APKDock Logo
Sampul Novel Gadis Nakal Sang Bidadari Surga

Gadis Nakal Sang Bidadari Surga

7.9 / 10.0
Ayana, ketua geng motor pemberontak The Wild Ants, dipaksa masuk pesantren oleh ayahnya agar jera. Namun, di sana ia justru dihadapkan pada kenyataan bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Gus Farhan, anak pemilik pesantren tersebut. Wasiat terakhir mendiang ibunya membuat Ayana tak mampu menolak rencana pernikahan ini. Kini, sang ratu jalanan harus beradaptasi dengan dunia religi yang asing serta takdir pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Gadis Nakal Sang Bidadari Surga Bab 1

Suasana jalan Bandung, hari ini cukup padat! Meski begitu, terlihat di pinggir jalan seorang gadis SMA tengah di ganggu para preman jalanan, tak ada yang membantu. Beruntung gadis itu bisa melawan, dan membuat para preman itu tersudut.

"Kabur lo semua! Huh, sana dasar pengecut!" Umpat Ayana menendang angin menatap ketiga pria yang sebelumnya datang menggodanya kini lari terbirit-birit menjahuinya, dengan wajah yang babak belur.

"Ayana di lawan," gadis berseragam putih abu-abu itu mengibas rambutnya kebelakang lalu berkacak pinggang menatap lurus pada segerombolan pria yang duduk manis menyantap makanan berkuah dengan bulatan-bulatan kecil pada mangkok berlogo ayam, di seberang jalan tempatnya berada.

"Sialan kalian nggak ada niat nolongin apa!" Omel Ayana pada kumpulan pria di sana yang tampak biasa saja menatapnya tanpa rasa khawatir.

"Bisa lawan kan? Lo aman kan? Ngapain kita tolong! Abang lo aja diam tuh. Malah waktu lo berantem dia nambah baksonya." Celutuk salah seorang di antara mereka. Ayana menoleh melangkah cepat pada pria yang 80% memiliki wajah sama dengannya.

"Bang Arka!" Pekik Ayana saar pria yang merupakan saudaranya itu berlari menjauhinya.

"Orang lagi makan jangan di ganggu!" Ketus pria bernama Arka itu.

Ayana melebarkan matanya, berkacak pinggang lalu melipat kedua tangannya.

"Gua aduin ke Papa, karena lo nggak bantuin gua yang habis di godain preman!" Teriak Ayana menunjuk tajam pada saudaranya itu.

"Berisik! Ngomong tuh santai aja, nggak usah teriak gitu!" Ketus pria yang berada di depan Ayana.

"Apa lo, mau ku pukul!" Ketus Ayana mengayunkan pukulannya di udara lalu berlalu begitu saja.

"Hey, Ayana lo bolos lagi? Jam segini udah pulang aja." Tegur salah seorang di antara mereka yang tampak menggendong seekor monyet.

"Iya, tapi toh guru juga lagi ngadain rapat. Makanya gua ke sini," ucap Ayana tampak begitu santai.

Pletak...

"Aduh..." Ayana mengusap telinganya yang mendapat jentikan keras dari saudaranya.

"Aku aduin ke Papa yah! Lupa kamu, Papa kemarin bilang kalau bolos sekali lagi kamu bakal di pindahin ke pesantren," ucap Arka yang seketika membuat Ayana membeku, karena ia sungguh lupa dengan ancaman Papanya itu.

Merengek untuk tak di adukan pun sepertinya percuma, karena mungkin saja saat ini Papanya sudah mengetahui itu, mengingat di sekolah ia selalu di awasi beberapa siswa yang di minta menjaga Ayana, yang dirinya sendiri tak kenal dan tak tahu siapa yang mengawasinya.

"Ah, nggak mau!" Pekik Ayana.

"Makanya jangan bolos!"

"Huh, kasian bakal di pindahin ke pesantren!" Ledek teman-teman Abangnya yang sudah teramat dekat dengan Ayana sendiri.

****

"Papa janji deh nggak bakal bolos lagi. Tapi jangan pindahin nggak cocok buat Ayana yang bandelnya nggak ketulungan ini." Cerocos Ayana yang merengek mengoyang-goyangkan lengan Papanya.

"Justru karena kamu bandel, Papa mau kirim kamu ke pesantren. Udah sana, beresin barang-barangmu besok kita berangkat! Nggak ada bantahan lagi, atau kamu Papa kirim ke tempat terpencil yang sekolahnya hanya dari anyaman bambu! Mau hah?" Omel Marcel, Papa Ayana.

Ayana menggeleng cepat.

"Ya sudah sana, siapin barang-barangmu, jangan bawa aneh-aneh. Kamu di sana bakal didik dengan baik!"

Ayana menatap sang Papa dengan mata berkaca-kaca berharap ada toleransi untuknya.

