APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel RAHASIA SANG PLAYBOY

RAHASIA SANG PLAYBOY

Kehidupan bebas seorang miliarder ternama yang gemar bergonta-ganti pasangan seketika terusik. Ia yang awalnya sangat skeptis terhadap komitmen, kini dihadapkan pada sosok wanita unik yang berhasil memikat hatinya. Pertemuan tak terduga ini memicu romansa yang begitu membara. Kini, sang playboy terjebak di persimpangan jalan yang sulit. Ia harus menentukan pilihan antara mempertahankan gaya hidupnya yang liar atau berkomitmen penuh pada cinta sejatinya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Setelah malam makan malam yang menegangkan dan penuh ketegangan, Alexander merasa semakin terdorong untuk mengejar Clara. Ia menyadari bahwa Clara bukanlah wanita yang mudah dipikat, dan itu justru menambah daya tariknya. Alexander memutuskan untuk melakukan pendekatan yang lebih serius,

berusaha menunjukkan bahwa dia benar-benar tertarik pada Clara, bukan hanya sekadar bermain-main.

Beberapa hari setelah makan malam, Alexander menghubungi Clara lagi, mengundangnya untuk menghadiri gala amal yang diadakan di pusat kota. Gala tersebut adalah acara sosial yang sangat penting, dan Alexander berharap Clara akan merasa tertarik untuk bergabung.

Alexander: (melalui pesan) "Clara, saya ingin mengundang Anda ke gala amal yang akan diadakan minggu ini.

Ini adalah acara yang sangat penting dan saya percaya Anda akan menikmati suasananya."

Clara: (balasan pesan) "Gala amal, ya? Saya akan mempertimbangkannya. Tapi saya ingin tahu, mengapa Anda sangat ingin saya datang?"

Alexander: "Karena saya merasa acara ini akan memberikan kesempatan bagi kita untuk berbicara lebih banyak dalam suasana yang berbeda. Dan juga, saya ingin menunjukkan kepada Anda bahwa saya serius dalam pendekatan saya."

Clara memutuskan untuk menghadiri gala tersebut, penasaran dengan apa yang akan Alexander tunjukkan.

Malam gala tiba, dan Alexander menunggu Clara di lobi dengan penuh harapan. Saat Clara tiba, ia mengenakan gaun biru yang elegan, menarik perhatian semua orang di sekelilingnya. Alexander melambaikan tangan dan mendekatinya dengan senyum lebar.

Alexander: "Clara, Anda tampak sangat mempesona malam ini. Terima kasih telah datang."

Clara: "Terima kasih. Saya rasa gala ini akan menjadi pengalaman yang berbeda. Mari kita lihat bagaimana malam ini berjalan."

Mereka memasuki ruangan gala yang megah, dikelilingi oleh para tamu yang berbicara tentang berbagai hal dengan antusias. Alexander memperkenalkan Clara kepada beberapa teman dan koleganya, memperlihatkan kepada semua orang bahwa ia merasa bangga berada di sampingnya.

Clara: "Anda memang tahu cara membuat orang merasa istimewa. Tapi saya tetap ingin tahu, apakah ada alasan khusus mengapa Anda ingin saya di sini?"

Alexander: "Selain untuk menunjukkan bahwa saya benar-benar tertarik, saya juga ingin berbagi dengan Anda pengalaman yang berarti dari acara seperti ini. Ini adalah kesempatan untuk melihat dunia saya dari sudut pandang yang berbeda."

Clara: "Menarik. Tapi bagaimana jika saya merasa bahwa Anda hanya mencoba untuk mengesankan saya dengan kemewahan ini? Apakah Anda benar-benar tahu siapa saya?"

Alexander: "Saya rasa saya tahu bahwa Anda bukan wanita yang mudah terpengaruh oleh hal-hal eksternal. Dan itu justru membuat saya semakin ingin mengenal Anda lebih dalam. Saya tidak berniat mengesankan Anda hanya dengan kemewahan."

Clara: "Jadi, apa yang Anda rencanakan untuk malam ini?"

Alexander: "Selain menikmati gala ini, saya berharap kita bisa berbicara lebih banyak dan mungkin memahami satu sama lain lebih baik. Saya ingin menunjukkan bahwa saya bisa lebih dari sekadar playboy yang Anda lihat."

Seiring berjalannya malam, Clara merasa terkesan dengan cara Alexander memperlakukannya dan mencoba untuk memahami keinginannya. Namun, dia juga mulai mempertanyakan motivasi sebenarnya dari Alexander.

Clara melihat Alexander mencoba menunjukkan sisi yang berbeda dari dirinya, tetapi dia masih merasa ragu apakah semua ini hanya sebuah permainan.

Clara: "Alexander, apakah Anda selalu merasa perlu menunjukkan kepada orang lain siapa diri Anda sebenarnya? Apakah Anda pernah merasa lelah dengan semua topeng yang Anda pakai?"

Alexander: "Kadang-kadang, ya. Hidup saya sering kali dipenuhi dengan ekspektasi dan penilaian dari orang lain. Namun, malam ini saya ingin melepaskan beberapa dari topeng itu dan hanya menjadi diri saya sendiri."

Clara: "Dan bagaimana saya bisa yakin bahwa Anda tidak hanya berusaha membuat saya terkesan? Apakah ada sesuatu yang lebih dalam dari semua ini?"

Alexander: "Saya tahu bahwa kata-kata saja mungkin tidak cukup. Tetapi saya berharap tindakan saya malam ini bisa menunjukkan bahwa saya serius dalam keinginan untuk mengenal Anda. Saya berusaha untuk tidak hanya menjadi apa yang orang lain harapkan dari saya."

Clara: "Baiklah, mari kita lihat apakah tindakan Anda bisa membuktikan hal itu. Saya akan memberi Anda kesempatan untuk menunjukkan siapa Anda sebenarnya."

Ketika malam gala berakhir, Clara merasa sedikit lebih terbuka terhadap Alexander, tetapi masih menyimpan keraguan. Dia tahu bahwa Alexander telah berusaha keras untuk membuat malam itu istimewa, namun dia masih perlu waktu untuk melihat apakah ada kejujuran di balik semua kemewahan.

Alexander: "Terima kasih telah datang malam ini, Clara. Saya berharap Anda merasa sedikit lebih nyaman dengan saya."

Clara: "Saya menghargai usaha Anda, Alexander. Tapi ingat, saya bukan wanita yang mudah dipengaruhi oleh pesona atau kemewahan. Jika Anda benar-benar ingin mengenal saya, Anda harus lebih sabar."

Alexander: "Saya akan menghargai waktu dan kesabaran Anda. Terima kasih sudah memberi saya kesempatan."

Mereka berpisah dengan harapan bahwa malam gala telah membuka jalan untuk hubungan yang lebih mendalam, meskipun Clara tetap mempertahankan jarak. Alexander merasa bahwa dia harus lebih berusaha untuk membuktikan ketulusan niatnya, sementara Clara tetap waspada terhadap motif Alexander.

Setelah gala, Alexander bertekad untuk menunjukkan kepada Clara bahwa niatnya tidak sekadar permainan.

Dia ingin melanjutkan pendekatannya dengan lebih serius, tetapi Clara tetap menjaga jarak, menantang niatnya dengan sikap skeptis.

Beberapa hari kemudian, Alexander mengundang Clara untuk menghadiri pameran seni yang dia sponsori. Pameran ini menampilkan karya seni kontemporer dari seniman lokal, dan Alexander merasa ini adalah kesempatan untuk menunjukkan minatnya yang lebih mendalam dalam budaya dan seni.

Clara tiba di pameran dengan gaun hitam sederhana yang menunjukkan kesan elegan namun tetap tidak mencolok. Alexander menyambutnya dengan senyum yang penuh harapan.

Alexander: "Clara, selamat datang di pameran seni. Saya senang Anda bisa datang. Saya berharap malam ini akan memberi Anda pandangan lain tentang apa yang saya minati."

Clara: "Terima kasih, Alexander. Saya penasaran dengan apa yang ingin Anda tunjukkan malam ini. Seni selalu menjadi cara yang menarik untuk mengenal seseorang."

Alexander: "Saya setuju. Seni adalah cara yang bagus untuk melihat ke dalam jiwa seseorang. Mari kita lihat beberapa karya seni dan berbicara lebih banyak tentang mereka."

Mereka mulai berkeliling, melihat berbagai karya seni yang dipamerkan. Alexander menunjukkan beberapa karya yang menurutnya menarik, menjelaskan latar belakang dan makna di balik setiap karya. Clara mengamati dengan cermat, kadang-kadang memberikan komentar yang tajam dan reflektif.

Clara: "Saya suka bagaimana lukisan ini menggunakan warna untuk menyampaikan emosi. Tapi saya bertanya-tanya, apakah Anda melihat seni hanya sebagai bagian dari citra Anda, atau apakah ini sesuatu yang benar-benar Anda hargai?"

Alexander: "Saya merasa seni adalah bagian dari diri saya yang lebih dalam. Ini bukan hanya tentang citra, tetapi juga tentang bagaimana saya terhubung dengan dunia di sekitar saya. Namun, saya bisa mengerti jika Anda merasa skeptis."

Clara: "Mungkin. Tapi bagaimana dengan niat Anda yang lebih dalam? Apakah Anda benar-benar mencari sesuatu yang lebih dari sekadar kesenangan semata?"

Alexander: "Saya berharap begitu. Saya ingin menunjukkan kepada Anda bahwa ada bagian dari diri saya yang ingin mengeksplorasi sesuatu yang lebih berarti. Dan saya berharap pameran ini bisa memberi Anda gambaran tentang hal itu."

Mereka terus berkeliling, dan Clara mulai melihat sisi lain dari Alexander. Dia mengamati bagaimana Alexander berbicara dengan para seniman dan menunjukkan ketertarikan yang tulus pada karya mereka. Meskipun dia masih skeptis, dia mulai merasa bahwa ada kejujuran dalam usaha Alexander.

Setelah mengunjungi beberapa galeri, mereka berhenti di area terpisah dengan beberapa minuman dan makanan ringan. Alexander mengambil kesempatan ini untuk berbicara lebih pribadi.

Alexander: "Clara, saya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah datang. Saya tahu saya mungkin belum sepenuhnya membuktikan diri saya kepada Anda, tetapi saya benar-benar berharap Anda melihat usaha saya."

Clara: "Saya menghargai usaha Anda, Alexander. Tetapi saya masih merasa ada bagian dari diri Anda yang belum saya lihat. Anda berkata bahwa Anda tertarik pada hal-hal yang lebih mendalam, tapi bagaimana saya bisa yakin bahwa ini bukan hanya bagian dari strategi Anda untuk mengesankan saya?"

Alexander: "Saya mengerti keraguan Anda. Saya tahu saya harus lebih dari sekadar tindakan atau acara untuk membuktikan ketulusan saya. Saya ingin menunjukkan kepada Anda siapa saya sebenarnya, bukan hanya apa yang Anda lihat."

Clara: "Baiklah, saya akan memberi Anda kesempatan untuk membuktikannya. Tapi ingat, saya tidak akan mudah terpengaruh oleh tampilan luar. Saya ingin melihat apa yang ada di dalam hati Anda."

Alexander: "Saya akan menghargai kesempatan itu. Saya berharap bisa menunjukkan kepada Anda bahwa saya bisa lebih dari sekadar apa yang Anda lihat."

Saat pameran berakhir, Clara merasa sedikit lebih terbuka terhadap Alexander. Dia mulai melihat bahwa ada sisi yang lebih dalam dari pria ini yang mungkin belum sepenuhnya dia ungkapkan. Meskipun dia tetap berhati-hati, dia merasa bahwa ada potensi untuk sesuatu yang lebih berarti.

Alexander: "Terima kasih sekali lagi, Clara. Saya berharap kita bisa melanjutkan percakapan ini di lain waktu. Dan saya berharap malam ini memberi Anda sedikit gambaran tentang siapa saya sebenarnya."

Clara: "Saya akan memikirkan itu. Terima kasih atas malam ini, Alexander. Mari kita lihat bagaimana hubungan ini berkembang."

Clara pulang dengan rasa campur aduk. Alexander berusaha keras untuk menunjukkan sisi dirinya yang lebih dalam, tetapi dia masih perlu waktu untuk yakin apakah semua ini benar-benar tulus atau sekadar usaha untuk memikatnya. Alexander merasa puas dengan langkah kecil yang telah dia ambil, tetapi dia tahu bahwa perjuangan untuk memenangkan hati Clara masih jauh dari selesai.

Bersambung...

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Finally, I Love You
9.3
Penderitaan dari keluarga sendiri membuat hidup Hellena hancur bagai roller coaster. Di tengah desakan orang tuanya yang menuntut pernikahan secepatnya, sebuah jalan keluar yang tidak terduga tiba-tiba muncul. Pertemuan singkat dengan seorang lelaki asing menjadi titik balik kebahagiaannya. Pria misterius itu datang layaknya malaikat penolong yang siap merubah takdirnya. Tanpa ragu, Hellena mengambil keputusan nekat untuk menikahi orang asing yang baru ditemuinya tersebut.
Sampul Novel Penyesalan Ibu Mertua
9.5
Febri mendesak Yusuf memilih antara dirinya atau ibunya sendiri. Kehadiran Ibu Sella merusak keharmonisan pernikahan mereka hingga berujung pada perceraian. Saat takdir mempertemukan mereka kembali, akankah Ibu Sella memahami kewajiban Yusuf sebagai suami? Simak perjuangan emosional Febri menghadapi pahitnya menjadi menantu di kediaman keluarga suaminya.
Sampul Novel Pernikahan Penuh Dusta
9.7
Setelah kecelakaan tragis membatalkan pernikahannya dan merenggut nyawa ibunya, Lina diselamatkan oleh Johan, teman masa kecilnya. Johan membiayai operasinya hingga ia bertahan hidup meski cacat, lalu menikahinya. Lima tahun hidup dalam rasa syukur, Lina tidak sengaja mendengar kebenaran yang mengerikan. Johan adalah dalang di balik kecelakaan yang membuatnya cacat, semua demi memuluskan jalan wanita lain bernama Shenina. Menyadari pernikahannya hanyalah sebuah kebohongan dan tebusan dosa, Lina memilih untuk pergi.
Sampul Novel SUAMI PILIHAN KAKAK UNTUKKU
7.9
Setelah menolong Andreas yang terluka, Viola justru terjebak pernikahan kontrak dengan pria kejam itu akibat paksaan kakaknya, Henry. Tragisnya, Henry kemudian tewas di tangan Andreas tepat di depan mata Viola. Meski didera dendam, Viola bertahan hingga akhirnya melarikan diri dalam kondisi hamil. Lima tahun berselang, takdir mempertemukan mereka kembali. Viola kini dirundung dilema besar antara menuntut balas atau menerima kenyataan bahwa Andreas adalah ayah kandung putrinya.
Sampul Novel Suamiku Menuduhku Selingkuh
9.1
Pertemuan santai dengan sahabat mendadak berubah menjadi kekacauan brutal saat meja mereka dihantam hingga terbalik. Sekelompok orang asing tiba-tiba mengepung dan melontarkan tuduhan perselingkuhan keji sambil merekam kejadian tersebut. Ketika situasi memanas hingga temannya terluka akibat hantaman kursi, sang istri bertindak cepat untuk melindunginya. Ia segera menghubungi polisi serta pengacara guna memproses perceraian dengan suaminya, Ben, tanpa memberinya sepeser pun harta.
Sampul Novel Suamiku yang Lumpuh Adalah Taipan Misterius
7.9
Lana, gadis desa yang tumbuh bersama neneknya, mendadak dibawa pulang oleh keluarga Rahayu. Bukannya disambut hangat, ia malah dipaksa menjadi pengantin pengganti bagi Saras untuk menikahi Jehan, pria lumpuh dari keluarga Sahid yang di ambang kehancuran. Demi sang nenek, Lana menerima pernikahan ini. Di malam pertama, ia dan Jehan sepakat berpisah dalam dua tahun. Namun, mampukah Lana menjaga rahasia identitasnya dari sang suami? Di saat pria lain mengejarnya, siapakah yang akan memenangkan hatinya?