APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rumah Nenek

Rumah Nenek

Nenek menempati rumah murah nan nyaman yang ternyata menyimpan sejarah kelam. Di ruang bawah tanahnya, pernah terjadi aksi mutilasi dan pembantaian sadis. Arwah para korban kini bangkit menuntut balas, meneror setiap sudut hunian tersebut. Setiap malam, suasana mencekam mengunci rapat bangunan ini. Para penghuni pun terjebak dan harus berjuang bertahan hidup melawan ancaman gaib mematikan yang sebelumnya telah merenggut nyawa pemilik terdahulu.
Bab
Bagikan

Bab 3

Bismillah

RUMAH NENEK

#part 3

#by: R.D.Lestari.

Baru saja akan mengguyurkan air, sesuatu seperti jatuh diatas punggung dan benda itu menggeliat. Saat aku meraihnya, ternyata cacing berukuran sebesar kelingking orang dewasa. Jumbo, raksasa.

"Uwaaaa! Ghandy!" aku memekik histeris. Tanpa sadar keluar dari kamar mandi tanpa memakai selembar kain pun.

"Ho, apa?" Ghandy melotot ke arahku. Tak lama ia terkikik dan menunjuk ke arah bawah perutku.

Aku yang masih shock dengan debaran jantung yang tak menentu serta napas yang memburu mengikuti arah telunjuk Ghandy dan menatap bawah perut.

"Astaga!" pekikku saat menyadari tubuh polos tanpa penutup. Seketika aku menutupnya dengan kedua tangan dan mencari penutup.

"Ha-ha-ha, untung aku juga punya. Ga kepayang kalau Kak Ajeng yang lihat, pasti langsung ngacir dia," bocah itu terkekeh meledekku.

"Asem!" makiku.

Aku lalu duduk di pinggir ranjang. Mengelus dadaku dan menghirup udara sebanyak-banyaknya hingga paru-paru terasa penuh, lalu menghembuskan dengan perlahan.

"Kenapa, Kak? kok ketakutan," tanya Ghandy saat melihatku mulai tenang.

"Ghan, di kamar mandi ada makhluk mengerikan! cacing gede banget!" ucapku dengan bibir bergetar.

Ghandy melongo beberapa saat. Tak lama ia beranjak dan meletakkan ponsel yang sejak tadi ada di tangan nya.

"Yok, lihat. Aku penasaran," ajaknya.

"Gak ah, ogah! geli dan ngeri!" tolakku.

Namun, Ghandy memaksa. Aku pun terpaksa mengikutinya dari belakang. Ia terlihat cukup waspada.

Di ambang pintu kamar mandi ia berhenti. Ku dengar suaranya melantunkan doa.

"Allahumma inni a'uudzubika minal khubutsi walkhabaaits,"

"Yok, masuk, Kak," Ghandy menarik tanganku dan kami masuk bersama.

Kamar mandi ukuran dua kali dua meter itu terlihat lenggang. Tak ada sesuatu pun yang mencurigakan.

Mataku mengedar begitu juga Ghandy. Tak ada apa-apa. Semua baik-baik saja. Merasa tak ada yang janggal, aku dan Ghandy akhirnya keluar.

"Mungkin Kakak tadi cuma halusinasi," tukas Ghandy sambil menepuk bahuku. Bocah sepuluh tahun ini memang terkadang kelakuannya lebih dewasa dari pada aku, kakaknya.

'Apa iya tadi aku cuma halusinasi? tapi semua seperti nyata!

"Lain kali masuk kamar mandi baca doa, ya. Soalnya kamar mandi tempat berdiam jin dan syeitan,"

Aku tercekat mendengar ucapan Ghandy. Menelan air liur susah payah. Benar kata Ghandy, seharusnya masuk kamar mandi baca doa. Apa aku terkena sihir atau di kerjain iblis? mengingat rumah ini penuh dengan misteri.

"Dah, mandi sana. Jangan lupa baca doa. Apa jangan-jangan Kakak tak hapal doa masuk kamar mandi?" Ghandy menyunggingkan senyum smirknya. Matanya memicing seolah menyelidik.

Kali ini aku terdiam. Ya, lupa bacaan masuk kamar mandi. Aku hanya mengangguk malu-malu.

"Makanya, Kak. Ngaji. Ini bisanya cuma nyuruh doang, dianya sendiri ga ngelakuin," sambil ngomel Ghandy melangkah menuju meja dan meraih tas ranselnya. Ia merobek kertas dan menuliskan sesuatu di sana.

Ia kemudian melangkah ke arahku dan menyerahkan secarik kertas. "Nih, di hapalin. Biar ga di ganggu jin," selorohnya.

Sembari mengucapkan terima kasih, aku melangkah ke kamar mandi. Berhenti sejenak tepat di depan pintu kamar mandi dan membaca doa yang ada di kertas. Sebelum masuk, aku menaruh kertas di atas tempat tidur.

Benar saja, mandi tanpa hambatan. Tak ada sedikitpun keanehan. Aku menghela napas lega. Mungkin tadi memang hanya halusinasi saja, karena sejak datang pikiranku sudah tak karuan.

***

"Aaaaaa! Mama!"

Suara Kak Ajeng terdengar nyaring dari kamar sebelah. Aku dan Ghandy yang lagi mabar mobile legend langsung tersentak dan berlarian ke kamar Mak Ajeng.

Saat kami tiba, pintu sudah terbuka lebar, suara obrolan terdengar dari dalam.

"Apa, sih, Kak? Mama lagi nyuci, teriak-teriak," dengan raut wajah khawatir Mama membelai rambut Kak Ajeng yang legam.

Kak Ajeng tampak sangat ketakutan. Ia menunjuk ke arah kamar mandi, dapat kulihat tangannya bergetar.

"A--ada banyak rambut berwarna putih di lantai kamar mandi. Beserta belatung yang mengapung di atas air dalam bak," dengan mata tertutup Kak Ajeng menjelaskan apa yang ia lihat barusan.

Raut wajah Mama berubah. Sulit diartikan. Antara marah, sedih dan juga heran.

Mama bangkit, sementara Aku dan Ghandy mengikuti dari belakang. Melangkah pelan dengan degup jantung yang bertalu-talu, tak beraturan.

Bertepatan dengan tangan Mama yang menyentuh gagang pintu, sebuah suara serak dan parah seketika membuat kami semua terpaku, dan hampir pingsan di tempat. Kaget.

"Tak ada apa-apa di kamar mandi. Itu cuma pikiran buruk anakmu saja!"

Mama langsung membalikkan tubuhnya dan menatap nanar ke arah Nenek yang tiba-tiba berdiri di ambang pintu.

Wajah Nenek tampak datar tanpa ekspresi. Selesai berucap, Nenek berlalu begitu saja. Kali ini terdengar bunyi tongkat yang beradu dengan lantai.

Tuk! tuk! tuk!

Mama menghela napas kasar. "Nenek kok aneh?" desisnya. Aku dan Ghandy saling melempar tatapan, seolah mengiyakan ucapan Mama, sedang Kak Ajeng memilih pindah ke atas ranjang dan menutup wajahnya dengan bantal.

Mama kembali memutar tubuhnya. Beberapa kali menghirup udara dan menghembuskan dengan perlahan.

Klak!

Mama menekan gagang pintu dan derit terdengar. Dengan perasaan was-was aku pun mengikuti langkah Mama masuk ke dalam.

Klek!

Lampu kamar mandi dihidupkan dan...

Kami semua terhenyak. Kamar mandi bersih. Tak ada rambut ataupun belatung.

Kami semua menghela napas lega.

Mama keluar kamar mandi dan mendekat ke arah Kakak.

"Tak ada apa pun di kamar mandi. Coba cek lagi," Mama dengan lembut membelai rambut Kak Ajeng.

"Ga mungkin, Ma. Ajeng yakin tadi ngelihat rambut. Banyak Ma, warna putih. Belatung juga berenang banyak, hiiiiii, geli!" setengah menangis Kak Ajeng menarik baju Mama.

"Coba kamu lihat lagi, Mama temenin," Mama menarik tangan Kakak. Masih dengan ketakutan Kakak beranjak dari ranjang.

Matanya melebar saat Mama membuka pintu kamar mandi. "Ga mungkin! masak tadi cuma halusinasi. Yakin tadi itu nyata!" cerocos Kakak seolah tak percaya apa yang ia lihat.

"Bener, Ma... tadi juga Bagas lihat cacing gede banget, nempel lagi, tapi begitu keluar, masuk lagi ke kamar mandi, ga ada apa-apa, aneh kan Ma?" timpalku.

Mama terdiam dan memandang kami bertiga secara bergantian. Tak lama ia menghela napas pelan.

"Dah lah, cuma kebetulan. Mungkin karena capek. Yuk, sekarang kita ke meja makan. Hari ini Mama yang masak. Bi Jumi tugasnya cuma ngurusin Nenek,"

Kami semua mengangguk. Hari sudah beranjak sore.

Kami semua sudah siap di meja makan. Cuma Mama yang sedari tadi memanggil Nenek di kamarnya tapi tak ada sahutan.

"Kamar Nenek di kunci, dan tak ada sahutan dari dalam. Bi Juni pun tak nampak, apa Nenek baik-baik saja, ya?" keluh Mama saat datang mendekat.