"Siapkan barang-barangmu sekarang Ayana!" Geram Marcel yang berusaha tak termakan bujuk rayuan putri kesayangannya. Sesungguhnya ia tak bisa jauh dengan putrinya, tapi mau bagaimana lagi putrinya itu kian hari semakin nakal dan berulah. Beberapa hari yang lalu saja dirinya sudah di panggil pihak sekolah karena putrinya itu bertengkar hingga membuat korbannya babak belur. Di tambah nama Ayana di buku tulis guru BK sudah merah akibat kenakalannya.

Ya, tentunya ia harus menindaklanjutinya dengan cara seperti ini!

"Papa jahat!"

"Memang."

"Papa nggak sayang Ayana lagi!"

"Nggak tuh."

"Ayana benci Papah!"

"Terserah."

Ayana menghentakkan kakinya mendapat jawaban enteng Papanya itu.

"Sana! Apalagi yang kamu tunggu, besok pagi kita udah berangkat."

Ayana dengan deraian air mata dan hentakan kaki ia berjalan ke arah kamarnya. Kalau sudah seperti ini, rasanya tak ada cara lagi untuk membujuk Papanya. Dengan perasaan kesal ia membanting pintunya dengan kencang.

"Astagfirullah, anak itu." Marcel mengusap dadanya berusaha agar tak terpancing emosi.

Kemudian ia menoleh pada putranya yang sedari tadi sibuk memainkan ponselnya.

"Arka."

"Hmm..."

"Arka!"

"Iya Pah." Sahut Arka tanpa menoleh.

"Arkana!" Teriak Marcel yang membuat Arka menyimpan ponselnya lalu menatap Papanya dengan cengiran khasnya itu.

"Iya Pah."

"Gamis, rok, kerudung, atau apapun itu. Segala keperluan adikmu sudah kamu beli?" Tanya Marcel yang kini melembut.

"Sudah Pah, semuanya sudah beres di kamar Aya. Tinggal di masukin ke koper doang." Jawab Arka.

Marcel mengangguk.

"Bantuin Adikmu sana, ini pertama kalinya kalian akan jauh, jadi hibur adikmu sana."

"Kenapa bukan Papah aja, palingan juga Papah lebih sedih dari aku." Ledek Arka sesaat tersenyum takut-takut menatap tatapan maut Papahnya.

"Aku ke atas Pah, dah."

Arka pun berlari menginjak satu persatu anak tangga.

"Semoga ini jalan terbaik, dan Ayana bisa merubah sikap buruknya." Gumam Marcel menoleh menatap bingkai foto almarhum Istrinya.

"Andai kamu ada di sini, Ayana pasti tidak akan tumbuh seperti itu. Dia memang anak baik dan manja tapi tetap saja ia begitu nakal di luar sana. Maaf karena didikanku yang keras ia malah seperti ini, dan mengikuti jejak Abangnya." Batin Marcel menghapus setitik air mata yang lolos begitu saja.

"Ya Allah nih anak! Kamar lo kenapa berantakan gini, marah sih marah tapi jangan kayak gini Ayana!"

"Diam lo setan! Lo harusnya bantuin gua bujukin Papa bukannya diam aja kayak tadi!"

"Panggil gua Abang! Yang sopan bicaranya anak anjing."

Marcel menghela nafas mendengar umpatan kedua anaknya yang memang hampir tak pernah akur, rasanya mendengar kucing yang sedang ingin kawin saja jika mereka ribut seperti ini.

"Ayana!" Teriak Arka menarik gamis yang hendak di gunting Ayana. Ia kemudian memasukkannya dalam koper.

Arka berkacak pinggang lalu menatap tajam adik satu-satunya itu.

"Duduk! Kamu nggak boleh pergi dalam keadaan marah seperti ini!" Perintah Arka yang mulai menurunkan intonasi suaranya.

Ayana menurut duduk meringsut di atas kasur kesayangannya.

"Ayana nggak mau pergi Abang! Ayana nggak bisa jauh-jauh sama kalian!" Rengek Ayana di iringi tangisannya yang mulai pecah.

"Makanya jangan nakal! Ini keputusan Papa, nggak bisa di ganggu gugat lagi. Lagian pesantrennya juga dekat, kita bisa ngunjungin kamu tiap bulan. Eh, nggak Abang janji ngunjungin kamu tiap hari minggu." Arka mengangkat jari kelingkingnya dengan tatapan seriusnya mengucapkan janjinya itu.

"Em... nggak mau, tempatnya jauh Bang, butuh sekitar dua jam baru sampai ke sana." Gerutu Ayana.

"Elleh jauh apanya, biasanya juga kalau jalan-jalan bisa sampe sana," ucap Raka yang begitu sinis.

Ayana menatap sebal saudaranya itu. Sungguh tak pengertian sekali. Ayana memalingkan wajahnya dan mulai menangis dalam diam.

Arka yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafas, meski ia sering menjahili adiknya hingga menangis karena kesal, tapi ia tak pernah tega melihat adiknya menangis sesedih ini.

"Cantik, adikku yang paling manis. Udah yah, jangan nangis lagi. Ini keputusan Papa, kamu terima saja. Apa yang Papa lakukan juga ini demi kebaikanmu." Bujuk Arka.

"Tapi kenapa harus ke pesantren, itu tidak cocok buat Ayana yang bandel." Gerutu Ayana.

"Nah, tau kalau kamu bandel, makanya Papa mau kamu pesantren, biar jadi anak yang baik. Beban dosamu yang harus di tanggung Papa juga ringan." Celutuk Arka yang membuat Ayana menatapnya sebal.

"Udah jangan nangis lagi, beresin barang-barangmu. Abang bantuin!"

Ayana menggerutu tapi tetap menurut mempersiapkan segala keperluannya.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Gadis Nakal Sang Bidadari Surga

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel ASI untuk Pak Guru
8.5
Jenara Atmisly, siswi berprestasi, menyimpan rahasia medis yang memalukan. Ia mengidap galaktorea, kondisi hormon yang membuatnya memproduksi ASI tanpa pernah hamil. Saat rasa sakit akibat penumpukan cairan itu tak tertahankan di sekolah, ia terpaksa meminta bantuan gurunya. Insiden tak terduga di ruang guru tersebut mengubah segalanya. Rahasia ini menjadi awal mula hubungan asmara mereka yang rumit, menantang, dan penuh risiko.
Sampul Novel DOSEN ITU SUAMIKU
9.5
Kehidupan kampus Bunga mendadak gempar setelah ia mengetahui kebenaran yang mengejutkan. Ezza, pria yang dijodohkan dengannya dan kini sah menjadi suaminya, tiba-tiba hadir sebagai dosen baru di sana. Kemunculan Ezza yang tidak disangka-sangka ini langsung memicu kecurigaan besar dalam benak Bunga. Ia pun mulai menyangsikan tujuan sebenarnya dari sang suami. Apakah ada rencana rahasia yang disembunyikan Ezza, ataukah semua ini murni ketidaksengajaan?
Sampul Novel En-PD158
8.7
Demi menyembuhkan putra kandungnya dengan Lin Yanran yang terkena leukemia, Zhou Yu'an mendadak meminta cerai setelah tiga tahun menikah. Ia memohon kepada istrinya agar diizinkan memiliki anak lagi dengan sang mantan pacar demi mendapatkan sel pengobatan, berjanji akan kembali setelah semuanya usai. Namun, di balik tangis pilu suaminya, sang istri justru menemukan pesan provokatif dari Yanran yang menuntut Yu'an untuk menghamilinya malam itu juga.
Sampul Novel Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu
8.1
Angela nekat hamil anak Jeremy secara sembunyi-sembunyi walau sadar dirinya cuma dimanfaatkan. Demi bisa lepas dari cengkeraman Jeremy yang kejam, ia sengaja memicu kemarahan pria itu. Sayang, pelarian Angela gagal setelah Jeremy melacak keberadaannya. Saat Angela pasrah dan memohon dilepaskan, kehadiran anak mereka justru membalikkan keadaan. Jeremy yang berhati dingin kini malah berbalik ingin mengabdi dan melayani Angela serta buah hati mereka.
Sampul Novel Istri yang Dihancurkan Mereka
8.1
Demi menguji perasaanku, Bramantyo dan Bima tega menyiksaku lewat kehadiran Sandra. Puncaknya, mereka membiarkan tanganku hancur dalam sebuah kecelakaan demi menolong Sandra, hingga karier musikku hancur total. Mereka menanti kemarahanku, tetapi aku hanya diam, bahkan saat Sandra merusak liontin peninggalan ibuku. Di ranjang rumah sakit, pengabdianku sirna. Ini bukan cinta, melainkan siksaan kejam. Kini, aku bersiap melarikan diri dan membalas semua kehancuran ini.
Sampul Novel Menjadi Orang Ketiga Dipernikahan
7.9
Pernikahan hasil perjodohan Mira Aditya dengan Rafiq Jaya berujung pilu. Di balik ikatan tersebut, Rafiq rupanya telah menikahi Elena Faris, cinta masa lalunya, secara diam-diam. Terasing di rumah sendiri dan terus didera kepedihan mendalam membuat Mira berada di titik nadir. Di tengah kekecewaan serta hampa yang kian menyiksa, ia pun kini harus menentukan pilihan sulit: tetap bertahan dalam kepalsuan atau melangkah pergi demi meraih kebebasannya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan