APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rumah Kakek

Rumah Kakek

Dara sedih karena rumah mendiang kakeknya dicap angker, padahal di sana tersimpan kenangan masa kecilnya. Walau begitu, ia mengakui adanya aura mencekam. Setelah enam belas tahun berlalu dan renovasi total dilakukan, misteri gelap di hunian itu belum juga sirna. Dara pun mulai meragukan sosok yang dulu meneror mereka. Apakah entitas itu masih ada di sana? Kini, ia dihadapkan pada pilihan sulit untuk kembali guna membongkar rahasia sang kakek.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Oh, jadi itu awal mulanya. Ah, itukan cuma suara saja, Kak. Bisa jadi, itu beneran tikus seperti kata om Farhan. Iya kan, Om?” tanya Gina pada ayahku.

Ayah hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Gina sambil meminum secangkir kopi.

“Ih, itukan baru permulaan, Gin! Masih ada cerita selanjutnya yang lebih aneh. Lagi pula, mana ada suara tikus berlari dengan suara sekeras itu. Aku bahkan ingat sekali sampai sekarang jelasnya suara itu,” jelasku pada Gina.

“Terus, kelanjutannya bagaimana?”

“Lebih baik, makan baksonya dulu Neng Gina, Neng Dara …. Keburu dingin, nanti kan bisa lanjut cerita lagi,” ucap mas Bejo memotong pembicaraan kami.

“Benar juga kata Mas Bejo. Eh, tapi penasaran deh. Kita sambil cerita-cerita aja, ya. Waktu Mas sering berjualan keliling komplek, pas lewat rumah kakek pernah mengalami sesuatu atau kejadian aneh nggak?” tanyaku penasaran.

“Yaa …. Kalau dulu sih pernah, terutama pasca almarhum Pak Sutrisno sudah ndak adaada dan neng Dara sudah ndak tinggal di sana, setiap kali lewat situ sering terdengar lagu-lagu sunda. Suaranya kecil tapi jelas terdengar kalau sumbernya dari dalam rumah,” cerita mas Bejo dengan logat Jawa nya yang khas.

“Wah, serius Mas?!” tanya Gina kaget.

“Iya, dan itu sudah menjadi rahasia umum. Kalau tetangga-tetangga area situ sih, sudah pada tahu, Neng.”

Ucapan mas Bejo mungkin benar adanya. Karena, aku sempat mendengar cerita dari beberapa tetangga, kalau mereka juga sering mendengar alunan lagu Sunda dari dalam rumah kakek.

Bagaimana dengan pak Darman? Saat itu, rumahnya masih dalam tahap pembangunan. Namun, ada hal yang cukup mengherankan yaitu, rumahnya tak kunjung rampung dan memakan waktu yang sangat lama untuk di bangun. Entah apa yang salah, tapi beberapa orang beranggapan kalau posisi rumah tusuk satelah yang memberi aura negatif dan menghambat pembangunan rumah pak Darman.

“Saat itu Mamang ingat sekali. Sepulang kuliah, Mamang berjalan kaki dari gerbang komplek menuju rumah. Karena tampak depan rumah sudah bisa terlihat dari ujung jalan, dari kejauhan Mamang melihat seseorang sedang berdiri dari dalam rumah di depan jendela dengan tangan kanannya yang diletakkan di kaca, entah siapa tidak tahu orangnya. Yang terlihat jelas hanyalah, ia seorang perempuan. Rambutnya menjuntai sepinggang, pandangan dan postur tubuhnya lurus seperti sedang menunggu Mamang pulang ke rumah,” sela mang Danu ikut bercerita.

Kami semua terdiam. Aku cukup merinding mendengar hal itu karena ini pertama kalinya mendengar mang Danu bercerita tentang pengalamanya. Kami memang jarang bertemu di hari-hari biasa karena sekarang ia sudah bekerja di luar kota.

“Jadi, itu alasan Mamang tidak pernah pulang?”

“Iya, itu alasannya. Sebenarnya, Mamang tidak tega pada kamu Dara, Tasya dan juga Robi. Namun, jujur saja saat itu Mamang takut juga. Karena tahu kalau perempuan itu bukanlah salah satu dari kalian. Ah, pokoknya mah, ngeri kalau diingat-ingat.”

“Hiiii, seram juga, ya. Tapi aku penasaran deh siapa wanita itu,” tutur Gina.

“Lalu, setelah Mang Danu memutuskan untuk tidak pulang, kemana Mamang pergi?” tanyaku lagi.

“Ke rumah teman di blok bawah, itu si Fajar. Mamang sering menginap di sana kalau lagi malas pulang ke rumah.”

“Oh, iya-iya, aku ingat. Om Fajar pernah telpon ke rumah dan menanyakan mengenai kabar kami. Dia bilang kalau ada apa-apa, segera meminta pertolongan pada tetangga. Kedengarannya ia cukup khawatir saat itu, karena seperti biasa aku hanya bertiga dengan Tasya dan Robi. Ayah dan Ibu belum pulang. Lalu dengan santainya Mamang menginap di rumah om Fajar??”

“Iya, hahahahha. Dia khawatir pisan mikirin kalian, Mamang juga sih, hanya saja Mamang yakin kalian bisa survive! Haha.”

“Wah gila sih, jahat banget loh Mang Danu. Kasian tau Kak Dara ih! Parahh!” gerutu Gina ikut kesal.

Ternyata, hal itulah yang menyebabkan mang Danu jarang pulang. Walaupun memang setiap hari aku selalu menantinya dan berharap menjaga kami di rumah, namun kalau mengalami hal seseram itu, aku pun akan berpikir dua kali untuk pulang ke rumah.

“Jadi …. Kira-kira siapakah wanita itu??!” celetuk mas Bejo.

“Hanya Tuhan yang tahu, Mas. Hahaha .…” jawab mang Danu.

Siapa wanita itu? Apa yang ia lakukan di rumah itu saat aku dan keluargaku berada di dalamnya? Begitu pula dengan lagu-lagu sunda tadi. Memang, semasa hidup setiap pagi Kakek selalu memutarkan lagu khas sunda dan itu menjadi rutinitas setiap pagi. Tapi kan, Kakek sudah nggak ada? Lalu siapa yang memutarkan lagu-lagu itu?

“Sudah, jangan cerita hantu-hantu terus. Anak muda jaman sekarang sukanya horor melulu,” ucap om Agung meledek kami.

Walaupun takut, aku sangat tertarik sekali mendengar cerita lainnya yang dialami oleh mang Danu. Masih banyak hal yang belum aku ceritakan karena aku masih ragu, apakah itu memang berhubungan dengan hal mistis atau hanya sugesti saja.

“Ih! Om Agung diam deh, yang tua sama yang tua saja, kita yang muda lagi asik cerita-cerita, nih! Lanjut dong Kak Dara, seru nih,” hardik Gina.

“Lalu, apakah Ayah dan Ibu tidak pernah melihat sosok itu selama kalian tinggal di sana?” tanyaku.

“Kalau kami, jelas banyak sekali pengalaman misterius dan aneh juga. Tapi, kami tidak bisa cerita banyak saat itu karena kalau kami takut, kalian pun anak-anak pasti akan takut juga.”

“Iya, benar apa kata Ibu. Kami tidak punya pilihan, karena kita tinggal dirumah itu ya… kita harus menguatkan diri atas apa pun yang terjadi,” jawab Ayah bantu menjelaskan.

“Memang sih, Om juga pernah mendengar sesuatu di sana, terutama di area paviliun yang tepat bersebelahan dengan sumur di ujung rumah. Inget teu, Dara?” tanya om Agung padaku.

“Inget banget! Itu salah satu area yang sangat aku takuti. Karena, walaupun sumur itu ditutup dengan papan kayu, namun dinding ruanganya terdapat ukiran berbentuk harimau berwarna kuning. Aku ingat sekali dan tak mau sekali pun masuk ke dalam ruangan itu,” jawabku seraya menggelengkan kepala.

“Emangna, ngadenge sora naon, Gung?” tanya Ayahku ikut penasaran.

“Tak lain dan tak bukan, suara geraman. Siga kieu: Hmmmm, jelas pisan di telinga. Yakin eta mah nggak salah dengar. Mungkin, ada siluman maung di situ. Hahaha, hereuy ketang. Jangan terlalu serius atuh!”

“Hah?? Siluman? Yang benar saja, Om! Jangan bercanda, dong.” Ucap Gina protes dengan kerutan didahinya.

“Eh tapi, kalau suara geraman itu benar. Nah, kalau soal siluman, ngga tau tah. Cuma asal denger aja.”

Kami terdiam dan saling menatap satu sama lain. Tiba-tiba suasana di warung bakso mas Bejo menjadi hening seketika. Akhirnya, kami memutuskan untuk pulang dan berencana menginap di rumah tante Eva karena masih dalam suasana liburan bersama keluarga, cerita pun akan kulanjutkan pada Gina sesampainya disana. Namun, ada yang masih mengganjal dalam hatiku,

‘Mungkinkah benar-benar ada siluman di rumah itu?’

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A Thousand Tears of Sword
8.8
Di benua terkutuk yang penuh penindasan dan perdagangan manusia, dewa mengutus Dewi Kematian untuk menegakkan keadilan. Sialnya, sebuah insiden saat turun ke bumi melenyapkan seluruh kekuatannya. Ia justru bereinkarnasi sebagai gadis kecil bernama Hua Hua. Tanpa kekuatan dewa yang tersisa, mampukah ia menuntaskan misi sucinya untuk menyelamatkan mereka yang tertindas di tengah neraka dunia ini?
Sampul Novel ISABELLA
7.9
Demi mengejar impian, Isabella, gadis sederhana dari Turki, memilih hijrah ke London. Siapa sangka, keputusan itu justru menyeretnya ke dalam lingkaran hitam dunia mafia yang berbahaya. Di tengah ancaman maut dan kekerasan yang terus mengintai, ia bersama Alech, sang kekasih, harus berjuang mati-matian mempertahankan hubungan mereka. Sanggupkah kekuatan cinta menyatukan Isabella dan Alech melewati segala rintangan demi masa depan bersama?
Sampul Novel Menaklukkan Duda Dingin
8.7
Demi berguru pada desainer legendaris Adam Smith, Amber Lim, sosialita bereputasi buruk yang ingin bertobat, nekat menembus musim dingin utara yang mematikan. Sialnya, ia dirampok dan terdampar di hutan beku. Kini, satu-satunya harapan hidup Amber bergantung pada Tuan Dingin, seorang duda misterius pembenci wanita yang dicap kanibal oleh warga. Akankah Amber berhasil meluluhkan hati pria itu, atau justru menjadi korban kebenciannya?
Sampul Novel MENGEJAR MIMPI KE NEGERI SAKURA
9.3
Tumbuh tanpa ayah membuat Aisyah Rana, gadis keturunan Jepang, kerap dihina sebagai anak haram di sekolah. Kemarahan Abah dan tangis Ibu setiap kali ia bertanya justru memicu tekadnya untuk kuliah di Jepang demi mengungkap kebenaran. Walau ditentang keras oleh orang tuanya, Rana pantang menyerah memperjuangkan impiannya tersebut. Di tengah perjuangan yang penuh luka ini, hadir seorang pemuda tulus yang diam-diam selalu setia melindungi dan menjaga hatinya.
Sampul Novel Pemalas Penantang Dewi
7.9
Akibat menentang perintah Dewi Aria, Ken sang Pahlawan dikutuk dan dibuang ke sarang monster. Lewat kecerdasannya, ia justru berhasil memanfaatkan kutukan itu sebagai kekuatan baru. Namun, Ken kembali terseret dalam perang besar antara manusia dan iblis. Konflik ini kian pelik saat ia mengetahui bahwa sang Raja Iblis adalah sahabat lamanya. Di tengah dilema dalam memilih pihak, Ken mulai menyusun rencana matang untuk membalas dendam kepada sang Dewi.
Sampul Novel Phoenix Reincarnation
8.8
Lia, mahasiswi hukum berusia 23 tahun, bereinkarnasi sebagai putri Jenderal Besar setelah tewas tenggelam. Di kehidupan barunya, ia harus menghadapi reputasi yang buruk. Namun, berbekal kecerdasan luar biasa, Lia bertekad mengubah pandangan orang lain terhadap dirinya. Konflik pun tak terhindarkan saat ia terjebak dalam perseteruan sengit antara keluarganya dan kaum bangsawan. Dengan taktik cerdas dan keberanian, ia siap menumpas siapa saja yang mengusik kehormatan orang-orang tercintanya.