APKDock Logo
Sampul Novel Rumah Kakek

Rumah Kakek

8.4 / 10.0
Dara sedih karena rumah mendiang kakeknya dicap angker, padahal di sana tersimpan kenangan masa kecilnya. Walau begitu, ia mengakui adanya aura mencekam. Setelah enam belas tahun berlalu dan renovasi total dilakukan, misteri gelap di hunian itu belum juga sirna. Dara pun mulai meragukan sosok yang dulu meneror mereka. Apakah entitas itu masih ada di sana? Kini, ia dihadapkan pada pilihan sulit untuk kembali guna membongkar rahasia sang kakek.

Rumah Kakek Bab 1

Aku memandang kembali bangunan kokoh yang berdiri di hadapanku, kedua orang tuaku sudah mendahului dengan om Agung, tante Eva dan mamang Danu.

Rasanya cukup ragu untuk kembali memasuki rumah ini, setelah bertahun-tahun aku memiliki kenangan buruk mengenai tempat di mana nenek dan kakekku pernah tinggal.

"Dara, kok malah bengong?” sapa om Agung menghampiriku.

Aku tersenyum kecut dan mengangguk dengan segan. Gina, sepupuku segera menarik tangan untuk mengelilingi rumah yang baru saja direnovasi tersebut.

Adikku, Tasya dan Robi, entah sudah merambah hingga ke mana. Rumah besar berlantai dua ini memang sangat luas dan menjadi lebih mewah dari sebelumnya.

Om Agung menghabiskan uang yang tidak sedikit untuk memugar kembali menjadi bangunan baru dan tidak ada lagi kesan ‘suram’.

“Dua belas tahun aku pernah di sini, kayaknya semua baru terjadi kemarin,” gumamku sembari menebarkan pandangan ke seluruh ruangan, sementara berdiri di tengah, ruang keluarga.

“Emang bener, ya, Kak?” tanya Gina sembari berbisik.

Aku menoleh padanya. “Tentang?”

Gina menelan ludah dan merapatkan tubuhnya hingga memeluk lenganku.

“Kalo rumah ini angker?” ucapnya lirih.

Aku hanya melempar senyum samar. Jika kukatakan tentang berbagai pengalaman yang cukup meninggalkan mimpi buruk, pasti Gina, sepupuku, sudah hengkang kaki dan berteriak pada ibunya, meminta agar cepat pulang.

“Tergantung cara pandang kamu. Mungkin karena dulu aku penakut, makanya sering ngalamin kejadian konyol,” jawabku terkesan diplomatis.

Gina meringis dan tidak begitu saja percaya dengan penyataanku.

Entah kenapa, meski sudah mengalami banyak perubahan, aku masih merasakan ada sesuatu yang tidak menyenangkan dan membuatku cemas sekaligus gelisah saat ini. Terdengar suara dari arah dapur, tante Eva, yang meminta kami melihat kamar di lantai dua.

Gina memohon kami semua untuk mengunjungi setiap ruangan. Dengan sedikit enggan, aku menaiki anak tangga, menyusul Gina yang sudah berlari lebih dulu.

Kakiku menapaki satu persatu, tapi bunyi derak aneh yang tidak seharusnya terdengar dari tangga yang terbuat dari batu dan semen, kini terdengar. Aku menoleh ke bawah, lalu kembali mendonggakkan kepala ke arah atas.

Aku benar-benar tidak ingin ke atas sana!

Bayangan itu masih melekat di kepalaku. Kini keringat dingin mulai muncul dan kakiku semakin berat melangkah.

Oh Tuhan, apa yang aku lakukan sekarang? Benarkah rumah ini tidak lagi menyimpan kengerian di masa lalu dulu?

Sebenarnya, banyak sekali perubahan pada rumah ini yang membuatku takjub. Walaupun sudah sah dimiliki oleh om Agung, aku tetap menyebut rumah ini sebagai Rumah Kakek. Entah mengapa, karena memori yang ada di rumah ini sangatlah kuat. Suka, duka bahkan hal menegangkan pun aku alami juga di sini.

Rumah ini benar-benar luas..

Garasinya bisa muat empat sampai lima mobil, walaupun area ruang tamu diperkecil, namun ruang keluarga kini diperbesar, ada pula dapur bersih dan kotor. Itu masih di lantai satu, belum lagi di lantai dua, ada lima kamar tidur di rumah ini. Ditambah dengan dua kamar kecil yang salah satunya untuk karaoke keluarga dan kamar untuk asisten rumah tangga.

“Hebat euy, Gung. Jadi keren begini rumahnya,” ucap ayahku.

“Siapa dulu dong, Agung. Hahaha,” balas om Agung berbangga diri.

