APKDock Logo
Sampul Novel Kemarau Kapan Berlalu?

Kemarau Kapan Berlalu?

9.0 / 10.0
Demi membiayai sekolah keponakannya, Sam Rahardja rela menjadi kurir narkoba meski Galih terus memotong upahnya. Saat Galih berhenti beroperasi, Sam kehilangan sumber penghasilan. Di tengah situasi sulit ini, Sena hadir mengancam akan membongkar masa lalu kriminal Sam ke polisi. Terdesak demi masa depan Renaldi, Sam terpaksa menerima tawaran kerja dari Sena. Sayang, keputusan tersebut membawanya pada penyesalan terdalam karena pekerjaan baru itu adalah menjual diri.

Kemarau Kapan Berlalu? Bab 1

Seorang lelaki masih enggan beranjak dari tempatnya berbaring. Tangannya terulur memeluk gundukan tanah yang mulai ditumbuhi rumput liar. Mata bengkaknya terdapat lingkar hitam efek tidur beberapa jam dalam sehari selama dua minggu. Bahkan ada hari di mana ia tidak terlelap barang sedetik pun. Tubuhnya terlihat kurus dengan kaos oblong pendek dan celana kolor.

"Mas, udah mau malem. Nanti dicariin." Sudah sekian kali lelaki tua penjaga makam menyuruhnya pulang. Namun, si lelaki kurus tetap bergeming.

Penjaga makam menatapnya iba. Dua minggu lalu, ia melihat jelas bagaimana si kurus berteriak memanggil nama yang ada di batu nisan. Memeluk tanah basah dengan bibir terus bergumam, kemudian menangis tanpa suara.

"Enggak ada yang bakal nyari saya, Pak. Yang suka nyariin saya aja di sini, kok," sahut si lelaki kurus.

Tahu rasanya ditinggalkan, penjaga makam duduk di dekat kepala si kurus. "Sayangnya, dia sudah tidak bisa memarahi kamu lagi. Iya, 'kan?"

Si kurus menghentikan tangannya mengelus tanah. Ditatapnya batu nisan seolah ia tengah menyampaikan perasaan sesal yang mendalam. Air matanya jatuh lagi. "Maaf ... maafin gue yang bego ini."

Lelaki tua di sampingnya ikut menitikkan air mata, kemudian jemari keriputnya menggenggam lembut tangan si kurus. "Melihat rasa sayang kamu yang sebesar ini, saya yakin dia sudah memaafkan kamu."

Si kurus pun bangkit, duduk menyila dengan bahu bergetar. "Apa kesalahan saya masih bisa dimaafkan, Pak? Dia yang menyelamatkan saya, dia yang membuat hidup saya berwarna, tapi yang saya lakukan ... saya membunuhnya, Pak."

Lelaki berwajah keriput menyibak rambut kumal si kurus. Tiupan angin menguarkan bau tidak sedap dari sana. Bibir hitamnya tersenyum pilu. Sudah berapa hari laki-laki ini tidak keramas?

"Sudah aku bilang, bukan kamu yang membunuhnya!"

Dari belakang, seorang wanita cantik dengan pakaian serba hitam menyentak dua lelaki itu. Penjaga makam langsung menoleh, tetapi tidak dengan si kurus berkaos oblong. Sepertinya, tanpa menoleh dia sudah mengenali pemilik suara tadi.

"Kamu harus pulang!" ucap wanita tersebut setelah berada di sebelah si kurus. Namun, si kurus tak bergerak. Menoleh pun tidak. Matanya hanya menatap batu nisan kosong.

"Iya, Mas. Pulang. Meski enggak ada yang nyari, seenggaknya Mas kasihan sama tubuh sendiri." Penjaga makam ikut membujuk.

"Yang pantas disalahkan atas kematian dia itu aku. Jadi, tolong berhenti siksa diri kamu sendiri," ujar si wanita lagi.

Tanpa disangka, lelaki kurus itu berdiri, menatap mata si wanita. "Iya. Semuanya memang salah lo," ucapnya. "Kalau aja lo enggak egois, sekarang dia masih ada sama gue."

Pak tua penjaga makam ingin melerai karena langit mulai gelap dan burung hantu mulai bernyanyi di naungan pohon kantil. Namun, si wanita sudah lebih dulu bersimpuh di hadapan si kurus, bersimbah air mata.

"Iya. Salahkan semuanya ke aku. Sekarang, silakan kamu pulang." Sang wanita menyeka butiran bening di wajahnya sebentar. "Karena aku yakin, dia enggak mau orang yang paling dia sayangi, orang yang paling dia banggakan sakit. Jadi, tolong, pulang. Biarin dia tenang."

Si kurus menekuk lutut, mengusap ukiran nama di batu nisan. Lirih, ia berkata, "Maaf ... maafin gue yang bego ini."

Terik Satu

Di tengah kebisingan ibu kota, Sam berlari mengendap-endap dari gang sempit satu ke gang sempit lainnya. Tidak jauh di belakangnya, tiga orang polisi terus mengejarnya. Napas lelaki itu mulai tersengal, keringat membanjiri kaos hitam polosnya. Mata gelapnya memindai setiap tempat yang ia lalui, mulai dari tong sampah, sela-sela rumah, selokan tidak ada satu pun tempat yang bisa ia jadikan persembunyian. Sungguh, ia tidak kuat berlari lebih jauh lagi.

Lelaki kurus itu berhenti sejenak, memegang lutut sembari mengatur napas dan debar jantungnya yang jelas terdengar. Rasa ingin menyerahkan diri tiba-tiba terbersit di otaknya. Namun, sisi otaknya yang lain menampilkan wajah seorang pemuda mengangkat piala dan menyentaknya dari keputusasaan.

Bunyi sepatu dan teriakan di belakang memacu semangat Sam untuk berlari lagi menuju belokan gang yang lebih sempit dan gelap. Siapa sangka, gang gelap itu membawanya pada rumah kecil yang sekitarnya ditumbuhi rumput liar. Pintu rumah itu sedikit terbuka, memperlihatkan ruangan tanpa pendar cahaya.

Sam menoleh ke belakang sekilas untuk memastikan polisi-polisi tadi belum melihatnya. Segera, ia memasuki rumah itu, lalu menutup pintu dan menyandarkan diri di sana.

Menunggu situasi aman, Sam menyalakan ponsel. Ada dua pesan masuk. Satu dari keponakannya dan yang satu dari Galih, rekan sekaligus atasannya. Belum sempat membaca isi pesan tersebut, derap langkah kaki di luar membuatnya menempelkan layar ponsel ke perutnya, jaga-jaga kalau cahaya ponselnya bisa terlihat dari luar.

"Perasaan tadi nggak dikunci, deh."

Sam meneguk ludah, antara lega dan takut. Bukan suara maskulin lelaki, tetapi suara perempuan dan ia cukup yakin kalau perempuan itulah si pemilik rumah tidak terawat ini. Bisa jadi ketika ia keluar nanti, si perempuan mengiranya maling lalu melaporkannya ke polisi, tetapi, menunggu pintu didobrok bukan pilihan tepat.

Sam menggigit bibir bimbang. "Polisinya masih ada, Mbak?"

Pintu langsung didorong kuat hingga Sam nyaris terjengkang ke lantai. Setelahnya si perempuan meraih sakelar di dinding, menyalakan lampu.

Lidah Sam mendadak kelu, tidak menyangka rumah kecil, tersembunyi, dan tidak terawat ini dihuni seorang bidadari bertubuh mungil dengan rambut panjang bergelombang. Mata bulatnya melotot marah, tapi menggemaskan. Hidung mancungnya kembang kempis, tapi tidak sedikit pun mengurangi kecantikannya. Lalu bibir merah muda—

"Siapa kamu?!" gertak sang gadis mengalihkan fokus Sam.

"Maaf, Mbak. Saya cuma numpang sembunyi—"

"Polis—"

Sam membekap mulut gadis mungil tersebut sebelum benar-benar berteriak. "Gue enggak ambil apa pun di rumah lo. Kalau sampai lo panggil polisi, nyawa lo yang bakal melayang sebelum mereka datang," ancamnya.

Sedikit ketakutan, gadis itu mengangguk, dan Sam melepaskannya. "Saya cuma takut kamu penjahat," cicitnya.

"Gue bisa jadi penjahat beneran kalau lo teriak tadi." Sam kembali menilik ponselnya, membaca pesan yang sudah bertambah meski dari pengirim yang sama. "Lo ada minum nggak? Gue haus."

"Enggak. Rumah ini enggak ada apa-apanya."

Sam menghela napas seraya mengetik balasan untuk dua orang yang mengirimnya pesan. Pandangannya tertuju pada kantong plastik hitam di tangan sang bidadari.

"Terus itu apa?"

Seperti barang berharga, gadis itu langsung menyembunyikan plastik tersebut di balik punggungnya.

Sam mencebik, tidak lagi peduli pada rasa hausnya. Ia memilih duduk di kursi kayu tidak jauh dari tempatnya berdiri, fokus pada ponselnya. Sementara itu, si pemilik rumah menatapnya heran.

"Ngapain masih di situ!"

"Capek, abis lari-lari," jawab Sam santai tanpa mengalihkan tatapan dari ponsel.

Gadis itu berdecak, sedangkan Sam berdeham, membiarkan si tubuh ramping berlalu masuk ke salah satu ruangan di sana. Ia melongok ke luar, sepertinya polisi tadi tidak mampu mengetahui keberadaanya.

Satu panggilan masuk dari keponakannya. "Halo, Di?"

"Lo di mana? Kok, belum pulang?"

Sam mengingat sebentar tempatnya bertransaksi tadi. "Kebon Melati," jawabnya. "Mau pesen apa?"

"Milkita aja, deh."

"Buku gambar? Pensil? Alat tulis lain?"

Sudah hampir sebulan Renaldi tidak pernah meminta alat-alat menggambar lagi. Walau usianya sudah remaja, keponakannya itu suka menggambar sketsa dan gambar-gambar unik lainnya. Sam tidak melarangnya. Lagi pula, kegiatan tersebut untuk mengisi waktu luang Renaldi selama setahun ini lantaran berhenti sekolah.

"Um ... boleh, deh."

Senyum Sam mengembang teringat sesuatu. "Gue tadi digaji banyak. Besok lo bisa sekolah lagi."

Tidak ada sahutan dari seberang.

"Di?"

"Gue mau boker. Jangan lupa Milkitanya."

Usai pangggilan ditutup, Sam meletakkan ponselnya di meja, kemudian mengecek tas selempangnya. Melihat amplop tebal di sana, bayangan hal-hal apa yang ingin ia lakukan menari-nari di benaknya. Mendaftarkan sekolah Renaldi, membelikan seragam baru, tas, dan ponsel yang lebih memadai untuk menunjang belajar Renaldi di sekolah barunya nanti.

Sam menyandarkan punggung, menikmati euforia yang melambung. Tabungannya sudah cukup untuk membeli motor juga, tapi ia harus tetap berhemat karena tidak selalu mendapat panggilan untuk mengantar barang. Sekolah tempat Renaldi mendaftar besok, bukan sekolah yang sebulan cukup dengan uang satu jutaan. Jadi, Sam harus tetap menghemat.

Malam kian dingin. Sam merapatkan jaket hitamnya siap keluar dari rumah kecil penuh debu ini. Bangkit dari kursi, lelaki itu menuju ruangan yang tadi dimasuki sang pemilik rumah. Baru hendak mengetuk pintu ruangan di depannya, ponselnya bergetar lagi. Kali ini bukan dari Renaldi, melainkan Galih, atasannya.

"Sam, lo aman, 'kan?"

"Aman. Kenapa?"

"Udah dibayar sama si crazy rich?"

"Udah. Kenapa, sih?"

Galih terdengar mengembuskan napas. "Itu gaji terakhir lo."

Sam mengerjap. "Hah? Gimana?"

"Gue mau berhenti jadi bandar, Sam. Dan lo enggak perlu jadi kurir lagi."

"Jangan ngada-ngada, Lih. Kalau enggak jadi kurir gue kerja apa?"

"Gue mau pulkam. Jadi, gue serius, Sam," sahut Galih dengan suara beratnya. "Lo bisa cari kerjaan lain."

Sam meremas rambut ikalnya. "Terus gue biayain Renaldi pake apa? Tabungan gue belum tentu cukup sampai dia lulus."

"Lo bisa cari kerjaan lain, Sam."

Panggilan ditutup. Sam meninju pintu hingga pintu tersebut terbuka dan si pemilik rumah tahu-tahu mengulurkan sebotol air mineral padanya.

"Capek, 'kan, abis lari-lari?"

Sam terpaku. Sang gadis berkata lagi, "Kalau capek lari, berhenti, istirahat."

***

Kebumen, 30 Agustus 2021

Lanjut Membaca

Daftar Isi Kemarau Kapan Berlalu?

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Dicampakkan Setelah Menjadi Korban Rudapaksa
9.4
Nalula Diandra hancur saat kesuciannya dirampas di depan kekasihnya akibat rencana jahat kakek pria itu. Bukannya melindungi, sang kekasih justru mencampakkannya dan menikahi wanita lain. Di tengah keputusasaan, Lula ditemukan oleh orang tua kandungnya yang merupakan konglomerat kuat. Bersama keluarga aslinya, ia menyusun rencana pembalasan dendam untuk menghancurkan mantan kekasih dan keluarganya. Namun, akankah kehancuran mereka membawa kedamaian yang ia cari?
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa untuk pembaca usia 21 tahun ke atas ini menyoroti sisi tersembunyi kehidupan yang penuh luka, dilema, dan kerinduan di balik topeng kesucian. Melalui narasi realistis dan eksplisit, pembaca diajak merefleksikan diri di tengah kegelapan untuk menemukan cahaya. Sebuah hiburan mendalam tentang pencarian makna hidup serta cinta yang berliku, menyajikan perspektif baru bagi Anda.
Sampul Novel Janda Bertemu Dengan Duda
8.1
Demi menghapus duka setelah kepergian Rizal, Sonia memboyong Alif dan Hana ke sebuah apartemen sederhana. Di hunian baru itu, takdir mempertemukannya dengan Yudha, duda menawan yang juga berjuang mengasuh putrinya, Mira, pasca-tragedi memilukan. Pertemuan tak sengaja di lorong apartemen perlahan memantik getaran rasa di hati mereka yang sama-sama terluka. Kini, keduanya dihadapkan pada pilihan sulit: terus meratapi masa lalu atau berani membuka hati bagi cinta yang baru.
Sampul Novel Kelahiranku, Kematian Ibuku, Dan Kebencian Ayahku
8.1
Setelah disiksa hingga tewas oleh penculik demi melindungi ayahnya, seorang gadis malang harus menerima kenyataan pahit bahwa ayahnya justru sibuk merayakan ulang tahun putri adopsinya. Panggilan telepon terakhirnya diabaikan dengan penuh kebencian. Keesokan harinya, jenazahnya ditemukan di depan kantor polisi dalam kondisi mengenaskan. Ironisnya, sang ayah yang bekerja sebagai ahli forensik memimpin langsung proses otopsi jasad putrinya sendiri tanpa menyadari identitas korban yang sangat ia benci.
Sampul Novel Mafia In The Night
8.0
Demi ambisi besarnya, William, putra seorang bos mafia kejam, siap melakukan apa saja. Namun, sebuah pengkhianatan merenggut nyawa sang ayah, Ferdinand. Rosemary yang merupakan istri Ferdinand akhirnya mulai menyadari sisi gelap suaminya yang selama ini tersembunyi. Di tengah duka, William bertekad membalas dendam sekaligus membersihkan nama ayahnya dari fitnah. Meski jalannya dihalangi oleh seorang polisi wanita, William takkan mundur hingga peluru terakhir menyelesaikan segalanya.
Sampul Novel MY LOVELY LITTLE WIFE
8.9
Yuki sangat geram setelah lamaran perjodohannya ditolak mentah-mentah. Alasan pria itu sungguh klasik, yaitu karena mereka belum saling mengenal. Sambil menggerutu dan mencap calon suaminya sebagai lelaki tua yang menjengkelkan, sebuah ide licik tiba-tiba muncul di benak Yuki. Senyum penuh arti pun tersungging di bibirnya. Ia kini menyusun sebuah rencana cerdik untuk memberi pelajaran berharga bagi pria sombong tersebut.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan