
Sejak Kehadiran Pelakor...
Bab 3
Aku takut Ibu akan khawatir, jadi aku mencoba meniru apa yang biasanya dilakukan Ibu. Aku memasukkan pakaian ke mesin cuci untuk mencucinya dan mengepel lantai hingga bersih.
Ketika Ibu pulang, dia bertanya kenapa aku mengganti pakaian. Aku hanya berpura-pura malu dan berkata bahwa aku mengompol. Karena masalah itu, Ibu mengejekku selama beberapa hari.
Ayah tentu saja tidak menemukan aku di kamarku, karena "aku" sudah berada di dalam kotak kecil itu. Dia memandang Ibu dengan tidak puas dan berkata, "Virly, hebat juga kamu! Sebelum mengajukan cerai, kamu masih sempat menyembunyikan anak!"
"Kamu nggak punya uang, pekerjaan, atau latar belakang keluarga. Kamu sendiri tahu kamu nggak bakal bisa menang dariku kalau cerai, 'kan? Kamu pasti mau manfaatin anak untuk tetap mengikatku, 'kan? Mau pakai cara begini untuk minta uang dariku, ya? Kamu memang penuh akal licik!"
"Kukasih tahu nih, boleh saja kalau mau cerai. Aku bahkan bisa mengasihanimu dengan ngasih kamu sedikit uang. Tapi Keenan harus ikut aku!"
Ibu hanya mendengarkan ucapan Ayah yang penuh hinaan tanpa bereaksi. Dia berdiri dan mengambil koper yang sudah lama dibereskannya, lalu membawa kotak kecil berisi abu jenazahku dan pergi tanpa menoleh ke belakang.
Ayah mengejar Ibu keluar rumah dan berteriak marah, "Pergi! Pergi sejauh mungkin! Kalau bukan karena orang tuaku, aku nggak bakal nikah sama kamu! Jangan pernah datang menangis memohon padaku lagi!"
Meskipun aku tahu Ayah tidak bisa mendengarku, aku tetap berteriak kepadanya, "Aku nggak mau ikut kamu! Aku mau Ibu! Ayah jahat!" Aku berlari kecil mengejar Ibu dan pergi bersamanya meninggalkan tempat yang kubenci ini.
Aku ingat Ibu pernah bercerita tentang kisahnya dengan Ayah saat dia menidurkanku. Ibu mengira aku tidak mengerti atau tidak mengingatnya, tapi aku mengingatnya dengan sangat jelas.
Ibu dan Ayah adalah teman masa keci dan keluarga mereka adalah sahabat dekat. Mereka bahkan dijodohkan sejak kecil. Namun ketika Ibu masih remaja, keluarganya mengalami musibah dan bangkrut. Kakek dan nenek dari pihak Ibu tidak mampu menanggung beban itu dan meninggal satu per satu.
Kakek dan nenek dari pihak Ayah mengadopsi Ibu yang saat itu masih duduk di bangku SMP dan bersikeras untuk tetap melanjutkan perjodohan mereka.
Awalnya, mereka masih terlalu muda untuk memahami hal-hal ini, jadi mereka tidak keberatan. Mereka hanya menikmati kebersamaan sehari-hari, makan dan bermain bersama, menjalin persahabatan yang erat.
Namun ketika mereka masuk perguruan tinggi, Ayah jatuh cinta pada Nala. Sayangnya, Nala tidak menyukai Ayah. Dia justru mencintai dosennya, seorang pria berusia 40-an yang sudah menikah. Nala bahkan nekat mengejar pria itu hingga ke luar negeri.
Ayah ingin ikut pergi ke luar negeri juga, tetapi Kakek dan Nenek marah besar. Mereka langsung mengurung Ayah di rumah dan memaksanya menikahi Ibu.
Ibu pernah bilang, dia sebenarnya tidak terlalu mencintai Ayah. Namun sejak kecil, dia selalu dimanjakan oleh kakek dan neneknya. Setelah tinggal di rumah Ayah, dia juga tidak pernah merasakan kesulitan. Hidupnya seperti bunga yang tumbuh di dalam rumah kaca, terlindungi dari kerasnya dunia luar.
