APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rumah Kakek

Rumah Kakek

Dara sedih karena rumah mendiang kakeknya dicap angker, padahal di sana tersimpan kenangan masa kecilnya. Walau begitu, ia mengakui adanya aura mencekam. Setelah enam belas tahun berlalu dan renovasi total dilakukan, misteri gelap di hunian itu belum juga sirna. Dara pun mulai meragukan sosok yang dulu meneror mereka. Apakah entitas itu masih ada di sana? Kini, ia dihadapkan pada pilihan sulit untuk kembali guna membongkar rahasia sang kakek.
Bab
Bagikan

Bab 2

Jika aku mengingat kejadian dulu, terkadang aku tertawa seorang diri sekaligus takut di saat yang

bersamaan. Hal lucu yang kuingat adalah, saat itu aku hanyalah seorang anak kecil biasa yang sedang

menjaga adik-adiknya di rumah dan tidak tahu sama sekali tentang hal-hal yang berhubungan dengan

mistis.

“Dara, Ayah dan Ibu pergi kerja dulu, ya. Tolong jaga adik-adikmu.”

“Siap, Bu!” seruku.

“Tasya, kamu bantu kakakmu ya! Jangan nakal dan bantu kak Dara jaga Robi.”

“Iya, Bu. Hmm …. Bu, pulangnya bawa makanan, ya?!” celetuk Tasya dengan menunjukkan senyum

manja.

“Iya, doakan pekerjaan Ibu dan Ayah lancar, ya! Agar bisa bawa makanan saat pulang nanti,” balas ibu

seraya mengusap kepala kami.

Setidaknya, aku sudah diajari tentang bagaimana menjaga keamanan di rumah dan menjaga adik-adikku

saat ayah dan ibu pergi bekerja. Contohnya, seperti menyalakan lampu di luar rumah saat hari mulap

gelap, mengunci pintu, dan juga menyiapkan makanan saat kami lapar. Namun, sebenarnya aku masih

bingung dengan satu hal. Yaitu, menjaga Robi. Ia masih berumur tiga tahun dan aku kelas IV SD saat itu.

Robi anak yang cukup aktif hingga membuatku sangat kewalahan saat menjaganya. Dan juga, aku tidak

punya waktu banyak untuk belajar atau sekedar mengerjakan pekerjaan rumah.

“Kak Dara, paman Danu pasti pulang untuk menemani kita kan nanti?” tanya Tasya sambil memegang

lenganku seiring dengan perginya orang tua kami.

“Kakak gak tahu, Tas. Kita berdoa saja semoga paman Danu nanti pulang, ya.”

Biasanya, orang tua kami pulang ke rumah cukup larut sekitar jam sembilan atau sepuluh malam.

Bahkan, sesekali mereka pulang saat kami sudah tertidur.

Hari libur membuatku seharian berada di rumah. Rasanya, ingin sekali aku bermain ke rumah teman

namun pastinya aku harus mengajak kedua adikku. Dan itu membuatku tidak nyaman.

“Ka Dalaa, Obi mau main di luall,” pinta Robi dengan suara menggemaskannya yang masih sedikit cadel.

“Boleh, asal jangan jauh-jauh ya!”

“Kak, Tasya juga mau main di luar, sekalian jaga Robi deh.”

“Iya, Kakak akan mengawasi kalian dari teras sambil menyiram tanaman,” jawabku.

“Hmmm …. Kak, boleh minta uang jajan gak? Hehehe.”

“Ibu gak kasih uang Tas, sabar dulu ya tunggu ibu pulang ….”

“Yahhh …. Yasudah Kak, nggak pa-pa.”

Kami memang keluarga sederhana, di rumah besar peninggalan kakek ini kami hanya ‘menumpang’

karena orang tuaku masih belum memiliki rumah sendiri. Walaupun terkadang, kami hanya makan dua

kali sehari dengan menu yang sama seperti telur goreng, kami tak pernah mengeluh dan sudah biasa

dengan keadaan seperti ini. Kami masih bisa tertawa bahagia seperti keluarga lainnya walaupun tak

memiliki apa-apa.

Setiap petang, aku selalu berharap paman Danu akan datang untuk menemani kami saat ibu dan ayah

belum pulang. Namun, sepertinya harapan itu lagi-lagi sirna karna sampai langit sudah gelap pun, ia tak

kunjung menampakkan diri.