“Walaupun fisik rumah ini sudah berubah, tapi kenangan di sini takkan pernah terlupakan, ya. Banyak kenangan orang tua kita disini,” ibuku menambahkan.

Ayah, Ibu, dan anggota keluargaku lainnya saling merangkul satu sama lain yang membuat suasana semakin haru. Mendengar ucapan ibu, aku jadi teringat saat aku berkunjung beberapa tahun lalu sebelum rumah ini direnovasi.

Masa kecilku banyak dihabiskan di sini sampai setidaknya aku menamatkan sekolah dasar di umur dua belas tahun. Tiap kali aku berkunjung setelah tak tinggal lagi di sini, salah satu temanku pernah berkata,

“Dara, sekarang rumah kamu terkenal angker di komplek ini, loba jurig!”

Jujur, mendengar ucapan itu aku cukup sedih karena bagaimanapun juga, ini rumah mendiang kakek dan nenek yang sangat kusayangi. Aku hanya bisa terdiam tanpa kata sembari memberi senyum kecut saat mendengarnya. Bagaimana bisa rumah ini jadi di kenal dengan rumah hantu?! Gumamku kesal.

Tapi, aku tidak pernah menyampaikan hal itu pada sepupu atau keluarga besarku. Yang tahu persis tentang kejadian-kejadian aneh di rumah ini hanyalah keluarga intiku saja. Karena, kami yang terakhir tinggal di rumah ini dengan rentan waktu yang cukup lama. Sebelum menjadi moderen seperti sekarang, sebenarnya bangunan dan model rumah ini tidaklah buruk atau menyeramkan. Hanya saja semua kejadian aneh muncul setelah sepeninggal kakekku.

Pamanku juga sempat tinggal sebentar bersama kami di rumah ini, namun karena kesibukanya kuliah, terkadang ia tak pulang ke rumah, ia adalah paman yang biasa ku panggil mang Danu.

Apakah dia tahu tentang sesuatu dirumah ini? Aku tak yakin, karena saat itu ia tak pernah berbicara apa pun mengenai rumah ini.

“Hayu, kita foto-foto dulu! Habis itu, Om traktir makan bakso mas Bejo deh!” ucap om Agung.

“Asyiiik! Aku rindu sekali bakso mas Bejo! Kira-kira, dia masih ingat denganku tidak, ya?”

“Tentu saja ingat, keluarga kita kan langganan bakso nya mas Bejo, Dara.”

Selepas mendokumentasikan beberapa foto, kami keluar rumah dan bertemu para tetangga, mereka masih sama seperti dahulu. Baik, ramah dan peduli semasa aku masih tinggal di sini.

“Wah …. Wah pantas saja terdengar ramai sekali di luar. Ternyata ada rombongan keluarga Pak Sutrisno di sini,” tutur pak Darman yang menyapa kami sesaat akan meninggalkan rumah.

Ia adalah tetangga yang rumahnya tepat bersebelahan dengan rumah kakek. Kedua rumah ini sama-sama di posisi yang menghadap ke jalan besar atau jalan utama. Jika dibayangkan, dua bangunan ini berada di persimpangan jalan yang berbentuk letter L. Kebanyakan orang menyebut rumah kakek dan pak Darman adalah rumah tusuk sate.

Yang konon katanya, posisi ini tidak baik untuk sebuah rumah karena akan mendatangkan hal-hal buruk nantinya. Jadi, selain sempat terkenal angker, nama Sutrisno yaitu nama belakang kakekku sempat menjadi buah bibir di komplek perumahan ini karena mitos tusuk sate tersebut.

“Apa kabar, Pak? Sehat?” tanyaku pada pak Darman.

“Sehat, kamu bagaimana? Sudah besar, ya. Tak terasa sudah lama tak bertemu tau-tau sudah sebesar ini, bapak jadi ingat saat kalian masih kecil-kecil,” balasnya dengan tertawa kecil.

“Iya, Pak. Aku juga tak menyangka bisa melihat rumah ini lagi dengan pemandangan yang sudah berbeda.”

“Sekarang, sudah tak terdengar lagi bunyi dan suara-suara aneh dari rumah kakekmu. Yang lalu biarlah berlalu. Yang penting sekarang rumah ini sudah nyaman dan aman kembali seperti saat pak Sutrisno masih ada,” kata pak Darman sedikit berbisik padaku.

Perubahan rumah ini tak hanya membuat keluarga kami saja yang bahagia, para tetangga pun merasakan hal yang sama. Kini, rumah ini sudah siap ditempati kembali.

“Gina, aku rasa rumah ini sudah nggak ada hawa negatif lagi. Aku nggak tahu tapi hatiku berkata seperti itu.”

“Baguslah kalau begitu, Kak. Tapi kalau Kakak diberi kesempatan untuk tinggal di sini lagi …. Apa Kakak mau?” tanya Gina padaku.

“Hmm …. Sepertinya tidak .”

“Loh mengapa begitu, Kak?”

“Nggak apa-apa, hanya saja walaupun secara fisik sudah berubah, namun kejadian-kejadian itu masih terbayang-bayang di pikiran dan takut mendatangkan sugesti buruk padaku, dan aku nggak mau itu terjadi.”

Entah aku yang berlebihan atau memang begitu adanya. Memang benar, kalau kenangan di rumah ini sangat menyeramkan sampai menimbulkan trauma di usiaku yang sekarang sudah beranjak dewasa .

“Memangnya, semenyeramkan itukah untuk Kak Dara sampai kaka tidak mau lagi tinggal di sini?”

Lanjut Membaca

Daftar Isi Rumah Kakek

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Ksatria Naga Phoenix
8.3
Benua Arkandaria terancam kiamat oleh kehadiran Naga Langit, sesuai ramalan kuno yang beredar. Harapan satu-satunya ada pada Ksatria Naga Phoenix yang legendaris. Zhu Fei, anak Panglima Zhu Lei, diprediksi sebagai sosok penyelamat tersebut. Sejak berumur lima tahun, ia dikirim ke Pulau Pek Long untuk menjalani pelatihan demi takdir besar ini. Mampukah Zhu Fei menghentikan bencana besar itu, ataukah semua ini hanya akan berakhir sebagai mitos belaka?
Sampul Novel Nafkah dua puluh ribu darisuamiku
8.4
Kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna dengan suami mapan dan bergelimang harta ternyata menyimpan kepedihan mendalam. Di balik fasilitas serbakecukupan yang tersedia, seorang istri justru harus berjuang sendiri demi bertahan hidup tanpa nafkah yang layak. Kemewahan yang kasat mata tidak menjamin kebahagiaannya. Ini adalah kisah tentang keteguhan hati dan perjuangan seorang wanita dalam menemukan kemandirian di tengah dinginnya pernikahan yang semu.
Sampul Novel Pendekar Pedang Terhebat
9.1
Zero, anak yatim piatu berumur sepuluh tahun, sering menjadi sasaran perundungan akibat mimpinya menjadi pendekar pedang luar biasa walau bakatnya sangat minim. Latar belakangnya yang misterius di bawah bimbingan Master Pedang pun kerap memicu kecemburuan rekan-rekannya. Begitu mengetahui bahwa ayah kandungnya merupakan sosok pendekar legendaris, tekadnya langsung berkobar. Zero kini harus berjuang keras melewati rintangan demi membuktikan kelayakannya meraih gelar tertinggi.
Sampul Novel Pewaris yang Kubawa Pergi
8.2
Setelah delapan tahun membina rumah tangga dengan Tommy, seorang bos mafia, Yura mendapati kenyataan pahit saat proses serah terima warisan triliunan dari kakeknya. Pengacara mengungkap bahwa pernikahan mereka palsu dan mereka telah bercerai setahun lalu, sementara Tommy telah menikahi Merry, cinta lamanya. Sadar cinta suaminya palsu, Yura yang sedang hamil anak kembar memutuskan pergi membawa seluruh warisan haknya dan hidup mandiri tanpa Tommy.
Sampul Novel Please, Jangan Panggil Ibu
9.5
Pernikahan masa lalu antara Tanika dan Faris berawal dari sebuah pertolongan saat Tanika masih mengajar di SMA. Walau berbeda usia sepuluh tahun, cinta sempat tumbuh sebelum akhirnya keadaan memaksa mereka berpisah. Lima tahun berselang, takdir mempertemukan mereka lagi dalam kondisi berbeda. Faris sangat terkejut saat mengetahui mantan istrinya itu kini telah bersuami. Akankah cinta lama mereka kembali membara, atau justru harus terkubur untuk selamanya?
Sampul Novel Tidak Akan Diremehkan lagi Oleh Kamu
9.5
Dicampakkan Hubert di hari pernikahan demi Yuna, protagonis menolak menunggu dan memilih menikah dengan Leandro pilihan orang tuanya lalu pergi ke luar negeri. Tiga tahun kemudian, dia kembali. Leandro yang kini menjadi presiden multinasional memintanya mendatangi kantor cabang. Tak disangka, bawahan yang menyambutnya adalah Hubert. Mengira cincin aslinya tiruan, Hubert meremehkannya dan menyuruhnya pulang untuk mengurus anak Yuna. Dia hanya diam, tahu itu cincin asli dari Leandro.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan