APKDock Logo
Sampul Novel My Husband Is My CEO

My Husband Is My CEO

7.9 / 10.0
Aghata sangat terpukul saat kekasihnya memilih bertunangan dengan seorang pegawai biasa. Didorong obsesi besar, ia mencoba mendekat demi menegaskan bahwa pria itu hanya miliknya. Meski penolakan keras yang ia terima hingga membuatnya menangis pilu karena merasa dicampakkan demi wanita kelas bawah, Aghata tidak menyerah. Ketegangan pun memuncak ketika ia nekat menggoda kembali sang pujaan hati di tengah penolakan yang begitu dingin.

My Husband Is My CEO Bab 1

Jakarta, Kota Megapolitan yang selalu jadi tujuan kaum urban bertaruh nasib. Mentari pagi ini bersinar dengan anggun menampakkan kuasanya sebagai Ratu Semesta. 

Seorang wanita bertubuh mungil terlihat ikut berdesakan antre hendak memasuki bussway. Badannya yang mungil memudahkannya menyusup di antara para penumpang lain. Sial! tak ada kursi kosong. Dengan berat hati, dia berdiri dengan menenteng tas kerjanya. Yah, tak apalah daripada terlambat.

Perkenalkan, namaku Freeya Aqila Hasbie Rasyid. Kata teman- temanku, wajahku yang oriental ini sangat khas. Yah, tentu saja, aku keturunan campuran Tionghoa dan Turki.

Berwajah oriental, tapi tak bermata sipit. Perawakanku yang mungil kudapat dari ibuku yang Tionghoa. Sementara rambut cokelat dan mataku yang hijau kecoklatan, kudapat dari ayahku yang Turki.

Ini adalah hari pertamaku kerja di Jakarta. Sebelum ini, aku kerja di Bandung, di sebuah perusahaan kecil. hingga F. Company merekrutku.

"Presdir, bukankah ini sama artinya Anda menjualku?" protesku dua minggu yang lalu. Mengingat aku direkrut F. Company demi perusahaan yang aku tempati mendapat suntikan dana.

"Aya, F. Company adalah perusahaan besar, kau bisa mengasah kemampuanmu di sana," terang Presdir Antoni.

Aku hanya bisa mendengus kesal. Huft! Karena melamun, aku tak sadar kalau aku sudah sampai di halte depan gedung F. Company. Benar kata Arsyila, sahabatku, F. Company memang perusahaan besar dengan gedung yang begitu megah. Dengan langkah pasti, aku memasuki lobi perusahaan. 

Seorang resepsionis cantik menyambutku dengan senyum ramah.

"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?"

Kusodorkan surat panggilan kerja yang kudapat tiga hari yang lalu. Gadis itu sekilas melihatnya. Dia tampak berbincang dari intercom dan tersenyum.

"Mbak Freeya, sudah ditunggu HRD."

"Silakan naik ke lantai 8! Ruang HRD, tepat di depan lift."

"Terima kasih."

Aku berjalan buru-buru hendak memasuki lift, hingga tiba - tiba aku menabrak seseorang.

Bbbrruuukkkk!

Ceklek.

Tubuhku terhuyung membuat salah satu heelsku patah. Sial! Kupandangi punggung lelaki yang bertabrakan denganku berlalu tanpa sepatah katapun.

"Dia pergi tanpa mengucapkan maaf?" gumamku dalam hati. Sekalian kupatahkan heels yang satunya. Yah, walaupun aku jadi susah berjalan.

Tok tok tok.

Kuketuk pintu bertuliskan R. HRD.

"Masuk!"

Kkkrrreeekkkk.

Suara pintu berderit saat kubuka. Di belakang meja nampak sesosok lelaki tampan berpenampilan rapi, tersenyum kearahku. Tangannya terulur mengisyaratkan agar aku segera duduk.

"Terima kasih," ucapku sembari duduk.

"Freeya Aqila Hasbie Rasyid," baca lelaki yang namanya tertera di papan di meja bagian depan Anggara Samudra.

"Silakan tanda tangani kontaknya!" ucapnya seraya menyodorkan selembar kertas di atas map biru.

"Baca dulu!"

"Kamu terikat kontrak 5 tahun dengan perusahaan kami."

"Silakan ajukan keberatan, jika ada poin kontrak yang janggal!"

Setelah memastikan sekali lagi tak ada yang janggal, kububuhkan tanda tanganku di atas kertas putih itu.

Lelaki itu menyodorkan sebuah tanda pengenal. Ada fotoku di sana.

"Aku Anggara Samudra."

"Kamu bisa panggil aku, Gara!"

"Selamat bergabung di F. Company!"

Gara mengulurkan tangannya yang langsung kujabat dengan penuh semangat. Kusunggingkan senyum termanisku.

"Mari! Kutunjukan ruanganmu!"

"Iya."

Aku mengekori Gara yang melenggang sembari menunjukkan ruanganku.

Divisi Pengembsngan Proyek berada di lantai 40. Di ruangan ini, ada sekitar 12 orang.yang tampak berkutat dengan laptop masing-masing. Mereka serempak berdiri saat melihat Gara dan aku masuk.

"Selamat pagi."

"Pagi ... !"

"Perkenalkan, dia adalah Ketua Divisi Pengembangan Proyek yang baru, Freeya Aqila Hasbie Rasyid," kata Gara dengan suara tegasnya.

"Selamat datang dan selamat bergabung."

"Terima kasih."

"Mohon kerja samanya," ucapku dengan sedikit menunduk.

Mereka satu per satu menyalamiku dan memperkenalkan diri. Seorang gadis cantik menyalamiku dan memelukku.

"Aku Kinar. Kamu akan duduk bersebelahan denganku," ujarnya.

"Panggil saja aku, Aya!"

"Oke."

Kinar menatap ke arah bawahku saat dia menyadari jalanku yang aneh. Aku tersenyum kecut menyembunyikan rasa maluku.

"Kenapa?"

"Patah saat aku tabrakan sama orang tadi di depan lift. Daripada aneh, ya sekalian kupatahkan saja yang satunya," terangku.

"Tenang! Aku pesankan sebentar."

***

Di ruangan Direktur F. Company, ruangan yang sebagian besar bersekat kaca ini terlihat tenang. Di belakang meja, duduk seorang lelaki tampan dengan perawakan tinggi atletis tengah memainkan sebuah papan nama dari kayu berlapis kaca, bertuliskan CEO DEMAS FABIAN.

Aku berdiri mematung. Huh! Aku mendengus, bukankah dia lelaki yang menabrakku tadi? Dia CEO yang membeliku?

Terus kumainkan jemariku sembari menunggu dia selesai memeriksa CV milikku. Dia menatapku dengan tatapan yang tak kusukai. Dia bangkit dan ganti duduk di atas meja.

"Freeya Aqila Hasbie Rasyid, Ratu

Presentasi, benar?"

Aku hanya mengangguk.

"Berapa lama kerja di perusahaan sebelumnya?"

"Bukankah sudah tertera di CV? Ngapain nanya?" gumamku dalam hati.

"2 tahun," jawabku datar.

"Tahu kan, kenapa aku merekrutmu?"

"Tahu."

Aku masih ogah-ogahan menjawabnya. Entah kenapa, aku begitu kesal dengan lelaki di depanku ini.

Aku merasa seperti budak belian. Dia memicingkan mata ke arahku. Aku balas menatapnya. Disodorkannya setumpuk berkas kepadaku. Tanganku hampir saja kewalahan.

"Revisi! Sebelum jam 3 sudah harus ada di mejaku!" perintahnya dingin.

"Hah! Yang benar saja? Anda bercanda?" protesku geram.

"Oh! Protes? Akan aku tambah pekerjaanmu!" ancamnya.

"Tapi ini penindasan!"

"Anda menukarku dengan suntikan dana untuk perusahaan Tuan Antoni!"

"Tapi, bukan berarti Anda bisa memperlakukanku seperti budak belian!"

"Berlaku semena-mena!"

"Semena-mena? Aku tidak suka ada orang yang berani membalas tatapanku," semprotnya.

"Keluar! Dan kerjakan perintahku!" bentaknya.

Tanpa ba bi bu, aku langsung membalikkan badan. Dalam hati, aku mengumpat.

"DASAR TIDAK WARAS!" baru sampai di pintu, suara beratnya menghentikanku.

"Kenapa sepatumu?" Dia bertanya dengan nada dingin.

"Menurutmu?" tanyaku dengan sedikit menekan gigiku.

"Ada lelaki tidak bertanggung jawab menabrakku. Dia berlalu begitu saja tanpa ucapan maaf."

"Saya permisi!"

Aku meninggalkan ruangan itu tanpa memedulikan dia yang masih terpaku. Hah? Hari-hari berikutnya, pastilah akan seperti neraka bagiku.

***

Pada saat jam makan siang, Kinar menyodorkan sebuah bungkusan dan nasi kotak untukku. Dengan penuh semangat kubuka bungkusan itu. Heels warna hitam yang sama persis dengan punyaku. Aku langsung memakainya. Senyumku terkembang menatap Kinar.

"Akan aku ganti," ucapku.

"Jangan membuatku malu!"

"Anggap itu hadiah perkenalan kita!"

"Terima kasih."

"Ayo makan!" ajaknya.

"Hah? Kalau aku makan, yang ada pekerjaanku tidak kelar," keluhku.

"Presdir biasanya tak sekejam ini!"

"Huuh! Entahlah."

"Mungkin dia sensi padaku."

Kupegangi kepalaku yang mulai senut-senut. Layar komputerku tampak garis-garis efek mataku yang mulai pedih.

Sial! Hari pertama kerja, aku sudah tersiksa. Dan aku harus menjalani ini selama 5 tahun?

Tepat pukul 3 sudah, kusodorkan berkas revisi di atas meja presdir dingin itu. Dia menatapku tajam. Segera kualihkan pandanganku mengitari ruangan.

"Not bad!" ucapnya.

Hhuuuhhh! Aku mengerjakannya dengan maraton. Hampir membuat kepalaku pecah dan hanya terlontar kata "not bad" dari mulutnya. Ini batu saat pelajaran Bahasa Indonesia tentang kalimat pujian, dia absen kali ya?

"Keluarlah! Eh ... bawa ini! Pelajari! ini, bahan presentasi buat besok!"

Presdir Demas menyodorkan proposal.

"Baik."

"Kalau tidak ada hal lain, saya permisi," pamitku sambil mengangguk. 

"Silakan!" sahutnya tanpa menoleh ke arah tempatku berdiri.

Sumpah! Kalau aku tidak butuh pekerjaan, sudah kulempar CEO songong itu pake heels. Ini hari pertama kerja dengan kesan pertama yang AMBYYAARRR.

Lanjut Membaca

Daftar Isi My Husband Is My CEO

Ch. 1
Ch. 2
Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel JUST WANNA BE WITH YOU
8.5
Seniman muda berparas cantik, Helena Davies, sukses memimpin galeri pribadinya. Namun, kedamaian hidupnya terusik setelah menyetujui sebuah pertunangan yang ditentang keras oleh Steve. Tantangan Helena kian pelik dengan kemunculan Dave, sepupu Steve yang tak terduga. Di tengah tekanan, ketulusan Steve dan kepedulian Dave malah memicu kebimbangan. Helena kini terperangkap dalam pusaran dilema asmara yang rumit di antara kedua pria menawan tersebut.
Sampul Novel Pemuas Para Tetangga
9.3
Di balik ketenangan sebuah kompleks perumahan, tersimpan interaksi tidak biasa di antara para penghuni dewasanya. Hubungan bertetangga di sini jauh dari kesan biasa, melainkan penuh dengan jalinan romansa modern yang berani dan provokatif. Setiap pertemuan yang terjadi di balik pintu rumah mereka menjadi awal dari dinamika hubungan yang sarat gairah. Kisah ini mengeksplorasi sisi lain kehidupan bertetangga yang tidak konvensional dan penuh rahasia menggoda.
Sampul Novel Pernikahan Sebatas Status
8.0
Demi mempertahankan rumah peninggalan orang tuanya, Jingga menyetujui sebuah kesepakatan rumit. Ia bersedia menjadi istri kontrak bagi Ganendra, seorang miliarder yang butuh perlindungan dari kejaran wanita pemburu harta. Pernikahan formalitas ini awalnya dilakukan demi keuntungan pribadi masing-masing. Namun, seiring berjalannya waktu, sandiwara tersebut justru menumbuhkan perasaan tulus. Hubungan tanpa rasa kini bersemi menjadi cinta yang nyata dan mendalam di antara keduanya.
Sampul Novel Sangkar Pernikahan
8.2
Danas kehilangan kedamaian hidupnya setelah Raka Langit Mahameru, CEO Neha’v Group yang sangat berpengaruh, membuat bisnis sang ayah jatuh bangkrut. Keadaan kian pelik ketika Raka justru memaksa Danas menikahinya demi menebus kesalahan yang tidak pernah ia perbuat. Kini, Danas terperangkap dalam pernikahan dengan pria sedingin es tersebut, sembari terus didera kebingungan atas dosa masa lalu yang dituduhkan kepadanya.
Sampul Novel The Letter I Wrote For You
8.4
Arshaka Januar memendam rasa cinta mendalam pada sahabatnya, Earlyta Camille, walau tahu perasaan itu salah dan tak berbalas. Namun, melihat Earlyta sangat menderita dalam pernikahan yang menyiksa memicu hasrat Arshaka untuk merebutnya. Meski yakin mampu memberikan kehidupan yang jauh lebih membahagiakan, Arshaka didera kenyataan pahit bahwa dirinya mungkin bukanlah sosok yang bisa menjadi sumber kebahagiaan sejati bagi wanita tersebut.
Sampul Novel Wanita Incaran Sang Billionaire
9.2
Kehidupan Dylan Cassanova, miliarder berumur 27 tahun, selalu bergelimang kemewahan dan dikelilingi banyak wanita. Meski piawai memikat lawan jenis, hatinya tetap tak tersentuh oleh siapa pun. Segalanya berubah saat Serena Tanaya hadir. Serena tidak peduli pada kekayaan melimpah milik Dylan. Wanita ini justru mendambakan ketulusan di balik ambisi besar sang pria. Akankah Serena berhasil meluluhkan dinginnya hati Dylan yang selama ini membentenginya?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan