APKDock Logo
Sampul Novel Beauty and The Mafia

Beauty and The Mafia

8.4 / 10.0
Rosetta Alighieri diculik oleh Marco Botticelli, seorang mafia kejam, setelah difitnah oleh kembarannya sendiri, Caritta, mencuri kalung pusaka pria itu. Di tengah sekapan bahaya, perasaan cinta yang tak terduga justru bersemi di antara korban dan sang penculik. Saat Marco menawarkan hubungan serius, Rosetta pun didera dilema besar. Haruskah ia menerima cinta sang kriminal dan terjun ke dunia gelap penuh risiko demi perasaan yang kian tumbuh?

Beauty and The Mafia Bab 1

“Aku tidak suka basa-basi. Siapa namamu?”

“Panggil saja Leah.”

“Leah? Nama yang menarik.”

Wanita berambut panjang yang mengaku sebagai Leah itu hanya tersenyum menanggapi. Dia menyilangkan sepasang tungkainya dengan gerakan sensual—menyingkap sebagian kulit paha yang halus, lantas mematikan puntung rokok miliknya di dalam asbak. Senyum lebar menghiasi sudut bibirnya yang dipolesi lipstik warna merah.

“Aku punya nama samaran bagi profesiku. Anggap saja itu cara kami bekerja,” komentar Leah lagi dengan sopan.

Pria tersebut kemudian mengangguk memberi respons. Dia kembali menyesap vodka-nya—minuman beralkohol yang baru saja dia pesan beberapa menit lalu—dengan hati-hati. Pikirannya berkelana pada sesuatu yang menonjol di balik blus sutra lawan bicaranya.

“Apa aku boleh menyebutmu Tuan Marco saja dan—”

“Botticelli. Tuan Botticelli,” tegas si pria itu tanpa balas memandang ke arah wanita cantik yang sedang menatapnya dengan sorot mata ‘lapar’.

“Jadi, apa kita sepakat dengan harganya?”

“Nominal sama sekali bukan masalah. Aku akan memberi tarif yang pantas untuk pelayanan yang kau berikan. Aku selalu royal terhadap jalang-jalang sepertimu.”

Leah tersentak dengan pernyataan di kalimat terakhir yang terdengar menghinanya. Dia memang pelacur, tetapi belum pernah ada yang secara terang-terangan menyebutnya serendah itu. Pria bernama Marco yang ada di hadapannya tersebut bercakap dengan lugas—terlalu objektif malah, sampai-sampai dia merasa jengah pada dirinya sendiri.

Marco bukan tipikal lawan jenis yang sering Leah temui. Pria itu berbeda, seolah-olah ada sesuatu dalam nada bicaranya yang menciptakan sensasi gentar di kedua lutut Leah sewaktu mereka melakukan interaksi. Sejenis sinyal peringatan bahwa dia merupakan orang yang harus dijauhi.

“Ba-baiklah, Tuan Botticelli. Aku setuju,” sahut Leah dengan terbata-bata.

“Akan ada seseorang yang mengurus uangnya untukmu. Kau hanya harus mempersiapkan dirimu sekarang.”

“Y-ya,” balasnya sambil mengangguk.

Leah menyeka keningnya yang mendadak mengeluarkan keringat. Dia belum pernah merasa segugup itu sebelumnya. Pria mana pun yang akan menggunakan jasanya selalu bersikap kasual dan manis, tetapi Marco justru dingin dan penuh intimidasi.

Tatapan tajam Marco beralih pada aksi salah tingkah Leah yang membuang muka darinya. Pria itu menyipitkan mata, lantas berujar, “Mengapa kau berperilaku seperti wanita yang baru mendapatkan mangsa untuk pertama kalinya?”

‘Apa katanya? Mangsa? Apa dia pikir aku predator?’ batin Leah. Dia spontan berdeham-deham membersihkan tenggorokan sesaat sebelum memberikan jawaban. Leah menyisir ujung rambutnya dengan jemari, kemudian menggeleng dengan ragu.

Perasaan aneh tersebut refleks mengisi dada Leah dan mengingatkannya pada pengalaman ‘pertama’ yang masih belum cukup lama berlalu. Usianya akan genap dua puluh tahun bulan depan. Namun, sepak terjangnya dalam menggaet para pria berdompet tebal sudah tergolong mumpuni.

“A-aku hanya tidak sabar ingin memulainya denganmu.”

Marco kemudian memberi kode pada salah satu bawahannya—pria setinggi seratus-enam-puluh-lima senti dengan kumis tebal itu—untuk mendekat. Dia memberi perintah dalam aksen Italia-nya yang kental. Detik berikutnya, Marco kembali mengunci tatapan pada Leah yang tengah membereskan kotak rokok ke dalam kantong rok kerutnya.

“Ikutlah denganku sekarang.”

Leah lagi-lagi hanya mengangguk. Keberaniannya menguap bersama seluruh kepercayaan diri yang sempat dia punya. Keadaan yang semula nyaman otomatis berubah menjadi serba canggung dan membuat langkahnya urung untuk mengekori pria bermata biru itu.

“Ada apa?” tegur Marco yang menangkap gelagat ganjil dari Leah.

“Ti-tidak.”

“Aku bertanya padamu untuk yang terakhir kalinya. Apa kau siap melayaniku atau—”

“Tentu saja,” sela Leah yang seketika menguatkan hatinya.

Ada dua alasan yang membuat Leah mengabaikan rasa takutnya. Pertama adalah uang. Kedua adalah kembali lagi pada alasan yang pertama; uang. Dia menggilai dolar seperti dia menyukai koleksi tas mahal yang terjejer rapi di dalam lemari pribadinya.

Sebagian besar penghasilan Leah akan berwujud dalam aneka barang bermerek yang selalu dia pajang di apartemennya. Wanita itu menghamba pada setiap sen yang masuk ke dalam rekeningnya sebagai imbalan dari kerja kerasnya di atas ranjang. Kegiatan yang telah menjadi rutinitasnya selama sepuluh bulan belakangan.

Mereka pun menaiki tangga yang terhubung ke lantai dua. Di sana, Marco meminta Leah masuk dan melakukan tugasnya. Wanita itu sempat tercengang dengan nuansa kamar yang dia datangi—megah dengan sejumlah akses yang hanya diperuntukkan bagi penyewa khusus.

Leah belum pernah mendapatkan pelanggan yang mengajaknya ‘tidur’ di ruang seistimewa itu hanya untuk aktivitas satu malam mereka. Dengan tujuh sosok pengawal yang selalu berjaga di dekat pintu dan punya gaya searogan dirinya, Marco sudah pasti bukan pria biasa. Dia bisa jadi seorang miliarder atau mungkin juga tokoh penting, pikirnya.

“Menarilah untukku,” pinta Marco yang masih menonton Leah terpana di posisinya.

“Me-menari?”

Marco menarik punggung kursi yang terbuat dari kayu itu dan menyandarkan tubuhnya. Dia memindai ekspresi wajah Leah, lantas mengangguk mengiyakan. Enggan membuka mulut untuk menyuarakan isi kepalanya.

“Ba-baiklah, Tuan Botticelli.”

Itu juga pertama kalinya Leah mendapatkan perintah untuk menunjukkan tarian, alih-alih mengangkangkan kedua kakinya. Dia menurut—mematuhi Marco yang tetap bergeming di tempat duduknya, kemudian menanggalkan semua pakaiannya satu-persatu tanpa menyisakan apa pun. Senyum kikuk wanita itu serta-merta terkulum di sudut bibirnya.

Leah mencoba menggerakkan pinggulnya dengan gerakan erotis. Namun, dia justru terlihat kaku dan konyol di sana. Marco pun berdecih, lantas menertawakan wanita itu dengan sorot mata puas.

“A-apa ada yang salah?” cicit Leah yang kedua pipinya terasa panas sekarang.

“Kau payah,” cemooh Marco yang kembali mengumbar kekehan pendeknya.

“Aku memang bukan penari, Tuan Botticelli. Aku hanya—”

“Jadi, apa bakat yang kau punya?”

Leah sontak mengerjap-ngerjap bingung dan menyahut, “Bakat? Apa maksudmu?”

“Sayang sekali, kau hanya cantik dan menarik untuk dinikmati.”

“Mengapa kau—”

“Menghinamu? Karena aku menginginkannya. Itu saja. Mendekatlah dan lepaskan celanaku.”

Leah menggertakkan gigi, kemudian menahan guncangan emosi yang akan meletup di dadanya. Dia teringat pada pundi-pundi lebih yang akan membuatnya sanggup untuk menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan dalam menit-menit yang jauh lebih lama dari biasa. ‘Lakukan saja demi setelan lingerie edisi terbaru bulan depan,’ batinnya.

Marco menyunggingkan seringainya, lantas berdiri dan menunggu Leah datang. Wanita itu pun bersimpuh di bawah kaki Marco—menarik ujung kemeja yang menutupi pengait gesper—agar dapat melepaskannya dari pinggang si pria dengan cekatan. Dia sudah terlatih untuk meloloskan sesuatu yang mendesak perhatiannya di balik sana.

Aset kebanggaan Marco seketika tampil dengan kepadatan penuh di depan Leah sesaat setelah dia menurunkan ritsleting itu bersama sisa kain pelindung yang terakhir. Kesiap syok sontak mengudara lewat mulut Leah yang terkejut pada intensitas sempurna dari pemandangan di hadapannya. Tangguh dan siap untuk memulai permainan.

“Sentuhlah dia dengan lidahmu,” titah Marco dengan sorot mata angkuhnya.

***

Lanjut Membaca

Daftar Isi Beauty and The Mafia

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Be Your Pet
9.2
Erick, pemuda berusia dua puluh tahun, terpaksa mengambil langkah ekstrem demi melunasi biaya rumah sakit ibunya. Ia bersedia menjadi 'peliharaan' bagi Jason, seorang pria penyuka sesama jenis yang sangat dominan dengan kecenderungan BDSM. Kini, hidup Erick dipenuhi kekerasan, makian, serta penghinaan. Sanggupkah Erick bertahan melewati hubungan dewasa yang sangat ekstrem ini demi menyelamatkan sang ibu?
Sampul Novel I'm Your Wife : Bukan Dia Tapi Aku
8.9
Alan, seorang wanita kutu buku, terperangkap dalam pernikahan dingin bersama Gavin Wildberg, sang CEO angkuh yang berselingkuh dengan adik angkat Alan bernama Aluna. Penderitaan Alan kian berat ketika sang ibu mertua mengusirnya dan menuntut perceraian karena penampilannya yang dinilai buruk. Saat nyaris mengakhiri hidupnya, seorang pria datang menolong dan mengungkap jati diri asli Alan. Kini, sebagai pewaris takhta konglomerat, ia bersiap membalas dendam.
Sampul Novel JERAT PESONA TUAN MUDA GIDEON
7.9
Akibat trauma masa lalu yang hampir merenggut nyawanya, Gideon Mosha, mahasiswa cerdas, hidup dalam pengawasan ketat orang tuanya. Sang ibu pun menyewa pengasuh pribadi. Namun, sifat jahil Gideon membuat tak ada pengasuh yang bertahan lama. Di sisi lain, Septin Adena, mahasiswi yang butuh biaya, terjebak menerima pekerjaan ini karena mengira akan mengasuh balita. Meski harus menghadapi tuan muda yang arogan, Septin terpaksa bertahan demi ekonomi. Akankah cinta tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel Menggerebek Suami Dan Selingkuhannya
8.8
Saat memergoki suaminya berselingkuh, Maura tidak menangis. Ia justru membawa warga untuk melakukan penggerebekan dan mendesak kedua perusak rumah tangganya itu segera menikah. Pasangan ilegal tersebut sangat senang karena bisa bersatu tanpa hambatan. Namun, di balik kemudahan itu, mereka tidak sadar telah masuk dalam perangkap licik Maura. Ini adalah awal dari skenario balas dendam yang sangat mematikan untuk menghancurkan hidup mereka.
Sampul Novel Suamiku Memilih Selingkuhannya
9.1
Kirana hancur saat tahu Arya berselingkuh dengan cinta lamanya. Sang suami berdalih pernikahan mereka hanyalah perjodohan tanpa cinta, melupakan janji suci yang pernah diucapkan. Di tengah luka dikhianati, Kirana harus berjuang sendirian menghadapi kehamilan berisiko tinggi yang mengancam nyawanya. Ia sengaja merahasiakan kondisi ini dari Arya yang telah pergi meninggalkannya. Mampukah Kirana bertahan hidup, dan bagaimanakah kelanjutan takdir pernikahan mereka?
Sampul Novel Valentine & Memories
8.3
Hidup Meera Zean Anatashya yang semula teratur dan penuh ambisi seketika hancur akibat kencan buta daring yang berujung petaka. Kini, ia tengah mengandung anak dari Zyan Derson Ozvick, sang Pangeran Mahkota yang sebenarnya telah bertunangan. Meski Meera berencana pergi setelah melahirkan, Zyan justru bertekad mengurungnya di kerajaan selamanya. Takdir pun menjerat Meera bersama pria yang telah merusak masa depannya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan