APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahim Lima Ratus Juta

Rahim Lima Ratus Juta

Tergiur bayaran ratusan juta rupiah, seorang wanita bersedia mengandung anak dari pria kaya raya. Namun, ada syarat mutlak yang harus dipatuhi: ia tidak boleh menaruh rasa sayang pada bayi tersebut agar perpisahan nanti tidak menyiksa batinnya. Setelah melahirkan, sang ayah akan langsung membawa anak itu pergi tanpa memberi sang ibu kesempatan untuk menatapnya. Lewat pernikahan kontrak ini, mereka ditakdirkan untuk saling melupakan dan menghilang selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Air mataku tumpah bak hujan, tubuhku menggigil, ketika Mak Tuah ke luar dan tertawa pada seorang laki-laki berjenggot dan berkali menoleh ke arahku.

"Aku akan menuruti perintah, Etek. Bawa aku dari sini," bisikku mencoba menahan tangis. Semenjak Ibu tiada aku belum merasa seterancam ini.

"Bagus, kalau sampai kau bertingkah lagi. Kau tahu akan berakhir di mana." Lalu Tek Eda mengibaskan tangan ke arah Mak Tuah. Mak Tuah memasuki mobil dan menghidupkan mesinnya, membalas seringain laki-laki berjenggot itu dan menjalankan mobil.

Aku melangkah terhuyung masuk kamar. Memijit kepala yang sakit. Sementara di belakang bisik-bisik kepuasan bergema, cekikikan seakan baru saja memenangkan sebuah pertempuran.

Ya, mereka akan mendapatkan seratus juta dari orang itu esok atau bahkan lebih. Mereka akan bahagia, tapi bagaimana dengan nasibku?

Kututup pintu kamar erat, istighfar berkali-kali. Segera berwudhu dan shalat isya. Memohon ampunan dan petunjuk, entah apa yang akan kulakukan esok.

Malam menua, mataku masih terjaga. Pikiranku berkelana jauh. Kalau saja Ibu masih hidup, aku takkan semalang ini. Beliau akan melindungiku. Beliau takkan menjualku.

Siapapun, semoga orang itu baik. Bisa diajak kompromi. Bisa jadi teman. Semoga dia mau menikahiku. Tak apa kalau dia tua atau cacat, aku akan ikhlas menerimanya.

****RahmiNovaliza****

Seusai subuh aku kembali bergelung di bawah selimut. Tek Eda takkan membangunkanku, dia takkan membuat kelelahan tergambar di wajahku sampai orang itu datang. Akan kunikmati tidur di bawah selimut usang ini. Satu satunya peninggalan Ibu yang masih kumiliki.

Suasana berubah, aku terkesiap menyadari sedang di mana. Ini rumahku dulu. Tempat Ibu membuat gorengan, untuk kami jual ke liling kampung. Tempat Ibu mengajariku mengaji ketika malam tiba, mengajari bacaan shalat serta doa-doa lainya.

Sekarang aku melihat Ibu sedang shalat. Rumah ini masih sama. Seperti tak tersentuh waktu. Ibu menoleh, shalatnya sudah selesai. Dia menatap ke arahku, matanya basah.

"Ibu." Suaraku serak, aku mendekat kemudian bersimpuh meletakkan kepala di pangkuannya.

"Apakah, Ibu kembali?" 

Tak ada jawaban, hanya elusan penuh kasih sayang yang menyentuh kepalaku.

"Aku merindukan, Ibu." 

Ibu masih tak bersuara, kurasakan usapan lembut di kepala mulai berkurang lalu udara dingin mengambil alih.

"Ibu?" Aku mengangkat kepala, Ibu menghilang. Kupandangi sekeliling, hening.

"Ibu!"

"Jihan!"

Ketukan pintu bertubi dan teriakan membuatku terbangun, ternyata mimpi. Ibu datang. Aku tertegun, mata Ibu basah, mungkin saat ini beliau sedang menangis menyaksikan takdir hidupku.

"Aku akan baik-baik saja, Ibu," bisikku sendu. Menghapus sisa air mata di pipi lalu bangkit dan membukakan pintu.

Tek Eda menatap cemas tapi kuabaikan. Mungkin dia takut aku akan bunuh diri. Takut uang jutaan takkan pernah jadi miliknya.

"Kenapa lama sekali buka pintunya?" tanyanya menerobos masuk kamarku.

"Aku ketiduran," ucapku acuh kembali hendak merebahkan diri.

"Sudah jam sembilan, segerahlah mandi. Orang itu akan segera sampai. Pakailah baju terbaikmu," titahnya kemudian.

"Baik." Aku berdiri melangkah ke kamar mandi. Menuruti semua kehendak Tek Eda itu lebih baik. Lagi pula aku sudah lelah bertengkar.

Aku selesai dengan pakaian terbaik, celana hitam jins panjang, baju kaus lengan panjang warna abu-abu dan jilbab warna senada. Ini pakaian terbaik, entah pemberian siapa yang pasti masih bagus dan layak pakai. 

Aku melangkah pelan dengan ransel bertengger di punggung, rasa takut yang teramat sangat menguasai. Keringat dingin mulai merayap di kening, ketika kakiku sudah mencapai ruang tamu.

Mataku langsung tertuju pada sepasang mata biru yang tajam dan tenang. Menatap ke arahku dengan menusuk. Dia tampan, aku belum pernah melihat orang yang seperti ini, kecuali di film-film. Style dan penampilannya begitu menegaskan siapa dirinya yang sesungguhnya. Dia sendirian. Siapa dia? Sedang apa dia di sini?

Mataku berpindah pada  Mak Tuah dan Tek Eda, juga Mila yang tak bisa menyembunyikan keterpesonaannya.

"Ini dia, ini Jihan." Mak Tuah tiba-tiba berdiri di samping dan memegangi bahuku, membuat mata biru itu kembali menatapku.

"Siapa dia?" gumamku menundukkan kepala.

"Dia ...."

"Aku Salim. Aku yang akan membayarmu seratus juta." Dia berdiri dan aku harus menenggadahkan kepala menatap mata itu. Mata arogan seseorang yang kini menatapku dengan cara meremehkan.

"Sebenarnya sangat mengecewakan, harusnya kubayar separuh saja," dengkusnya membuang pandangan membuat.  Mak Tuah dan Tek Eda menundukkan kepala.

"Dia masih perawan, Pak." Mak Tuah mengucapkan kata itu tanpa rasa malu, dia benar-benar menjual kesucianku.

"Itu tidak penting sebenarnya. Tapi ya sudahlah, semua sudah terlanjur."

Orang itu nampak menyesal, memangnya apa yang dia harapkan dari wanita kampung? Apakah dia bermimpi akan menemukan seorang artis di kampung ini? 

Aku tidak percaya, pemuda seperti dia mencari wanita kampung untuk melahirkan anaknya? 

Aku masih membeku, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Ruang tamu ini seperti tempat persidangan. Begitu tegang. Pemuda ini memakai kaca mata hitamnya dan menghubungi seseorang.

"Bawa uangnya aku tak tahan berlama-lama di sini."

Tak berapa lama beberapa orang berpakaian resmi masuk rumah. Membawa sebuah koper dan meletakkannya di atas meja.

"Bawa wanita itu," perintahnya dua orang laki-laki berbadan tegap mendekati dan hendak menarik tanganku.

"Jangan sentuh, aku bisa berjalan sendiri."

Aku melangkah setelah memakai sepatu kets usang yang terletak di atas rak sepatu di beranda rumah. Sebelum memasuki mobil itu, aku menoleh ke belakang. Pintu rumah sudah tertutup rapat, hatiku nyeri. Mungkin mereka sudah berpesta dengan uang itu. 

Dengan menghela napas aku duduk di sebelah pemuda yang bernama Salim ini. Sejenak kulirik dia sibuk dengan ponselnya. 

"Cepat saja," perintahnya pada sopir, lalu mobil melaju meninggalkan desa. Beberapa kali aku menoleh ke belakang, beberapa kali aku merasa Ibu memanggil.

Aku menghapus cepat air mata yang hendak jatuh. Sekali dua kali dan berkali-kali. Kupeluk erat ransel, sesekali membenamkan wajahku di sana. Saat ini aku sedih sekali, aku tak ingin meninggalkan desa.

"Siapa yang kau tangisi?" Aku tidak menoleh, meski cukup terkejut dengan pertanyaan itu. Bisa kurasakan nada di sinis di suara itu.

"Mereka bahkan tak peduli padamu,"lanjutnya merebahkan diri di jok mobil.

"Ya."

Aku tak punya jawaban lain. Mereka memang tak peduli, ini kenyataan yang begitu, menyedihkan.

"Jadi, berhentilah menangis!" perintahnya.

"Aku sedang berusaha untuk tidak menangis, Pak." Kututup wajah dengan telapak tangan berusaha kuat meredam isak.

Lama, isakku belum juga reda. Mobil melaju kencang entah sudah sampai di mana. Entah di mana tempat ini, aku tak lagi mengenalinya.

"Berhentilah menangis, gadis kampung! Kau menggangguku!" Bentakannya membuatku menoleh sekaligus mengundang kemarahan yang terduga dalam diriku. Aku menatapnya kesal.

"Aku juga sedang berjuang, Laki-laki kasar!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cerita Dewasa Penuh Gairah
8.8
Kisah romansa modern ini menyajikan eksplorasi gairah yang mendalam dan intens bagi pembaca dewasa. Mengingat banyaknya narasi serta adegan sensual yang dihadirkan di setiap bab, kedewasaan dan kebijaksanaan Anda sangat diperlukan sebelum mulai membaca. Karya fiksi ini dirancang khusus untuk audiens yang telah cukup umur. Pastikan Anda siap menyelami rangkaian momen penuh keintiman yang ada di dalam buku ini.
Sampul Novel Cinta Kita Sudah Sampai Ujung
8.5
Vanesa akhirnya menyadari pernikahan kontrak lima tahunnya dengan Steven adalah kebohongan besar setelah mengetahui anak yang diasuhnya merupakan anak kandung suaminya dengan wanita lain. Saat sang madu membawa surat cerai di tengah kabar kehamilannya, Vanesa memilih pergi dan mengembalikan anak itu. Mengabaikan masa lalu, ia bangkit menjadi wanita mandiri yang kaya raya. Penyesalan pun datang dari keluarga pencela hingga Steven yang mabuk dan menolak meresmikan perceraian mereka.
Sampul Novel ISTRI GEMOY SUAMI LETOY
9.1
Lima tahun berumah tangga tanpa buah hati membuat Arman tega merundung fisik Monika yang gemuk. Tak tinggal diam, Monika membalas hinaan itu dengan mempertanyakan keperkasaan suaminya. Situasi kian rumit akibat tekanan mertua dan lingkungan. Puncaknya, Arman berselingkuh dan menikahi wanita langsing secara siri. Terluka oleh pengkhianatan ini, Monika merancang pembalasan dendam dengan mendekati sahabat suaminya, memicu drama perselingkuhan yang sengit.
Sampul Novel PEMUAS IBU TEMANKU
9.3
Dalam kisah romansa modern ini, seorang pria terjebak pada peran tidak biasa yang ia anggap sebagai misi mulia sekaligus penuh kenikmatan. Tanpa niat untuk mundur atau berhenti, ia terus melangkah dalam hubungan yang sarat gairah. Narasi dewasa ini mengeksplorasi batas keinginan terdalam saat sang pria berjuang tanpa henti demi memuaskan ibu dari temannya sendiri.
Sampul Novel Perpisahan Terakhir, Jejak Abadi
9.2
Setengah tahun aku menderita penyakit misterius demi menyokong Baskara, suamiku yang bekerja sebagai arsitek. Malang, ketulusanku dikhianati demi asistennya yang mengandung. Lebih perih lagi, ibu kandungku justru berpihak padanya dan menutup mata atas penderitaanku. Kini, vonis kanker otak stadium akhir memastikan ajalku kian dekat. Tanpa keluarga yang peduli, aku menolak terus tertindas. Sisa waktuku akan kuhabiskan untuk diri sendiri, membiarkan Baskara tenggelam dalam penyesalan selamanya.
Sampul Novel Shalawat Cinta
9.5
Demi menikahi lelaki idaman, Alisa nekat menolak perjodohan. Malangnya, pernikahan itu hancur karena obsesi adik ipar yang mencintai suaminya. Tragedi memilukan tersebut bahkan merenggut satu kaki Alisa saat persalinan. Di masa terpuruknya, hadirlah Dewa yang senantiasa mendampingi dengan setia. Kisah ini mengulas perjuangan penuh air mata saat cinta sirna, sekaligus upaya menyatukan kembali sisa-sisa kasih yang tersisa.