Belum sempat kami menjawab, bunyi deru kendaraan terdengar di halaman rumah.

Mama seketika berlari keluar demi melihat siapa yang datang. Kami masih asik menyantap makanan.

Seketika kami menghentikan makan saat mendengar suara teriakan Mama.

"Ibu?"

Kami langsung berlarian ke arah Mama. Menatap Mama yang terpaku di ambang pintu.

Kami berebutan ingin melihat siapa yang datang, hingga membuat Mama tercengang dan tak mampu berkata-kata.

Sama seperti Mama. Serentak mata kami melebar dan hendak terlontar keluar, mendapati sosok yang tersenyum lebar dengan bawaan di tangannya.

"Ne--Nenek....,"

Ghandy lalu menarik tanganku keras. "Kak, kalau itu Nenek, terus siapa yang barusan bicara di kamar kakak?"

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dersik: Begu Ganjang Telah Kembali
9.1
Dersik kembali ke Desa Mangpusu demi menuntaskan dendam masa lalu. Meski puluhan tahun berlalu, parasnya tetap awet muda dan memikat. Sunarni, sang mantan majikan yang didera rasa bersalah, kini tak berdaya saat keluarganya dihabisi satu demi satu. Di tengah teror Begu Ganjang yang mencekam, seorang dukun sakti bernama Surya curiga bahwa Dersik adalah mantan kekasihnya. Rumitnya, putra Sunarni malah jatuh hati pada sosok misterius yang berniat menghancurkan mereka.
Sampul Novel Escape
8.1
Nyawa Emily Watson, seorang model menawan, kini terancam. Sebelum tewas tanpa kepala secara tragis, Dr. Watson sempat menyewa jasa Ethan Davis, bos agensi keamanan elite London, demi melindungi rahasia besar putrinya. Di tengah pelarian dari kejaran pembunuh, Ethan dan Emily harus berjuang mengatasi trauma masa lalu mereka yang kelam. Akankah benih cinta yang tumbuh di tengah situasi mencekam ini mampu menyelamatkan mereka dari konspirasi mematikan yang mengintai?
Sampul Novel Ghost At School
9.0
Yui bersama sahabatnya berupaya menyelamatkan arwah-arwah yang terperangkap di area sekolah. Namun, sebuah petunjuk dari mimpi mengungkap kebenaran kelam bahwa korban perdana teror ini adalah teman dekat Yui. Investigasi mereka justru menyingkap rahasia keluarga, di mana salah satu anggota keluarga terbukti menjadi dalang demi membalas dendam masa lalu. Di bawah bayang-bayang ketakutan, sanggupkah mereka menghentikan kutukan tersebut?
Sampul Novel Korban Terakhir yang Digambar Ibu adalah Aku
9.2
Sebagai seniman forensik andal, ibu Janice mengabaikan telepon darurat putrinya saat diculik karena mengira itu hanya lelucon perusak ulang tahun sang adik. Janice pun tewas disiksa tanpa pertolongan. Begitu hasil tes DNA keluar, sang ibu yang syok bergegas ke TKP. Menggunakan sisa tulang yang ada, ia mencoba menggambar sketsa korban dengan tangan gemetar. Meski terus menyangkal, setiap goresan pensilnya selalu membentuk wajah Janice saat meregang nyawa, menyisakan tangis penyesalan yang terlambat.
Sampul Novel Misteri Bangku Kosong
8.1
Memasuki SMA swasta elite sebagai murid pindahan baru, aku langsung dihadapkan pada kejanggalan di ruang kelas. Di barisan belakang, terdapat sebuah meja dan kursi merah tua yang dibiarkan kosong. Anehnya, seluruh teman sekelas memperlakukan bangku mati itu seolah-olah berpenghuni, bahkan menyapa dan mengajaknya berbicara setiap hari. Di sekolah baru ini, semua orang tampaknya bisa melihat sosok tak kasat mata yang menduduki tempat tersebut, menyisakan aku sebagai satu-satunya orang yang tidak menyadari kehadiran misterius itu.
Sampul Novel Misteri nyai Ratu Blorong
8.8
Legenda pesugihan laut selatan Jawa sering dianggap dongeng belaka. Namun, sosok Nyi Ratu Blorong sang siluman ular sebenarnya nyata dan melampaui mitos mistis itu sendiri. Entitas tak kasat mata simbol kekayaan ini tetap setia mendampingi para sekutunya hingga kini. Di tengah kehidupan masyarakat milenial yang modern, eksistensi gaibnya masih bertahan kuat tanpa disadari oleh manusia yang hidup berdampingan dengannya.