Waktu menunjukkan pukul 21.30, kedua adikku sudah terlelap tidur dan aku masih menunggu orang

tuaku pulang dengan menonton tv di ruang keluarga.

Dukk.. Dukk..

Samar-samar, terdengar suara seperti hentakan yang berasal dari lantai dua. Aku menengok ke arah

tangga dan mengabaikannya.

‘Ah, itu pasti suara tikus di atas ….’ Pikirku tak peduli.

Aku melanjutkan menonton acara tv kesukaanku malam itu. Sesekali aku mengeluarkan tawa kecil

karena terlalu asik dan terbawa suasana acara tersebut.

Anehnya, suara itu seperti hentakan kaki seseorang. Padahal, jelas-jelas tak ada seorang pun di sana

karena area lantai dua sudah tidak gunakan untuk beraktifitas kecuali menjemur pakaian. Di atas sana,

ada satu kamar tidur milik paman Danu dan satu kamar mandi yang kini sudah tak ada penerangan di

sana.

Dukk ….

Suara itu terdengar lagi.

Kesal karena perhatianku menonton jadi teralihkan, aku menengok ke arah tangga yang gelap itu

dengan penasaran akan apa yang terjadi.

Hampir sepuluh detik aku menatap tangga, tak ada apa pun yang terjadi di sana. Sampai akhirnya aku

memutuskan untuk kembali menonton tv, belum sampai setengah badanku berbalik, tiba-tiba ….

Duk …. Duk …. Duk ….

Adrenalinku naik, bulu kuduk pun terasa merinding. Kali ini aku panik karena suara itu mendekat dan

terdengar jelas seperti sedang berjalan langkah demi langkah ke arahku dengan menuruni anak tangga

dari kegelapan.

“Si-siapa itu?!” dengan bodohnya aku berteriak padahal jelas-jelas tak ada siapa pun yang terlihat turun

dari atas.

Seketika, aku langsung berlari menuju kamar tanpa mematikan tv dengan tergesa-gesa.

“Tas! Tasya bangun! Tassss!!”

Kubangunkan Tasya dengan mengguncang-guncangkan tubuhnya hingga akhirnya ia sedikit terbangun

dengan mata yang setengah terbuka dan raut wajah yang kesal.

“Aduhhh …. Ada apa sih Kak?! Aku masih ngantuk sekali,”

“Ada orang Tas! Ada suara dari atas! Aku takut! Tolong jangan tidur dulu sampai ibu datang!”

Alih-alih meminta tolong, Tasya malah melanjutkan tidurnya sambil memeluk guling kesayangannya itu.

Aku benar-benar panik, aku bahkan tak peduli dengan tv yang masih menyala. Keringat dingin

membasahi tubuh dan wajahku. Aku hanya bisa berlindung di balik selimut dan memaksa mata ini agar

terpejam dan tidur.

Tok …. Tok ….

“Assalamu’alaikum, Dara tolong buka pintunya. Ini kami, Nak.”

Ketakutanku hilang seketika, aku menghela nafas lega tatkala mendengar suara kedua orang tuaku yang

sudah pulang. Aku langsung membuka selimut, bangun dari kasur dan bergegas membuka pintu

menyambut kedatangan mereka.

“Akhirnya, kalian pulang juga! Kenapa lama sekali, tak biasanya kalian pulang selarut ini,” ucapku lega

dan langsung memeluk mereka.

“Eh, ada apa ini? Kok, wajah kamu pucat dan berkeringat, Dara?” tanya ibu keheranan.

“Aku tak bisa tidur, Bu. Aku takut ….

Aku menceritakan apa yang kualami tadi pada ayah dan ibu. Mendengar hal itu, mereka hanya terdiam

dan sesekali saling menatap kebingungan atas apa yang kuceritakan.

“Hmm …. Suara? Mungkin, itu tikus Sayang. Di rumah ini kan Cuma ada kamu, Tasya dan Robi saja. Kamu

juga kan pernah lihat ada tikus yang berkeliaran di sini.”

“Bukan Bu, bukan! Suaranya seperti orang yang sedang berjalan dan turun tangga!” seruku meyakinkan

ibu.

“Iya, mungkin itu tikus yang sudah besar sekali badan nya. Jadi, terdengar seperti langkah kaki. Oh,

mungkin dia mau mengajak kamu bermain? Hahaha,” pungkas ayah berusaha menenangkanku dengan

gurauan.

Namun, aku tetap yakin itu bukanlah suara tikus. Meskipun aku juga tak tahu pasti suara apakah itu.

Apakah mungkin, aku sedang berhalusinasi? Semoga saja.

“Sudah, lebih baik kita istirahat saja. Besok kan kami libur dan kita bisa menghabiskan waktu bersama.”

Tutur ibu.

Akhirnya, satu hari dalam seminggu yang selalu dinantikan adalah hari saat orang tuaku tidak bekerja.

Karena, jujur saja aku lelah mengurus adik-adikku ditambah lagi dengan kejadian tadi yang membuatku

ketakutan setengah mati.

Menuju lelapnya dunia mimpi, aku masih bisa sedikit mendengar ayah dan ibu yang sedang berbincangbincang sambil berbisik.

“Yah, apa Dara mengalami hal yang sama seperti yang kita alami?”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CINTA DITOLAK DUKUN SANTET BERTINDAK
9.7
Pernikahan Nagita Wangi Kuncoro dan Rusdi Pratama Habsy yang harusnya bahagia justru berubah mencekam akibat teror gaib misterius. Penasaran dengan kejanggalan ini, sahabat Rusdi mulai menyelidiki dalang di balik gangguan mistis tersebut. Penyelidikan mengungkap bahwa pelaku kiriman santet mematikan ini adalah Listiowati Dewi, mantan karyawan yang sakit hati karena cintanya ditolak. Kini, nyawa pasangan pengantin baru ini terancam dan mereka harus berjuang bertahan hidup.
Sampul Novel DIBALIK TOPENGNYA
8.2
Hidup Sarah berubah drastis setelah menemukan buku mantra misterius kepunyaan Evander. Sosok pria penuh teka-teki itu menyisakan tanya besar. Apakah ia pangeran yang menderita, atau justru badut kejam yang haus darah? Sarah pun terus didera keraguan: apakah Evander pemilik sah dari rumah berhantu tersebut, atau sekadar orang asing yang disewa demi mengusir roh jahat di sana?
Sampul Novel Keponakanku yang Belum Lahir dan Telah Meninggal
9.5
Kakak iparku bersikeras melahirkan di desa meski kandungannya berisiko tinggi. Saat aku mencoba membawanya ke rumah sakit demi keselamatan, ia malah menuduhku memicu kelahiran prematur bayinya yang lemah. Kebencian itu membuatnya tega meracuniku hingga tewas. Namun, takdir membawaku kembali ke masa lalu, tepat di momen ia meminta saran. Kali ini, aku memilih bungkam dan membiarkannya menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tanganku.
Sampul Novel MULUT ISTRIKU MEMBUSUK
8.2
Keanehan mengerikan melanda istriku saat mulutnya membusuk dan mengeluarkan belatung. Bau bangkai menyengat yang mengiringi setiap ucapannya memaksaku menyelidiki rahasia kelam yang dia sembunyikan selama ini. Penyelidikan pribadiku mengungkap kenyataan yang jauh lebih mengerikan daripada penyakit biasa. Di balik paras cantiknya, tersimpan kebenaran fatal yang selama ini berhasil dia tutupi dariku tanpa celah.
Sampul Novel TEROR ASOKA
8.4
Tumbuh di tengah keluarga Dirandra yang menyayanginya, Asoka Lavanya Ekadanta tetap tak bisa lepas dari teror misterius sejak kecil. Saat ancaman itu kian membahayakan orang-orang terdekatnya, sang anak angkat terpaksa mengasingkan diri untuk berjuang solo. Kini, ia harus menuntaskan dendam masa lalu, mengungkap dalang di balik semua kekacauan, sekaligus memenangkan kembali hati wanita yang tulus mencintainya. Mampukah ia bertahan?
Sampul Novel The Syndrome: Diperkosa Setan
9.0
Kehidupan malam yang glamor membuat Sintia lengah akan ancaman yang mengintai dirinya. Seorang iblis kejam mengincarnya, lalu menculik gadis itu ke tengah hutan belantara yang jauh dari peradaban. Di tempat terasing tersebut, ia dipaksa menghadapi siksaan keji serta pemerkosaan yang menghancurkan harga dirinya. Siapakah sebenarnya sosok iblis tersebut? Dapatkah Sintia bertahan hidup dan melarikan diri dari sekapan di dalam hutan yang penuh teror itu?