
Pudarnya Rasa Cinta
Bab 2
Tubuhku yang hancur berkeping-keping tergeletak di lantai.
Sudah tidak bisa dikenali lagi sebagai diriku.
Sementara itu, jiwaku melayang di atas, melihat tubuhku yang terkapar.
Aku tidak merasa sedih, karena kematian bagi diriku saat ini adalah sebuah kebebasan.
Aku tidak tahu sudah berapa lama melayang seperti ini, sampai akhirnya Indra datang.
Dia berjalan di belakang rombongan polisi, bertugas memotret, mendokumentasikan, sekaligus berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar.
Salah satu polisi berkata, “Kami menemukan beberapa bahan peledak di tempat kejadian. Sepertinya ada orang yang membuat bom rakitan, tapi identitas korban belum bisa dipastikan.”
Indra mengernyit dan memandang tubuhku.
Tiba-tiba, jantungku berdegup kencang. Entah kenapa, muncul secercah keinginan aneh dalam diriku.
Jika Indra tahu itu aku, apakah dia akan menyesal?
Tatapan mataku terus tertuju pada Indra, berharap bisa melihat sebersit rasa yang familiar di matanya.
Namun, Indra berdiri dengan wajah tanpa ekspresi, dia berkata, “Kelihatannya ini seorang wanita. Potongan pakaian di tubuhnya terlihat cukup trendi. Coba selidiki daftar wanita hilang berusia dua puluh sampai tiga puluhan tahun.”
“Panggil tim forensik masuk.”
Harapanku langsung hanyut begitu saja. Indra tidak mengenaliku.
Tentu saja, dia tidak pernah peduli padaku, jadi bagaimana mungkin dia bisa mengenaliku?
Setelah pemeriksaan selesai, tubuhku dibawa ke kantor polisi.
Jiwaku juga ikut melayang, duduk di kursi belakang mobil Indra.
Indra duduk di kursi penumpang depan, sementara mobilnya dikemudikan oleh Vincent, rekannya sekaligus sahabat karibnya.
Vincent berkata, “Indra, ponselmu nggak aktif? Barusan kepala polisi meneleponku, dia sedang mencarimu.”
Indra mengernyit, seolah mengingat sesuatu yang tidak menyenangkan.
“Semua karena Selina, dasar wanita menyebalkan! Aku sudah memperingatkannya jangan meneleponku saat bekerja, tapi dia nggak mendengarnya.”
Meski aku sudah terbiasa mendengar ucapan-ucapan seperti ini.
Namun, melihat ekspresi jijik di wajah Indra membuatku sesak napas. Rasanya seperti ada yang meremas jantungku.
Vincent menghela napas, “Indra, mungkin istrimu hanya peduli padamu. Jangan sampai bertengkar dengannya.”
Indra mendengus dingin, tidak menanggapinya.
Indra membuka ponselnya dan pesan dariku langsung muncul.
Ada sedikit harapan kecil di hatiku, mungkinkah Indra akan menyadari ada yang tidak beres denganku?
Namun, wajahnya malah menunjukkan ekspresi yang sangat kesal. “Ini yang disebut peduli? Apa maksudnya selamat tinggal?”
Indra mencoba meneleponku, tapi aku sudah tidak bisa menjawabnya lagi sekarang.
Saat teleponnya tidak tersambung, ekspresi wajah Indra semakin muram. “Baiklah Selina, sebaiknya kamu benar-benar pergi jauh dan jangan pernah kembali.”
Usai bicara, tanpa ragu Indra langsung memblokir nomorku.
Sedikit pun tidak berpikir kalau mungkin aku sedang dalam bahaya.
Rasa sakit di hatiku perlahan terasa mati rasa dan tidak ada lagi gelombang emosi di hatiku.
Harusnya aku sudah menyadari ini sejak dulu.
Indra tidak pernah peduli padaku, bahkan tidak mau repot-repot memikirkanku.
Aku sudah mati, tapi masih saja berpegang pada harapan yang tak masuk akal.
Aku mengikuti jasadku sampai ke kantor polisi dan Indra membawa tubuhku ke ruang autopsi.
Jiwaku tetap berada di luar, mengikuti Indra ke mana pun dia pergi. Aku melihat dengan mata kepala sendiri saat dia membedah tubuhku.
Entah kenapa, sejak melihat Indra, jiwaku terus mengikutinya, tidak bisa bergerak dan melepaskan diri.
Anda Mungkin Juga Suka





