APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahim Lima Ratus Juta

Rahim Lima Ratus Juta

Tergiur bayaran ratusan juta rupiah, seorang wanita bersedia mengandung anak dari pria kaya raya. Namun, ada syarat mutlak yang harus dipatuhi: ia tidak boleh menaruh rasa sayang pada bayi tersebut agar perpisahan nanti tidak menyiksa batinnya. Setelah melahirkan, sang ayah akan langsung membawa anak itu pergi tanpa memberi sang ibu kesempatan untuk menatapnya. Lewat pernikahan kontrak ini, mereka ditakdirkan untuk saling melupakan dan menghilang selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Jangan berteriak, aku takkan segan melemparmu ke luar," geramnya menatapku tajam, tapi aku sedang tidak takut pada siapapun.

"Coba bayangkan kalau Anda berada di posisiku ...."

"Maka aku akan bunuh diri," tukasnya tajam.

"Maka Anda akan menjadi lebih merugi," ucapku pelan. Ya, tidak ada serugi orang yang mengakhiri hidupnya sendiri. Tidak ada pengampunan. Beruntung aku memahami sedikit ilmu agama sehingga tak ada pemikiran itu singgah di kepalaku.

"Entah kerugian seperti apa yang kau maksud, tapi dari yang kulihat kau seperti benalu di kehidupan mereka."

Itu benar, dia benar. Bagi keluarga Mak Tuah aku hanya benalu, tak peduli sekeras apa aku berusaha bersikap baik.

"Jujur saja, entah seperti apa anakku nanti kalau lahir dari rahim wanita sepertimu. Kau benar-benar di luar ekspektasiku."

"Memangnya apa yang Anda harapkan dari wanita kampung, Pak? Cinderella? Percayalah itu hanya ada dalam dongeng. Anda pulangkan saja aku."

"Pulang? Bagaimana dengan seratus jutaku? Sekarang ini aku merasa yakin keluarga rakusmu itu sedang menikmati uang itu, apa mereka akan mau mengembalikannya lagi?"

Aku menghela napas, pusing melanda. Mobil ini terlalu kencang, dan bau yang menguar membuat perutku menggeliat. Salim benar, Mak Tuah akan membunuhku jika dikembalikan saat ini.

"Tapi semua layak dicoba, kalau kau tidak pantas maka kau akan jadi pelayan di rumah besarku."

Aku menoleh cepat memastikan apa yang kudengar benar. Tetapi wajah itu tak menggambarkan apa pun. Kelihatan tenang dan penuh rahasia. Tampan dan berkharisma. Wajar bila dia kasar dan sombong, aku rasa itu memang pantas dengan kelasnya. Dan aku memang cocok jadi, pelayannya.

"Aku bersedia jadi pelayan di rumah Anda, Pak. Aku terbiasa melakukan pekerjaan rumah ...."

"Cukup, Pembicaraan kita berakhir. Dasar mental pelayan!"

Aku memeluk ransel, menggigit bibir rasanya sejak memasuki mobil ini aku terasa lebih berani. Padahal orang ini sepenuhnya asing, tapi aku tak merasa begitu.

Aku menahan diri untuk bertanya kenapa dia mencari orang kampung untuk mengandung anaknya. Mungkin nanti saja, setelah waktunya tepat. Aku ingin lihat ke mana dia akan membawaku. 

Perjalanan panjang tanpa pembicaraan. Dua jam perjalanan dalam mobil, tiga jam naik pesawat yang membuat nervous dan kembali naik mobil dua jam. Aku pusing, benar-benar pusing.

Aku sampai di kota asing, gedung-gedung mencakar langit hingga pusat perbelanjaan. Kalau sampai aku tersesat di sini, aku benar-benar akan mati ketakutan.

Aku memejamkan mata bersandar ke jok mobil. Nyaliku menciut membayangkan apa yang akan kuhadapi, entah takdir apa yang menungguku di kota ini.

Malam sudah turun ketika mobil mewah ini memasuki sebuah rumah besar. Aku memeluk ransel erat. Apa yang akan terjadi dalam rumah ini? Kalau sesuatu yang buruk terjadi, kalau si bapak arogan ini jahat aku takkan mampu melarikan diri.

"Ayo." 

Dia turun lebih dulu meninggalkanku dalam kebingungan sampai Pak Supir membukakan pintu dengan senyum ramahnya.

"Terima kasih, Pak." 

Aku melangkah takut-takut di belakang Pak Arogan yang berjalan  tegap, semua orang menunduk melihat kedatangannya. 

