
Sejak Kehadiran Pelakor...
Bab 2
Melihat Ibu tidak menanggapinya, Ayah kembali meninggikan volume suaranya. "Aku lagi ngomong sama kamu. Kamu tuli ya? Tahu nggak, tamparanmu di depan umum tadi benar-benar buat aku malu!"
"Semua kebiasaan buruk anakmu itu dari kamu! Dia itu laki-laki, tapi malah kalah sama anak perempuan Nala gara-gara kamu manjain!"
Sambil bicara, Ayah berjalan menuju kamarku. "Mulai sekarang, aku yang ngurus anak kita saja. Kalau kamu yang urus lagi, dia bakal jadi anak nggak berguna!"
Ibu mengadangnya dengan senyuman sinis. "Kamu masih ingat kalau Keenan itu anakmu? Tiap kali kamu bilang 'anakmu', aku sampai ngira Keenan itu anakku seorang! Tapi nggak masalah, kita cerai saja."
Ayah memandang surat cerai yang Ibu sodorkan dengan penuh ejekan. "Kamu ini gila, ya? Dulu kamu yang nangis-nangis minta nikah. Sekarang kamu mau cerai begitu saja?"
Ibu menghela napas panjang, terlihat sangat lelah. "Benar, aku yang memintanya dulu. Tapi kamu nggak mencintaiku, juga nggak mencintai Keenan. Kenapa kita harus saling menyiksa? Tanda tangan saja, kamu bisa pergi bersama wanita idamanmu. Bukankah itu lebih baik?"
Ayah mendorong tangan Ibu dengan kasar, membuat Ibu terhuyung-huyung mundur "Kamu benar-benar gila! Kamu maksa masuk ke rumah orang saja, Nala nggak mempermasalahkannya. Kalau nggak, kamu itu sudah dianggap masuk tanpa izin!"
"Anakmu itu sama sekali nggak tahu sopan santun, sama sepertimu! Aku cuma menghukumnya berdiri sebentar di luar, dia langsung pura-pura seperti mau mati! Kamu yang selalu manjain dia, sekarang malah mau ribut cerai denganku? Apa yang kamu pikirkan?"
Suara Ibu gemetar karena marah. "Apa yang kupikirkan? Aku justru mau tanya, apa yang kamu pikirkan? Kamu tahu nggak Keenan alergi sama ceri?"
"Pertama kali dia makan ceri, seluruh tubuhnya dipenuhi ruam merah, tenggorokannya membengkak, dan dia nggak bisa bernapas. Kue itu ada cerinya, kenapa dia nggak boleh memuntahkannya?"
"Aku menyelamatkan anakku, kenapa aku nggak boleh masuk ke rumah itu? Kalau saja ... kalau saja Nala nggak menghentikanku waktu itu, mungkin Keenan nggak akan ...."
Sambil bicara, air mata Ibu kembali mengalir. Aku ingin sekali memeluknya seperti dulu untuk menenangkannya.
Namun, Ayah justru menunjukkan ekspresi tidak peduli dan bahkan mendengus dingin. "Sudahlah, makan ceri saja bisa kenapa? Alergi ceri? Kenapa nggak sekalian bilang dia alergi udara saja?"
"Kalau benar waktu kecil dia pernah seperti itu, kenapa aku nggak tahu? Kamu selalu saja mencoba mengikatku dengan alasan anak, tapi kamu nggak pernah ngasih tahu aku soal itu? Kamu ini pintar sekali ngarang cerita!"
"Anak-anak lain kenapa nggak ada yang alergi? Cuma anakmu saja yang semanja itu? Hari ini aku harus menyembuhkan kebiasaannya itu! Tahunya cuma nangis dan buat keributan setiap hari! Kalau ada yang dengar, bisa-bisa mereka pikir anakmu sudah mati!"
Setelah berkata demikian, Ayah langsung menuju dapur, lalu membuka kulkas dan mengambil ceri yang dia bawa beberapa hari lalu. Kemudian, dia berjalan cepat ke kamarku. Ibu hanya memandangnya sambil menggelengkan kepala, lalu duduk di sofa tanpa berkata apa-apa lagi.
Nala sangat suka ceri. Setiap kali Ayah pulang dari rumahnya, dia selalu membawa sekantong ceri, katanya untuk kami makan. Namun, karena tidak pernah kami sentuh, ceri itu akhirnya membusuk dan Ibu akan membuangnya.
Beberapa kali Ayah melihat Ibu membuang ceri itu, dia langsung memarahi kami karena dianggap tidak menghargai kebaikan orang. Setiap kali, Ibu selalu mengatakan padanya bahwa aku alergi ceri. Namun, Ayah tidak pernah percaya.
Pernah suatu kali saat Ibu tidak ada di rumah, Ayah sengaja membeli segelas jus ceri dan memaksaku untuk meminumnya Sambil mencoba memaksaku, dia berkata, "Ibumu selalu bilang kamu alergi ceri. Aku nggak percaya. Menurutku, dia cuma cari alasan untuk nggak menerima kebaikan Nala!"
Akhirnya aku menangis sambil menggigit tangannya, barulah dia melepaskanku. Namun setelah itu, dia mendorongku hingga jatuh ke lantai dan menendangku beberapa kali sebelum pergi keluar rumah. Jus ceri itu tumpah di lantai, bahkan sebagian mengotori pakaianku.
Anda Mungkin Juga Suka





