APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Prahara

Prahara

Tiga puluh tahun membina rumah tangga, pernikahan Beri Pratama dan Monica Sari kini di ambang kehancuran. Kehadiran kembali Soraya Maharani, cinta pertama Beri saat SMA, menuntut janji masa lalu yang belum usai. Beri pun didera dilema hebat antara masa lalunya atau komitmen terhadap Monica serta kedua buah hati mereka, Eka dan Dwi. Di sisi lain, Monica harus tegar menghadapi rahasia kelam suaminya demi mempertahankan keutuhan keluarga mereka.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Assalamu'alaikum, rajin men, Cekgu." Tetiba sebuah suara yang tak asing di indra pendengaranku terdengar menyapaku saat aku sedang disibukkan oleh kegiatan bersih bersih teras halaman depan rumah di sore yang cerah ini.

"Wa'alaikumussalam, ee ... Juragan Kosan to. Iya niih Gan cari keringat," balasku serta merta menghentikan kegiatan menyapu, begitu mengetahui mbak Mini sahabatku datang bersama seorang wanita yang terlihat asing dalam pandanganku. Seperti bukan warga sini.

"Panas-panas gini mo kemana, Gan? Ayo mampir sini dulu!" tanya dan ajakkku sembari melangkah berjalan mendekati pintu pagar.

Mbak Mini adalah sahabatku. Dialah orang kedua yang kujumpai setelah kepala sekolah tempat aku bekerja saat ini saat aku datang ke kampung ini kali pertama.

Saat aku baru saja selesai menyerahkan SK pengangkatan CPNSku sebagai guru di sekolah yang letaknya tepat di seberang rumahnya.

Sangat kebetulan sekali ternyata rumahnya selain digunakan untuk tempat tinggal dia bersama kedua orang tuanya juga ada beberapa kamar yang sengaja dijadikan kos-kosan.

Dan aku adalah salah satu penghuni kamar kontrakannya dari sejak awal datang sampai beberapa saat setelah menikah dengan Mas Tama sebelum mempunyai rumah sendiri.

Setelah ke dua orang tuanya meninggal dunia mbak Mini yang melanjutkan usaha orang tuanya sebagai Juragan kosan. Begitu aku sering menyebutnya, sama halnya dia menyebutku 'Cekgu' seperti layaknya film kartun asal negara tetangga dengan tokoh fenomenalnya dua anak kembar berkepala plontos.

"Kami ini ya mau kesini loo Cekgu," balasnya seraya melangkah mendekati pintu pagar rumahku.

"Lho ... Memangnya mak War enggak bantu-bantu lagi, to?" Mbak Mini menanyakan tentang mak War, ARTku. Sebelah tangannya berusaha menggapai kunci grendel pagar rumahku. Aku bergegas mendekatinya lalu membukakan pagar sambil tersenyum.

"Yo masih lah Gan," sahutku. Senyum manis masih setia bertahta di wajahku yang saat ini sudah bersimbah keringat akibat pekerjaan beres beresku.

"Aku tanpa mak War, yo ambyaar Gan," lanjutku terkekeh sambil membuka pintu pagar menyilahkan mereka untuk masuk. Ucapanku barusan spontan menimbulkan kekehan dari mbak Mini.

"Tumben-tumbenan Juragan Kosan wayah gini keluyuran sampe dimari. Emangnya gak dagang, tah?" tanyaku sambil meletakan sapu lidi di sudut tembok lalu mencuci tangan di keran dekat pintu pagar samping.

"Yoo dagang laah Cekgu. Klo gak dagang yo piye, too? Bakalan enggak ngebul dapurku," jawab mbak Mini masih sambil terkekeh.

"Iki loo, aku nganter tamune sampeyan," lanjutnya sambil menunjuk pada seorang wanita yang sejak tadi ikut bersamanya. Hal ini seketika menyadarkanku bahwa saat ini ada orang lain selain kami berdua. Orang yang belum pernah aku kenal sebelumnya.

"Tamuku? Siapa, yaa?" jawabku reflek beralih menatap intens pada wanita yang saat ini berada disamping mbak Mini. Otakku cepat menafsir tentang wanita yang datang bersama mbak Mini.

Seorang wanita yang menurut perkiraanku memiliki usia yang tak jauh beda dengan usia Mas Tama, suamiku. Saat ini dia melangkah perlahan disamping mbak Mini masuk ke halaman rumahku, tangan kirinya menenteng tas tangan branded berwarna hitam seolah ingin menunjukkan tingkatan kastanya pada kami, sedangkan tangan kanannya sibuk memindahkan kaca mata hitam yang dipakainya dari wajah ke arah kepala, kemudian kaca mata itu diletakkan tepat diatas rambut pirangnya yang sedikit bergelombang. Terlihat elegan memang. Namun terkesan angkuh. Tak terbersit sedikitpun senyum di wajahnya.

Sebenarnya wanita berkulit putih yang bersama mbak Mini ini cukup cantik namun karena riasan wajahnya sedikit agak tebal dan tidak rata sehingga menunjukkan beda warna kulit wajah dan leher yang sangat kentara. Celana jeans ketat yang dikenakannya dipadu dengan kaos tanpa kerah yang juga sangat ketat membungkus tubuhnya sampai lekuk tubuh seksinya tergambar sangat jelas, ditambah dengan kaos biru muda yang dipakainya bergambar jari telunjuk di depan bibir merah marun sedikit terbuka membuat mata lelaki manapun yang melihatnya akan susah mengendalikan hawa nafsunya.

“Soraya Maharani," ujarnya. Suaranya terdengar sangat tegas cenderung sedikit agak angkuh menurutku. Wanita itu berucap sambil tetap melangkah melewati gerbang yang barusan kubuka tanpa memandang padaku yang sedang diajaknya berbicara, pandangannya lurus menatap arah rumah. Seolah ada yang dicari dan ingin segera ditemuinya.

"Biasanya mas Beri memanggilku 'Aya'," lanjutnya. Suaranya menjadi sedikit kemayu ketika menyebut sebuah nama, entah aku yang baper atau memang begitu kedengarannya, aku tidak terlalu memikirkannya. Aku masih terkesima beberapa saat melihat tingkah lakunya.

"Eeh ... Sebentar! Kok dia menyebut nama mas Beri? Apakah Mas Beri itu adalah Beri Pratama? Suamiku?" Otakku cepat berpikir, mengingat-ingat. Sel sel membrane yang ada di otakku mengirimkan sinyal-sinyal yang aneh, tapi apa ya? Sinyal sinyal itu tak mampu kucerna. Semakin aku berusaha mencernanya, semakin terasa ada sebuah ruang kosong dalam benakku yang tak dapat kurengkuh.

"Monica," balasku mengulurkan telapak tangan kananku berusaha menjabat tangannya dan sejenak menghentikan langkahnya, namun sepertinya wanita yang bersama mbak Mini itu enggan memberikan tangannya.

Segera kuraih pundak mbak Mini untuk kuajak menuju rumah.

"Ayo masuk, Gan!" ajakku mempersilahkan sahabatku itu untuk ikut masuk ke ruang tamu.

Kok sepi, Cekgu? tanya mbak Mini setelah memindai sekeliling halaman rumahku beberapa saat.

Karena biasanya dimana ada aku pasti akan ada mas Tama juga. Hampir tak pernah kami melakukan kegiatan atau bepergian secara terpisah kecuali urusan pekerjaan di sekolah kami masing masing.

Hampir seluruh warga kampung ini sudah sangat hapal, bahkan mereka selalu menyebut bahwa kami adalah pasangan paling romantis dan keluarga yang harmonis. Kemana mana kami selalu bersama kecuali berangkat ke tempat bekerja masing masing dan tidak pernah terdengar kami bertengkar. Anak anakpun rukun serta bahagia. Bahkan kami sering dijadikan contoh yang baik tidak hanya bagi pengantin baru tapi juga bagi pengantin lama.

Dari mulai kehidupan kami sebagai pengantin baru hingga kini sudah lebih dari 25 tahun usia pernikahan kami, alhamdulillaah rumah tangga kami tak pernah menjadi bahan pembicaraan tentangga. Permasalahan rumah tangga dapat kami selesaikan tanpa sampai mengikutsertakan pihak orang ketiga untuk menyelesaikannya. Aku dan mas Tama berkomitmen untuk menyelesaikan masalah yang ada sesegera mungkin dan tak boleh ada yang keluar rumah dalam keadaan memendam masalah.

Begitu juga dengan anak anak, Eka dan Dwi. Anak anak tumbuh dan berkembang selakyaknya anak anak pada umumnya. Kini mereka sedang menyelesaikan sekolah di universitas pilihan mereka, sehingga kami hanya tinggal berdua saja di rumah ini. Rumah kebanggaan yang kami bangun dengan keringat, air mata dan cinta.

Bisa dikatakan kini aku dan mas Tama tinggal menikmati hasil dari jerih payah kami. Kami yang saat bertemu sama sama tak punya apa apa lalu berkomitmen membangun rumah tangga bersama, memulai segalanya dari nol. Sedikit demi sedikit kami bersama sama menikmati prosesnya dalam suka dan duka, hingga saat ini kami sudah dapat menikmati hasilnya. Anak anak yang tumbuh sehat dan tidak merasakan kekurangan baik harta terutama perhatian dan kasih sayang, perkejaan kami yang makin mapan, juga sebuah usaha toko roti yang belum lama ini kami bangun sebagai kegiatan sampingan kami dan akan menjadi andalan saat kami pensiun kelak.

"Iyo, Gan. Mas Tama lagi gak ada di rumah, lagi pelatihan, jawabku sambil tetap berjalan bersisian dengan mbak Mini.

Ealaaah ... lagi njomblo to Cekgu...? ledek mbak Mini disertai kekehan renyahnya yang kujawab dengan senyum dikulum.

"Eh ... Ngomong ngomong ini bener rumahnya mas Beri, kan?" tanya wanita bernama Soraya itu entah pada siapa.

Ucapannya barusan spontan membuat candaan kami terhenti. Dia mondar mandir sambil telapak tangannya tak henti dikibas-kibaskan di depan wajahnya sebagai pengganti kipas. Mungkin dia gerah, batinku.

"Mas Beri? Maksudnya Mas Beri Pratama, kah?" tanyaku memastikan dengan menyebut nama lengkap suamiku.

"Iyaa, Beri Pratama, kalo saya biasa panggil dia mas Beri. Itu panggilan sayang saya ke dia, mana mas Beri nya?" cerocosnya tanpa jeda dengan nada bicara manja yang membuatku agak sedikit terkejut dengan kata-kata 'panggilan sayang' tadi.

Ada apa ini? Siapa sebenarnya wanita ini? Selingkuhan mas Tama? Rasanya enggak mungin deh. Mas Tama adalah orang yang hampir dibilang tak pernah ngobrol receh dengan kaum hawa kecuali keluarga dekat atau orang yang sudah dia kenal dekat. Dan semua teman teman di tempatnya bekerja sudah aku kenal semua. Apakah ada yang dirahasiakan oleh mas Tama selama ini? Apakah memang sepintar itu mas Tama menyembunyikan kebusukannya? Atau aku yang terlalu naif sehingga tak pernah merasakan perubahan sikap mas Tama walau sekecil apapun?

"Mas!"

"Mas!"

"Mas Beri sayaang! Ini aku, Aya mu!" teriaknya membuyarkan keterkejutanku.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dia Bukan Suamiku
9.2
Lewat perjodohan, Shafa mendambakan pernikahan penuh kasih dan kesetiaan dari Alby. Alby awalnya terlihat begitu mencintai Shafa, namun di balik kemanisannya, ia menyembunyikan pengkhianatan menyakitkan. Kepercayaan Shafa pun hancur lebur. Meski telah berupaya memaafkan demi rasa cintanya, Shafa justru kian tenggelam dalam kepedihan mendalam. Di tengah kehancuran rumah tangga mereka, mampukah Alby kembali merebut hati Shafa dan meraih akhir yang bahagia?
Sampul Novel Keangkuhan dan Kesombongan
9.2
Di Jawa abad ke-19, Anisa yang cerdas berhadapan dengan Raditya, pemuda kota yang penuh keangkuhan. Pertemuan awal mereka dipenuhi prasangka; Raditya meremehkan Anisa, sedangkan Anisa menilai Raditya sangat sombong. Namun, di balik jerat perjodohan keluarga dan jurang status sosial, perasaan cinta perlahan tumbuh. Kini, keduanya harus berjuang meruntuhkan ego besar dan tradisi yang mengekang demi bersatu dalam ketulusan cinta tanpa sekat kasta.
Sampul Novel Ketika Rencana Jahatmu Kembali Kepadamu
8.7
Hidup Maura Laksmi berubah kelam setelah menjadi korban pelampiasan amarah Ravel Santoso yang dikhianati tunangannya. Mengalami trauma berat, pelayan polos berusia 21 tahun ini memilih kabur ke rumah sang kakek demi menenangkan diri. Namun, keadaan kian rumit ketika Maura mendapati dirinya sedang hamil. Kini, ia dihadapkan pada pilihan sulit: menuntut pertanggungjawaban dari Ravel atau menanggung semua kepedihan ini seorang diri.
Sampul Novel MENJADI ISTRI DADAKAN CEO AROGAN
8.2
Lavendra hancur setelah tahu pernikahannya dengan Daza, CEO yang sangat angkuh, cuma kedok demi harta warisan kakeknya. Kepedihan itu kian perih karena sang suami masih mencintai Lora, kekasihnya. Sempat berniat berjuang demi mewujudkan rumah tangga yang bahagia, usaha Lavendra sia-sia. Kehadiran Lora yang terus mengusik ditambah sikap dingin Daza membuat batinnya lelah. Kini, ia terjebak dalam keputusasaan dan meratapi kenaifannya yang mendambakan cinta sejati.
Sampul Novel My Dangerous Husband
9.4
Kehidupan Senja hancur seketika saat Damar datang memaksa sebuah pernikahan demi menebus kesalahan fatal ayahnya. Terperangkap dalam pernikahan tanpa rasa cinta, ia harus tunduk pada dominasi dan sikap otoriter sang suami. Namun lambat laun, kebaikan tak terduga dari Damar mulai terungkap di balik kekejamannya. Di saat perasaan hangat mulai tumbuh di antara mereka, berbagai ujian berat kembali datang menguji ketahanan rumah tangga yang penuh tekanan ini.
Sampul Novel Terjerat Cinta Dosen
8.9
Kisah asmara Ryan dan Amelia kini terancam hancur akibat restu sang ibu yang tak kunjung mereka genggam. Meski Ryan bersikap keras menolak perjodohan sepihak pilihan ibunya, intimidasi tidak lantas mereda. Sang ibu malah melancarkan beragam intrik licik agar keduanya terpisah selamanya. Di tengah pusaran manipulasi serta tekanan keluarga yang terus memuncak, akankah ketulusan cinta Ryan dan Amelia sanggup bertahan, atau justru rencana jahat tersebut yang akan menang?