga tidak mengenalimu 'kan?"

Sabrina terdiam menunggu Ratna melanjutkan perkataannya. Akan tetapi mantan mertuanya itu malah tertawa kecil dan terdengar mengejek.

"Itu adalah urusanku dan kamu tidak perlu tahu."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tidak Akan Pernah Diam Saat Keluargaku Terancam
9.6
Adikara, duda berkuasa yang divonis mandul, melampiaskan rasa frustrasinya melalui hubungan singkat yang ceroboh. Takdir mempertemukannya dengan Alara, model 19 tahun sekaligus putri bawahannya. Setelah malam tragis yang merenggut kesucian Alara, kejutan besar muncul sebulan kemudian saat Alara mengaku hamil. Kini, di tengah perbedaan usia 15 tahun dan rahasia medisnya, Adikara harus memilih: bertanggung jawab atau menghancurkan masa depan gadis itu demi egonya.
Sampul Novel HASRAT NAKAL ISTERI KECIL
9.5
Sejak balita, Naura dibesarkan oleh asisten ayahnya yang bernama Gilbert Louise Tom dan memanggilnya Daddy. Kini, sosok duda berumur empat puluh tahun dengan tubuh kekar itu justru tampak kian menawan di matanya. Hubungan dekat yang terjalin lama di antara mereka perlahan berubah menjadi rasa tertarik yang begitu kuat. Naura pun mulai kesulitan untuk menjauhkan dirinya dari pesona memikat yang dimiliki oleh pria matang tersebut.
Sampul Novel Kesetiaanku Kau Balas Dengan Luka
8.3
Haura Ghania Eftikhar, eks tentara bayaran, luluh oleh kesabaran CEO karismatik Sean Wijaya dan bersedia menjadi CEO demi menutupi masa lalunya. Namun, pernikahan mereka hancur seketika saat Haura memergoki perselingkuhan Sean. Di tengah penyesalan Sean yang memohon kesempatan kedua, hadir seorang remaja tampan yang menawarkan cinta tulus namun obsesif, kian memperumit luka batin Haura yang mendalam.
Sampul Novel Lima Tahun yang Tiada Artinya
7.9
Pernikahan lima tahun yang dibina sang protagonis dalam novel modern ini berakhir sia-sia. Setelah pergi dinas selama setengah tahun, Derrick, suaminya, pulang membawa cinta pertamanya yang bernama Syifa. Perempuan itu tengah mengandung lebih dari tiga bulan. Derrick menuntut agar Syifa tinggal di vila milik istrinya, bahkan menghina saat permintaannya ditolak. Sadar bahwa suami dan keluarganya hanya menumpang hidup dengan uangnya, sang istri memutuskan menghentikan semua bantuan dana dan segera mengurus perceraian mereka.
Sampul Novel Mati Untuk Hidup
9.6
Saat mengembuskan napas terakhir akibat kanker stadium akhir di rumah sakit, wanita ini justru menghadapi kenyataan pahit dari keluarganya. Tepat di hari ujian universitas anaknya selesai, sang suami malah memeluk mantan kekasihnya di hotel dan berjanji akan menyingkirkannya. Di tempat lain, anaknya mabuk di bar sambil mengeluhkan sikap protektif ibunya, sementara sang mertua sibuk menjelek-jelekkannya kepada tetangga. Kini, tanpa ada lagi bantahan darinya, mereka semua akhirnya mendapatkan kebebasan yang mereka impikan.
Sampul Novel Pewaris Sejati yang Terlupakan Menyerang Balik
8.1
Jennifer Bennett didepak dari posisinya sebagai pewaris sah Keluarga Bennett oleh seorang penipu. Usai dituduh palsu dan dipermalukan di depan umum, ia memutuskan berhenti mencari pengakuan mereka. Jennifer bangkit untuk membalas dendam, menjadi ancaman nyata bagi para penindasnya. Saat keluarganya berusaha menjatuhkannya, Jennifer justru meraih kesuksesan besar. Baginya, kekuasaan mutlak adalah pembalasan terbaik atas pengkhianatan mereka.