Ibu tidak tahu harus pergi ke mana jika dia tidak menikah. Dia juga tidak tahu apa yang bisa dia lakukan dengan hidupnya. Terlebih lagi, Kakek dan Nenek membesarkan Ibu dengan harapan agar dia menikah dengan Ayah. Karena alasan itu saja, Ibu merasa dia tidak bisa menolak.
Ibu berpikir bahwa dengan mengandalkan hubungan mereka sejak kecil, setidaknya dia dan Ayah bisa hidup dengan saling menghormati. Namun, Ayah malah mulai membenci Ibu sejak saat itu.
Ayah merasa Ibu menikahinya hanya karena ingin menikmati kekayaan keluarga mereka. Dia mengira Ibu takut jika Ayah menikahi orang lain, Ibu tidak bisa lagi memanfaatkan status sebagai tunangan atau istrinya untuk hidup nyaman.
Ayah yakin Ibu yang diam-diam mengadu dan memohon pada Kakek dan Nenek untuk memaksanya menikah dengan Ibu. Ayah menyalahkan Ibu karena telah menghalangi jalannya untuk mengejar cinta sejatinya, membuatnya kehilangan wanita yang dia cintai.
Dalam ingatanku, Ayah sangat jarang pulang ke rumah. Terutama setelah Tante Nala muncul kembali dalam hidup mereka. Setiap kali bertemu, mereka selalu bertengkar hebat.
Ibu akhirnya membawaku pergi ke sebuah apartemen kecil yang sudah dialihkan ke namanya sebelum Kakek dan Nenek meninggal. Mungkin Kakek dan Nenek sudah memperkirakan hari ini akan datang, sehingga mereka memberi Ibu tempat berlindung.
Apartemen kecil itu didekorasi dengan sangat nyaman. Ibu meletakkan "aku" di atas lemari pendek di sudut ruangan. Aku mendengar Ibu berbicara padaku.
"Keenan, maaf ya, untuk sementara kamu harus tinggal di sini. Beberapa hari ini Ibu terlalu larut dalam kesedihan, belum sempat mencarikan makam untukmu. Sebentar lagi Ibu akan pergi mencarinya, oke?"
Aku mengangguk, tetapi langsung teringat bahwa Ibu tidak bisa melihatku. Perasaan kehilangan kembali muncul di hatiku.
Ah, Ibu tidak akan pernah bisa melihatku lagi. Kami tidak akan pernah bisa membuat kue bersama lagi, bermain balok bersama, atau mendengarkan cerita bersama ....
Aku mengikuti Ibu saat dia pergi mencari makam untukku.
Ibu memilih tempat di puncak gunung yang tinggi. Dari sana, aku bisa melihat taman hiburan di kejauhan, lengkap dengan bianglala besar yang berputar perlahan.
Saat seorang pria yang terlihat seperti seorang manajer membawa beberapa dokumen untuk ditandatangani Ibu, Ibu tiba-tiba mendapat telepon dari pengelola apartemen. Mereka memberi tahu bahwa seseorang telah memaksa masuk ke dalam rumah.
Ibu segera memanggil taksi dan kembali ke apartemen dengan tergesa-gesa. Saat tiba, dia melihat manajer properti dan petugas keamanan dihadang oleh beberapa pengawal besar yang kekar.
Dari dalam rumah terdengar suara Ayah yang sedang marah, "Cuma beberapa ruangan kecil! Kenapa nggak bisa ketemu juga?"
Ibu langsung masuk ke rumah dan bertanya,"Kalian ngapain?"
Ayah berdiri dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku. Dengan ekspresi kesal, dia melirik Ibu dan berkata, "Kamu datang tepat waktu. Serahkan Keenan, aku mau bawa dia untuk minta maaf sama Nala!"
Anda Mungkin Juga Suka





