APKDock Logo
Sampul Novel PEMUAS IBU TEMANKU

PEMUAS IBU TEMANKU

9.3 / 10.0
Dalam kisah romansa modern ini, seorang pria terjebak pada peran tidak biasa yang ia anggap sebagai misi mulia sekaligus penuh kenikmatan. Tanpa niat untuk mundur atau berhenti, ia terus melangkah dalam hubungan yang sarat gairah. Narasi dewasa ini mengeksplorasi batas keinginan terdalam saat sang pria berjuang tanpa henti demi memuaskan ibu dari temannya sendiri.

PEMUAS IBU TEMANKU Bab 1

"Bro... lu lihat deh," bisik Veron sambil nyikut lenganku pelan.

Matanya nggak menatap lurus ke depan, tapi melirik ke arah deretan tamu undangan yang baru saja lewat. Aku menoleh, dan langsung paham maksudnya.

Tante Meta, tampil anggun. Kebaya hijau tosca membalut tubuhnya dengan pas, dipadukan dengan jilbab modern yang menambah kesan rapi dan elegan. Kain jariknya cukup membentuk lekuk tubuhnya, dan setiap langkahnya membuat gerakan pinggulnya tampak alami, tertahan samar oleh sendal slop yang dipakainya.

Wangi parfumnya yang lembut tercium saat ia melintas di depan barisan pagar, meninggalkan jejak keharuman yang sulit dilupakan.

"Gila, pantatnya gede banget ya, Bro?" bisik Veron, sambil menahan tawa. "Coba aja dia nungging, pasti bikin semua mata terbelalak."

Aku cuma pura-pura garuk hidung, malu tapi dalam hati setuju. Bukan cuma soal kebaya atau jariknya, Tante Meta memang punya aura yang susah diabaikan. Veron bilang sesuatu yang aku nggak begitu paham-MILF katanya.

Aku sendiri nggak tahu pasti kriterianya apa, tapi yang jelas, aku merasa sungkan. Tante Meta, ibunya Alisa, teman sekelasku, walau kami memang tidak terlalu akrab.

Namun demikian, efek dari ucapan Veron membuat mataku sulit berpaling. Sekalipun mencoba menunduk atau menatap sekeliling, pandanganku selalu kembali ke Tante Meta. Ada sesuatu dalam cara dia melangkah dan tersenyum yang membuatku tak bisa tenang, seolah seluruh perhatianku terpaku padanya.

Aku tahu, rasa kagum ini sedikit berlebihan, tapi mau bagaimana lagi, Tante Meta memang punya aura yang susah diabaikan, dan aku, seorang remaja polos, tak bisa menahan diri untuk terus memandang.

Hari itu aku sedang ada di acara resepsi pernikahan Bang Yosi dan Mbak Elin, anak kedua Pak Marlon, tetanggaku yang juga kakaknya Tante Meta.

Lapangan depan rumahnya disulap jadi lautan kursi plastik dengan tenda warna-warni. Musik organ tunggal sudah siap di panggung, meski pengantinnya belum juga keluar dari kamar rias.

Aku dan beberapa anak muda kompleks mendapat tugas menjadi pagar bagus dan pagar ayu, menyambut tamu yang datang dengan pakaian adat Sunda yang disediakan panitia. Para pagar bagus mengenakan beskap ungu dipadu bendo dan kain jarik bernuansa megamendung putih. Penampilan kami jauh berbeda dari sehari-hari, dan aku jelas termasuk yang paling menonjol karena postur tubuhku.

Kami berdiri berdampingan, menyalami setiap tamu yang datang dengan senyum yang terlatih. Sesekali aku mencuri pandang ke arah kerumunan. Bukan pada gadis-gadis sebayaku, tapi pada ibu-ibu yang melangkah anggun dengan kebaya berwarna-warni dan riasan mencolok.

Entah kenapa, mataku lebih betah mengikuti gerakan mereka, cara tersenyum, cara kain panjang kebaya menyapu lantai dengan lembut, seolah ada ritme sendiri yang menarik perhatian.

Veron masih ngoceh, membahas detil lekuk ibu-ibu cantik dengan nada mesum, aku berusaha tetap menjaga senyum formal saat menyambut tamu. Tapi bayangan Tante Meta terus menghantui pikiran, seolah tamu-tamu lain mendadak sedikit buram.

Tiba-tiba, Tante Meta mendekat. Wajahnya cerah, senyumnya khas, hingga pipi kanannya muncul lesung pipit kecil. Aku refleks merapikan beskap putih yang kupakai, merasa jantungku berdegup lebih cepat.

"Eh, Raka, ternyata kamu di sini?" tanyanya sambil sedikit menengadah karena aku lebih tinggi. Matanya berbinar, ternyata dia masih mengenalku.

"Eh, iya Tante, sama Veron juga," jawabku agak gelagapan, buru-buru menunjuk ke arah Veron yang lebih akrab dengannya.

Veron, yang tadi semangat berbisik soal kebaya dan kain jarik Tante Meta, mendadak salah tingkah. Senyum sok manisnya jadi kaku, dan dia cuma bisa angguk-angguk tanpa suara.

Tante Meta terkekeh kecil, lalu menatapku lagi.

"Alisa gak ikut, Tan?" tanyaku basa-basi.

"Katanya mau nanti malam pas acara khusus. Oh iya kebetulan Tante bisa minta nomor kamu nggak?"

"Untuk?" Aku balik bertanya konyol.

"Alisa kadang telat pulang sekolah, susah dihubungi. Maksud Tante... biar nanti kalau perlu, bisa tanya sama kamu, kan teman sekelas ya?"

Aku tercekat sepersekian detik. Kenapa harus ke aku, kenapa gak ke Ivone, Ivanka, Jesyn atau Widia, teman deketnya?

Tante Meta menatap serius menunggu jawabanku.

"Oh... iya Tan, boleh," jawabku, berusaha terdengar tenang meski telapak tanganku mulai terasa dingin.

Dia merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan ponsel dengan casing bening, jemarinya lentik dan kuku rapi berwarna nude. Wangi parfumnya makin terasa dekat, membuat jantungku semakin tak karuan.

"Nomornya ketik aja langsung ya, Ka."

Aku meraih ponselnya, sementara dari samping, Veron menelan ludah keras-keras. Matanya melotot, jelas masih syok karena kenyataan berada dekat Tante Meta, jauh lebih mendebarkan daripada bisikannya tadi.

Aku cepat-cepat memberikan ponselnya kembali.

"Ini, Tante, sudah saya simpan nomor saya," ucapku pelan.

Seperti etika para pagar bagus, aku langsung menyilangkan kedua tangan di depan tubuh, berusaha menjaga wibawa. Kain jarik yang kupakai memang agak sempit, membuatku sadar harus berhati-hati dengan tonjolan di selangkanganku.

Sialnya, mata Tante Meta sempat menatap ke arah dua tanganku yang tersilang lebih lama dari yang kusangka. Lalu ia mendekat sedikit, bibirnya bergerak dalam bisikan.

"Kenapa sih harus ditutupi pake dua tangan segala, Ka?"

Tubuhku sontak membeku. Wajahku panas, napasku tercekat. Di sampingku, Veron sampai terbatuk-batuk menahan kaget. Bikin aku gelagapan kehilangan kata-kata untuk menjawabnya.

"T-tidak, Tante..." suaraku nyaris tak terdengar.

Tante Meta tersenyum samar, matanya masih berkilat. Ia menepuk bahuku ringan, seolah tak terjadi apa-apa, lalu melangkah anggun meninggalkan aku dan Veron. Aku masih terpaku di tempat, sementara Veron melirikku dengan ekspresi setengah panik, setengah iri.

"Anjir, Bro... Tante favorit brondong sekomplek bisikin gituan sama lu?" bisiknya, seperti masih tak percaya.

Aku hanya bisa garuk tengkuk, mencoba menutupi rasa malu dan degup aneh di dada.

Tak lama kemudian rombongan pengantin bergerak ke masjid kompleks, hendak melaksanakan ijab kabul.

Setelah itu, kami para pagar bagus dan pagar ayu, diberi jeda. Veron langsung ikut rombongan, kebagian tugas membawa kotak cenderamata. Aku memilih duduk sebentar di kursi kosong di deretan tamu. Dan saat itulah tersadar, tepat di depanku ternyata ada Tante Meta.

Dia tidak ikut ke masjid, hanya duduk manis sambil merapikan lipatan kain jariknya. Kebaya hijau tosca yang tadi membuatku salah tingkah kini terasa lebih menyilaukan, dadanya tampak membusung, walau jarak kami agak berjauhan.

Yang bikin dadaku makin berdebar, matanya. Ia tak berhenti curi-curi pandang ke arahku, terutama kain jarikku. Begitu aku berani memandangnya, cepat-cepat ia alihkan tatapannya, pura-pura sibuk memainkan ponselnya atau membetulkan jilbabnya. Tapi beberapa detik kemudian, aku kembali menangkap sorot matanya ke arahku.

Aku menelan ludah. Ruangan yang tadinya riuh kini terasa sepi. Kipas angin berdengung pelan, suara anak-anak kecil berlarian terdengar samar. Tante Meta tersenyum tipis. Senyum yang tidak biasa. Bukan sekedar basa-basi ibunya Alisa temanku, tapi senyum yang penuh makna dan sontak membuat tengkukku sedikit merinding.

Aku berusaha menunduk, merapatkan kedua tanganku di pangkuan, tapi jantungku makin berdegup tak karuan. Aku lantas pura-pura main ponsel biar nggak kikuk. Tiba-tiba ada notifikasi WhatsApp masuk. Jantungku langsung loncat begitu lihat nama pengirimnya:

Tante Meta: [Yang ditutup tadi, ternyata besar banget ya. Keliatan lho tonjolannya dari sini]

Pesannya singkat, tapi bikin darahku naik ke wajah. Aku bahkan hampir menjatuhkan ponsel dari tangan. Kelabakan, buru-buru menengok sekilas ke depan. Tante Meta masih duduk manis, wajahnya datar seolah tak terjadi apa-apa. Hanya mata yang menyimpan kilatan aneh saat sesekali ia mengangkat pandangannya.

Tanganku gemetar. Mau pura-pura nggak baca dan mengabaikannya, tapi malah jari-jariku bergerak sendiri. Ada dorongan aneh buat membalas, setengah nekat, setengah penasaran.

Aku: [Iya Tante, jadinya nggak enak gini... takut ada yang liatin terus lepas deh]

Begitu pesan terkirim, aku langsung menutup layar, menahan napas. Degup jantungku makin keras. Dari depan, Tante Meta melirik ke bawah, senyumnya muncul samar di sudut bibirnya.

Ia mengetik balasan. Titik-titik tiga di layar membuat perutku seperti dikocok.

Tante Meta: [Lepas juga nggak papa kok... asal jangan di sini, bisa heboh sekompleks]

Aku refleks menutup mulut dengan tangan, pura-pura batuk biar nggak ketahuan panik. Dari depan, Tante Meta hanya menyilangkan kaki, gerakannya pelan, matanya sesekali menatapku penuh tantangan.

Aku menggertakkan gigi, mencoba tenang. Tapi entah kenapa, jemariku kembali mengetik.

Aku: [Kalau lepasnya dipegangin sama Tante, mungkin aman ya?]

'Gila kenapa aku makin berani gini?' Aku memaki kesal dalam hati.

^*^

Lanjut Membaca

Daftar Isi PEMUAS IBU TEMANKU

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Balas Dendam Sang Mantan Kekasih yang Dikhianati
8.4
Akibat jebakan obat perangsang, CEO dingin Aryan Adhitama terpaksa menikahi Alana Shafira demi menjaga kehormatan keluarga dan menebus kesalahannya. Alana, yang awalnya hanya perawat sang kakek, kini harus menjalani kehidupan pernikahan penuh siksaan batin. Di mata Aryan, wanita itu hanyalah beban yang tak diinginkan. Di tengah jurang status sosial dan kesalahpahaman yang pekat, mampukah benih cinta tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel Dikhianati Di Hari Pernikahan
9.2
Hari tenang Aurelia Callista hancur seketika saat dipaksa menikahi Kaelan Castor. Mengira hanya menjadi tamu biasa, Rhea syok mendengar namanya disebut sang direktur muda dalam akad nikah. Dia baru menyadari dirinya dijadikan pengantin pengganti demi menutupi kelicikan keluarga Kaelan. Kini, Rhea terperangkap dalam pernikahan megah tanpa landasan cinta, sekaligus harus bertahan menghadapi berbagai konspirasi dan rahasia kelam di balik status barunya.
Sampul Novel Dilarang Hamil Oleh Mertua
9.0
Pernikahan Claudia dan Rayhan terus diuji oleh penolakan Ibu Eva. Sang mertua yang mendambakan menantu dari kelas sosial tinggi tega melarang Claudia mengandung. Begitu kehamilan Claudia benar-benar terjadi, Eva bahkan menuntutnya untuk menggugurkan kandungan tersebut. Di bawah tekanan batin dan kebencian yang mendalam dari sang mertua, sanggupkah suami istri ini mempertahankan rumah tangga sekaligus menyelamatkan calon anak mereka?
Sampul Novel Fantasi Tersembunyi Bunga Kampus
9.7
Mengetahui putra tetangganya sering mengintip secara rahasia, gadis ini sengaja memanggil namanya dalam sebuah aksi provokatif yang intim. Firasatnya terbukti saat ia memberikan les privat dan pemuda itu menahannya di dalam kamar. Namun, situasi yang sudah diantisipasi ini mendadak berubah di luar kendali ketika sang kakak justru menerobos masuk tanpa diduga, mengacaukan ketegangan yang tengah terbangun di antara mereka.
Sampul Novel Terpikat Pesona Tuan Remington
8.2
William yang trauma asmara membeli Sarah demi pelampiasan nafsu. Namun, kehamilan Sarah mengacaukan batinnya, membuatnya bimbang memilih antara Sarah atau Jessica, cinta pertamanya. Di sisi lain, Sarah yang melarikan diri dari sang ayah yang kejam justru terjerat komitmen rumit. Walau meragukan ketulusan William, Sarah enggan kehilangan pria itu dan calon bayinya. Akankah mereka menemukan jalan keluar dari pusaran konflik emosi ini?
Sampul Novel Tumbal Rumah Bersalin
9.6
Di balik sosok ramahnya sebagai bidan Desa Tlogo Ungu, Warni menyimpan misteri kelam. Trauma akibat kemiskinan dan pengucilan masa lalu mendorongnya bersekutu dengan siluman ular putih bernama Nyai Sukma lewat perantara Romlah. Demi kejayaan bisnis dan kekayaan instan, kesepakatan mistis pun terjalin. Namun, ritual pesugihan ini menuntut bayaran mengerikan: ibu melahirkan di malam Jumat Kliwon dan darah daging Warni sendiri sebagai tumbal pertama. Sanggupkah ia menumbalkan bayinya?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan