
Pudarnya Rasa Cinta
Bab 3
Tak lama kemudian, hasil autopsi keluar.
“Korban diperkirakan berusia sekitar dua puluh enam tahun. Sepertinya penculik sangat membencinya, karena dia disiksa berat sebelum akhirnya tewas akibat ledakan bom.”
“Yang paling penting, korban sedang hamil dua bulan.”
Begitu kalimat itu diucapkan, semua orang terdiam.
Penyiksaan, kematian akibat ledakan, dua nyawa melayang.
Setiap kata yang terucap begitu mengejutkan.
Aku terpaku mendengar kata-kata Indra, tidak percaya sambil melihat ke perutku.
Aku hamil?
Anak ini masih begitu kecil, aku bahkan belum tahu keberadaannya, tetapi dia sudah harus meninggalkan dunia ini.
Air mataku mulai mengalir tanpa henti.
Indra hanya menghela napas.
“Kasihan sekali, semoga kalian bisa segera menyelesaikan kasus ini dan memberikan keadilan bagi korban. Kebetulan kasus yang sedang kutangani hampir selesai, jadi aku bisa membantu kalian.”
Aku menatap Indra dengan senyuman sinis.
Jika dia tahu bahwa korban ini adalah aku, apakah dia masih akan berbicara seperti ini?
Setelah autopsi selesai, wajah Indra tampak muram. Dia dan Vincent duduk dan merokok di halaman.
Vincent mencoba menasehatinya, “Indra, wajar saja ada pertengkaran di dalam rumah tangga. Kalau istrimu marah, kamu tinggal minta maaf saja, semuanya akan baik-baik saja.”
Indra tersenyum sinis dan menjawab, “Minta maaf? Dia hanya akan semakin keterlaluan. Dia bahkan menelepon untuk mengancamku hari ini saat jam kerja. Dia mungkin akan berpura-pura mati lain kali.”
Yang tidak diketahui oleh Indra adalah bahwa aku benar-benar sudah mati.
Saat tahu kebenarannya nanti, entah dia akan menyesal telah mengucapkan kalimat itu.
Namun aku tak peduli lagi, aku hanya berharap bisa benar-benar meninggalkannya.
Indra yang tak tahu harus berkata apa hanya bisa menghela napas.
Penyelidikan di mulai dengan mencari data orang hilang. Vincent sudah berhari-hari memeriksa berkas, tetapi hanya menemukan beberapa wanita yang hilang dan sesuai dengan profil korban.
Tiba-tiba, ponsel Indra berdering.
Itu panggilan dari Vinie, teman masa kecilnya.
“Kakak, kapan kamu pulang? Aku ke rumahmu tadi, tapi kamu nggak ada.”
Wajah Indra yang lelah karena begadang, seketika tersenyum dan menjawab, “Lagi ada kasus di sini. Begitu selesai, aku akan pulang dan menemanimu, ya?”
Dengan manja, Vinie berkata, “Tapi aku mau menonton film horor dan aku nggak berani menonton sendirian.”
“Kamu selalu ada di sampingku dulu.”
Indra tidak merasa diganggu saat bekerja, melainkan dengan sabar menghiburnya, “Aku janji, begitu kasus ini selesai, aku akan mengambil cuti dan kita pergi liburan, bagaimana?”
Vinie dengan santai menjawab, “Baiklah, memangnya kasus apa yang sedang kamu kerjakan?”
Indra menjawab, “Ada seorang wanita yang diculik dan dibom. Kami sedang menyelidiki identitasnya sekarang. Kami curiga dia mungkin punya dendam dengan pelaku.”
Indra tertawa kecil, lalu dengan lembut melanjutkan, “Tapi kamu nggak perlu tahu detailnya, kamu penakut, nanti malah nggak bisa tidur.”
Aku tersenyum sinis melihat semua ini, betapa menyedihkannya.
Indra bahkan khawatir kalau Vinie akan ketakutan, tetapi dia tidak pernah memikirkan kemana aku pergi.
Hubungan Indra dan Vinie memang lebih berbeda dibandingkan hubungan kami.
Setelah menutup telepon, Indra kembali fokus bersama Vincent untuk memeriksa daftar orang hilang.
Menjelang tengah malam, semua orang hilang sudah diperiksa.
Hasilnya tidak ada yang sesuai.
Kasus ini menemui jalan buntu, membuat semua orang terdiam, memikirkan langkah selanjutnya.
Vincent menatap jasadku, lalu berkata, “Sebarkan saja ciri-ciri korban, siapa tahu ada keluarga yang belum melaporkan kehilangan anggota keluarganya.”
Vincent mengangguk dan segera menghubungi stasiun TV setempat.
Tidak sampai sepuluh menit, informasi tentangku sudah tersebar ke seluruh kota.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba ponsel Indra berdering.
Dalam kelinglungan, aku mendengar suara di telepon yang langsung membuatku terbangun.
Suara di ujung telepon itu adalah ayahku. Dengan cemas, beliau berkata, “Indra, Selina sudah hilang beberapa hari dan informasi dari kepolisian mirip dengan ciri-cirinya.”
Anda Mungkin Juga Suka





