APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel RAHASIA IBU MERTUAKU

RAHASIA IBU MERTUAKU

Keluarga suamiku menyimpan misteri kelam yang sangat menakutkan. Aku selalu merasa terancam setiap kali berhadapan dengan ibu mertua. Tatapan matanya yang liar serta bunyi kecapan aneh dari mulutnya selalu membuatku bergidik ngeri. Ketakutanku kian memuncak saat ia menyadari bahwa waktu persalinanku sudah sangat dekat. Di tengah kondisi fisikku yang rapuh, aku merasa keselamatanku terancam oleh rahasia besar yang ia sembunyikan dariku selama ini.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Bu, perutku kenapa sakit, ya?" tanyaku, mendatangi ibu ke dapur.

Mendengar keluhanku, ibu hanya tersenyum. Sebuah senyum aneh yang selalu membuat aku merinding melihatnya. Matanya menatap liar ke arahku. Entah itu hanya perasaanku saja, atau memang benar seperti itu adanya.

"Sakit bagaimana? sini Ibu lihat!" ucap ibu, memintaku mendekat.

Kaki ini sudah siap melangkah, tapi kembali aku urungkan karena teringat pesan dari mas Harto.

"Sayang, kalau aku lagi kerja, kamu di kamar saja! Jaga jarak dengan ibu, jangan sampai ibu menyentuh tubuh kamu, apalagi perut kamu! Abaikan saja semua yang kamu dengar di luar kamar. Kalau kamu memang perlu bantuan, kamu hubungi saja saudara kamu!"

Kata-kata itu kembali terngiang. Perlahan aku memundurkan langkahku. Aku memutar otak mencari alasan untuk bisa menolak perintah ibu.

"Kenapa diam Na? Ayo sini!" titah ibu, bibirnya melebar masih menampilkan senyuman yang aneh.

"Emh, i-iya Bu. Tunggu sebentar ya Bu, aku mau ke toilet dulu!" ucapku, beralasan.

Ibu hanya mengangguk dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Tanpa membuang waktu, aku gegas berbalik, melangkah menuju toilet di dekat sumur belakang rumah.

Rumah ibu mertuaku terletak di sebuah desa yang jauh dari pusat kota. Kehidupan di desa ini juga tertinggal jauh dari kota. Di kota tempat keluargaku tinggal, toilet dan kamar mandi sudah menyatu dengan bangunan utama rumah. Sedangkan di sini masih terpisah dan letakknya juga paling belakang.

Semakin aku menjauh, aku seperti merasa diawasi dari belakang. Mungkin saja ibu masih menatap punggungku. Ingin rasanya aku berbalik, tapi aku merasa takut.

Di belakang rumah, pohon-pohon tumbuh dengan subur dan rimbun. Gesekan batang bambu menimbulkan bunyi berisik saat diterpa angin. Aku merasa takut jika harus berlama-lama berada di luar seperti ini.

Cukup lama aku bertahan di tempat ini, akhirnya ibu mertuaku kembali ke kamar juga. Merasa situasi sudah aman, aku bergegas keluar dari toilet dan berlari kecil memasuki rumah dari pintu belakang.

Rumah yang terbuat dari kayu ini, cukup besar untuk suamiku yang hanya anak tunggal di rumah ini. Tapi yang membuat aku heran sekaligus takut, bukan karena rumahnya yang terbuat dari kayu. Melainkan jendela rumah yang hanya ditutupi menggunakan plastik terpal tanpa ada pengamanan apapun. Hanya pintu yang terbuat dari kayu kokoh. Itu pun juga tidak pernah dikunci. Pintu dibiarkan tertutup begitu saja, tanpa dikunci dari luar atau dalam.

Sesampainya aku di dalam kamar, aku langsung menutup pelan pintu kamar dan menguncinya. Ini semua aku lakukan atas dasar perintah dari mas Harto. Aku tidak tau apa alasannya. Jika aku bertanya, mas Harto hanya membalasnya dengan senyum. Aneh sekali.

"Mas, kapan kamu pulang?" tanyaku, melalui panggilan telepon.

"Nanti sore Yank, ada apa? Kamu mau dibelikan apa?" tanya mas Harto, suaranya begitu lembut menenangkan.

"Aku mau rujak Mas, kamu tidak lama kan? Perutku tadi sakit Mas, terus aku bilang ke ibu," Ceritaku.

Mas Harto diam untuk sepersekian detik. "Terus ibu bilang apa? Ibu tidak menyentuh perut kamu kan?"

Pertanyaan dan suara bergetar dari mas Harto membuat keningku mengkerut. Pertanyaan yang sama jika aku membahas tentang ibunya.

"Tidak mas, tadi sih ibu mau pegang dan memintaku mendekat. Tapi aku ingat pesan kamu, jadi aku beralasan ke kamar kecil," sahutku, terdengar helaan nafas dari ujung telepon.

"Memangnya kenapa sih kalau ibu pegang Mas? Apa tidak boleh?" tanyaku penasaran.

Semenjak aku dinyatakan hamil, mas Harto terus mewanti-wanti aku untuk tidak berdekatan dengan ibunya. Ia seperti ketakutan, jika ibunya datang mendekatiku. Entahlah sebabnya apa?

"Hem itu, ehm... Sebenarnya tidak apa-apa sih Yank. Kamu tunggu di rumah ya! Sebentar lagi aku pulang. Diam di kamar saja! Kunci pintunya dan jangan keluar, kecuali aku dan Bapak sudah pulang!" titah mas Harto.

"Iya, aku mau tidur dulu!" sahutku, memutuskan untuk berbaring di tempat tidur.

Tak lama setelah panggilan telepon terputus. Suara adzan dzuhur terdengar. Bertepatan dengan suara adzan mengalun, di luar kamar terdengar suara berisik. Entah dari mana asalnya. Di rumah ini terdapat tiga buah kamar. Satu kamarku dengan mas Harto, satu lagi kamar tidur ibu dan bapak. Tersisa satu kamar yang aku tidak tau apa fungsinya. Kamar itu selalu digembok dari luar. Begitu juga kamar ibu.

Ibu mertuaku seorang ibu rumah tangga. Sedang bapak mertua bekerja sebagai jaga malam di sebuah pabrik di ujung desa. Dari pekerjaan bapak yang hanya jadi tukang jaga malam, dapat aku simpulkan berapa gaji yang bapak dapat. Pasti tidaklah besar seperti gaji para karyawan pabrik. Tapi, yang menurutku aneh di sini bukan karena pekerjaan bapak. Melainkan uang yang didapat selama bapak bekerja. Setiap dua minggu atau satu bulan sekali, pasti ada saja kurir toko yang mengantar barang elektronik atau lemari dan peralatan lainnya ke rumah.

Pernah sempat terpikir olehku. Uang dari mana ibu membeli semua barang-barang itu? Sedang gaji bapak tidak sebanyak itu. Aku memang baru satu tahun ini menikah. Itu pun baru beberapa bulan ini tinggal di rumah ini. Kalau bukan karena pekerjaan mas Harti yang memaksanya untuk tinggal di desa ini, sudah pasti mas Harto memilih untuk tinggal di kota bersama saudara besarku.

"Arggh...."

Suara jeritan yang entah dari mana selalu terdengar bertepatan dengan suara adzan. Bulu kudukku perlahan tapi pasti meremang. Ketakutan selalu melanda jika hanya tertinggal sendiri di sini. Ibu bukan tipe wanita yang banyak bicara seperti ibu-ibu pada umumya. Ibu juga wanita yang sederhana. Pakaiannya selalu tertutup. Walau tidak memakai jilbab, tapi leher ibu selalu dililit dengan syal atau kain.

Aku memberanikan diri keluar dari kamar mencari asal suara. Rasa penasaranku sudah mencapai puncaknya.

"Bu, Ibu di dalam?" tanyaku, mengetuk pintu kamar ibu.

Suara erangan tadi mendadak hilang, seiring selesainya suara adzan. Pintu kamar ibu tidak terbuka sama sekali. Sedang aku masih setia berdiri dan mengetuk pintu kamar.

"Na, sedang apa kamu di situ?" tanya ibu.

Aku berbalik, menatap bingung ke arah ibu yang baru keluar dari kamar yang aku tidak ketahui fungsinya apa.

"I-ibu di kamar itu? aku kira di kamar ibu sendiri," ucapku tergagap.

Kaki ibu melangkah pelan mendekat ke arahku. Tanpa sadar aku malah memundurkan langkah, sedikit menghindar. Aku benar-benar takut sekaligus heran. Bagaimana ibu keluar dari kamar itu, sedangkan tadi saat aku lewat, kamar itu sudah tergembok dari luar.

"Kamu sedang apa di sini? kenapa mencari Ibu?" tanya ibu, suaranya lembut, tapi terdengar mengerikan di telingaku.

"Ti-tidak ada apa-apa Bu. Emh, aku cuma mau bil..."

"Assalamualaikum! Paket Bu!" teriak seorang pria dari arah luar rumah.

"Bilang apa?" tanya ibu, memiringkan kepalanya menatap dalam ke arahku.

Bulu kudukku meremang. Sebisa mungkin aku tahan. "Bilang kalau di luar ada yang mengantar barang. Aku buka pintu dulu Bu!" kilahku, segera berlari meninggalkan ibu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Amanda Rhea
9.1
Terlempar ke masa lalu, Amanda Rhea kembali dipertemukan dengan Hagana. Takdir unik kemudian menjalin ikatan misterius antara Amanda dan putri dari pria tersebut. Namun, kedamaian mereka terancam ketika iblis mimpi mulai muncul dan mencelakai orang-orang terdekat Amanda. Di tengah teror mencekam yang terus mengintai, mampukah cinta lama antara Amanda dan Hagana tumbuh kembali seiring takdir yang terus mempersatukan mereka?
Sampul Novel Bermula Dari Casing Berminyak
9.4
Sebuah benda biasa membawa petaka dalam novel misteri Bermula Dari Casing Berminyak. Sang protagonis menyadari casing ponselnya selalu terasa berminyak secara aneh. Keluhan tersebut hanya dianggap angin lalu, hingga sang sahabat melontarkan gurauan mengerikan bahwa wadah ponsel itu terbuat dari kulit manusia. Ketakutan itu menjadi nyata saat malam tiba, ketika ia terbangun dan merasakan sensasi mengerikan seolah wajahnya sedang dikuliti secara perlahan disertai bisikan dingin yang menuntut kulitnya sendiri.
Sampul Novel PEMBALASAN DENDAM SANG PUTRI SINDEN
7.8
Tujuh belas tahun berlalu sejak kematian tragis Jernih Suminar. Sang putri, Lintang Prameswari, bertekad membalas dendam dengan mencari dalang ruwat sakti. Namun, ia terkejut saat mengetahui bahwa Ki Narendra, pria awet muda itu, adalah ayah kandungnya sendiri. Narendra tega menumbalkan jiwanya demi kekuasaan dan menelantarkan Lintang. Kini, di tengah intrik klenik dan mitos, Lintang harus menghadapi pembunuh ibunya dengan bantuan sosok misterius bernama Wage.
Sampul Novel Rumah Kosong Di Dusun Angker
8.2
Misteri kelam menyelimuti rumah tua berberingin di ujung Dusun Sentani. Teror Hantu Gaun Merah dan bisikan gaib kian mencekam setelah beberapa warga tewas secara misterius. Saat pulang ke kampung halamannya bersama sang kekasih, Clara justru dihadapkan pada penolakan penduduk serta berbagai kejadian ganjil. Kini, ia terjebak di antara kutukan desa dan rahasia masa lalu. Mampukah Clara membongkar semua kebenaran di balik rumah angker itu?
Sampul Novel Suamiku, Bukan Suamiku!
9.0
Seorang istri dilingkupi rasa takut yang luar biasa saat menatap pria di hadapannya, sosok yang memiliki wajah sangat identik dengan suaminya sendiri. Situasi semakin mencekam ketika ia menerima sebuah pesan singkat yang sangat ganjil. Pesan tersebut dengan tegas memperingatkan bahwa pria yang bersamanya saat itu bukanlah suaminya yang asli. Ironisnya, peringatan menakutkan itu justru dikirim langsung dari nomor ponsel sang suami. Di tengah kebingungan dan ancaman misterius ini, ia kini harus memilih siapa yang sebenarnya bisa ia percayai.
Sampul Novel TUMBAL PESUGIHAN
8.9
Kejadian aneh beruntun memicu kepanikan. Seorang anak perempuan difabel lenyap misterius, disusul kehamilan mendadak sejumlah staf bank secara bersamaan. Teror berlanjut saat dua pemuda hilang di warung tenda, serta aksi bunuh diri tragis seorang ibu yang mendekap bayinya. Apakah rangkaian peristiwa mengerikan ini saling terhubung? Ungkap misteri gelap yang menyatukan nasib para korban dalam kisah mencekam ini.