Sayup suara azan menyadarkan kelalaianku. Seharian ini aku melupakan kewajibanku pada Tuhan.

Allah, ampuni aku.

"Maaf, Pak. Aku ingin numpang shalat." 

Semua mata tertuju padaku, menatap heran.

"Bi Asih, tolong rawat dia. Penuhi segala kebutuhannya. Ajarkan dia bagaimana caranya menjadi wanitaku. Satu bulan lagi aku akan datang menjemputnya."

"Baik, Pak." 

Wanita paruh baya yang dipanggil Bik Asih tersenyum ke arahku. Aku membalasnya canggung.

"Semoga kau bukanlah Upik Abu yang kekal." 

Pak Arogan berbisik kemudian berlalu meninggalkanku. Dia membawa mobilnya sendiri tanpa supir, menatapku dengan ejekan yang nyata.

"Ayo, Nona. Kau ingin shalat?" Bi Asih mendekat, aku menyalaminya.

"Jihan, Bi. Namaku Jihan."

"Ya, Nona Jihan. Ayo ikut aku."

Bi Asih membawaku ke lantai dua, memasuki salah satu kamar yang ada di sana. Aku terkejut melihat kamar ini, luas dan sangat mewah. Ini tak pernah ada di bayanganku sebelumnya.

Tempat tidur yang sangat luas, ada televisi, meja rias, lemari pakaian dan ada balkonnya. Selama ini aku hanya melihat semua ini di film ketika aku mengintip dari dapur ke ruang keluarga Mak Tuah.

"Ini akan jadi kamarmu," ucap Bi Asih tersenyum menyadari kekagumanku.

"Aku rasa ini terlalu berlebihan," ucapku.

"Tidak. Ini memang seharusnya. Kau akan di sini sampai satu bulan berlalu."

"Setelahnya?"

"Tergantung pada keputusan Pak Salim."

Benar, dia mengatakannya tadi entah aku akan jadi pelayan atau wanita yang akan mengandung anaknya.

Bi Asih menunjukkan kamar mandi, dan lagi-lagi aku tercengang. Luas dan mewah. Bi Asih mengajarkanku cara memakai alat-alat di kamar mandi ini, mulai dari shower, but up, cara mengatur suhu air. Bagaimanapun ini membuatku senang, mencoba-coba sesuatu yang baru dan mewah serta jadi pemilik sementaranya.

Bi Asih meninggalkanku yang hendak membersihkan diri. Dengan canggung akhirnya aku selesai juga. Memakai pakaian harian yang kubawa dari kampung lalu shalat. 

Alhamdulillah, senang rasanya setelah berkeluh kesah pada yang maha kuasa. Bukankah mensyukuri semuanya lebih baik, dari pada terpuruk oleh keadaan dan putus asa.

Hari-hari berlalu dengan sangat baik. Bi Asih mengajariku banyak hal, bagaimana wanita moderen tanpa merusak akidah. Aku juga dibelikan ponsel pintar, yang membuatku bisa berselancar ke dunia maya. Ini sedikit menyenangkan, aku bisa mencari informasi apa saja yang ingin kuketahui. Bi Asih juga membelikanku beberapa potong pakaian, aku sedikit lega memili lebih dari cukup pakaian ganti.

"Pak Salim akan senang dengan keadaanmu sekarang, Nona. Sangat berbeda jauh dari saat pertama datang ke sini. Nona sudah tahu semua tentang rumah ini ...."

"Panggil Jihan, Bi. Bukan Nona. Ada yang belum Bibi ajarkan padaku."

Aku sudah mengingatkannya berkali-kali tentang panggilan ini, tapi sepertinya Bi Asih keras kepala.

"Apa?" 

Aku tersenyum melihat wajah bingung Bi Asih. Entah kenapa aku merasa dekat dengannya. Dia shalat dan mengaji, aku merasa tak sendirian di sini. Rumah ini memiliki banyak pelayan, hanya Bi Asih yang lebih ramah padaku.

"Bibi belum mengajariku cara menggunakan dapur mewah itu, dan cara mennggunakan mesin cuci."

Ini hal yang sangat ingin kucoba ketimbang yang lainnya. Aku lebih berharap jadi pelayan di sini.

"Anda tidak dibawa ke sini untuk jadi pelayan, Nona."

Setengah mati akhirnya aku berhasil membujuk Bi Asih untuk mengajarkan memakai dapur yang menurutku super wow. Juga mesin cuci, tidak terlalu sulit. Aku langsung bisa dengan sekali arahan dari Bi Asih.

Hari kembali berlalu, begitu cepat rasanya. Aku nyaris lupa dengan tujuan utama kenapa aku di sini. Kalau saja Bi Asih tak mengingatkan maka aku akan lupa menyiapkan mental untuk bertemu Tuan Arogan itu esok. Dia akan datang, untuk menentukan aku cocok jadi pelayan atau sebagai wanita yang melahirkan anaknya.

"Besok Pak Salim akan datang dengan Marisa," ucap Bi Asih ketika malam ini kami baru saja selesai membaca Alqur, an bersama.

"Siapa Marisa?"  Spontan aku bertanya dengan mendekatkan mushaf di kening seperti yang biasa kulakukan.

"Kekasihnya."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel I Love You Daddy
8.4
Michy memutuskan melarikan diri demi menolak kehadiran Bianca, ibu kandung yang dahulu membuangnya. Sang ayah, Agam, sempat salah paham dan mengira putrinya kabur karena enggan dijodohkan dengan Dilan. Padahal, keputusan tersebut didasari masalah pelik yang akhirnya menguak rahasia asal-usul Michy, wasiat keluarga, serta perasaan terlarang yang tersembunyi. Di tengah ancaman penculikan dan perebutan warisan, mereka harus mempertahankan hubungan demi masa depan.
Sampul Novel Ketika Hati Mulai Mendua
7.9
Pernikahan harmonis Anis dan Affandy Nugraha hancur saat mantan kekasih suaminya kembali datang. Terpikat pesona masa lalu, Affandy kehilangan akal sehatnya hingga mengkhianati sang istri, meski Anis telah memperingatkan untuk melupakan masa lalu. Di tengah badai ini, putra sulung mereka, Angga, menjadi pelindung ibunya. Angga memotivasi Anis agar bangkit menjadi sosok yang kuat demi masa depannya dan Anggi, sekaligus membuktikan harga diri mereka di hadapan para pengkhianat.
Sampul Novel LOVE BETWEEN TWO BELIEFS
9.3
Kehancuran melanda Stenly Sebastian Miller setelah Kimberly mengakhiri cinta dua tahun mereka karena rumor kebangkrutan. Bertekad pulih, ia berjanji menemukan sosok yang lebih baik. Saat terluka, Stenly menyelamatkan Seruni dari kejaran Dante yang obsesif. Walau terluka parah demi melindunginya, kejadian itu menumbuhkan rasa tertarik di hati Stenly. Kini, ia dihadapkan pada pilihan: terjebak bayang masa lalu atau meraih bahagia baru bersama Seruni.
Sampul Novel Mimpi Yang Retak
7.9
Kemegahan rumah tangga keluarga Johnson nyatanya cuma kedok belaka. Alice memendam kepedihan mendalam di balik senyumannya, sedangkan Daniel begitu berambisi mempertahankan citra suksesnya. Begitu rahasia kelam perlahan terbongkar dan rasa percaya lenyap, mereka dihadapkan pada pilihan sulit: menyatukan kembali mimpi yang hancur atau terus terperosok dalam kepalsuan. Kisah penuh pengkhianatan ini menguji peluang kebahagiaan sejati di tengah puing kehancuran.
Sampul Novel Terjerat Menikah Dengan Pria Lumpuh
9.6
Inara terikat perjanjian pernikahan kontrak selama enam bulan dengan pewaris Danendra Group, Harshil Arsyanendra, yang kini lumpuh dan memakai kursi roda. Perbedaan status sosial yang mencolok tidak menghalangi kesepakatan mereka untuk bersatu dalam ikatan formal ini. Namun, saat waktu terus berjalan, apakah hubungan yang berlandaskan kontrak tersebut akan selesai begitu saja sesuai rencana semula, atau justru perasaan cinta yang tulus akan mulai tumbuh di antara keduanya?
Sampul Novel Wanita Kesepian di Lokasi Proyek
9.3
Mengambil latar dunia konstruksi yang keras, novel romantis Wanita Kesepian di Lokasi Proyek menceritakan kehidupan seorang wanita lajang di lingkungan kerja yang didominasi laki-laki. Kehadirannya memicu fantasi liar dari para pria di sekitarnya. Tanpa disadari, dinamika ini perlahan menyeretnya ke dalam situasi rumit di mana ia mulai dimanfaatkan dan dijadikan alat pemuas ego. Kisah modern ini menyoroti perjuangan batin dan kerentanan emosional di tengah dominasi maskulin.